Nama yang muncul di layar ponsel Dimas membuat kakiku seperti kehilangan tenaga.
Siska.
Adik sepupuku sendiri.
Perempuan yang sejak kecil sudah kuanggap seperti adik kandung.
Perempuan yang dua minggu terakhir hampir setiap hari datang ke rumah sakit, membawakan buah, pakaian bersih, dan makanan untukku.
Perempuan yang bahkan sempat memelukku sambil berkata, “Kak Rani hebat banget. Kalau aku jadi Kakak, belum tentu aku sanggup berkorban sebesar ini buat suami.”
Aku masih menatap layar ponsel itu ketika panggilannya berhenti.
Kamar rumah sakit mendadak terasa sangat sunyi.
Dimas tidak berani menatapku.
Aku perlahan meletakkan ponselnya kembali ke meja.
“Siska?”
Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Dimas mengembuskan napas panjang.
“Rani, dengarkan aku dulu.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena tubuhku seperti tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Dengarkan apa?”
Aku menunjuk ponselnya.
“Bahwa perempuan lain yang kamu cintai adalah sepupuku sendiri?”
“Hubungan ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku menatapnya tajam.
“Kalimat itu selalu dipakai orang yang ketahuan selingkuh.”
Dimas mengusap wajahnya.
“Aku dan Siska sudah dekat sebelum aku sakit.”
Dadaku langsung terasa semakin sesak.
“Sebelum kamu sakit?”
Ia terdiam.
“Berapa lama?”
Dimas tidak menjawab.
Aku mendekat.
“Berapa lama, Mas?”
“Hampir delapan bulan.”
Delapan bulan.
Aku mencoba mengingat kehidupanku selama delapan bulan terakhir.
Aku masih bangun pagi menyiapkan sarapan untuknya.
Masih menunggu ia pulang kerja.
Masih mengingatkan obat maag yang sering ia lupa minum.
Masih menyisihkan uang toko untuk membantunya mencicil motor.
Sementara selama itu juga, suamiku diam-diam menjalin hubungan dengan sepupuku.
“Delapan bulan…” gumamku.
“Dan selama delapan bulan itu kamu pulang ke rumah, tidur di sampingku, makan masakanku, lalu bertemu dia di belakangku?”
“Rani…”
“Jangan panggil namaku seperti kamu masih peduli.”
Ponselnya berdering lagi.
Siska.
Kali ini aku mengambilnya.
Dimas mencoba meraih tanganku.
“Jangan.”
Aku mundur.
“Kenapa? Takut aku tahu semuanya?”
Tanpa menunggu jawabannya, aku menerima panggilan.
“Halo?”
Di seberang sana terdengar napas tertahan.
“Kak… Rani?”
Aku memejamkan mata sebentar.
Jadi dia tahu aku mungkin ada di sana.
“Siska.”
Tidak ada jawaban.
Aku bertanya, “Kamu mau bicara sama Dimas?”
“Kak, aku bisa jelaskan.”
Kalimat itu justru membuat darahku mendidih.
“Kamu juga mau bilang hubungan kalian tidak seperti yang kupikirkan?”
Siska menangis.
“Aku nggak pernah bermaksud menyakiti Kakak.”
Aku menatap Dimas.
Entah mengapa kalimat itu terasa lebih kejam daripada pengakuan perselingkuhan mereka.
“Orang yang tidak bermaksud menyakiti biasanya berhenti sebelum melakukannya selama delapan bulan.”
“Kak…”
“Waktu kamu datang ke rumah sakit dan bawa makanan untukku, kalian sudah bersama?”
Siska diam.
Aku tahu jawabannya.
“Waktu kamu lihat aku tidur di kursi sambil menunggu Dimas sadar, kalian sudah bersama?”
Tangisnya terdengar semakin jelas.
“Maaf.”
Aku menggigit bibir hingga nyaris terasa darah.
“Waktu aku bilang aku akan menjual toko Ayah karena biaya operasi kurang, kamu juga sudah tahu?”
Kali ini diamnya terlalu lama.
Ada sesuatu dalam keheningan itu yang membuatku curiga.
“Siska?”
“Aku tahu.”
“Dari siapa?”
“Dimas cerita.”
Aku menoleh pada suamiku.
Ia semakin pucat.
“Dan kamu nggak menghentikan aku?”
Siska terbata-bata.
“Aku… aku pikir operasi itu penting.”
Aku menutup telepon.
Tanganku dingin.
Aku menatap Dimas.
“Kamu cerita ke dia kalau aku mau jual toko?”
“Rani, operasiku memang harus dilakukan.”
“Bukan itu pertanyaanku.”
Aku menahan air mata.
“Kamu tahu aku menjual satu-satunya peninggalan Ayah. Kamu tahu kita sudah hampir tidak punya apa-apa. Kenapa kamu tetap membiarkan aku melakukan semuanya kalau kamu sudah berencana menceraikan aku?”
Dimas mengalihkan pandangan.
Jawaban itu tidak segera keluar.
Dan justru karena itu, aku mulai memahami sesuatu yang lebih buruk.
“Surat cerai ini sudah kamu siapkan sejak kapan?”
“Rani…”
“Sejak kapan?”
“Sekitar tiga minggu lalu.”
Aku merasa seluruh ruangan berputar.
Tiga minggu lalu.
Berarti sebelum operasi.
Sebelum aku menjual toko.
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Kamu sudah menyiapkan surat cerai sebelum aku menjual toko Ayah?”
Dimas tidak menyangkal.
Aku mengambil gelas plastik di meja lalu melemparkannya ke lantai.
Bukan ke arahnya.
Aku hanya butuh sesuatu untuk pecah karena kalau tidak, mungkin aku sendiri yang akan hancur.
“Jadi kamu tahu akan meninggalkanku.”
Aku menunjuk dadanya.
“Tapi kamu tetap membiarkan aku menjual toko itu demi menyelamatkan hidupmu.”
“Aku sakit, Rani! Aku takut mati!”
“Dan aku tidak takut kehilangan semuanya?”
Suaraku akhirnya pecah.
“Aku kehilangan Ayah. Aku kehilangan Ibu. Aku cuma punya toko itu sebagai tempat pulang kalau hidupku berantakan. Lalu aku menjualnya karena kupikir suamiku adalah keluargaku yang tersisa.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Ternyata kamu bahkan sudah merencanakan pergi.”
Dimas mencoba berdiri, tetapi tubuhnya masih lemah.
“Aku akan mengganti uangmu.”
Aku menatapnya seolah baru pertama kali melihat laki-laki itu.
“Dengan apa?”
“Nanti setelah aku bekerja lagi.”
“Berapa nilai toko Ayah menurutmu?”
Ia diam.
Aku mendekat.
“Dua ratus juta? Tiga ratus juta? Lima ratus juta?”
Aku menunjuk dadaku.
“Berapa harga malam terakhirku di toko itu saat aku minta maaf pada Ayah karena melanggar pesan terakhirnya?”
Dimas tidak sanggup menjawab.
Aku mengambil tas.
“Kita selesai.”
“Surat cerainya belum resmi.”

Aku berhenti di depan pintu.
Lalu menoleh.
“Aku tidak butuh selembar kertas untuk tahu pernikahan ini sudah mati.”
Aku pergi dari rumah sakit pagi itu tanpa membawa bubur yang kubeli.
Aku berjalan keluar sambil menangis di tengah keramaian.
Suara kendaraan, pedagang kaki lima, petugas parkir, semuanya terdengar jauh.
Aku tidak tahu ke mana harus pergi.
Rumah kontrakan kami masih berisi barang-barang Dimas.
Toko Ayah sudah bukan milikku.
Ibu dan Ayah sudah tidak ada.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa benar-benar tidak memiliki tempat pulang.
Akhirnya aku pergi ke rumah sahabat lamaku, Mira.
Begitu membuka pintu dan melihat wajahku, ia tidak bertanya apa-apa.
Ia hanya memelukku.
Dan di pelukan itulah aku menangis sampai tubuhku gemetar.
Dua hari kemudian, Dimas keluar dari rumah sakit.
Ia tidak pulang ke kontrakan kami.
Aku tahu dari tetangga bahwa Siska yang menjemputnya.
Kabar itu menyebar cepat dalam keluarga.
Beberapa orang meneleponku.
Ada yang memaki Dimas.
Ada yang menyalahkan Siska.
Namun ada pula yang memintaku bersabar.
“Namanya rumah tangga pasti ada cobaan.”
“Dimas baru sembuh. Jangan ambil keputusan waktu emosi.”
“Kalau masih bisa dimaafkan, kenapa nggak?”
Aku tidak menjawab.
Orang sangat mudah menyuruh perempuan memaafkan pengkhianatan selama mereka tidak perlu menjalani malam-malam setelahnya.
Tiga hari kemudian, Bibi Yanti, ibu Siska, datang menemui aku.
Wajahnya sembap.
Ia menangis di depanku.
“Rani, Bibi benar-benar nggak tahu.”
Aku hanya diam.
“Siska juga salah. Bibi sudah marahi dia.”
Aku mengangguk kecil.
Kemudian Bibi mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.
“Dia bilang Dimas yang pertama mendekati.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
“Siska bilang awalnya Dimas sering curhat tentang rumah tangga kalian. Katanya kamu terlalu sibuk di toko dan hubungan kalian sudah hambar.”
Aku hampir tersenyum pahit.
Jadi itulah ceritanya.
Aku terlalu sibuk di toko.
Toko yang hasilnya berkali-kali dipakai Dimas saat gajinya terlambat.
Toko yang membayar cicilan kami ketika ia kehilangan pekerjaan beberapa bulan.
Toko yang akhirnya kujual demi operasinya.
“Bibi nggak minta kamu maafkan Siska,” katanya. “Bibi cuma mau bilang satu hal. Jangan percaya semua cerita Dimas.”
Kalimat itu membuatku menatapnya.
“Ada apa?”
Bibi tampak ragu.
“Siska bilang, sebelum sakit, Dimas pernah bilang ke dia bahwa setelah operasi dia akan punya uang cukup banyak.”
Aku mengernyit.
“Uang?”
“Katanya ada investasi.”
Aku langsung terdiam.
Sepanjang pernikahan kami, Dimas tidak pernah mengatakan punya investasi.
Malam itu aku membuka kembali semua dokumen keuangan kami.
Buku tabungan.
Mutasi rekening.
Bukti transfer.
Tagihan.
Aku membaca satu per satu sampai lewat tengah malam.
Lalu aku menemukan sesuatu.
Selama hampir setahun terakhir, Dimas rutin memindahkan sejumlah uang dari rekening pribadinya.
Nilainya tidak terlalu besar setiap bulan.
Dua juta.
Tiga juta.
Kadang lima juta.
Namun jika dijumlahkan, nilainya cukup besar.
Tujuan transfernya adalah rekening atas nama seseorang yang tidak kukenal.
Aku meminta bantuan Mira yang bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan untuk memeriksa pola transaksinya, tanpa melanggar data pribadi apa pun.
Ia tidak bisa mengetahui pemilik rekening, tapi ia melihat sesuatu yang janggal.
“Ran, ini bukan transfer buat kebutuhan biasa.”
“Kenapa?”
“Lihat tanggalnya. Hampir selalu satu atau dua hari setelah gajian. Seperti sengaja dipisahkan.”
Aku teringat sesuatu.
Beberapa bulan terakhir Dimas sering bilang gajinya berkurang karena ada potongan kantor.
Aku percaya.
Semua kebutuhan rumah akhirnya lebih banyak kututup dari toko.
Jantungku berdebar.
Aku membuka percakapan lama kami.
Kemudian menemukan chat dari tiga bulan lalu.
“Ran, bulan ini uang kantor telat. Bisa bantu bayar cicilan dulu?”
Saat itu aku mentransfer tujuh juta.
Ternyata dua hari sebelumnya ia mengirim lima juta ke rekening misterius tersebut.
Aku merasa mual.
Keesokan harinya aku menemui Dimas.
Kami bertemu di sebuah kafe dekat rumah Siska.
Ia datang menggunakan tongkat.
Siska tidak ikut.
Aku langsung meletakkan beberapa lembar cetakan mutasi rekening di meja.
“Ini uang apa?”
Dimas melihatnya.
Wajahnya berubah.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Rekening kita masih tersambung dengan laporan keuangan rumah tangga yang selama ini aku kelola.”
Ia terdiam.
“Siapa penerima transfer ini?”
“Teman.”
“Teman siapa?”
“Urusan bisnis.”
Aku mengangguk pelan.
“Investasi?”
Ia menatapku.
Berarti ucapan Siska benar.
“Berapa totalnya?”
Dimas tidak menjawab.
Aku menatap lurus ke matanya.
“Kamu diam-diam menyimpan uang hampir setahun sementara aku terus menutup kebutuhan rumah dari toko.”
“Aku cuma menyiapkan masa depan.”
“Masa depan dengan siapa?”
Rahangnya mengeras.
Aku melanjutkan.
“Dengan Siska?”
Dimas akhirnya berkata, “Aku punya hak atas uang hasil kerjaku sendiri.”
Aku hampir tidak percaya.
“Tentu.”
Aku tersenyum tipis.
“Tapi lucunya, waktu uangmu kamu simpan diam-diam, uangku disebut uang keluarga.”
Dimas menunduk.
“Aku tidak pernah memaksamu menjual toko.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada yang kuduga.
Ia benar dalam satu hal.
Ia tidak pernah memaksaku.
Aku melakukannya karena aku mencintainya.
Dan ia menggunakan cinta itu karena tahu aku tidak akan membiarkannya mati.
Aku berdiri.
“Terima kasih.”
Dimas mengernyit.
“Untuk apa?”
“Karena akhirnya kamu membuatku paham.”
Aku mengambil dokumen itu.
“Masalahnya bukan Siska.”
Aku menatapnya.
“Masalahnya adalah siapa dirimu sebenarnya.”
Aku mengajukan perceraian secara resmi.
Aku juga meminta pembagian kewajiban utang yang muncul selama pernikahan dan menyerahkan urusannya pada bantuan hukum.
Beberapa minggu berlalu.
Aku mulai mencari pekerjaan.
Tanpa toko, aku merasa kehilangan identitas.
Selama bertahun-tahun aku terbiasa membuka rolling door setiap pagi, mencatat stok, melayani pelanggan, dan menghitung hasil jualan menjelang malam.
Sekarang tanganku kosong.
Sampai suatu sore, seseorang datang ke tempat Mira.
Namanya Pak Hendra.
Pria berusia sekitar enam puluh tahun.
Aku mengenalnya.
Dialah orang yang membeli toko Ayah.
Aku langsung berdiri ketika melihatnya.
“Pak?”
Pak Hendra tersenyum.
“Kamu kelihatan kurusan.”
Aku hanya membalas dengan senyum kecil.
Ia lalu mengeluarkan sebuah map cokelat.
“Ada sesuatu yang harus saya kasih ke kamu.”
Aku bingung.
“Apa ini?”
“Buka saja.”
Di dalamnya ada fotokopi perjanjian jual beli toko.
Aku pernah melihatnya.
Tapi ada satu lembar tambahan.
Sebuah surat tulisan tangan.
Tulisan itu membuat jantungku berhenti.
Tulisan Ayah.
Tanganku gemetar ketika membacanya.
Rani, kalau kamu membaca surat ini, berarti ada satu kemungkinan yang sangat kutakutkan terjadi. Kamu menjual toko ini karena merasa tidak punya pilihan.
Aku menutup mulut.
Pak Hendra duduk diam.
Aku lanjut membaca.
Ayah tidak bisa melarangmu selamanya. Hidupmu adalah milikmu. Tapi Ayah tahu satu sifatmu sejak kecil. Kamu selalu memberikan semuanya kepada orang yang kamu sayangi, sampai kadang lupa menyisakan sesuatu untuk dirimu sendiri.
Air mataku jatuh ke kertas.
Karena itu, bertahun-tahun lalu Ayah membuat perjanjian dengan Pak Hendra. Kalau suatu saat toko itu terpaksa kamu jual kepadanya dalam keadaan darurat, dia tidak boleh langsung mengubah kepemilikan penuh selama satu tahun.
Aku menatap Pak Hendra.
Ia mengangguk.
“Sebenarnya ayahmu pernah menolong saya waktu usaha saya hampir bangkrut,” katanya. “Dia bilang kalau suatu hari kamu menjual toko karena keadaan mendesak, saya harus beri kamu kesempatan membelinya kembali dengan harga yang sama.”
Aku membeku.
“Apa?”
Pak Hendra mendorong map itu ke arahku.
“Dan ada lagi.”
Di halaman terakhir tertulis angka.
Ternyata uang yang kuterima dari penjualan kemarin bukan seluruh nilai toko.
Ayah dahulu sudah membuat kesepakatan bahwa sebagian nilai bangunan tetap berada dalam bentuk deposito jaminan atas namaku.
Aku menatap Pak Hendra dengan mata penuh air.
“Kenapa saya tidak tahu?”
“Karena ayahmu bilang baru boleh diberitahu kalau kamu sudah menjualnya dan keadaan daruratmu selesai.”
Aku tertawa sekaligus menangis.
Bahkan setelah meninggal, Ayah masih berusaha menjagaku agar aku tidak kehilangan segalanya.
Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Hubungan Dimas dan Siska ternyata juga tidak bertahan.
Aku tidak merasa puas mendengarnya.
Tidak pula merasa menang.
Siska datang menemuiku sekali.
Ia meminta maaf tanpa mencari alasan.
Aku tidak langsung memaafkannya.
Tapi aku juga tidak membenci selamanya.
Ada luka yang membutuhkan jarak, bukan balas dendam.
Sedangkan Dimas akhirnya diketahui menggunakan uang yang disembunyikannya untuk membayar uang muka apartemen kecil yang rencananya akan ia tempati bersama Siska setelah bercerai denganku.
Ironisnya, cicilan apartemen itu kemudian menjadi beban yang tidak sanggup ia tanggung setelah kehilangan pekerjaannya karena masa pemulihan yang panjang.
Aku tidak membantu.
Bukan karena ingin membalas.
Tapi karena untuk pertama kalinya, aku memahami pesan Ayah.
Menolong orang lain tidak boleh selalu berarti menghancurkan diri sendiri.
Setelah beberapa bulan bekerja dan menggunakan deposito jaminan peninggalan Ayah, aku membeli kembali toko itu dari Pak Hendra.
Hari ketika kuncinya kembali ke tanganku, aku berdiri lama di depan rolling door tua yang kini sudah dicat ulang.
Aku membuka pintu perlahan.
Rak-raknya berbeda.
Meja kasir tua Ayah ternyata masih ada.
Pak Hendra tidak pernah membuangnya.
Aku duduk di kursi belakang kasir sambil menyentuh goresan-goresan di permukaannya.
Untuk beberapa saat aku hanya diam.
Lalu aku tersenyum sambil menangis.
“Aku pulang, Yah.”
Setahun kemudian, toko kecil itu sudah jauh berubah.
Aku memperluasnya menjadi minimarket lingkungan dengan layanan pesan antar untuk warga sekitar.
Aku tetap mempertahankan meja kasir tua di sudut belakang.
Bukan sebagai benda mahal.
Tapi sebagai pengingat.
Suatu sore, ketika hendak menutup toko, seorang pelanggan lama datang.
Ia mengenalku sejak aku masih kecil.
Bu Ningsih namanya.
Ia membeli gula dan kopi lalu berkata sambil tersenyum,
“Ayahmu pasti bangga lihat toko ini hidup lagi.”
Aku tersenyum.
“Mudah-mudahan.”
Bu Ningsih lalu melihat meja kayu tua.
“Meja itu masih kamu simpan?”
“Masih.”
“Dulu ayahmu sering bilang sesuatu waktu duduk di sana.”
Aku penasaran.
“Bilang apa?”
Bu Ningsih tertawa kecil.
“Katanya, toko ini bukan warisan paling penting buat Rani.”
Aku terdiam.
“Apa maksudnya?”
“Katanya, yang paling penting itu dia mengajarimu cara berdiri sendiri.”
Aku menatap meja itu lama setelah Bu Ningsih pergi.
Baru saat itulah aku benar-benar memahami pesan terakhir Ayah.
Selama ini aku mengira kalimatnya berarti aku tidak boleh kehilangan toko.
Ternyata bukan.
Toko itu hanyalah tempat Ayah mengajariku bertahan.
Aku pernah kehilangan toko.
Kehilangan perhiasan ibu.
Kehilangan uang.
Kehilangan pernikahan yang kukira akan berlangsung seumur hidup.
Tapi akhirnya aku menyadari satu hal.
Selama aku belum kehilangan diriku sendiri, aku masih bisa membangun semuanya kembali.
Aku mematikan lampu toko dan menarik rolling door perlahan.
Sebelum pulang, aku menatap papan nama baru di atas pintu.
“Toko Rani.”
Aku memilih nama itu sendiri.
Bukan nama Ayah.
Bukan nama suami.
Bukan nama keluarga.
Namaku.
Karena setelah semua yang terjadi, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak lagi berdiri sebagai anak seseorang atau istri seseorang.
Aku berdiri sebagai diriku sendiri.
Dan ternyata, itulah warisan terbesar yang Ayah tinggalkan untukku.
