KAKAKKU DATANG KE ULANG TAHUN IBU KE-70 DENGAN TAS PULUHAN JUTA

Aku menahan napas. Suasana di ruang keluarga yang tadinya dipenuhi aroma teh hangat dan sisa kue panda berubah mendadak pekat, seolah oksigen di ruangan itu ditarik keluar secara paksa.

Aditya melangkah mendekati lemari, matanya menatap tajam ke arah map cokelat tebal itu. Laras menyambar lengan suaminya, menahannya dengan genggaman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Mas, kita pulang sekarang. Nggak ada yang perlu kita bahas di sini,” bisik Laras, suaranya gemetar. Matanya liar, menyapu wajah Ibu, lalu beralih padaku dengan tatapan penuh kebencian yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Laras,” suara Ibu terdengar begitu tenang, namun memiliki ketegasan yang tak membantah. “Duduk.”

Ibu menarik laci itu hingga terbuka penuh. Map cokelat itu tidak berdiri sendiri. Di sampingnya ada sebuah amplot cokelat besar bersegel wax merah yang sudah retak dimakan usia, dan satu lembar surat perjanjian berstempel materai yang warnanya sudah memudar menjadi kuning kecokelatan.

Ibu memegang map itu dengan kedua tangannya yang mulai keriput. Tangannya tidak bergetar. Ibu menatap Aditya, bukan Laras.

“Adit,” panggil Ibu lembut. “Kamu tahu rumah di Alam Sutera yang sekarang jadi klinik cabang barumu itu?”

Aditya mengangguk perlahan, dahi berkerut bingung. “Tahu, Bu. Itu klinik ketiga saya. Laras yang mengurus pembelian tanahnya empat tahun lalu pakai dana tabungan keluarga dan modal dari investor.”

“Bukan,” sela Ibu pelan. “Tanah itu bukan dibeli empat tahun lalu. Dan modalnya bukan dari investor.”

Laras berteriak histeris, “IBU! CUKUP! JANGAN BIKIN CERITA YANG NGGAK-NGGAK!”

“DIAM, LARAS!” bentak Aditya. Ini pertama kalinya aku mendengar Aditya membentak istrinya dengan suara sekeras itu. Ruangan kembali hening mencekam. Aditya menatap Ibu kembali. “Lanjutkan, Bu. Maksud Ibu apa?”

Ibu membuka map cokelat itu. Di dalamnya ada sertifikat tanah asli—bukan atas nama Laras, bukan atas nama Aditya, melainkan atas nama Bapak.

“Tanah itu milik Bapakmu,” kata Ibu pelan, menatapku dan Laras bergantian. “Satu-satunya warisan dari keluarga Bapak di daerah Tangerang. Bapak menyimpannya untuk masa depan kalian berdua. Tapi delapan belas tahun lalu, saat Laras datang menangis-nangis…”

“Bu, aku mohon…” Laras menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, matanya berkaca-kaca, memohon. “Jangan depan Mas Adit…”

Ibu menatap Laras dengan tatapan kekecewaan yang amat dalam.

“Delapan belas tahun lalu,” lanjut Ibu tanpa mengacuhkan tatapan Laras, “Laras datang meminta sertifikat itu. Dia bilang dia terlilit utang judi online mantan pacarnya sebelum menikah denganmu, Dit. Dia diancam. Ibu yang panik dan tidak mau nama keluarga tercemar, akhirnya mengizinkan sertifikat itu diagunkan ke bank. Ibu mencairkan deposito $185$ juta untuk menutupi sisa bunganya.”

Aku menutup mulutku dengan tangan. Seratus delapan puluh lima juta rupiah di tahun itu. Itu seluruh uang pensiun Bapak. Uang yang seharusnya dipakai untuk biaya kuliahku dan pengobatan jantung Bapak sebelum beliau meninggal.

Aditya mematung. “Lalu… klinik saya?”

“Tiga belas tahun lalu, sertifikat itu berhasil ditebus oleh Laras setelah bisnis klinik pertamamu jalan,” ujar Ibu. “Tapi bukannya dikembalikan ke Ibu, Laras memalsukan tanda tangan Ibu. Dia menjual tanah warisan Bapak itu ke atas nama perusahaan bayangan yang dia buat sendiri, lalu menjualnya kembali kepadamu dengan harga pasar empat tahun lalu, seolah-olah tanah itu milik orang lain yang ia beli untuk klinik barumu.”

“Apa?!” Aditya melangkah mundur, menatap istrinya seolah-olah Laras adalah orang asing. “Kamu… kamu menjual tanah warisan keluargamu sendiri ke aku? Menggunakan uang tabungan klinik kita?”

“Mas, dengarkan aku dulu! Aku lakukan itu buat kita!” jerit Laras.

“Buat kita atau buat kamu?!” potongku, tak sanggup lagi menahan amarah yang membakar dada. “Laras! Uang deposito itu… itu uang yang bilang Ibu ‘habis untuk biaya berobat Bapak’ kan?! Selama ini kamu biarkan aku percaya kalau uang pensiun Bapak habis buat sakitnya Bapak, sementara kamu makan uang itu buat bergaya?!”

Air mata menetes di pipi keriput Ibu. Tapi bukan air mata amarah, melainkan kelelahan yang luar biasa.

“Uang Rp120 juta untuk pembukaan klinik pertamamu dulu, Dit,” tambah Ibu sambil menyerahkan kuitansi bernoda kecokelatan dari dalam laci. “Itu uang dari Ibu. Laras bilangnya ke kamu kalau itu uang pinjaman dari temannya dengan bunga tinggi kan? Dan setiap bulan kamu menyetor uang cicilan itu ke Laras?”

Aditya menerima kertas itu. Tangannya gemetar hebat. “Setiap bulan… selama lima tahun… saya mentransfer uang cicilan $10$ juta per bulan ke rekening pribadi Laras. Saya pikir… saya pikir saya bayar utang ke tengkulak.”

Artinya, Laras telah memeras suaminya sendiri menggunakan nama Ibunya, lalu mengantongi jutaan rupiah setiap bulan—mentransfer kehidupannya menjadi wanita kelas atas di Pondok Indah di atas penderitaan Ibu dan kebohongan pada suaminya.

Laras terduduk di lantai, menangis meraung-raung. “Aku cuma mau kelihatan sukses! Aku cuma nggak mau diremehkan keluarga Mas Adit yang kaya-kaya! Aku harus punya barang mahal! Aku harus setara sama mereka!”

“Dengan cara menginjak Ibu?!” berteriakku, air mata frustrasi menetes di pipiku. “Kamu datang kemarin membawa tas puluhan juta, ngasih Ibu uang Rp50.000 sambil ketawa bilang Ibu udah tua nggak butuh apa-apa?! Kamu sadar nggak, tas yang kamu tengtenteng itu dibeli dari darah dan keringat Ibu yang kamu peras bertahun-tahun?!”

Aditya menatap Laras dengan dingin. Dingin yang sangat menakutkan. Ia merapikan dokumen-dokumen itu, memasukkannya kembali ke dalam map, lalu menatap Ibu.

“Bu…” suara Aditya serak, sarat akan rasa malu dan penyesalan. “Saya… saya tidak tahu harus minta maaf seperti apa. Selama ini saya pikir Laras anak yang berbakti karena sering membelikan Ibu baju murah atau membawakan makanan sisa. Saya tidak pernah tahu kalau seluruh modal awal hidup saya dan kekayaan yang kami nikmati hari ini berdiri di atas penderitaan Ibu dan hak Rani.”

“Adit, jangan…” Laras memegang kaki suaminya. “Mas, tolong…”

“Kita pulang,” kata Aditya datar, melepaskan pegangan tangan Laras dari kakinya. “Besok pengacara saya akan menghubungi kamu. Seluruh aset klinik atas nama kamu akan saya bekukan malam ini juga. Dan tanah di Alam Sutera itu… akan saya balik namakan atas nama Ibu dan Rani.”

“Mas! Jangan lakukan ini! Aku istri kamu!”

“Dan dia Ibumu!” bentak Aditya menunjuk Ibu Marni. “Orang yang kamu kasihi uang Rp50.000 seolah dia pengemis, padahal dialah yang memberi kamu kehidupan mewah yang kamu pamerkan di media sosialmu itu!”

Aditya membungkuk dalam-dalam di depan Ibu, mencium tangan tua itu dengan linangan air mata. “Maafkan Adit, Bu. Adit janji akan menyelesaikan semuanya dan mengembalikan hak Ibu serta Rani.”

Aditya berjalan keluar rumah tanpa menoleh lagi. Suara deru mobilnya terdengar menjauh beberapa saat kemudian.

Laras tertinggal di ruang tamu, terduduk di lantai dengan gaun mewahnya yang kini ternoda debu ubin rumah Ciputat. Tas puluhan jutanya tergeletak begitu saja di samping piring bekas kue pandan.

Ia menatap Ibu dengan mata merah. “Ibu puas? Ibu hancurkan rumah tangga Laras?”

Ibu menatap anak sulungnya itu. Ada rasa sakit yang teramat sangat di mata tua itu, tapi tidak ada penyesalan.

“Ibu tidak pernah menghancurkan apa pun, Laras,” kata Ibu dengan suara sangat pelan namun menembus dada. “Kamu yang membangun istanamu di atas pasir kebohongan. Ibu hanya menyimpannya selama 18 tahun, menunggu kamu sadar dan datang minta maaf secara jujur. Tapi kemarin… saat kamu tertawa dan memberikan uang Rp50.000 itu, Ibu sadar…”

Ibu menarik napas panjang, menahan sesak.

“…Ibu sadar kalau Ibu diam terus, Ibu bukan cuma merusak dirimu, tapi juga mendzalimi adikmu, Rani, dan membiarkan menantu Ibu dibodohi selamanya. Kebenaran itu memang menyakitkan, Nak. Tapi itu satu-satunya hal yang tersisa untuk menyelamatkan jiwamu.”

Laras menangis tersedu-sedu, memeluk lututnya sendiri di lantai. Tidak ada lagi sosok wanita elegan Pondok Indah. Yang tersisa hanyalah seorang anak yang kerakusannya akhirnya meruntuhkan seluruh hidup yang ia banggakan.

Aku berjalan mendekati Ibu, merangkul bahunya yang rapuh. Ibu menyandarkan kepalanya di dadaku. Di atas meja, amplop putih berisi uang Rp50.000 itu masih tergeletak di bawah piring kecil—menjadi saksi bisu akhir dari sebuah kesombongan yang dibangun di atas pengorbanan seorang ibu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang