Pada Ulang Tahun Nenek, Ayah Menampar Ibu Enam Kali. Aku Tak Sanggup Lagi Menahan Diri dan Menghantamkan Batu Bata ke Kepalanya!

Darah yang mengalir dari kepala Ayah membuat seluruh ruang makan berubah menjadi tempat yang asing bagiku.

Beberapa detik sebelumnya, semua orang hanya berdiri diam ketika Ibu dipukul enam kali. Namun begitu Ayah terhuyung dengan luka di kepalanya, mereka mendadak bergerak seperti baru terbangun dari tidur panjang.

“Budi!”

Nenek menjerit.

Paman Dedi melompat dari kursinya dan menangkap tubuh Ayah sebelum jatuh. Dua sepupuku berlari mencari handuk. Tante Mira mengambil ponsel untuk memanggil ambulans.

Tak seorang pun melakukan semua itu ketika Ibu jatuh.

Aku berdiri di tempat yang sama, menatap batu bata merah yang tergeletak di lantai. Ada sedikit darah pada salah satu sudutnya.

Tanganku gemetar hebat.

Baru saat itulah aku menyadari apa yang telah kulakukan.

“Sari…”

Suara Ibu terdengar sangat pelan.

Aku menoleh.

Ia sudah berdiri, meski harus berpegangan pada meja. Pipi kirinya membengkak, bibirnya masih berdarah, dan kulit tangannya memerah terkena kuah panas.

Namun bukannya memeriksa lukanya sendiri, Ibu berjalan ke arahku.

Ia memelukku.

Tubuhnya gemetar.

“Kenapa kamu lakukan itu, Nak?”

Aku menangis di bahunya.

“Karena tidak ada seorang pun yang menolong Ibu.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Aku menatap satu per satu wajah orang-orang di sana.

“Tidak ada satu pun.”

Paman Dedi mendadak berdiri.

“Jangan sok jadi korban! Kamu baru saja mencoba membunuh ayahmu sendiri!”

Aku melepaskan pelukan Ibu dan menatapnya.

“Dan Paman melakukan apa ketika dia memukul Ibu enam kali?”

“Itu urusan suami istri!”

“Enam tamparan bukan urusan suami istri. Itu kekerasan.”

Wajah Paman Dedi memerah.

Ia hendak maju, tetapi suara sirene ambulans terdengar dari luar.

Ayah dibawa ke rumah sakit.

Lukanya ternyata tidak sampai menyebabkan retak tulang tengkorak, tetapi membutuhkan beberapa jahitan dan observasi. Sementara itu, seorang petugas kepolisian datang setelah pihak rumah sakit melaporkan adanya dugaan kekerasan.

Aku tidak lari.

Aku menceritakan semuanya.

Aku mengatakan bahwa aku memukul Ayah dengan batu bata.

Aku juga mengatakan apa yang dilakukan Ayah sebelumnya.

Beberapa kerabat mencoba menyederhanakan kejadian itu.

Katanya hanya pertengkaran keluarga.

Katanya Ayah sedang emosi.

Katanya aku terlalu impulsif.

Namun ada sesuatu yang tidak mereka perhitungkan.

CCTV.

Enam bulan sebelumnya, Ayah memasang kamera keamanan di ruang makan karena pernah kehilangan jam tangan mahal saat acara keluarga.

Kamera itulah yang merekam semuanya.

Enam tamparan.

Ibu jatuh.

Semua orang diam.

Aku mengambil batu bata.

Aku memukul Ayah.

Tidak ada yang bisa mengubah urutan kejadian itu dengan kebohongan.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua puluh tiga tahun menikah, Ibu tidak pulang bersama Ayah.

Kami pergi ke apartemen kecil milikku di Jakarta Selatan.

Di dalam mobil, Ibu tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya menatap keluar jendela.

Lampu-lampu kota berkelebat di wajahnya yang membengkak.

Sesampainya di apartemen, aku mengambil kotak obat.

Ketika hendak mengoleskan salep pada lengannya, Ibu tiba-tiba menarik tangan.

“Jangan.”

Aku terdiam.

Ia menggulung lengan bajunya sendiri.

Dan saat itulah napasku tercekat.

Ada bekas luka lain.

Bukan satu.

Banyak.

Sebagian sudah memudar, sebagian masih terlihat jelas.

“Ibu…”

Ia menunduk.

“Ayah sudah berapa lama melakukan ini?”

Ibu tidak menjawab.

Aku menggenggam tangannya.

“Berapa lama?”

“Sejak kamu masih kecil.”

Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

Selama ini aku tahu Ayah keras. Aku tahu ia sering membentak Ibu. Aku pernah mendengar suara barang pecah dari kamar mereka.

Namun setiap kali kutanya, Ibu selalu berkata bahwa ia menjatuhkan sesuatu.

Ternyata aku hanya melihat bagian kecil dari semuanya.

“Kenapa Ibu tidak pergi?”

Pertanyaan itu keluar sebelum sempat kutahan.

Ibu tersenyum pahit.

“Pergi ke mana?”

Ia kemudian bercerita.

Ketika menikah dengan Ayah, Ibu berhenti bekerja karena diminta mengurus rumah. Rekening keluarga dikendalikan Ayah. Rumah atas nama Ayah. Mobil atas nama perusahaan keluarga. Bahkan sebagian besar tabungan yang dikira milik bersama sebenarnya berada di rekening yang tidak bisa diakses Ibu.

Setiap kali Ibu mencoba melawan, Ayah mengingatkannya bahwa ia tidak punya apa-apa.

“Ayahmu selalu bilang satu hal,” ujar Ibu.

“Apa?”

“Kalau aku pergi, aku akan pergi tanpa membawa apa pun. Termasuk kamu.”

Aku menahan napas.

“Jadi Ibu bertahan karena aku?”

“Awalnya.”

“Lalu?”

Ibu terdiam cukup lama.

“Lama-lama aku lupa bagaimana caranya pergi.”

Aku memeluknya.

Malam itu kami menangis sampai hampir pagi.

Kupikir rahasia terbesar keluarga kami adalah kekerasan Ayah.

Ternyata aku salah.

Dua hari kemudian, seorang perempuan bernama Maya datang ke apartemenku.

Usianya sekitar empat puluh tahun. Pakaiannya sederhana tetapi rapi.

Begitu Ibu melihatnya, wajahnya langsung pucat.

“Maya?”

Perempuan itu tersenyum getir.

“Sudah lama, Mbak Ratna.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Kalian saling kenal?”

Maya mengangguk.

“Aku pernah bekerja di perusahaan keluarga Wijaya.”

Ia mengeluarkan sebuah map tebal dari tasnya.

“Lebih tepatnya, aku bekerja untuk ayahmu selama sebelas tahun.”

Maya kemudian meletakkan beberapa dokumen di meja.

Laporan transaksi.

Salinan akta perusahaan.

Bukti transfer.

Dan beberapa surat perjanjian.

“Aku datang karena dengar kejadian di ulang tahun Bu Wijaya,” katanya. “Kalau Ratna akhirnya berani keluar dari rumah itu, mungkin sekarang waktunya semua ini dibuka.”

Ibu menatap dokumen-dokumen itu dengan tangan gemetar.

Ternyata bertahun-tahun sebelumnya, keluarga Ibu memiliki perusahaan distribusi kecil.

Ayah mengenal Ibu ketika perusahaan itu sedang berkembang.

Setelah mereka menikah, Ayah mengusulkan merger dengan bisnis keluarga Wijaya.

Perusahaan keluarga Ibu perlahan dilebur.

Aset dipindahkan.

Saham dialihkan.

Dokumen ditandatangani.

Sampai akhirnya nama keluarga Ibu menghilang sepenuhnya dari perusahaan.

“Aku kira semuanya memang kesepakatan Ayah dan mendiang Kakek,” kata Ibu.

Maya menggeleng.

“Tidak.”

Ia mengeluarkan dokumen terakhir.

“Sebagian tanda tangan dipalsukan.”

Ruangan mendadak terasa dingin.

Aku menatap Ibu.

Wajahnya kehilangan warna.

Jadi selama ini bukan hanya hidup dan harga dirinya yang dirampas.

Keluarganya juga kehilangan bisnis karena manipulasi orang yang kemudian menjadi suaminya.

“Kenapa baru sekarang?” tanyaku kepada Maya.

Matanya berkaca-kaca.

“Karena dulu aku takut.”

Ia menghela napas.

“Budi mengancam akan menghancurkan karierku. Aku punya anak yang harus kubiayai. Aku memilih diam.”

Kemudian ia menatap Ibu.

“Dan aku menyesal setiap hari.”

Bukti dari Maya mengubah semuanya.

Ibu menghubungi pengacara.

Pemeriksaan terhadap dokumen perusahaan dimulai.

Transaksi lama ditelusuri.

Satu demi satu kebohongan yang selama puluhan tahun tersembunyi mulai muncul.

Namun orang yang paling mengejutkan kami justru Paman Dedi.

Ia datang ke apartemen seminggu kemudian.

Aku hampir menutup pintu di wajahnya.

“Aku tidak mau bertengkar,” katanya cepat.

“Lalu Paman mau apa?”

Ia menatap ke belakangku.

“Bicara dengan ibumu.”

Ibu mengizinkannya masuk.

Paman Dedi duduk dengan wajah berbeda dari laki-laki sombong yang kulihat saat pesta.

Tidak ada senyum mengejek.

Tidak ada suara keras.

Ia tampak takut.

“Aku tahu soal perusahaan itu,” katanya.

Ibu membeku.

“Apa?”

“Aku tahu Kak Budi memindahkan aset keluarga kalian.”

Tanganku mengepal.

“Jadi Paman selama ini tahu?”

Ia mengangguk.

“Sebagian.”

“Dan Paman diam?”

“Aku juga mendapat keuntungan.”

Jawaban itu membuatku ingin mengusirnya saat itu juga.

Namun Paman Dedi kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Aku datang untuk menyerahkan ini.”

Di dalamnya terdapat salinan pembukuan lama dan beberapa rekaman percakapan Ayah dengan mantan direktur keuangan perusahaan.

“Kenapa sekarang?”

Paman Dedi tertawa kecil, tetapi terdengar pahit.

“Karena Kak Budi berencana menyingkirkanku dari perusahaan.”

Aku menatapnya jijik.

“Jadi bukan karena merasa bersalah.”

“Tidak.”

Jawabannya begitu jujur hingga aku terdiam.

“Aku bukan orang baik, Sari. Aku tidak akan berpura-pura.”

Ia berdiri.

“Tapi terkadang orang jahat bisa menjatuhkan orang jahat lainnya.”

Sebelum pergi, Ibu memanggilnya.

“Dedi.”

Ia berhenti.

“Kenapa waktu pesta kamu sengaja memancing Budi?”

Paman Dedi tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan.

“Aku ingin semua orang melihat siapa dia sebenarnya.”

“Dengan mengorbankanku?”

Paman Dedi menunduk.

“Aku tidak menyangka dia akan sejauh itu.”

Ibu menatapnya lama.

“Orang sepertimu selalu berkata tidak menyangka setelah orang lain terluka.”

Paman Dedi tidak membalas.

Ia pergi.

Bukti-bukti yang terkumpul akhirnya cukup untuk membuka penyelidikan lebih besar terhadap perusahaan.

Ayah yang selama ini dikenal sebagai pengusaha terhormat mulai kehilangan segalanya.

Mitra bisnis menjauh.

Beberapa transaksi bermasalah diperiksa.

Keluarga besar yang dulu selalu memujinya mendadak sulit dihubungi.

Dan Nenek?

Ia datang menemui kami.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat perempuan tua itu menangis di depan Ibu.

“Maafkan Ibu,” katanya.

Ibu hanya diam.

Nenek menggenggam tangannya.

“Ibu tahu Budi keras. Tapi Ibu selalu berpikir seorang istri harus bisa menjaga rumah tangganya.”

Ibu perlahan menarik tangannya.

“Rumah tangga tidak dijaga dengan membiarkan seseorang dipukul, Bu.”

Nenek menunduk.

“Aku gagal mendidik anakku.”

Ibu menggeleng.

“Dan aku gagal melindungi diriku sendiri.”

Kemudian Ibu menatapku.

“Tapi kegagalan tidak harus diwariskan.”

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian dimulai.

Kasus perusahaan masih berjalan.

Aku sendiri harus menjalani proses hukum karena memukul Ayah.

Pengacaraku menjelaskan bahwa tindakan membalas kekerasan tetap memiliki konsekuensi hukum dan situasinya tidak sesederhana siapa yang benar dan siapa yang salah.

Aku menerimanya.

Aku tidak bangga telah mengambil batu bata itu.

Jika waktu bisa diputar kembali, aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda.

Menarik Ibu pergi.

Memanggil polisi.

Merekam semuanya.

Apa pun selain mengangkat benda keras dan menghantamkannya ke kepala seseorang.

Namun hidup tidak menyediakan tombol untuk mengulang satu detik yang salah.

Yang bisa kulakukan hanyalah bertanggung jawab.

Suatu sore, beberapa bulan setelah ulang tahun Nenek, aku menemani Ibu kembali ke rumah lama untuk mengambil barang-barangnya.

Rumah itu terasa berbeda.

Sepi.

Meja makan tempat pesta berlangsung sudah dipindahkan.

Tembok halaman yang dulu direnovasi kini selesai.

Tidak ada lagi tumpukan batu bata.

Ibu masuk ke kamar dan keluar membawa sebuah kotak kecil.

“Apa itu?”

Ia membukanya.

Di dalamnya ada foto lama.

Foto Ibu ketika masih muda.

Ia berdiri di depan sebuah toko kecil bersama kedua orang tuanya.

Senyumnya lebar.

Wajahnya penuh keyakinan.

“Aku hampir lupa perempuan ini pernah ada,” katanya.

Aku memandang foto itu.

“Sekarang Ibu bisa menemukannya lagi.”

Ibu tersenyum.

Lalu ia menyerahkan foto itu kepadaku.

“Bukan menemukannya.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Membuat versi baru.”

Enam bulan kemudian, dengan sebagian aset keluarga yang berhasil dipulihkan sementara melalui proses hukum, Ibu membuka usaha katering kecil.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Namun di pintu dapurnya ada papan bertuliskan Ratna Kitchen.

Hari pertama pembukaan, aku datang paling pagi.

Ibu sedang berdiri di dapur sambil mengaduk sup.

Aku tertawa ketika melihatnya.

“Sup lagi?”

Ia ikut tertawa.

“Kenapa?”

“Semua masalah kita dimulai gara-gara sup terlambat.”

Ibu mematikan kompor.

Kemudian ia menatapku.

“Bukan.”

“Apa?”

“Masalah kita dimulai ketika semua orang menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang boleh didiamkan.”

Aku terdiam.

Ibu mendekat dan merapikan rambutku.

“Dan masalah itu berakhir ketika seseorang akhirnya berkata cukup.”

Aku memandang tanganku.

Tangan yang dulu menggenggam batu bata.

Ibu seperti mengetahui apa yang kupikirkan.

Ia menggenggamnya.

“Tapi lain kali, jangan dengan batu bata.”

Aku tertawa kecil sambil menangis.

“Iya, Bu.”

Kami berpelukan.

Di luar, pelanggan pertama mulai berdatangan.

Untuk pertama kalinya, aroma sup tidak mengingatkanku pada darah, tamparan, atau pesta ulang tahun yang berubah menjadi mimpi buruk.

Aroma itu mengingatkanku pada sesuatu yang jauh lebih penting.

Kesempatan kedua.

Aku pernah berpikir keberanian adalah saat aku mengangkat batu bata untuk melindungi Ibu.

Sekarang aku tahu aku salah.

Keberanian bukan tentang seberapa keras kita mampu membalas seseorang yang menyakiti kita.

Keberanian adalah ketika kita berani meninggalkan tempat yang menghancurkan kita, berani meminta pertolongan, berani mengungkap kebenaran, dan berani membangun hidup baru meskipun kita harus memulainya dari nol.

Pada ulang tahun Nenek yang ke-70, enam tamparan menghancurkan keluarga Wijaya.

Namun dari reruntuhan itulah, untuk pertama kalinya, Ibu dan aku belajar bahwa keluarga bukanlah tempat di mana kita dipaksa bertahan apa pun yang terjadi.

Keluarga seharusnya menjadi tempat di mana kita tidak perlu takut untuk hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang