Pukul empat sore, langit Jakarta mulai berubah jingga ketika suara bisik-bisik memenuhi taman mewah di kawasan Selatan. Seharusnya, dua jam yang lalu, Jasmine dan Dave sudah mengucapkan janji suci mereka di bawah lengkungan bunga mawar putih yang megah. Namun kini, para tamu hanya duduk dengan gelisah, memandangi kursi pengantin yang kosong.
Jasmine berdiri sendirian di ruang rias. Gaun putih yang selama berbulan-bulan ia impikan kini terasa begitu berat di tubuhnya. Air mata telah menghancurkan riasannya. Tangannya gemetar saat kembali menekan nomor Dave untuk kesekian kalinya.
Tidak dapat dihubungi.

Perutnya terasa mual. Semalam, Dave masih mengantarnya pulang setelah gladi bersih pernikahan. Mereka tertawa bersama, membicarakan bulan madu di Bali dan rumah kecil yang baru saja mereka beli. Tidak ada tanda-tanda bahwa pria itu akan menghilang begitu saja.
“Apa mungkin dia berubah pikiran?” bisik Jasmine kepada dirinya sendiri.
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
“Jas, tamu mulai pulang,” kata Rina, sahabatnya, dengan mata berkaca-kaca. “Kita harus melakukan sesuatu.”
Jasmine menutup wajahnya. Sepuluh tahun hubungan mereka terasa runtuh dalam beberapa jam.
“Aku menyerah,” katanya lirih. “Bilang pada semua orang bahwa pernikahan ini dibatalkan.”
Rina menggenggam tangannya erat, tetapi sebelum sempat keluar, suara dengungan keras terdengar dari luar aula.
Semua orang menoleh ke panggung.
Layar LED raksasa yang seharusnya memutar video perjalanan cinta mereka tiba-tiba dipenuhi gangguan. Musik romantis berhenti mendadak, digantikan suara statis yang menusuk telinga.
Lalu layar itu menyala.
Ruangan putih. Lampu rumah sakit. Bunyi monitor jantung.
Dan wajah Dave.
Suara para tamu langsung lenyap. Jasmine berlari keluar tanpa memedulikan gaunnya yang terseret rumput.
Dave terbaring di atas ranjang rumah sakit. Jas pengantinnya hangus di beberapa bagian. Keningnya diperban, wajahnya dipenuhi luka, dan selang infus terpasang di lengannya.
“Dave!”
Suara Jasmine pecah.
Di layar, Dave membuka matanya perlahan. Napasnya terdengar berat.
“Hai, Sayang…” katanya pelan sambil tersenyum. “Selamat hari pernikahan.”
Tangisan Jasmine semakin menjadi.
“Apa yang terjadi? Kamu ada di mana?”
Dave memejamkan mata beberapa detik sebelum menjawab.
“Maaf… aku terlambat.”
Seorang perawat yang memegang ponsel menggeser kamera sedikit. Di belakangnya, beberapa dokter tampak sibuk.
“Pak Dave mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju lokasi pernikahan,” kata perawat itu dengan suara lembut.
Para tamu saling berpandangan. Kecelakaan?
Dave menarik napas panjang.
“Aku berangkat pagi sekali karena ingin mengambil sesuatu untukmu.”
Jasmine mengerutkan dahi.
“Mengambil apa?”
Dave tersenyum tipis.
“Hadiah pernikahan.”
Pikirannya langsung melayang ke berbagai kemungkinan, tetapi Dave belum sempat melanjutkan. Salah satu alat medis tiba-tiba berbunyi lebih keras. Seorang dokter mendekat dan meminta waktu beberapa menit.
Layar menjadi gelap.
Jasmine berdiri terpaku di tengah taman. Air matanya tidak berhenti mengalir. Semua rasa marah dan kecewa yang memenuhi dadanya sejak siang tiba-tiba berubah menjadi ketakutan.
Tiga puluh menit kemudian, sebuah ambulans memasuki area taman.
Semua tamu berdiri.
Pintu belakang terbuka.
Dave diturunkan dengan ranjang dorong, masih mengenakan sisa jas pengantinnya yang rusak. Jasmine berlari menghampirinya, memegang tangannya erat seolah takut kehilangan.
“Kenapa kamu tidak bilang?” tangisnya.
Dave memandangnya dengan mata yang masih sembap.
“Aku takut kamu panik.”
Dokter yang mendampingi mereka akhirnya menjelaskan. Mobil Dave ditabrak sebuah truk tangki di jalan tol saat ia berusaha menghindari seorang pengendara motor yang terjatuh. Mobilnya menghantam pembatas jalan dan terbakar di bagian depan.
“Kalau terlambat lima menit dievakuasi, kemungkinan besar nyawanya tidak tertolong,” kata dokter.
Semua orang terdiam.
Jasmine memeluk tangan Dave sambil menangis.
“Bodoh,” katanya lirih. “Kamu membuatku berpikir bahwa kamu meninggalkanku.”
Dave tersenyum lemah.
“Aku tidak akan pernah melakukan itu.”
Lalu, dengan susah payah, Dave meminta sesuatu kepada salah satu petugas medis. Seorang pria menyerahkan tas hitam yang tampak sedikit terbakar.
“Aku mengambil ini sebelum mobilku terbakar habis.”
Tangannya gemetar ketika membuka ritsleting tas tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu kecil.
Jasmine membukanya perlahan.
Di dalamnya bukan perhiasan mahal atau dokumen rumah seperti yang ia bayangkan. Hanya ada setumpuk surat tua yang diikat pita biru.
“Apa ini?”
Dave menatapnya lama.
“Bacalah.”
Dengan tangan gemetar, Jasmine membuka surat pertama.
Tulisan tangan itu sangat dikenalnya.
Tulisan ibunya.
Ibunya meninggal lima tahun lalu karena kanker.
Air mata Jasmine langsung jatuh.
“Aku tidak mengerti…”
Dave menghela napas.
“Dua bulan lalu, aku bertemu seorang pria tua di Bandung. Namanya Pak Surya. Dia ternyata sahabat lama ibumu.”
Jasmine memandang Dave tanpa berkedip.
“Pak Surya menyimpan surat-surat yang ditulis ibumu selama masa pengobatan. Surat-surat itu ditujukan untukmu, tetapi ibumu memintanya untuk diberikan hanya saat hari pernikahanmu tiba.”
Jasmine menutup mulutnya.
Tangisnya pecah.
Dengan suara bergetar, ia mulai membaca salah satu surat.
“Untuk putriku, Jasmine. Jika kamu membaca surat ini, berarti akhirnya kamu menemukan seseorang yang membuatmu percaya pada cinta. Mama mungkin sudah tidak ada di sisimu, tetapi percayalah, cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya.”
Para tamu ikut terdiam. Bahkan beberapa orang mulai menyeka air mata.
Surat itu berlanjut.
“Jangan menikahi seseorang yang hanya membuatmu bahagia saat keadaan baik. Menikahlah dengan orang yang tetap memilih tinggal ketika hidup menjadi sulit. Jika pria di sampingmu tetap bertahan hingga hari ini, jagalah dia baik-baik.”
Jasmine tidak sanggup melanjutkan.
Ia menatap Dave.
“Kamu pergi sejauh itu hanya untuk mengambil surat-surat ini?”
Dave mengangguk.
“Aku ingin ibumu hadir di hari pernikahan kita.”
Jasmine menangis semakin keras.
Namun, kejutan belum berakhir.
Pak Surya, pria tua yang disebut Dave, ternyata ikut turun dari ambulans kedua. Rambutnya memutih, tetapi senyumnya hangat.
“Aku minta maaf datang terlambat,” katanya.
Jasmine memeluk pria itu tanpa banyak bicara.
Malam mulai turun. Lampu-lampu taman menyala, memantulkan cahaya ke dedaunan. Sebagian besar tamu memilih tetap tinggal.
Koordinator pernikahan mendekat.
“Bagaimana, Bu Jasmine? Apakah acara tetap dilanjutkan?”
Jasmine memandang Dave yang masih terbaring lemah.
Dokter sebenarnya menyarankan agar ia segera kembali ke rumah sakit. Namun Dave menggenggam tangan Jasmine.
“Hanya sepuluh menit,” katanya sambil tersenyum.
Semua orang membantu memindahkan ranjang Dave ke depan pelaminan. Tidak ada musik megah. Tidak ada pesta mewah seperti yang direncanakan.
Hanya ada cahaya lampu taman, suara jangkrik malam, dan puluhan orang yang menyaksikan dengan mata berkaca-kaca.
Penghulu berdiri di samping mereka.
“Apakah Saudara Dave bersedia menikahi Saudari Jasmine?”
Dave menarik napas dalam.
“Saya bersedia.”
Suara tepuk tangan memenuhi taman.
Ketika pertanyaan yang sama diajukan kepada Jasmine, perempuan itu menangis sambil tersenyum.
“Saya bersedia.”
Tidak ada satu pun tamu yang dapat menahan air mata saat cincin akhirnya terpasang di jari mereka.
Semua orang berpikir bahwa tragedi hari itu telah berakhir.
Tetapi keesokan paginya, sebuah fakta mengejutkan terungkap.
Polisi menemukan rekaman kamera jalan tol yang menunjukkan bahwa kecelakaan Dave bukanlah kecelakaan biasa.
Truk tangki yang menabraknya ternyata sengaja membuntuti mobil Dave selama hampir tiga puluh menit.
Penyelidikan pun dimulai.
Dua minggu kemudian, pelakunya ditangkap.
Orang itu bukan orang asing.
Ia adalah Bima, mantan rekan bisnis Dave.
Beberapa tahun sebelumnya, Dave pernah melaporkan Bima karena penggelapan dana perusahaan. Bima kehilangan segalanya dan menyimpan dendam. Setelah mengetahui tanggal pernikahan Dave, ia menyewa sopir truk untuk menakut-nakutinya di jalan.
Namun rencana itu berubah menjadi bencana.
Berita tersebut mengejutkan semua orang, terutama Jasmine.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?” tanyanya suatu malam saat mereka duduk di balkon apartemen.
Dave tersenyum sambil memandangi lampu kota.
“Aku tidak ingin hidup kita dipenuhi ketakutan.”
Jasmine memegang tangannya yang masih dipenuhi bekas luka.
“Aku hampir kehilanganmu.”
Dave menoleh.
“Tapi kamu tidak kehilangan aku.”
Beberapa bulan berlalu. Luka di tubuh Dave perlahan sembuh, meskipun bekasnya akan tetap ada selamanya.
Suatu sore, Jasmine kembali membuka surat terakhir dari ibunya.
Di bagian paling bawah, ada kalimat yang sebelumnya terlewat karena air matanya.
“Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang dengan sempurna pada hari bahagia. Cinta sejati adalah tentang siapa yang tetap berusaha pulang, bahkan setelah melewati api dan rasa sakit.”
Jasmine menatap Dave yang sedang tertidur di sofa sambil memegang album pernikahan mereka.
Ia tersenyum.
Hari pernikahan mereka memang tidak berjalan seperti yang dibayangkan siapa pun. Tidak ada upacara mewah yang sempurna, tidak ada foto romantis tanpa air mata.
Yang ada hanyalah seorang pria yang nyaris kehilangan nyawanya demi memenuhi janji, seorang perempuan yang belajar bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang indah, dan sebuah kisah yang akan mereka ceritakan kepada anak-anak mereka kelak.
Karena pada akhirnya, bukan gaun, bunga, atau pesta yang membuat sebuah pernikahan menjadi istimewa.
Melainkan dua orang yang, dalam keadaan paling buruk sekalipun, tetap memilih untuk tidak meninggalkan satu sama lain.
