Aku menatap layar ponsel Sinta, berharap ada kesalahan pada rekaman itu. Namun, semakin lama aku memperhatikan wajah perempuan yang membuka masker di ruang penyimpanan hotel, semakin jelas bahwa aku tidak sedang bermimpi.
Itu ibuku sendiri, Ratih Maharani.
Perempuan yang membesarkanku seorang diri sejak ayah meninggal. Perempuan yang selalu mengingatkanku agar tidak mudah mempercayai orang lain, bahkan ketika orang itu mengaku mencintaiku.
“Kenapa Ibu ada di sana?” tanyaku dengan suara bergetar.
Sinta tidak langsung menjawab. Ia memutar rekaman berikutnya. Kali ini, suara ibuku terdengar jelas.
“Reza, aku sudah melakukan apa yang kamu minta. Sekarang, lepaskan rumah itu.”
Reza tertawa kecil.
“Setelah pernikahan, semuanya akan beres, Bu. Nadine akan menjadi istriku. Semua asetnya bisa kita gunakan untuk melunasi pinjaman.”
Aku merasa lututku kehilangan kekuatan.
Ibuku menyerahkan sebuah map kepada Reza. Sebagai gantinya, Reza memberikan selembar dokumen yang kemudian dimasukkan ibuku ke dalam tas.
“Bagaimana kalau Nadine tahu?” tanya ibuku.
“Dia tidak akan tahu. Dia terlalu sibuk mempersiapkan pernikahan impiannya.”

Rekaman berakhir.
Aku menutup laptop, tetapi suara Reza terus terngiang di kepalaku. Selama ini, aku mengira sedang membangun masa depan bersama pria yang kucintai. Ternyata, aku sedang menyerahkan masa depanku kepada seseorang yang sudah merencanakan kehancuranku.
“Aku harus menemui Ibu,” kataku.
Sinta memegang lenganku.
“Jangan sendirian. Reza tahu kita memiliki bukti. Kalau dia merasa terpojok, kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya.”
“Aku tidak peduli. Aku ingin mendengar langsung dari mulut ibuku.”
Kami menemukan ibuku di rumahnya di Sleman. Ketika melihatku masuk bersama Sinta, ia langsung berdiri. Wajahnya pucat, sementara tangannya gemetar menggenggam cangkir teh.
“Ibu, apa yang sudah Ibu lakukan?”
Cangkir itu terlepas dari tangannya dan pecah di lantai.
Ibuku memandangku lama sebelum akhirnya menangis.
“Ibu tidak punya pilihan, Nadine.”
“Tidak punya pilihan untuk memalsukan dokumen atas namaku? Tidak punya pilihan untuk membantu Reza mengambil uangku?”
“Ibu tidak mengambil uangmu!”
“Lalu apa yang Ibu lakukan di hotel tengah malam?”
Ibuku menutup wajahnya.
Beberapa menit kemudian, ia menceritakan semuanya.
Enam minggu sebelum pernikahan, Reza datang menemuinya. Ia membawa dokumen lama milik ayahku dan mengklaim bahwa almarhum ayahku meninggalkan utang besar kepada seseorang. Jika utang itu tidak dibayar, rumah keluarga kami akan disita.
Ibuku panik. Ia tidak mengetahui urusan keuangan ayahku karena selama bertahun-tahun ayahku yang mengelola perusahaan keluarga.
Reza menawarkan bantuan. Ia berjanji menyelesaikan masalah itu secara diam-diam asalkan ibuku membantunya memperoleh beberapa dokumen dan mengesahkan pengajuan pinjaman.
“Ibu pikir itu hanya pinjaman sementara,” katanya tersedu-sedu. “Dia bilang kalian akan menikah, lalu semuanya bisa diselesaikan bersama.”
Aku menatap perempuan di hadapanku dengan perasaan campur aduk.
“Kenapa Ibu tidak bertanya kepadaku?”
“Ibu takut kehilangan rumah.”
“Dan Ibu tidak takut kehilangan anak Ibu sendiri?”
Ibuku terdiam.
Aku ingin memeluknya, tetapi rasa sakit membuatku tidak mampu bergerak. Orang yang paling kupercaya ternyata juga membiarkan ketakutannya mengalahkan kejujurannya.
Sinta kemudian meletakkan salinan dokumen pinjaman di atas meja.
“Bu Ratih, ada satu hal yang perlu kami pastikan. Apakah Ibu pernah bertemu dengan perempuan lain yang membantu Reza?”
Ibuku mengangguk pelan.
“Seorang perempuan bernama Maya. Dia mengatakan bekerja di perusahaan pembiayaan. Dia yang menyiapkan dokumen-dokumen itu.”
Sinta dan aku saling berpandangan.
Maya.
Nama itu muncul dalam salah satu percakapan yang ditemukan Dimas.
Aku segera menghubungi Dimas dan meminta kami bertemu di kantor pengelola hotel. Ia datang membawa laptop dan beberapa berkas yang berhasil dikumpulkannya sebelum aku memecatnya.
“Ada sesuatu yang belum kalian ketahui,” katanya.
Dimas menunjukkan riwayat transfer dari rekening perusahaan fiktif yang digunakan Reza. Sebagian uang yang berasal dari pembayaran vendor ternyata dialihkan ke rekening perusahaan lain.
Perusahaan itu terdaftar atas nama seseorang yang tidak pernah kami duga.
Pamanku sendiri, Bima Maharani.
Adik kandung ayahku.
Aku membeku.
“Paman Bima?”
Dimas mengangguk.
“Namanya tercantum sebagai orang yang memberikan akses terhadap sejumlah dokumen perusahaan keluarga. Termasuk dokumen kepemilikan aset yang seharusnya tidak bisa diakses Reza.”
Aku segera menelepon pamanku. Nomornya tidak aktif.
Ketika kami memeriksa arsip lama perusahaan ayahku, sebuah fakta mengejutkan muncul. Beberapa bulan sebelum Reza melamarku, pamanku pernah mengadakan pertemuan dengan perwakilan perusahaan pembiayaan yang sama dengan perusahaan dalam dokumen palsu tersebut.
Ternyata, Reza bukan orang pertama yang mencoba memanfaatkan aset keluargaku.
Ada seseorang yang membuka pintu untuknya.
Malam itu, aku tidak tidur. Aku mengumpulkan seluruh bukti, menghubungi pengacara, dan meminta pihak hotel mengamankan rekaman CCTV. Pengacara menyarankan agar kami segera melaporkan dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan dana kepada pihak berwenang.
Keesokan paginya, Reza datang ke rumah ibuku.
Ia masih mengenakan kemeja putih yang biasa dipakainya saat menghadiri acara keluarga. Wajahnya tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
“Nadine, kita perlu bicara.”
“Aku sudah tahu semuanya.”
Senyumnya menghilang.
“Kamu tidak mengerti situasinya.”
“Kalau begitu, jelaskan. Ke mana uangku pergi? Mengapa tanda tanganku muncul dalam pinjaman Rp1,8 miliar? Dan kenapa kamu melibatkan ibuku?”
Reza melirik Sinta, lalu Dimas yang berdiri di belakangku.
“Kalian sudah merusak semuanya.”
“Bukan kami yang merusaknya,” jawabku. “Kamu sendiri yang melakukannya.”
Ia mencoba mendekat, tetapi aku mengangkat tangan.
“Pernikahan ini batal.”
“Nadine, pikirkan baik-baik. Kalau kamu membatalkan pernikahan, semua orang akan tahu masalah keluarga kalian.”
“Biarkan mereka tahu.”
Untuk pertama kalinya, Reza tidak memiliki jawaban.
Aku menyerahkan salinan laporan dan bukti-bukti kepada pengacaraku. Beberapa hari kemudian, dugaan penipuan serta pemalsuan dokumen itu mulai ditangani pihak berwenang. Proses pengembalian uang tentu tidak berlangsung mudah, tetapi setidaknya aku berhenti membiarkan kebohongan mengatur hidupku.
Dimas juga akhirnya menerima permintaan maafku. Aku mengakui bahwa aku telah memecatnya sebelum memberinya kesempatan menjelaskan.
“Aku mengerti,” katanya. “Kalau berada di posisimu, mungkin aku juga akan marah.”
Aku mengganti sebagian dekorasi dengan kain sederhana dari pengrajin lokal yang masih bersedia membantu. Bukan untuk pernikahan, melainkan untuk acara kecil di rumah, tempat aku dan ibuku mencoba memperbaiki hubungan yang retak.
Namun, kejutan terakhir datang tiga minggu kemudian.
Pengacaraku menelepon setelah menerima dokumen tambahan dari bank. Dalam berkas itu terdapat salinan surat kuasa yang ditandatangani pamanku. Surat tersebut memberikan akses terhadap arsip perusahaan keluarga kepada seseorang bernama Maya.
Di bagian bawah dokumen, terdapat tanggal penandatanganan.
Tanggal itu dua minggu sebelum Reza pertama kali melamarku.
Aku segera menghubungi ibuku dan menunjukkan dokumen tersebut.
Wajahnya berubah pucat.
“Ada apa, Bu?”
Ia mengambil napas panjang, kemudian berkata lirih, “Maya bukan orang asing bagi keluarga kita.”
Aku menatapnya.
“Siapa dia?”
Ibuku menunduk.
“Dia perempuan yang dulu pernah bekerja untuk ayahmu. Dia juga orang terakhir yang bertemu ayah sebelum ayah meninggal.”
Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi.
Selama ini, aku mengira kisahku bermula dari seorang calon suami yang serakah dan seorang paman yang berkhianat. Kini, aku mulai memahami bahwa ada rahasia lama yang belum pernah diceritakan kepadaku.
Aku membuka kembali dokumen perusahaan ayah, mencari nama Maya, lalu menemukan sebuah catatan tangan di halaman terakhir.
Tulisan ayahku sendiri.
Jika sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan Maya mendekati Nadine.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Pernikahanku memang telah gagal sebelum sempat dimulai. Uangku mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat. Kepercayaanku kepada orang-orang terdekat juga telah hancur.
Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin melarikan diri dari kenyataan.
Aku akan mencari tahu siapa Maya, apa yang sebenarnya terjadi pada ayahku, dan mengapa semua orang tampaknya mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan dariku.
Sebab kini aku mengerti satu hal.
Pengkhianatan paling berbahaya bukan selalu datang dari orang yang kita cintai.
Kadang-kadang, pengkhianatan itu tumbuh dari rahasia yang diwariskan sebuah keluarga, dipelihara selama bertahun-tahun, sampai akhirnya seseorang berani membukanya.
