AKU PULANG SETELAH TIGA HARI HILANG, TAPI KELUARGAKU SUDAH MENGUBURKU—DAN FOTO DI DEPAN PETI MENUNJUKKAN AKU MATI DUA TAHUN LALU.

Aku menatap nama yang tercetak di formulir itu sampai huruf-hurufnya seolah bergerak sendiri.

Siska Handayani. Nama ibuku sendiri.

“Bu, bilang kalau ini salah.”

Ibuku menunduk. Air matanya jatuh ke kertas yang kupegang.

“Ibu bisa menjelaskan, Nak.”

“Menjelaskan apa? Kenapa Ibu menyerahkan sampel darah yang katanya milikku? Kenapa semua orang percaya aku mati, padahal aku masih hidup?”

Ibu membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Aku mundur selangkah. Selama dua puluh tujuh tahun, aku percaya ibuku adalah orang yang paling mengenalku. Sekarang, untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apakah perempuan di hadapanku benar-benar ibuku atau seseorang yang selama ini menyembunyikan sesuatu dariku.

“Dua tahun lalu, seseorang datang ke rumah,” katanya akhirnya. “Dia membawa berita bahwa kamu mengalami kecelakaan di hutan. Katanya, tim pencarian menemukan barang-barangmu dan membutuhkan sampel keluarga untuk memastikan identitas korban.”

“Siapa orang itu?”

Ibu melirik Rendi.

Aku mengikuti arah pandangannya.

Rendi menggeleng cepat. “Aku tidak datang sendirian waktu itu. Tapi aku tidak pernah meminta Ibu menyerahkan darah palsu.”

“Jadi, Ibu benar-benar menyerahkan sampel darah?”

Ibu mengangguk pelan.

“Ada petugas yang mengambilnya. Ibu tidak pernah melihat hasil laboratorium secara langsung. Beberapa hari kemudian, Rendi mengatakan hasilnya cocok dan kamu sudah dinyatakan meninggal.”

Aku merasakan kemarahan bercampur kebingungan memenuhi dadaku.

“Kenapa Ibu tidak meminta melihat jenazahku?”

“Karena mereka bilang tubuhmu tidak mungkin dikenali setelah kecelakaan.”

“Dan Ibu percaya begitu saja?”

Ibuku terisak.

“Ibu kehilangan anak, Nabila. Ibu tidak bisa berpikir jernih.”

Kalimat itu seharusnya membuatku iba. Namun, ada sesuatu yang lebih kuat daripada rasa kasihan: kenyataan bahwa selama dua tahun, hidupku telah dikuburkan oleh orang-orang yang mengaku menyayangiku.

Aku memasukkan formulir ke dalam tas.

“Aku akan mencari tahu semuanya.”

“Nabila, tunggu!”

Kali ini aku tidak berhenti.

Aku berjalan ke rumah Pak Arif, tetangga kami yang sejak tadi menyaksikan semuanya. Dia pensiunan pegawai administrasi kepolisian dan mengenal banyak orang di kantor kecamatan. Setelah mendengar ceritaku, dia segera mengantarku ke kantor polisi terdekat.

Petugas yang menerima laporan awal tampak kesulitan memahami ceritaku. Seorang perempuan yang secara resmi telah meninggal selama dua tahun datang sendiri untuk melaporkan kemungkinan pemalsuan identitas dan bukti biologis.

Namun, setelah melihat dokumen kematian, foto-foto barang bukti, serta pesan di ponsel Rendi yang sempat kupotret, mereka mulai memperlakukanku dengan serius.

Aku diminta menjalani pemeriksaan identitas dan memberikan sampel DNA baru. Petugas juga menghubungi rumah sakit untuk memeriksa catatan kematianku.

Hasil awal justru membuat persoalan semakin rumit.

Tidak ada jenazah yang pernah diserahkan kepada keluargaku.

Yang dimakamkan dua tahun lalu ternyata sebuah peti berisi tanah dan beberapa barang pribadi. Pemakaman itu dilakukan setelah surat keterangan kematian diterbitkan berdasarkan laporan penemuan korban yang belum teridentifikasi secara langsung.

“Siapa yang mengurus semua dokumen ini?” tanyaku.

Petugas membalik beberapa halaman.

“Pengajuan awalnya melalui perusahaan asuransi tempat Anda terdaftar sebagai peserta penelitian lapangan. Ada klaim santunan kematian yang diajukan setelah Anda dinyatakan meninggal.”

Aku terdiam.

Aku memang mengikuti penelitian lingkungan yang didanai sebuah yayasan swasta. Sebelum berangkat, aku menandatangani sejumlah dokumen administrasi, termasuk perlindungan kecelakaan. Namun, aku tidak pernah membayangkan seseorang bisa menggunakan dokumen itu untuk menghapus keberadaanku.

“Berapa nilai santunannya?”

Petugas menyebutkan angka yang membuatku terkejut.

Jumlahnya cukup besar untuk membeli rumah sederhana di pinggiran Jakarta.

Dan penerima manfaat utamanya adalah Rendi.

Malam itu, aku tidak pulang ke rumah. Aku menginap di rumah Pak Arif sementara polisi menindaklanjuti laporan tersebut. Pikiranku terus kembali kepada satu pertanyaan: mengapa seseorang harus memalsukan kematianku jika tujuannya hanya mendapatkan uang?

Keesokan paginya, sebuah nomor tak dikenal menghubungiku.

“Nabila, jangan percaya kepada siapa pun di keluargamu,” kata seorang laki-laki dengan suara berbisik.

“Siapa ini?”

“Namaku Bima. Aku pernah menjadi asisten laboratorium di tempat kamu bekerja. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Dia memberiku alamat sebuah rumah kontrakan di Depok.

Sebelum menutup telepon, dia berkata, “Jangan beri tahu ibumu. Dia bukan satu-satunya orang yang menyimpan rahasia.”

Aku hampir membatalkan pertemuan itu. Namun, rasa takutku kalah oleh kebutuhan untuk mengetahui kebenaran.

Pak Arif mengantarku ke alamat tersebut. Bima menungguku di dalam kamar sempit yang dipenuhi kardus dan dokumen. Wajahnya pucat, sementara tangannya terus meremas ujung kemeja.

Dia mengeluarkan sebuah laptop tua dan membuka folder bertanggal Oktober 2024.

“Aku menemukan kejanggalan setelah kamu dilaporkan hilang,” katanya. “Sampel yang diklaim berasal dari korban tidak pernah masuk melalui prosedur resmi. Nomor registrasinya menggunakan identitas penelitianmu, tetapi tanda tangan penerimanya dipalsukan.”

“Siapa yang memalsukannya?”

Bima memperlihatkan salinan formulir.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan Dinda.

Aku menutup mata sebentar.

Sepupuku bukan sekadar membantu menyiapkan perlengkapan lapangan. Dia juga memiliki akses ke data penelitianku.

“Kenapa kamu baru bicara sekarang?”

“Karena aku takut. Setelah aku mempertanyakan dokumen itu, aku dipecat. Beberapa minggu kemudian, seseorang mendatangiku dan menyuruhku melupakan semuanya.”

Bima membuka file berikutnya. Isinya berupa percakapan surel antara Dinda dan seseorang yang menggunakan alamat perusahaan asuransi.

Dalam salah satu pesan, Dinda menulis bahwa identitasku akan tetap tercatat sebagai peserta meninggal selama semua dokumen pendukung tidak diperiksa ulang.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Namun, bukti yang paling mengejutkan muncul di folder terakhir.

Ada foto diriku tertidur di dalam sebuah kendaraan, diambil dari kejauhan. Tanggalnya menunjukkan dua hari sebelum aku memasuki hutan.

Di belakang foto itu, seseorang menulis sebuah kalimat pendek.

Pastikan dia tidak kembali sebelum semuanya selesai.

Aku langsung merasa mual.

“Apa maksudnya ini?” tanyaku.

Bima menggeleng. “Aku tidak tahu siapa yang mengambil foto itu. Tapi aku tahu Dinda bukan satu-satunya orang yang merencanakan sesuatu.”

Polisi menerima salinan dokumen tersebut dan mulai memanggil orang-orang yang terlibat. Dinda akhirnya ditemukan di rumah kerabatnya. Setelah pemeriksaan panjang, dia mengakui telah membantu memalsukan beberapa dokumen, tetapi bersikeras bahwa dia tidak mengetahui siapa yang pertama kali merancang semuanya.

Rendi juga diperiksa. Dia mengakui menerima santunan asuransi dan menikahi Dinda setelah kematianku diumumkan. Dia mengaku meyakini aku benar-benar telah meninggal, tetapi tidak mampu menjelaskan mengapa sebagian besar percakapan tentang pemeriksaan DNA sengaja dihapus.

Aku belum bisa memaafkan mereka.

Namun, aku masih belum mendapatkan jawaban tentang ibuku.

Tiga hari setelah pemeriksaan dimulai, polisi memanggilku kembali. Hasil tes DNA terbaru menunjukkan bahwa sampel pembanding dari ibuku cocok denganku. Secara biologis, dia memang ibu kandungku.

Tetapi ada temuan lain dalam arsip laboratorium lama.

Sampel yang digunakan untuk menetapkan kematianku ternyata tidak berasal dari korban kecelakaan. Sampel itu milik seseorang yang telah memberikan spesimen biologis untuk penelitian yang sama, menggunakan nomor registrasi yang kemudian disalin oleh Dinda.

Polisi belum mengungkap identitas orang tersebut kepadaku. Mereka hanya mengatakan bahwa orang itu sudah meninggal sebelum Oktober 2024 dan kematiannya tidak pernah dilaporkan secara terbuka.

Aku pulang ke rumah bersama petugas untuk mengambil barang-barangku. Ibuku menungguku di ruang tamu, duduk di bawah foto pemakamanku yang kini telah diturunkan.

Di tangannya ada sebuah amplop putih.

“Ibu tidak tahu mereka akan melakukan semua ini,” katanya.

Aku tidak menjawab.

Dia menyerahkan amplop itu kepadaku.

“Ini surat yang ditinggalkan ayahmu sebelum meninggal. Ibu seharusnya memberikannya kepadamu dua tahun lalu.”

Ayahku telah meninggal ketika aku masih kuliah. Aku membuka amplop dengan tangan gemetar.

Surat itu hanya berisi beberapa paragraf. Ayah menulis bahwa sebelum meninggal, dia menemukan ketidaksesuaian dalam dokumen keluarga kami. Dia meminta agar aku tidak pernah menyerahkan dokumen identitas asli kepada siapa pun tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Namun, kalimat terakhir membuat seluruh tubuhku membeku.

Jika suatu hari kamu mengetahui bahwa seseorang telah menggunakan namamu untuk menutupi kematian orang lain, jangan mencari orang yang paling kamu curigai. Carilah orang yang paling diuntungkan oleh kebohongan itu.

Aku menatap ibuku.

“Bu, siapa yang sebenarnya meninggal dua tahun lalu?”

Wajahnya kehilangan warna.

Sebelum dia sempat menjawab, teleponku berdering. Petugas yang menangani kasusku berbicara dengan nada tegang.

Mereka baru saja menemukan arsip lama yang mengungkap identitas pemilik sampel darah tersebut.

Namanya Siska Handayani.

Nama ibuku.

Aku menoleh perlahan ke arah perempuan yang duduk di hadapanku.

Ibuku mulai menangis, tetapi kali ini dia tidak berusaha menyangkal apa pun.

“Orang yang mereka kuburkan bukan kamu, Nak,” bisiknya. “Mereka menguburkan seseorang yang memiliki identitas sama denganmu.”

Aku menggenggam surat ayahku erat-erat.

“Siapa dia?”

Ibuku menatapku dengan mata penuh ketakutan.

“Kakak kembarmu.”

Dunia seolah berhenti.

Selama dua puluh tujuh tahun, aku tidak pernah tahu bahwa aku memiliki saudara kembar. Ayah dan ibu selalu mengatakan aku anak tunggal.

Ibu akhirnya menceritakan bahwa saudara kembarku, Nadira, telah lama tinggal terpisah dariku setelah sebuah konflik keluarga. Kami memiliki tanggal lahir, wajah, dan data biologis yang hampir identik. Ketika Nadira meninggal dalam kecelakaan yang tidak pernah diumumkan kepada keluarga besar, seseorang memanfaatkan kemiripan kami untuk membuat kematiannya tercatat sebagai kematianku.

Namun, masih ada satu hal yang tidak masuk akal.

Jika Nadira telah meninggal sebelum aku menghilang, mengapa seseorang baru mengurus semua dokumen itu pada Oktober 2024?

Polisi menemukan jawabannya beberapa hari kemudian.

Nadira ternyata tidak meninggal dalam kecelakaan seperti yang selama ini dipercaya ibuku. Dia telah menjadi korban pemalsuan identitas yang jauh lebih lama, dan kematiannya sengaja disembunyikan demi menutupi penggelapan dana yayasan penelitian.

Orang yang pertama kali mengusulkan penggunaan identitasku adalah seseorang yang selama ini dipercaya keluargaku sebagai penyelamat.

Ayahku sendiri.

Sebelum meninggal, dia telah meninggalkan bukti yang cukup untuk mengungkap jaringan tersebut. Namun, suratnya disembunyikan oleh ibuku karena dia takut kehilangan satu-satunya anak yang masih hidup.

Aku berdiri di depan rumah dengan perasaan hancur. Selama ini, aku mengira pulang berarti kembali kepada orang-orang yang kucintai.

Ternyata, aku pulang untuk menemukan bahwa hidupku telah dibangun di atas rahasia orang-orang terdekatku.

Peti mati yang kulihat di rumah itu memang pernah dikuburkan dua tahun lalu. Hanya saja, yang dikubur bukan diriku, dan kebohongan yang menyertainya telah merenggut dua tahun hidupku.

Aku tidak tahu apakah suatu hari aku bisa memaafkan ibuku.

Yang kutahu, aku masih hidup, dan kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun menentukan siapa diriku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang