Aku terpaku. Tanganku yang tadi memegang handuk kini gemetar hebat, menjatuhkannya ke lantai kamar mandi yang dingin. Luka-luka itu bukan sekadar guratan daging; mereka membentuk pola. Jika diperhatikan dengan seksama, bekas luka menyilang itu seolah membentuk angka-angka Romawi yang samar dan simbol-simbol kuno yang seakan diukir paksa oleh benda tajam.
Iporku, pria yang selama ini kukira lumpuh karena kecelakaan tragis, tiba-tiba membuka matanya. Tidak ada lagi tatapan kosong atau lemah yang biasa ia tunjukkan. Kini, sorot matanya tajam, dingin, dan penuh dengan kesadaran yang mengerikan.
“Kau melihatnya, bukan?” suaranya berubah. Tidak lagi parau seperti orang sakit, melainkan dalam dan berwibawa.

“Apa… apa ini?” tanyaku dengan suara tercekat, mundur selangkah. “Kenapa suamiku… kenapa dia memintaku menjauhimu?”
Ia tertawa pelan, sebuah tawa yang getir dan menyayat hati. “Karena suamimu bukan sedang melindungimu dari ‘penyakitku’, dia sedang melindungimu dari kebenaran tentang siapa yang sebenarnya menghuni rumah ini.”
Tiba-tiba, lampu kamar mandi berkedip keras. Suasana di dalam ruangan itu mendadak menyesakkan. Aku merasa ada kehadiran lain—sesuatu yang dingin dan tak kasat mata—bergerak di sudut ruangan.
“Dengar baik-baik,” bisiknya, kepalanya menoleh sedikit ke arahku, urat lehernya menonjol. “Suamimu, kakakku, dia tidak bekerja di luar kota. Dia bekerja untuk mereka. Dia adalah penjaga gerbang, dan aku… aku adalah kuncinya.”
Pikiranku berputar. Rumah besar di pinggiran Bandung ini, warisan keluarga yang selalu terasa aneh dengan arsitektur tertutupnya, tiba-tiba terasa seperti sebuah penjara raksasa.
“Dia tidak melumpuhkanku,” lanjut iparku, kini ia mulai berdiri tegak—sesuatu yang mustahil dilakukan oleh orang yang lumpuh total. Ia berdiri dengan kaki yang tegap, memamerkan kebohongannya selama tiga tahun. “Dia memaksaku menjadi wadah. Bekas luka ini adalah segel. Ritual yang mereka lakukan setiap malam saat kau tertidur lelap.”
Aku tersungkur ke lantai. “Tidak mungkin… suamiku mencintaiku. Dia tidak mungkin…”
“Cinta? Dia menikahimu hanya untuk satu alasan, untuk menjadi saksi yang ‘tidak tahu apa-apa’ ketika waktunya tiba,” iparku mendekat, ia meraih bahuku dengan tangan yang terasa sedingin es. “Mereka butuh seseorang dengan darah murni untuk menyelesaikan ritual pemanggilan ini. Dan malam ini, saat hujan turun dengan intensitas seperti ini, adalah puncak dari siklus tujuh tahunan itu.”
Suara pintu depan rumah terbanting keras. Langkah kaki yang terburu-buru dan berat terdengar menuju ke arah kamar kami. Itu langkah suamiku.
“Dia sudah pulang,” bisik iparku dengan senyum yang menyeramkan. “Dan dia tidak akan membiarkanmu pergi dengan ingatan utuh.”
Aku bangkit, mencoba berlari menuju pintu, tapi iparku jauh lebih cepat. Ia menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam, lalu menatapku dengan iba. “Kau punya dua pilihan. Menjadi korban bersama, atau…”
Ia menyodorkan sebuah pisau bedah kecil yang ia ambil dari balik lipatan kemejanya.
“Atau apa?” teriakku panik saat pintu kamar mandi mulai digedor keras oleh suamiku.
“Atau kau harus menghapus segel ini dari punggungku sebelum dia masuk. Hanya dengan memutus aliran darah di titik-titik bekas luka ini, aku akan kehilangan kekuatanku… dan dia akan kehilangan kendalinya atas rumah ini. Tapi risikonya, kau akan terjebak bersamaku di dalam sini selamanya.”
Suara dobrakan pintu semakin keras. Suamiku mulai berteriak dari balik pintu, suaranya bukan lagi suara suami yang lembut, melainkan raungan yang tidak manusiawi.
“Buka pintunya, sayang! Jangan dengarkan dia! Dia sedang berhalusinasi!” teriak suamiku.
Aku menatap pisau itu, lalu menatap punggung iparku. Kebenaran yang selama ini terkubur kini menuntut bayaran nyawa. Jika aku tidak bertindak, aku akan menjadi tumbal. Jika aku bertindak, aku akan menjadi tawanan.
Aku mengambil pisau itu dengan tangan gemetar. Aku menempelkan ujung tajamnya ke salah satu bekas luka di punggungnya.
“Lakukan,” perintah iparku.
Begitu ujung pisau menembus kulitnya, bukan darah yang keluar, melainkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Seluruh rumah bergetar hebat. Suara gedoran pintu berhenti seketika, digantikan oleh kesunyian yang memekakkan telinga.
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Suamiku berdiri di sana, tapi wajahnya… wajahnya kosong. Tidak ada mata, tidak ada mulut. Hanya permukaan kulit yang rata.
Aku tersentak mundur, namun iparku memegang tanganku erat. “Jangan lihat wajahnya. Lihat ke lantai.”
Di lantai, bayangan suamiku tidak lagi mengikuti gerakannya. Bayangan itu berdiri tegak, memegang sebilah belati, siap menghujamku.
“Ini bukan rumah,” bisik iparku di telingaku. “Ini adalah ruang hampa di antara dua dunia. Selama tiga tahun ini, kau tidak pernah benar-benar hidup di Bandung. Kau terjebak dalam memori yang mereka ciptakan untuk menjaga gerbang ini tetap tertutup.”
“Apa maksudmu?” tangisku pecah.
“Kita sudah mati tiga tahun lalu, dalam kecelakaan mobil yang sama,” katanya sambil menatapku dengan penuh kasih sayang yang tulus. “Suamimu… dia adalah iblis yang mengikat jiwa kita di sini agar dia bisa memanen kesedihan dan penderitaan kita sebagai bahan bakar keabadiannya.”
Tiba-tiba, realita di sekitarku mulai retak. Dinding-dinding rumah mengelupas, menampakkan kegelapan tak berujung di baliknya. Suamiku yang tanpa wajah itu mulai mencair, berubah menjadi asap hitam yang menelan ruangan.
Iporku menarikku ke tengah ruangan. “Jika kau ingin berhenti menderita, kau harus berhenti memandikanku. Kau harus berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyaku, kini aku tak lagi takut. Aku sudah lelah.
“Tutup matamu, dan bayangkan api,” ucapnya. “Kita bakar rumah ini. Kita bakar kebohongan ini. Hanya dengan begitu, kita bisa pergi dari sini.”
Aku memejamkan mata sekuat tenaga. Aku memanggil semua amarah, semua kesedihan, dan semua pengkhianatan yang kurasakan selama tiga tahun. Aku membayangkan api yang menjalar dari kemeja yang kulepaskan tadi, melahap segalanya.
Suhu ruangan melonjak drastis. Bau hangus memenuhi udara.
Tiba-tiba, keheningan total menyambutku. Tidak ada lagi suara hujan. Tidak ada lagi suara gedoran.
Aku membuka mata.
Aku berada di sebuah ruangan serba putih. Sangat luas, sangat tenang. Di sampingku, iparku duduk di kursi kayu, bukan lagi pria yang sakit, melainkan pria sehat dengan pakaian rapi.
“Di mana kita?” tanyaku.
Ia menunjuk ke depan. Di sana, terdapat sebuah cermin raksasa. Di dalam cermin itu, aku melihat rumah di Bandung tersebut sudah rata dengan tanah, menjadi abu yang tertiup angin.
“Kita sudah sampai di akhir cerita,” jawabnya sambil tersenyum. “Selamat datang di kebebasan.”
Aku menoleh ke arahnya, namun perlahan, sosoknya mulai memudar menjadi cahaya. Aku tersadar bahwa aku memang sudah sendiri selama ini. Ternyata, iparku juga hanyalah proyeksi dari bagian diriku yang tersisa—bagian yang tahu bahwa aku sudah tidak lagi bernapas di dunia manusia sejak hari kecelakaan itu.
Aku menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku merasakan kedamaian. Rahasia itu bukan tentang iparku, bukan tentang suamiku, melainkan tentang aku yang harus melepaskan keterikatan pada dunia yang sudah meninggalkanku.
Cahaya putih itu menelan segalanya. Cerita ini berakhir, bukan dengan penemuan rahasia yang mengerikan, melainkan dengan penerimaan bahwa terkadang, rahasia terbesar yang kita simpan adalah fakta bahwa kita sendiri pun sudah lama menjadi bagian dari misteri yang ingin kita pecahkan.
