AYAH MILIARDER YANG MEMBUANGKU 25 TAHUN LALU MENYURUHKU PURA

Suasana di koridor luar ruang utama Istana Kepresidenan mendadak hening. Udara terasa membeku. Suara desir angin dari pendingin ruangan dan denting sepatu lars petugas Paspampres menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.

Di layar tablet berlayar tajam itu, tercetak jelas lembar transaksi rahasia.

Pembayaran Konsultasi Khusus — Rp27.500.000.000.

Tujuan Rekening: Rekening Cangkang Luar Negeri (Offshore Account).

Penerima Komisi Internal: Raka Wicaksana.

Tujuan Penggunaan: “Pemusnahan Laporan Cacat Mutu Modul Taktis Sektor Pertahanan.”

Aku menatap angka-angka itu. Tujuannya sangat jelas: menyuap oknum panitia pengadaan bawah agar menyembunyikan fakta bahwa sistem komunikasi buatan perusahaan ayahku memiliki celah keamanan serius yang bisa meretas seluruh jaringan komunikasi data tempur negara.

Aku menggeser layar tablet itu dengan ibu jariku. Di bagian bawah dokumen, terlampir nota audit internal yang baru saja diterbitkan oleh Tim Pengawas Intelijen Pertahanan dua puluh menit lalu.

“Izin, Jenderal,” kata Kolonel yang berdiri di samping Panglima TNI. “Kami menemukan bukti aliran dana ini ditransfer tiga hari lalu dari anak perusahaan PT Wicaksana Advanced Systems. Mereka mencoba meloloskan spesifikasi teknis yang tidak memenuhi standar keamanan kedaulatan.”

Panglima TNI, Jenderal Armand Santoso, melipat tangannya di belakang punggung. Pandangannya yang tajam menatap Hendra Wicaksana.

“Pak Hendra,” suara Jenderal Armand terdengar tenang, namun berbobot bagai timah panas. “Anda mengabaikan prosedur standar evaluasi negara demi memotong jalan.”

Wajah Hendra Wicaksana yang tadinya penuh kesombongan kini benar-benar pucat pasi. Bibirnya gemetar. Matanya bergantian menatap Panglima, Kolonel, tablet di tanganku, dan akhirnya… ke arahku.

Istri keduanya, Melinda, mundur setengah langkah dengan wajah membiru. Sementara Raka, adik tiriku yang tadinya merendahkanku dan menyebut seragamku sebagai kostum satpam, kini berkeringat dingin. Tangan kemeja cantiknya yang seharga puluhan juta rupiah tampak gemetar hebat.

“L… Laras…” Suara Hendra Wicaksana tercekat di tenggorokan.

Ia melangkah satu kali ke arahku. Namun sebelum kakinya menyentuh batas garis VIP, dua personel Paspampres berpakaian batik tebal langsung memasang posisi siaga dan menghadang langkahnya.

“Tetap di tempat, Pak,” tegas salah satu anggota Paspampres.

“Laras! Ini… ini pasti ada kesalahpahaman!” jerit Hendra. Nada suaranya tidak lagi dingin atau mengintimidasi seperti beberapa menit lalu saat ia menyuruhku berpura-pura tidak mengenalnya. Kini, ada keputusasaan yang nyata di matanya. “Aku ayahmu, Laras! Raka itu adikmu! Kamu tidak bisa biarkan orang-orang ini menuduh keluarga kita seperti ini!”

Aku menatap pria tua di depanku.

Dua puluh lima tahun lalu, dia merobek masa depanku di meja makan rumah Kebayoran Baru hanya karena aku menolak mengikuti jalurnya. Dia mencoret namaku dari keluarga, melarang seluruh staf menyebut namaku, dan berpura-pura bahwa anak perempuannya tidak pernah ada.

Beberapa menit lalu di lorong ini, dia menyuruhku agar berpura-pura tidak mengenalnya. Dia melarangku memanggilnya ‘Papa’ karena takut reputasinya ternoda di depan pejabat tinggi pertahanan.

Dan sekarang, ketika posisinya terdesak dan kejahatan bisnisnya terbongkar, kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah: ‘Aku ayahmu.’

“Bapak Hendra Wicaksana,” kataku dengan suara datar, tanpa sedikit pun emosi yang membuncah. “Dua puluh lima tahun lalu, Anda mencoret nama saya dari kartu keluarga. Lima menit lalu, Anda menyuruh saya pura-pura tidak mengenal Anda di Istana ini.”

Aku melangkah maju satu tapak. Bintang tiga di pundak kemeja dinasku berkilau tertimpa cahaya lampu kristal koridor Istana.

“Maka hari ini, jalankan kata-kata Anda sendiri. Jangan pernah panggil saya anakmu. Dan jangan pernah bawa nama keluarga di depan hukum kedaulatan negara.”

Raka mendadak panik. Ia berlutut setengah langkah, mencoba memanggilku. “Kak! Kak Laras! Tolong, Kak! Aku tidak tahu kalau transaksi itu ilegal! Aku cuma menjalankan perintah papan direksi! Aku adikmu, Kak!”

“Diam, Raka!” bentak Jenderal Armand dingin. Panglima melirik ke arah Kolonel ajudannya. “Amankan seluruh dokumen pertanggungjawaban PT Wicaksana Advanced Systems. Kirimkan berkas ini langsung ke Kejaksaan Agung dan Polisi Militer untuk pengusutan dugaan tindak pidana korupsi sektor pertahanan dan penyabotasean keamanan nasional.”

“Siap, Jenderal!” jawab Kolonel tegas.

“Tidak! Tolong, Jenderal! Jangan!” jerit Melinda hysterical saat dua petugas POM TNI bergerak mendekati Raka dan Hendra. “Proyek empat triliun ini adalah seluruh aset dan pinjaman bank kami! Kalau proyek ini dibatalkan dan kami diproses hukum, perusahaan kami bangkrut!”

Hendra Wicaksana mematung. Tubuhnya yang tadinya tegap kini tampak layu dan rapuh seketika. Proyek empat triliun yang ia agung-agungkan—proyek yang ia sebut sebagai puncak kejayaan nama keluarga Wicaksana—kini justru menjadi jerat yang meruntuhkan seluruh kekajaannya dalam hitungan detik.

Ia menatapku dengan mata bersimbah penyesalan yang terlambat. Di matanya, bukan lagi sosok gadis 19 tahun yang ia usir tanpa sepeser uang pun. Di depannya berdiri seorang Letnan Jenderal TNI, penentu arah kebijakan pertahanan negara yang tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun.

“Jenderal Laras,” panggil Panglima Armand lembut, beralih dari ketegangan yang baru saja terjadi. “Bapak Presiden dan Menteri Pertahanan sudah menunggu di Ruang Garuda. Kita harus memulai rapat evaluasi final.”

Aku merapikan posisi pangkas rambut dan seragam dinasku, lalu memberi hormat tegak kepada Panglima.

“Siap, Panglima. Mohon petunjuk.”

Aku berbalik, tidak lagi melirik sedikit pun ke arah Hendra Wicaksana, Raka, maupun Melinda yang kini digiring oleh petugas pengamanan keluar dari area utama Istana. Suara ratapan dan teriakan penyesalan mereka perlahan menghilang di balik pintu kayu jati raksasa yang tertutup rapat.

Aku melangkah lurus menyusuri karpet merah Istana Kepresidenan, melangkah masuk ke Ruang Garuda sebagai pimpinan tertinggi tim evaluasi strategis negara.

Jalan yang kupilih dua puluh lima tahun lalu memang dingin, keras, dan berdarah-darah. Tapi hari ini, di bawah panji kedaulatan bangsa, aku berdiri tegak tanpa perlu menyembah pada harta dan keangkuhan siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang