AKU LUPA HARI JADI PERNIKAHANKU DENGAN ISTRI, JADI DIA MENDIAMKANKU SELAMA SATU BULAN DAN BARU MAU BICARA LAGI SAAT UANG BELANJANYA HABIS

Kalau ada penghargaan untuk suami paling ceroboh sedunia, mungkin namaku sudah terpampang di piala utamanya.

Semuanya bermula pada suatu pagi yang sebenarnya terasa biasa saja. Aku duduk di meja makan sambil menyeruput kopi hitam dan membaca berita di ponsel. Istriku, Dina, mondar-mandir di dapur dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Dia memasakkan nasi goreng favoritku, telur setengah matang, bahkan menyeduhkan kopi tanpa kuminta.

“Tumben rajin banget pagi-pagi,” candaku sambil tersenyum.

Dina membalas dengan senyum yang jauh lebih manis.

“Memangnya aku biasanya nggak perhatian?”

“Bukan begitu. Cuma hari ini spesial saja.”

Sekarang, kalau mengingat percakapan itu, rasanya aku ingin memukul kepalaku sendiri. Seharusnya aku sadar ada sesuatu yang sedang dia tunggu. Sayangnya, otakku saat itu hanya dipenuhi laporan kantor dan target bulanan.

Aku bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta Selatan. Minggu itu, perusahaan sedang mempersiapkan peluncuran proyek besar. Sejak pagi sampai malam, pikiranku dipenuhi rapat, presentasi, dan puluhan surel yang tak ada habisnya.

Siang harinya, Dina sempat mengirim pesan.

“Jangan pulang terlalu malam, ya.”

Aku membalas singkat.

“Iya, kalau kerjaan selesai.”

Pesan terakhir darinya malam itu hanya berupa emoji senyum.

Aku sama sekali tidak menyadari bahwa di rumah, istriku sudah membeli gaun baru. Dia bahkan memesan meja di restoran tempat kami pertama kali bertemu tujuh tahun lalu. Di lemari kamarnya, ternyata sudah tersimpan bingkai foto yang berisi gambar pernikahan kami.

Sementara aku?

Aku pulang hampir pukul sepuluh malam, membuka pintu, melepas sepatu, lalu berkata, “Ada lauk apa?”

Dina hanya diam.

Aku mengira dia lelah.

Keesokan harinya, dia tetap diam.

Hari ketiga, suasana rumah terasa seperti ruang tunggu rumah sakit. Tidak ada pertengkaran, tidak ada teriakan, hanya kesunyian yang membuat dadaku sesak.

Saat aku bercanda, dia hanya tersenyum tipis. Saat aku bertanya, dia menjawab seperlunya.

Seminggu kemudian, aku sudah tidak tahan.

“Sayang, aku salah apa?”

Dia menatapku lama sekali.

Tatapan itu dingin, tetapi juga menyimpan kekecewaan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Memangnya kamu nggak tahu?”

Aku menggeleng.

Dia tertawa pelan.

“Ya sudah. Kalau begitu, nggak usah dipikirkan.”

Malam itu, aku benar-benar bingung. Aku memeriksa pesan-pesan kami, mencoba mengingat apakah aku pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Tidak ada.

Sampai akhirnya, adik iparku, Rani, menelepon.

“Kak, siap-siap saja tidur di sofa.”

“Ada apa?”

“Kamu serius lupa?”

“Lupa apa?”

Terdengar helaan napas panjang di seberang sana.

“Hari ulang tahun pernikahan kalian sudah lewat seminggu.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Aku membuka kalender di ponsel dengan tangan gemetar.

Dan benar saja.

Tanggal itu sudah lewat tujuh hari.

Aku terduduk lemas di ruang tamu sambil memandangi langit-langit rumah. Tiba-tiba semua potongan kejadian beberapa hari terakhir tersusun dengan sempurna. Senyum Dina pagi itu. Pesan-pesannya. Gaun baru yang kulihat tergantung di lemari tetapi tak pernah kutanyakan.

Aku merasa menjadi suami paling bodoh di muka bumi.

Keesokan harinya, aku membeli bunga terbesar yang bisa kutemukan. Aku juga memesan makan malam di restoran mahal.

Sesampainya di rumah, aku menyerahkan bunga itu dengan wajah penuh penyesalan.

“Maafkan aku.”

Dina menerima bunga itu.

“Terima kasih.”

Hanya itu.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kata maaf.

Malam itu, kami makan malam dalam suasana canggung. Aku berusaha mencairkan suasana, tetapi Dina tetap menjaga jarak.

Hari-hari berikutnya menjadi hukuman yang panjang.

Selama satu bulan, istriku benar-benar memperlakukanku seperti bayangan.

Kalau dia membutuhkan sesuatu, dia berbicara melalui anak kami yang berusia enam tahun, Nando.

“Nando, bilang ke Papa beli kecap.”

“Nando, bilang ke Papa galon air habis.”

“Nando, bilang ke Papa besok jemput lebih awal.”

Padahal aku duduk tepat di depannya.

Suatu malam, aku akhirnya menyerah.

“Aku tahu aku salah. Tapi apa kita harus begini terus?”

Dina menutup bukunya dan menatapku.

“Kamu tahu rasanya menunggu seseorang yang paling penting dalam hidupmu, lalu sadar ternyata dia bahkan tidak ingat hari yang begitu berarti?”

Aku terdiam.

“Buat kamu mungkin itu cuma satu tanggal di kalender. Tapi buat aku, itu hari ketika kita memutuskan untuk membangun hidup bersama.”

Sejak saat itu, aku berhenti membela diri.

Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini kuanggap biasa.

Aku melihat bagaimana Dina bangun paling pagi untuk menyiapkan sarapan. Bagaimana dia masih sempat membantu Nando mengerjakan tugas sekolah setelah bekerja seharian sebagai desainer interior. Bagaimana dia diam-diam memperbaiki kancing bajuku yang lepas.

Aku mulai menyadari bahwa selama ini, akulah yang terlalu sibuk.

Aku memang selalu pulang membawa uang, tetapi jarang membawa perhatian.

Aku ada di rumah, tetapi pikiranku selalu tertinggal di kantor.

Perlahan-lahan, aku mencoba berubah.

Aku mulai pulang lebih cepat. Aku membantu mencuci piring. Aku mengantar Nando ke sekolah. Aku bahkan belajar memasak dari video-video di internet.

Awalnya, Dina hanya memandang semua itu dengan ekspresi datar.

Namun suatu pagi, saat aku berhasil membuat telur dadar yang bentuknya masih berantakan, dia tersenyum kecil.

“Itu gosong.”

“Yang penting dibuat dengan cinta.”

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku mendengar dia tertawa.

Aku pikir semuanya mulai membaik.

Sampai suatu malam, aku pulang lebih awal dan mendapati Dina sedang berbicara melalui telepon di balkon.

Wajahnya terlihat serius.

“Aku capek terus-terusan begini.”

Dadaku langsung berdebar.

“Aku nggak tahu harus sampai kapan.”

Pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Ketika dia masuk ke dalam rumah, aku pura-pura menonton televisi, tetapi malam itu aku tidak bisa tidur.

Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Apakah dia sudah tidak mencintaiku? Apakah dia ingin berpisah? Apakah selama ini ada orang lain yang mendengarkan keluh kesahnya?

Selama beberapa hari berikutnya, aku mulai memperhatikan gerak-geriknya.

Dina sering tersenyum saat melihat ponselnya.

Kadang dia pergi keluar pada akhir pekan dengan alasan bertemu teman.

Ketakutanku semakin besar.

Aku tahu aku salah karena melupakan hari jadi pernikahan kami, tetapi bayangan kehilangan keluargaku terasa jauh lebih mengerikan.

Puncaknya terjadi pada hari Sabtu.

Pagi itu, Dina berdandan rapi dan mengatakan bahwa dia harus pergi selama beberapa jam.

“Mau ke mana?”

“Ada urusan.”

“Urusan apa?”

Dia tersenyum tipis.

“Rahasia.”

Begitu dia pergi, aku gelisah setengah mati.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mengikuti istriku diam-diam.

Aku merasa seperti tokoh utama dalam sinetron murahan.

Mobil Dina berhenti di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Senayan. Dari kejauhan, aku melihat dia masuk ke sebuah kafe.

Jantungku hampir copot ketika kulihat ada seseorang yang sudah menunggunya.

Seorang pria.

Tinggi, mengenakan kemeja putih, dan tampak sebaya denganku.

Tanganku dingin.

Aku duduk di mobil selama beberapa menit, mencoba mengumpulkan keberanian.

Berbagai kemungkinan terburuk memenuhi kepalaku.

Akhirnya, aku masuk ke kafe itu.

Namun, begitu sampai di depan meja mereka, aku justru terpaku.

Pria itu berdiri sambil tersenyum lebar.

“Wah, akhirnya datang juga.”

Aku mengernyit bingung.

Di sebelahnya, Dina tertawa.

Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba beberapa orang keluar dari ruangan belakang sambil bertepuk tangan.

Ada Rani, orang tuaku, mertua, beberapa teman lama, bahkan rekan-rekan kantor yang kukenal.

“Apa-apaan ini?” tanyaku.

Dina menarik kursi dan menyuruhku duduk.

Lalu dia meletakkan sebuah kotak kecil di hadapanku.

“Aku memang marah karena kamu lupa hari jadi kita,” katanya pelan. “Tapi selama sebulan ini, aku juga ingin melihat sesuatu.”

“Melihat apa?”

“Apakah kamu benar-benar menyesal karena lupa, atau hanya ingin semuanya cepat selesai.”

Aku membuka kotak itu perlahan.

Di dalamnya ada album foto.

Halaman pertama berisi foto pernikahan kami.

Halaman kedua berisi foto-foto kami selama tujuh tahun terakhir.

Dan halaman terakhir masih kosong.

Di bawah halaman kosong itu, tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan Dina.

“Perjalanan kita belum selesai.”

Aku menatapnya, masih belum mengerti.

Dina tersenyum, kali ini dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku sudah lama ingin memberitahumu.”

“Memberitahuku apa?”

Dia menggenggam tanganku.

“Beberapa bulan lagi, Nando akan punya adik.”

Seluruh ruangan mendadak sunyi di telingaku.

Aku hanya bisa menatap wajahnya dengan mata membesar.

“Kamu… serius?”

Dina mengangguk sambil tertawa kecil.

Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku menangis, tetapi saat itu air mataku jatuh begitu saja.

Ternyata pria yang tadi kutakuti adalah dokter kandungan yang kebetulan merupakan teman lama keluarga kami. Selama ini, Dina sering berkonsultasi dengannya karena kehamilannya.

“Aku sebenarnya ingin memberitahumu tepat di hari ulang tahun pernikahan kita,” katanya lirih. “Aku sudah menyiapkan semuanya. Tapi ternyata, kamu lupa.”

Aku memeluknya erat-erat di tengah kafe, tanpa peduli orang-orang di sekitar kami.

“Aku minta maaf.”

Dina mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah satu bulan penuh, kami pulang sambil bergandengan tangan.

Di perjalanan, aku bertanya, “Jadi, kamu memaafkanku karena uang belanjamu habis?”

Dina tertawa keras.

“Siapa bilang?”

“Bukannya selama ini kamu diam karena kesal?”

Dia menoleh ke arahku sambil tersenyum jahil.

“Aku memang kesal. Tapi aku mulai bicara lagi karena kartu belanjaku sudah mentok.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Dia tertawa semakin keras, sementara Nando yang duduk di kursi belakang ikut tertawa tanpa memahami apa pun.

Saat itu aku sadar, pernikahan ternyata bukan tentang mengingat semua tanggal penting tanpa pernah salah. Pernikahan adalah tentang mau belajar ketika melakukan kesalahan, tentang memperbaiki hal-hal kecil yang selama ini diabaikan, dan tentang tetap memilih orang yang sama, berulang kali, bahkan setelah mengecewakannya.

Sejak hari itu, aku memasang pengingat untuk semua tanggal penting di ponselku.

Bukan karena takut didiamkan lagi selama sebulan.

Melainkan karena aku akhirnya mengerti bahwa kadang-kadang, cinta tidak meminta hadiah mahal atau kata-kata yang sempurna.

Cinta hanya ingin diingat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang