AKU MENANGKAP PRIA YANG MEMBAWA KOTAK OBAT CURIAN, NAMUN SUARANYA DAN SATU NOMOR BATCH MEMBUKA PENGKHIANATAN DARI DALAM KEPOLISIAN TEMPATKU BERTUGAS.

Suara AKP Surya dari ponsel retak itu membuat gang sempit di belakang Apotek Bina Sehat terasa mendadak sunyi.

Aku memutar rekaman itu sekali lagi.

“Pancing Laras ke lokasi. Kalau Damar melawan, buat dia menembak. Orang mati tidak bisa menyerahkan catatan distribusi.”

Tidak mungkin aku salah mengenali suara itu.

Selama enam tahun, Surya adalah orang yang mengajariku membaca TKP, menghadapi tersangka, bahkan menenangkanku ketika Ayah meninggal. Dia datang ke pemakaman, berdiri di sampingku sampai malam, lalu berkata bahwa aku masih punya keluarga di kepolisian.

Ternyata mungkin justru dia yang ikut membunuh Ayah.

“Laras.”

Suara Damar menyadarkanku.

Hendra dan kedua pegawainya mulai mundur perlahan.

Aku langsung mengangkat kepala.

“Jangan bergerak.”

Hendra tersenyum kaku. “Bu Laras, kita bisa selesaikan ini di kantor.”

Tangannya bergerak menuju saku celana.

Aku mencabut pistol.

“Tangan di tempat yang bisa kulihat.”

Kedua pegawai Hendra langsung mengangkat tangan. Hendra berhenti bergerak.

Radio di bahuku kembali berbunyi.

“Bripka Laras, laporkan posisi.”

Aku tidak menjawab.

“Laras?”

Aku mematikan radio.

Damar menatapku. “Sekarang dia tahu kau sudah melihat sesuatu.”

“Berapa banyak yang terlibat?”

“Lebih banyak daripada yang kau kira.”

Aku memasukkan ponsel retak ke kantong barang bukti, lalu mengambil dompet Damar yang tadi jatuh. Kuitansi yang sempat kulihat masih berada di dalamnya.

Tanggalnya sembilan tahun lalu.

Nama pengirimnya membuatku terdiam.

Baharuddin.

Nama Ayahku.

Pada bagian penerima tertulis nama Damar.

Aku menatapnya.

“Apa ini?”

Damar menunduk.

“Bukan sekarang.”

“Damar, ayahku memberimu uang sembilan tahun lalu?”

Suara sirene terdengar dari ujung jalan.

Damar mendadak pucat.

“Kita harus pergi.”

“Itu polisi.”

“Justru itu masalahnya.”

Dua mobil patroli berhenti di mulut gang.

Empat polisi turun.

Aku mengenal mereka semua.

Salah satunya Ipda Reza, tangan kanan Surya.

“Bripka Laras!” teriaknya. “Perintah AKP Surya, serahkan tersangka dan barang bukti!”

Aku berdiri di depan Damar.

“Siapa yang melaporkan lokasi kami?”

Reza terdiam sepersekian detik.

Itu sudah cukup.

Aku belum pernah memberi koordinat.

“Aku akan membawa tersangka sendiri.”

“Tidak bisa.”

“Tunjukkan surat perintah pengambilalihan.”

Wajah Reza mengeras.

“Jangan membuat keadaan sulit.”

Aku mundur perlahan sambil menarik Damar.

Lalu terdengar bunyi logam dari belakang.

Hendra.

Dia mengeluarkan pistol kecil dari pinggangnya.

“Laras!”

Damar menerjangku.

Letusan memecah gang.

Peluru menghantam tembok tepat di tempat kepalaku berada beberapa detik sebelumnya.

Kekacauan terjadi.

Aku membalas satu tembakan ke arah tanah dekat kaki Hendra. Dia menjatuhkan pistol dan berlari.

“Kejar Hendra!” teriakku kepada Reza.

Namun tidak satu pun polisi bergerak.

Mereka justru mengarahkan senjata kepada kami.

Saat itulah aku benar-benar memahami situasinya.

“Lari!” teriak Damar.

Kami melompati pagar rendah menuju bantaran kanal. Aku masih membawa kotak pendingin, sementara Damar berlari dengan satu tangan terborgol.

Kami masuk ke pasar kecil di seberang kanal dan menyelinap di antara kios-kios yang mulai tutup.

Setelah hampir sepuluh menit, kami bersembunyi di gudang kosong milik pedagang ikan.

Aku membuka borgol Damar.

“Sekarang bicara.”

Dia duduk di lantai, napasnya masih berat.

“Sembilan tahun lalu aku bekerja sebagai kurir untuk perusahaan distributor farmasi. Aku menemukan selisih stok obat yang besar. Ayahmu waktu itu sedang menyelidiki kasus obat palsu secara diam-diam.”

Aku membeku.

Ayah bukan polisi. Dia bekerja sebagai staf administrasi rumah sakit.

“Bagaimana Ayah terlibat?”

“Karena obat pertama yang dia temukan berasal dari gudang rumah sakitnya.”

Damar mengeluarkan kuitansi tadi.

“Ayahmu membayar biaya perjalananku ke Surabaya. Dia menyuruhku membawa salinan dokumen kepada seorang penyidik di sana.”

“Kenapa kau menghilang?”

“Aku tidak sampai ke Surabaya.”

Damar menunjuk bekas luka di pelipisnya.

“Bus yang kutumpangi dihentikan tiga orang. Mereka mengambil dokumen dan menghajarku. Aku selamat karena sopir truk menemukan aku di pinggir jalan.”

“Kenapa kau tidak pulang?”

“Karena orang yang memberitahukan rute perjalananku adalah polisi yang dipercaya ayahmu.”

Aku sudah tahu nama yang akan keluar dari mulutnya.

“Surya.”

Damar mengangguk.

Perutku terasa mual.

“Kalau semua ini sudah berlangsung sembilan tahun, kenapa baru sekarang?”

“Karena jaringan mereka sempat berhenti. Dua tahun terakhir mereka mulai lagi dengan cara lebih rapi. Bukan hanya insulin. Obat kanker, vaksin, obat hormon. Barang asli dijual ke pasar gelap, kemasan resmi diisi produk murah atau produk yang penyimpanannya sudah rusak.”

Aku melihat dua belas pena insulin dalam kotak.

“BS-0417?”

“Batch itu seharusnya ditarik tiga bulan lalu setelah suhu penyimpanannya rusak. Tapi Hendra menghapus catatan penarikan dan mengedarkannya kembali.”

Ayah memakai insulin dari batch itu.

Tanganku gemetar.

“Jadi Ayah bukan meninggal karena dosisnya salah.”

Damar tidak menjawab.

Aku menutup mata.

Selama dua bulan aku menyalahkan diriku karena malam sebelum Ayah meninggal aku lupa menelepon untuk mengingatkannya makan. Dokter mengatakan hipoglikemia berat bisa terjadi karena banyak faktor.

Ternyata ada orang yang sengaja memasukkan obat bermasalah kembali ke pasaran demi uang.

Ponsel dinasku bergetar.

Pesan dari Surya.

Laras, saya tahu kamu bingung. Datang sendiri ke kantor. Jangan percaya Damar. Ayahmu dulu juga hampir menghancurkan hidupnya karena percaya orang yang salah.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Damar.

“Dia ingin aku datang.”

“Jangan.”

“Justru aku harus datang.”

Damar menatapku tidak percaya.

Aku mengeluarkan kartu memori dari ponsel retak.

“Yang dia inginkan bukan kita. Dia menginginkan bukti.”

Aku menyalin rekaman dan foto ke penyimpanan daring menggunakan ponsel pribadi. Kemudian kukirim tautannya kepada satu orang yang masih kupercaya, Kompol Ratih dari Propam Polda Sulsel, perempuan yang pernah menjadi instrukturku.

Pesanku singkat.

Bu, jika saya tidak menghubungi dalam satu jam, buka semuanya.

Aku kemudian memasukkan kartu memori asli ke sela lapisan dalam dompet Damar.

“Kau tunggu di sini.”

“Laras, jangan bodoh.”

“Aku polisi. Kalau aku terus bersembunyi, Surya bisa membentuk narasi bahwa aku membantu pencuri melarikan diri.”

“Dan kalau kau datang, dia bisa membunuhmu.”

Aku menatapnya.

“Karena itu aku butuh dia bicara.”

Empat puluh menit kemudian aku masuk ke kantor polisi.

Kotak pendingin kubawa sendiri.

Surya menunggu di ruangannya.

Dia berdiri ketika aku masuk, kemudian mengunci pintu.

“Syukurlah.”

Tatapannya jatuh pada kotak.

“Damar?”

“Lolos.”

Surya menghela napas.

“Kamu membuat masalah besar.”

“Aku mendengar rekamannya.”

Dia terdiam.

Tidak ada lagi alasan untuk berpura-pura.

Surya duduk.

“Ayahmu juga seperti kamu. Keras kepala.”

Aku mengepalkan tangan.

“Batch BS-0417 membunuh Ayah?”

“Tidak ada yang membunuh ayahmu.”

“Jawab.”

Surya menatapku lama.

“Obat itu seharusnya tidak beredar.”

Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan langsung.

“Dan kau tahu.”

“Aku tahu setelahnya.”

“Bohong.”

“Laras, jaringan ini jauh lebih besar daripada Hendra. Kamu pikir menangkap satu pemilik apotek akan menyelesaikannya?”

“Berapa kau dibayar?”

Wajahnya berubah.

“Jaga bicaramu.”

“Berapa harga nyawa ayahku?”

Dia berdiri.

“Ayahmu seharusnya berhenti sembilan tahun lalu. Aku sudah memperingatkannya.”

Aku menahan napas.

“Jadi kau memang terlibat sejak dulu.”

Surya menyadari kesalahannya.

Tangannya bergerak menuju pistol.

Aku lebih cepat mengangkat senjata.

“Jangan.”

Dia tertawa pelan.

“Kamu tidak akan menembak atasanmu.”

“Aku tidak perlu.”

Aku menunjuk kamera kecil di saku seragamku.

Lampu merah menyala.

Wajah Surya pucat.

Aku sengaja tidak mengatakan bahwa kamera itu sebenarnya hanya merekam ke kartu lokal. Aku hanya perlu membuatnya percaya rekaman sedang dikirim langsung.

Dia menerjang.

Kami bergumul.

Pistolnya terlepas dan jatuh di bawah meja.

Surya mencekik leherku sambil mendorongku ke dinding.

“Seharusnya aku tidak membiarkanmu masuk kepolisian!”

Pintu tiba-tiba didobrak.

“Lepaskan dia!”

Kompol Ratih masuk bersama enam anggota Propam.

Surya membeku.

Dua anggota langsung memborgolnya.

Untuk pertama kalinya sejak mendengar rekaman Damar, aku bisa bernapas.

Pemeriksaan berlangsung berbulan-bulan.

Hendra ditangkap di Parepare ketika mencoba kabur menuju Kalimantan. Reza dan tiga anggota lain ikut ditahan. Dari buku pengiriman yang dibawa Damar, penyidik menemukan jaringan distribusi obat ilegal yang melibatkan beberapa gudang dan puluhan apotek di Sulawesi Selatan.

Namun ada satu hal yang terus menggangguku.

Surya bersikeras bahwa dia tidak pernah memerintahkan siapa pun membunuh Ayah.

Hasil pemeriksaan juga menunjukkan kematian Ayah memang berkaitan dengan insulin yang rusak, tetapi tidak ada bukti bahwa pena tersebut sengaja diberikan khusus kepadanya.

Aku pikir itu akhir dari semuanya.

Sampai suatu sore Damar datang ke rumah Ayah.

Rumah itu belum berani kujual.

Kami duduk di teras ketika dia menyerahkan sebuah amplop tua.

“Aku menyimpan ini sembilan tahun.”

Di dalamnya ada surat tulisan tangan Ayah.

Untuk Damar.

Aku membacanya perlahan.

Jika sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan Laras mengetahui semua ini sebelum dia cukup kuat untuk memilih jalannya sendiri. Dia selalu ingin menjadi polisi. Jangan biarkan kesalahanku membuatnya membenci seragam yang dia cintai.

Air mataku jatuh.

Namun ada kalimat terakhir.

Dan satu lagi, Damar. Aku tahu kenapa kamu ingin pergi tanpa berpamitan kepadanya. Jangan lakukan itu. Anak saya mungkin keras kepala, tetapi dia berhak menentukan sendiri siapa yang ingin dia tunggu.

Aku menatap Damar.

Dia memalingkan wajah.

“Apa maksud Ayah?”

Damar tersenyum kecil, senyum yang kukenal sejak kami masih duduk di bangku SMA.

“Aku dulu datang menemui ayahmu untuk meminta izin melamarmu setelah kau lulus akademi.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

“Uang dalam kuitansi itu bukan hanya biaya perjalanan,” lanjutnya. “Ayahmu memberiku uang untuk membeli cincin. Katanya aku terlalu miskin untuk melamar anaknya dengan tangan kosong.”

Aku tertawa di tengah tangis.

“Lalu kau menghilang sembilan tahun.”

“Aku pikir menjauh akan membuatmu aman.”

“Kau benar-benar bodoh.”

“Aku tahu.”

Aku menatap bekas luka di pelipisnya, lalu surat Ayah di tanganku.

Sembilan tahun lalu, aku mengira Damar meninggalkanku karena tidak cukup mencintaiku.

Dua bulan lalu, aku mengira Ayah meninggal karena tubuhnya sendiri mengkhianatinya.

Dan beberapa bulan terakhir, aku mengira seragam yang kupakai telah dikhianati oleh orang-orang di dalamnya.

Ternyata hidup jauh lebih rumit.

Ada orang yang menggunakan seragam untuk melindungi kejahatan.

Ada orang tanpa seragam yang mempertaruhkan hidup demi membongkarnya.

Dan ada seorang ayah yang mengetahui bahaya sedang mendekat, tetapi tetap menjaga mimpi anaknya bahkan ketika dia sendiri mungkin tidak akan hidup untuk melihat mimpi itu terwujud.

Aku melipat surat Ayah dan memasukkannya kembali ke amplop.

“Cincinnya masih ada?”

Damar terdiam.

Lalu dia mengeluarkan dompet cokelat lusuh yang pernah jatuh di gang hari itu.

Dari bagian terdalamnya, dia mengambil sebuah cincin sederhana yang warnanya sudah sedikit kusam.

“Selama sembilan tahun?”

“Selama sembilan tahun.”

Aku menatapnya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum.

“Jangan melamar sekarang.”

Wajahnya langsung gugup.

Aku tertawa.

“Beri aku waktu untuk marah karena kau membuatku menunggu sembilan tahun.”

Untuk pertama kalinya, Damar ikut tertawa.

Di kejauhan, azan magrib mulai terdengar dari masjid.

Aku memandang seragam yang tergantung di balik pintu rumah.

Dulu aku mengira menjadi polisi berarti selalu tahu siapa penjahat dan siapa korban.

Sekarang aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Seragam tidak membuat seseorang menjadi baik.

Jabatan tidak membuat seseorang layak dipercaya.

Dan kebenaran terkadang datang dari orang yang kita kejar, sementara pengkhianatan justru berdiri tepat di belakang kita, memakai lambang yang sama.

Ayah tidak pernah memintaku menjaga nama baik kepolisian.

Dia memintaku menjaga alasan mengapa aku memilih menjadi polisi.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kematiannya, aku merasa tidak lagi berjalan sendirian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang