Aku menahan napas.
Di dalam ruangan itu, Raka berdiri.
Bukan sedang berpegangan pada meja.
Bukan pula sedang mencoba mengangkat tubuhnya dengan susah payah.
Ia benar-benar berdiri tegak di atas kedua kakinya.
Beberapa langkah dariku, pria yang selama ini kukenal sebagai seseorang yang hampir tidak pernah meninggalkan kursi rodanya sedang berjalan pelan mengitari sebuah meja besar.
Langkahnya memang sedikit kaku.
Kaki kirinya tampak menyeret tipis setiap kali bergerak.
Namun ia berjalan.
Aku merasa seluruh darah di tubuhku turun ke telapak kaki.
Di hadapannya berdiri seorang pria berusia sekitar empat puluhan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tubuhnya tinggi, mengenakan jaket hitam, dengan sebuah map terbuka di tangannya.
Di atas meja berserakan beberapa dokumen, foto, dan sebuah laptop.
“Dokter sudah bilang kondisi kakimu cukup stabil,” ujar pria itu. “Kalau terus latihan seperti ini, beberapa bulan lagi kamu bahkan mungkin tidak perlu tongkat.”
Raka mengembuskan napas.
“Aku tidak peduli soal tongkat.”
“Yang kamu pedulikan Alina.”
Raka terdiam.
Pria itu menutup map.
“Kalau dia tahu malam ini, semuanya akan sulit dijelaskan.”
“Memang harus dijelaskan.”
“Bukan sekarang.”
“Dimas.”
Nada suara Raka berubah.
“Dia istriku.”
Jantungku berdetak semakin keras saat mendengar kata itu.
Istriku.
Aneh sekali.
Beberapa jam lalu, status itu terasa seperti sesuatu yang dipaksakan kepadaku.
Namun sekarang, kata itu justru membuat dadaku terasa sesak.
Dimas menatap Raka cukup lama.
“Justru karena dia istrimu, kamu harus memastikan dia tidak merasa dimanfaatkan.”
Aku mengepalkan tangan.
Dimanfaatkan.
Aku hampir mendorong pintu saat tiba-tiba Raka berkata sesuatu yang membuatku membeku.
“Aku sudah memanfaatkan keadaannya sejak awal.”
Aku tidak sanggup mendengar lebih banyak.
Tubuhku berbalik begitu saja.
Aku berjalan cepat menuju kamar, berusaha sekuat tenaga agar langkahku tidak terdengar.
Begitu pintu kututup, lututku langsung lemas.
Aku terduduk di lantai.
Kepalaku penuh dengan satu pertanyaan.
Siapa sebenarnya Raka Pradana?
Dan mengapa seorang pria yang bisa berjalan memilih duduk di kursi roda di depan semua orang?
Lebih buruk lagi, apa maksudnya ketika berkata ia telah memanfaatkan keadaanku sejak awal?
Malam itu aku tidak tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, terdengar suara roda bergerak di lorong.
Beberapa saat kemudian, seseorang berhenti di depan kamarku.
Tidak ada ketukan.
Hanya keheningan.
Entah bagaimana aku tahu bahwa itu Raka.
Aku berdiri di balik pintu tanpa berani membukanya.
Beberapa detik kemudian, suara roda itu menjauh.
Pagi harinya, ketika aku keluar kamar, Raka sudah berada di ruang makan.
Duduk di kursi rodanya.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia mengenakan kaus abu-abu dan celana panjang hitam. Sebuah cangkir kopi ada di tangannya.
“Tidurmu bagaimana?” tanyanya.
Aku menatap kedua kakinya.
“Lumayan.”
Itu kebohongan pertama yang kukatakan sebagai istrinya.
Raka mengangguk.
“Kalau ada yang kamu butuhkan, bilang ke Bu Mira.”
Aku menarik kursi di seberangnya.
“Kalau ada sesuatu yang ingin kutanyakan?”
Tangannya berhenti sesaat sebelum meletakkan cangkir.
“Tanya saja.”
Aku menatap matanya.
“Kenapa ruangan di ujung lorong selalu dikunci?”
Wajahnya tidak berubah.
“Ruang kerja.”
“Kerja apa?”
“Macam-macam.”
“Dan kenapa malam tadi terbuka?”
Untuk pertama kalinya, matanya menatapku sedikit lebih tajam.
“Kamu keluar kamar semalam?”
Aku tersenyum kecil.
“Kenapa? Aku tidak boleh?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Raka terdiam.
Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku melihat semuanya.
Namun aku menahannya.
Ada sesuatu dalam diriku yang berkata bahwa jika aku membuka kartu terlalu cepat, aku tidak akan pernah tahu seluruh kebenarannya.
Aku berdiri.
“Aku mau pulang ke Depok siang ini.”
Raka mengernyit.
“Kenapa?”
“Mau menemui orang tuaku.”
“Aku antar.”
“Tidak perlu.”
“Alina.”
“Aku bisa naik taksi.”
Nada suaraku mungkin terdengar lebih dingin daripada yang kumaksudkan.
Raka tidak memaksaku.
Ia hanya berkata, “Kalau begitu, minta sopir antar.”
Aku mengangguk.
Namun aku tidak pergi ke Depok.
Aku turun di sebuah kedai kopi tidak jauh dari kompleks rumah Raka.
Di sana aku mencari nama lengkapnya melalui ponsel.
Raka Aditya Pradana.
Informasi tentangnya tidak banyak.
Sebagian besar hanya artikel bisnis lama.
Sebelum kecelakaan, Raka ternyata pernah menjabat sebagai direktur operasional salah satu anak perusahaan milik keluarganya.
Ia bahkan cukup sering muncul dalam berita bisnis.
Foto-foto lama memperlihatkan seorang pria berbeda.
Raka berdiri tegak.
Tersenyum.
Aktif.
Lalu tiga tahun lalu, terjadi sebuah kecelakaan mobil di tol Jagorawi.
Berita menyebutkan mobilnya terguling setelah ban pecah.
Sopir meninggal.
Raka selamat dengan cedera tulang belakang dan kerusakan saraf pada kaki.
Setelah itu, ia menghilang dari publik.
Sampai di sana, semuanya masih masuk akal.
Namun sebuah artikel lama menarik perhatianku.
Artikel itu membahas dugaan manipulasi laporan keuangan dalam perusahaan keluarga Pradana.
Kasus tersebut muncul hanya dua minggu sebelum kecelakaan Raka.
Namanya disebut sebagai salah satu orang yang meminta audit internal.
Setelah kecelakaan, kasus itu perlahan menghilang.
Aku terus membaca sampai sebuah nama membuat tubuhku menegang.
Surya Mahendra.
Rekan bisnis yang membawa kabur uang perusahaan Ayah.
Nama yang sama.
Aku membaca artikel itu tiga kali.
Surya pernah bekerja sebagai konsultan keuangan untuk Pradana Group.
Tanganku mulai dingin.
Kebetulan?
Aku tidak percaya.
Sore itu aku benar-benar pergi ke rumah orang tuaku.
Ayah sedang memperbaiki engsel pintu ketika melihatku datang.
“Kok sendiri?”
“Ayah.”
Nada suaraku membuatnya berhenti.
Aku duduk di ruang tamu.
“Ayah kenal Raka sebelum keluarganya menawarkan pernikahan?”
Ayah terdiam.
Aku langsung tahu jawabannya.
“Kenal seberapa jauh?”
“Alina…”
“Jangan bohong lagi.”
Ibu keluar dari dapur.
Wajahnya berubah ketika melihat ekspresiku.
Aku meletakkan ponsel di meja.
“Surya Mahendra pernah bekerja untuk keluarga Pradana.”
Ayah menutup mata sejenak.
Dan saat itulah aku sadar.
Ada terlalu banyak orang yang tahu sesuatu kecuali aku.
“Ayah.”
Suara kupecah sendiri.
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Ayah akhirnya duduk.
“Sekitar setahun sebelum usaha Ayah hancur, Raka pernah datang ke percetakan.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Dia sedang mencari dokumen.”
Ayah bercerita bahwa perusahaan percetakan kami pernah menerima pesanan mencetak dokumen internal dari sebuah perusahaan konsultan.
Pesanan biasa.
Namun beberapa bulan kemudian, Raka datang membawa salinan faktur dan menanyakan apakah perusahaan Ayah pernah mencetak dokumen tersebut.
Ternyata dokumen itu diduga digunakan untuk memalsukan transaksi perusahaan.
Ayah mengatakan yang ia tahu.
Tidak lebih.
Lalu Surya datang.
Awalnya menawarkan kerja sama.
Kemudian perlahan masuk ke bisnis Ayah.
Sampai akhirnya uang perusahaan hilang.
“Kenapa Ayah tidak pernah cerita?”
“Karena Ayah tidak tahu apakah itu berkaitan.”

“Lalu kenapa aku harus menikah dengan Raka?”
Ayah menunduk.
“Karena Raka yang datang menawarkan bantuan setelah tahu bisnis Ayah jatuh.”
Dadaku terasa semakin berat.
“Dengan syarat aku menikah dengannya.”
Ayah cepat-cepat menggeleng.
“Bukan.”
Aku tertawa hambar.
“Lalu apa?”
“Dia bilang dia ingin melindungi keluarga kita.”
“Dengan menikahiku?”
Ayah tidak menjawab.
Aku berdiri.
Amarahku meledak.
“Semua orang membuat keputusan tentang hidupku tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya aku mau!”
Ibu mulai menangis.
Ayah bangkit.
“Kami tidak menjualmu, Lina.”
“Tapi kalian membiarkanku berpikir aku sedang menyelamatkan keluarga!”
Aku keluar dari rumah sebelum air mataku jatuh.
Ketika kembali ke rumah Raka, hari sudah gelap.
Bu Mira membukakan pintu.
“Mbak Alina.”
“Raka di mana?”
Wajahnya tampak gugup.
“Di ruang belakang.”
Kali ini aku tidak berhenti di depan pintu.
Aku mendorongnya sampai terbuka.
Raka berdiri di tengah ruangan menggunakan tongkat.
Dimas berada di sampingnya.
Keduanya menoleh.
Raka tampak pucat.
“Alina.”
Aku menatap kursi rodanya yang terparkir di sudut.
“Jadi akhirnya boleh kulihat?”
Dimas segera mengambil jaketnya.
“Sepertinya kalian perlu bicara.”
Ia keluar.
Raka tetap berdiri.
“Kamu melihatku semalam.”
“Ya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena aku ingin tahu seberapa lama suamiku akan terus berbohong kepadaku.”
Raka menunduk.
Aku masuk lalu menutup pintu.
“Sekarang jelaskan semuanya.”
Ia berjalan pelan menuju kursi, lalu duduk.
Bukan di kursi roda.
Di kursi biasa.
“Aku memang lumpuh setelah kecelakaan.”
Aku tertawa sinis.
“Aku bisa lihat.”
“Dengarkan dulu.”
Aku diam.
“Enam bulan pertama, aku sama sekali tidak bisa menggerakkan kaki kanan dan hampir tidak merasakan kaki kiri.”
Nada suaranya tenang, tetapi aku bisa melihat tangannya mencengkeram tongkat erat.
“Dokter bilang kemungkinan berjalan lagi sangat kecil. Tapi satu setengah tahun lalu, sarafku mulai menunjukkan respons.”
“Lalu?”
“Aku menjalani terapi diam-diam.”
“Kenapa diam-diam?”
Raka menatapku.
“Karena kecelakaan itu bukan kecelakaan.”
Ruangan terasa mendadak lebih dingin.
“Apa?”
“Ban mobilku tidak pecah sendiri.”
Ia membuka sebuah laci dan mengeluarkan map.
Di dalamnya terdapat laporan laboratorium, foto mobil rusak, dan hasil pemeriksaan.
“Seseorang memotong sebagian selang rem lalu merusak ban supaya terlihat seperti kecelakaan.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Siapa?”
“Orang yang sama yang menghilangkan uang perusahaan keluargamu.”
“Surya?”
Raka mengangguk.
“Dia bukan bekerja sendiri.”
Aku perlahan duduk.
“Kenapa dia melakukan itu?”
“Karena aku menemukan transaksi fiktif bernilai puluhan miliar di perusahaan keluarga kami.”
Raka menjelaskan bahwa beberapa orang di dalam Pradana Group menggunakan perusahaan konsultan Surya untuk mengalihkan dana.
Ketika Raka meminta audit, mereka panik.
Kecelakaan terjadi tak lama kemudian.
Setelah Raka selamat, mereka mengira ia tidak lagi berbahaya.
Terlebih ketika ia benar-benar tidak bisa berjalan.
“Ketika kondisiku mulai membaik, aku sengaja membiarkan semua orang percaya bahwa aku tetap lumpuh.”
Aku mulai memahami.
“Supaya mereka lengah.”
“Ya.”
“Dan keluargaku?”
Raka menarik napas.
“Surya mendekati usaha ayahmu karena dia tahu ayahmu pernah mencetak dokumen yang bisa menghubungkannya dengan transaksi palsu.”
Aku memejamkan mata.
“Jadi Ayah sengaja dihancurkan.”
“Sebagian besar kemungkinan, ya.”
“Dan pernikahan kita?”
Raka tidak langsung menjawab.
Itulah satu-satunya bagian yang paling kutakuti.
“Aku ingin memastikan keluargamu berada di tempat yang bisa kulindungi.”
Aku tertawa pendek.
“Jadi benar. Aku bagian dari rencanamu.”
“Awalnya.”
Satu kata itu terasa seperti tamparan.
Aku berdiri.
“Luar biasa.”
“Alina.”
“Kamu membeli utang keluargaku lalu menikahiku demi menjadikanku apa? Saksi? Umpan?”
“Tidak.”
“Tapi kamu sendiri bilang memanfaatkanku.”
Raka juga berdiri.
Kali ini tanpa tongkat selama beberapa detik.
“Aku bilang begitu karena itu yang kupikir kulakukan saat pertama kali punya ide ini.”
Aku menatapnya tajam.
“Dan sekarang?”
Wajahnya berubah.
Tidak lagi tenang seperti biasanya.
Ada sesuatu yang lebih rapuh di sana.
“Sekarang aku menyesal sudah memulainya dengan cara seperti itu.”
Aku tertawa pahit.
“Kita baru menikah satu hari.”
“Aku mengenalmu lebih lama daripada yang kamu kira.”
Kalimat itu membuatku diam.
Raka berjalan menuju sebuah lemari.
Ia mengambil kotak kecil.
Ketika dibuka, ada beberapa lembar foto.
Aku mengenali diriku.
Foto saat aku berdiri di depan percetakan Ayah.
Foto saat aku mengantar Ibu ke rumah sakit dua tahun lalu.
Foto saat aku membagikan makanan kepada beberapa pekerja di percetakan saat bulan Ramadan.
Aku menatapnya dengan marah.
“Kamu mengikutiku?”
“Bukan.”
“Lalu ini apa?”
“Dimas memantau keluargamu setelah kami tahu Surya mulai mendekati usaha ayahmu.”
Raka menunduk.
“Aku pertama kali melihatmu langsung ketika datang ke percetakan.”
Aku mengingat pertemuan singkat bertahun-tahun lalu.
Seorang pria berkemeja biru yang bertanya kepada Ayah mengenai sebuah pesanan cetak.
Aku bahkan tidak memperhatikannya.
“Kamu membawakan teh untuk semua orang kecuali dirimu sendiri,” katanya.
Aku terdiam.
“Kamu marah ketika seorang pegawai tua dimarahi ayahmu karena salah mencetak satu rim brosur.”
Aku hampir tersenyum karena mengingat kejadian itu.
Namun kutahan.
“Jangan mencoba membuat semua ini terdengar romantis.”
“Aku tidak sedang mencoba.”
Raka memandangku lama.
“Aku hanya ingin kamu tahu satu hal. Utang keluargamu sebenarnya sudah kulunasi sebelum keluarga kita membicarakan pernikahan.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Kamu tidak perlu menikah denganku untuk menyelamatkan rumah orang tuamu.”
Aku merasa seisi ruangan berputar.
“Lalu kenapa tidak ada yang bilang?”
“Karena orang tuamu tidak tahu.”
“Siapa yang tahu?”
“Hanya bank dan pengacaraku.”
Darahku seperti naik ke kepala.
“Jadi kamu membiarkan aku berpikir tidak punya pilihan.”
“Ya.”
Suara Raka hampir seperti bisikan.
Dan untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar malu.
“Kenapa?”
Ia diam cukup lama.
“Karena aku egois.”
Jawaban itu justru membuatku kehilangan kata-kata.
“Aku sudah hidup tiga tahun dengan orang-orang yang datang karena kasihan, takut, atau membutuhkan sesuatu dariku. Lalu aku melihatmu. Kamu tidak pernah memperlakukanku seperti orang sakit. Bahkan saat kita bertemu setelah kecelakaan, kamu terlihat lebih kesal karena aku terlalu lama memilih kopi daripada karena aku duduk di kursi roda.”
Aku mengingat pertemuan kedua kami.
Di sebuah kafe.
Benar.
Aku memang sempat kesal karena ia membaca menu hampir sepuluh menit.
“Aku menyukaimu,” lanjutnya. “Jauh sebelum ide pernikahan itu muncul.”
Mataku panas.
“Itu tidak membenarkan apa yang kamu lakukan.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa saja membencimu.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa meninggalkan rumah ini sekarang.”
Raka mengangguk.
“Kalau itu keputusanmu, aku akan mengantarmu sendiri.”
Aku menatap pria di hadapanku.
Untuk pertama kalinya, semua topengnya seperti terlepas.
Bukan pewaris kaya.
Bukan pria lumpuh.
Bukan sosok misterius.
Hanya seseorang yang pernah hampir mati, kehilangan kepercayaan kepada banyak orang, lalu membuat keputusan buruk karena takut kehilangan satu orang yang bahkan belum pernah ia miliki.
Aku tidak memaafkannya malam itu.
Aku juga tidak pergi.
Aku memilih tinggal satu minggu.
Hanya satu minggu.
Setidaknya itulah yang kukatakan kepada diriku sendiri.
Dalam tujuh hari berikutnya, banyak hal berubah.
Raka mulai menjalani terapi di hadapanku.
Aku melihat sendiri bagaimana setiap langkahnya sebenarnya penuh rasa sakit.
Kadang kakinya gemetar begitu keras sampai ia harus duduk.
Kadang ia jatuh.
Dan setiap kali aku ingin membantu, ia selalu berkata hal yang sama.
“Jangan kasihan.”
Suatu sore, aku menjawab kesal, “Aku bukan kasihan. Aku cuma tidak mau suamiku kepalanya bocor gara-gara terlalu gengsi.”
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia tertawa keras.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiga hari kemudian, Dimas datang membawa kabar.
Surya mengetahui bahwa Raka sedang mengumpulkan bukti.
Lebih buruk lagi, seseorang dari dalam keluarga Pradana membocorkan informasi.
Malam itu, Raka akhirnya mengungkap nama orang yang selama ini paling dicurigainya.
Kakaknya sendiri.
Maya.
Perempuan yang pada hari pernikahan bertanya apakah Raka sudah mengatakan semuanya kepadaku.
Aku sulit mempercayainya.
“Mbak Maya?”
Raka mengangguk.
“Dia direktur keuangan setelah aku kecelakaan.”
“Tapi dia kakakmu.”
“Justru karena itu aku terlambat mencurigainya.”
Dua hari kemudian, semuanya meledak.
Polisi menangkap Surya di sebuah apartemen di Jakarta Selatan.
Dari laptopnya ditemukan transaksi yang menghubungkan beberapa perusahaan fiktif dengan rekening milik Maya.
Namun kejutan terbesar datang saat pemeriksaan lanjutan.
Maya bukan dalang kecelakaan Raka.
Ia memang terlibat dalam penggelapan dana.
Namun orang yang memerintahkan sabotase mobil Raka ternyata ayahnya sendiri.
Pak Pradana.
Pria yang selama ini tampak paling protektif terhadap Raka.
Alasannya sederhana sekaligus mengerikan.
Raka terlalu dekat dengan kebenaran.
Jika audit dilanjutkan, seluruh kerajaan bisnis keluarga mereka bisa runtuh.
Malam ketika polisi membawa Pak Pradana untuk diperiksa, Raka duduk sendirian di teras.
Kursi rodanya berada beberapa meter di belakang.
Ia memilih duduk di kursi taman biasa.
Aku menghampirinya.
“Boleh duduk?”
Ia tersenyum hambar.
“Kamu tidak perlu izin.”
Aku duduk di sampingnya.
Beberapa menit kami hanya mendengar suara kendaraan dari jalan di luar pagar.
“Aku selalu berpikir setelah semua ini selesai, aku akan merasa lega,” katanya.
“Tapi?”
“Aku cuma merasa kosong.”
Aku menatap tangannya.
Perlahan, kusentuh punggung tangannya.
Ia tidak bergerak.
“Kadang kebenaran memang tidak membuat kita lega.”
Raka menatapku.
“Lalu buat apa kita mencarinya?”
“Supaya kita berhenti hidup di dalam kebohongan.”
Ia tersenyum tipis.
“Termasuk pernikahan kita?”
Aku menarik napas.
“Termasuk pernikahan kita.”
Wajahnya langsung berubah serius.
“Aku akan tanda tangan apa pun kalau kamu mau membatalkan semuanya.”
Aku memandang pria itu lama.
Lalu tanpa sadar aku tersenyum.
“Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan.”
Raka mengernyit.
“Aku belum bilang mau pergi.”
“Alina.”
“Tapi ada syarat.”
“Apa?”
“Tidak ada lagi rahasia.”
Ia mengangguk.
“Tidak ada.”
“Tidak ada rencana diam-diam.”
“Iya.”
“Tidak ada pura-pura lumpuh kalau di rumah.”
Raka mengangkat alis.
“Yang terakhir sulit.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku jalan terus, Bu Mira menyuruhku membantu angkat galon.”
Aku tertawa.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, rumah yang sejak awal terasa seperti tempat asing mulai terasa sedikit berbeda.
Bukan rumah milik Raka.
Bukan pula rumah keluarga Pradana.
Mungkin suatu hari nanti, bisa menjadi rumah kami.
Enam bulan kemudian, Raka sudah mampu berjalan menggunakan tongkat.
Kasus penggelapan perusahaan masih berjalan.
Usaha Ayah perlahan bangkit setelah beberapa kontrak baru datang.
Aku berhenti bekerja sebagai kasir dan membantu mengelola percetakan sambil mengambil kelas desain digital.
Orang-orang sering bertanya apakah aku menyesal menikah dengan Raka.
Aku biasanya tidak langsung menjawab.
Karena kalau dipikir-pikir, aku memang menikah tanpa cinta.
Aku masuk ke rumahnya sambil menghitung berapa lama aku bisa bertahan.
Aku bahkan hampir pergi pada hari kedua.
Namun ternyata hal paling aneh tentang pernikahan kami bukanlah fakta bahwa suamiku diam-diam bisa berjalan.
Bukan pula bahwa keluarganya menyembunyikan kejahatan besar selama bertahun-tahun.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Aku datang ke rumah itu karena merasa tidak punya pilihan.
Tetapi pada akhirnya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku justru memilih untuk tinggal.
Dan kali ini, bukan karena keluarga.
Bukan karena utang.
Bukan karena rasa kasihan.
Melainkan karena setelah semua kebohongan terbuka, aku akhirnya bisa melihat Raka sebagaimana adanya.
Seorang pria dengan banyak luka, banyak kesalahan, dan satu ketakutan terbesar.
Kehilangan seseorang sebelum sempat dicintai olehnya.
Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaanku berubah.
Mungkin saat ia jatuh saat terapi tetapi tetap tertawa.
Mungkin saat ia diam-diam memperbaiki mesin cetak tua milik Ayah.
Atau mungkin pada suatu malam ketika aku terbangun dan melihat kursi rodanya kosong di samping tempat tidur.
Dulu pemandangan itu membuatku ketakutan.
Sekarang tidak lagi.
Karena beberapa detik kemudian, biasanya aku akan melihat Raka berdiri di dapur, bersandar pada meja sambil mencoba mengambil biskuit dari rak paling atas.
Dan setiap kali itu terjadi, aku selalu mengatakan hal yang sama.
“Kalau jatuh, aku tidak akan menolong.”
Ia selalu menjawab,
“Bohong.”
Dan entah kenapa, kali ini aku tidak keberatan kalau dia tahu aku memang sedang berbohong.
