Malam itu, suasana di penthouse mewah milik Gabriel Monteverde berubah menjadi begitu mencekam. Bianca masih berlutut di lantai dengan wajah dipenuhi air mata, sementara Pengacara Ramos berdiri tenang sambil memegang map berisi dokumen perceraian dan perjanjian pranikah yang selama ini tidak pernah dianggap penting oleh Bianca.
Gabriel tetap berdiri tegak. Tidak ada lagi kursi roda. Tidak ada lagi kacamata hitam. Selama enam bulan terakhir, semua itu hanyalah sandiwara yang sengaja ia ciptakan.
Namun sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, pintu lift kembali terbuka.

Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun melangkah masuk dengan napas terengah-engah. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih tajam. Begitu melihat Gabriel berdiri, air matanya langsung jatuh.
“Gabriel…”
Pria itu menoleh.
“Ibu.”
Bianca membelalak.
“Ibu…? Bukankah Ibu sedang berada di Singapura?”
Wanita itu menghela napas panjang.
“Aku memang baru kembali. Dan syukurlah aku datang tepat waktu.”
Gabriel segera menghampiri ibunya dan memeluknya hangat. Bianca hanya bisa memandang tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.
Ibu Gabriel kemudian menatap Bianca dengan ekspresi kecewa.
“Selama enam bulan aku selalu meminta Gabriel menghentikan semua ini. Aku bilang ujian seperti ini terlalu kejam. Tapi dia berkata, ‘Bu, lebih baik aku kehilangan enam bulan daripada menghabiskan seumur hidup dengan orang yang salah.'”
Bianca mulai menangis lebih keras.
“Aku bisa berubah… Aku benar-benar bisa berubah…”
Gabriel menggeleng pelan.
“Yang berubah bukan keadaanmu, Bianca. Yang berubah hanyalah karena kamu tahu aku masih sehat.”
Ruangan kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah lift. Kali ini dua orang berpakaian rapi masuk ke dalam penthouse.
Pengacara Ramos tersenyum tipis.
“Mereka dari tim audit internal.”
Salah satu pria itu menyerahkan sebuah tablet kepada Gabriel.
“Semua data sudah lengkap, Pak.”
Gabriel melihat layar itu beberapa saat lalu menatap Bianca.
“Aku sebenarnya tidak hanya menguji kesetiaanmu.”
Bianca mulai merasa takut.
“Maksudmu?”
“Selama enam bulan, seluruh rumah ini dipenuhi kamera keamanan yang hanya aktif di area publik. Aku ingin melihat bagaimana perlakuanmu saat kamu mengira aku benar-benar tidak berdaya.”
Wajah Bianca semakin pucat.
Gabriel menekan sebuah tombol.
Monitor besar di ruang tamu menyala.
Video demi video mulai diputar.
Terlihat Bianca memarahi para perawat.
“Biarkan saja dia duduk di situ. Dia juga tidak tahu apa-apa.”
Video berikutnya memperlihatkan Bianca mengadakan pesta saat Gabriel berada di kamarnya.
Lalu video lain menunjukkan Bianca menggandeng seorang pria ketika keluar dari hotel mewah.
Bianca langsung menutup wajahnya.
“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan…”
Gabriel tidak menjawab.
Video terakhir justru membuat semua orang terdiam.
Dalam rekaman itu terlihat Gabriel sedang tertidur di kursi roda. Bianca masuk ke ruang kerja, membuka brankas, lalu memotret beberapa dokumen perusahaan menggunakan telepon genggamnya.
Pengacara Ramos berbicara pelan.
“Dokumen itu berisi rancangan akuisisi perusahaan senilai miliaran peso.”
Gabriel menatap Bianca.
“Untuk siapa dokumen itu?”
Bianca tidak sanggup menjawab.
“Aku bertanya sekali lagi. Untuk siapa?”
Tubuh Bianca gemetar hebat.
“Aku… aku hanya diminta mengambil foto.”
“Diminta oleh siapa?”
Keheningan berlangsung cukup lama sebelum akhirnya Bianca berkata lirih.
“Kevin.”
Gabriel menutup mata beberapa detik.
Ternyata dugaannya benar.
Kevin adalah mantan direktur operasional perusahaan yang diberhentikan setahun lalu karena terbukti melakukan manipulasi laporan keuangan. Sejak saat itu Kevin menghilang tanpa jejak.
Gabriel membuka ponselnya.
“Silakan masuk.”
Beberapa detik kemudian pintu lift kembali terbuka.
Kali ini dua polisi bersama seorang pria yang kedua tangannya diborgol berjalan masuk.
Bianca langsung berdiri.
“Kevin!”
Pria itu menundukkan kepala.
Wajahnya kusut.
Ternyata sejak dua minggu sebelumnya polisi sudah menangkap Kevin setelah penyelidikan panjang mengenai pencurian data perusahaan dan dugaan suap kepada beberapa eksekutif.
Kevin menatap Bianca dengan mata kosong.
“Mereka sudah tahu semuanya.”
Bianca merasa lututnya lemas.
“Tidak… tidak mungkin…”
Seorang polisi menyerahkan beberapa berkas kepada Pengacara Ramos.
“Dari hasil pemeriksaan telepon genggam tersangka, ditemukan seluruh percakapan dengan Nyonya Bianca.”
Gabriel tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi kemenangan.
Ia justru tampak lelah.
“Kenapa, Bianca?”
Perempuan itu menangis tersedu-sedu.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Aku takut kehilangan kehidupan mewah. Kevin bilang kalau perusahaanmu jatuh, kami bisa membangun bisnis baru bersama di luar negeri. Dia bilang kamu tidak akan pernah bangkit lagi.”
Gabriel tersenyum pahit.
“Jadi selama ini semua perhatianmu hanyalah pada hartaku.”
Bianca tidak mampu membantah.
Polisi kemudian membawa Kevin keluar.
Sebelum menghilang di balik pintu lift, Kevin sempat berkata,
“Gabriel… aku kalah.”
Gabriel hanya mengangguk pelan.
Setelah mereka pergi, Pengacara Ramos menanyakan apakah laporan pidana terhadap Bianca akan langsung diproses.
Ruangan kembali sunyi.
Semua orang menunggu keputusan Gabriel.
Bianca merangkak mendekatinya.
“Aku mohon… jangan penjarakan aku.”
Gabriel memandang perempuan yang pernah sangat dicintainya itu.
Ia teringat malam ketika pertama kali melamar Bianca.
Ia teringat janji mereka untuk saling menjaga.
Ia juga teringat bagaimana perempuan itu dengan mudah menyebutnya sebagai pria buta dan lumpuh yang tidak berguna.
Semua kenangan itu bercampur menjadi satu.
Akhirnya Gabriel menarik napas panjang.
“Aku tidak akan membalas dendam.”
Semua orang terkejut.
“Tapi bukan berarti tidak ada konsekuensi.”
Ia menoleh kepada Pengacara Ramos.
“Proses perceraian tetap berjalan. Semua aset mengikuti isi perjanjian pranikah.”
Kemudian ia menatap Bianca.
“Aku juga tidak akan menghalangi proses hukum jika penyidik menemukan keterlibatanmu dalam pencurian data perusahaan. Itu bukan lagi keputusanku.”
Bianca menangis semakin keras.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa kehilangan uang ternyata tidak sesakit kehilangan seseorang yang benar-benar mencintainya.
Tiga bulan berlalu.
Perceraian mereka resmi disahkan pengadilan.
Nama Bianca yang dulu sering muncul di berbagai acara sosial kini perlahan menghilang. Banyak orang yang sebelumnya mendekatinya mulai menjauh setelah mengetahui kasus yang menimpanya.
Sebaliknya, Gabriel memilih menjalani hidup dengan lebih sederhana.
Ia kembali memimpin perusahaannya, tetapi tidak lagi mengejar sorotan media.
Sebagian besar keuntungan perusahaan kini dialokasikan untuk mendirikan yayasan yang membantu penyandang disabilitas mendapatkan pendidikan teknologi dan kesempatan kerja.
Dalam pidato peresmian yayasan itu, seorang wartawan bertanya,
“Pak Gabriel, setelah semua yang terjadi, apakah Bapak masih percaya pada cinta?”
Seluruh ruangan menjadi hening.
Gabriel tersenyum tipis.
“Tentu.”
“Setelah dikhianati?”
“Yang mengkhianati saya adalah seseorang, bukan cinta itu sendiri.”
Jawaban itu langsung memenuhi berbagai media keesokan harinya.
Beberapa bulan kemudian, ketika Gabriel sedang mengunjungi salah satu pusat pelatihan milik yayasannya, ia melihat seorang gadis muda membantu peserta yang menggunakan kursi roda memperbaiki komputer.
Perempuan itu tidak menyadari kehadiran Gabriel.
Ia tersenyum tulus kepada setiap orang yang dibantunya.
Gabriel bertanya kepada salah satu staf.
“Siapa dia?”
“Itu Alya, Pak. Dulu penerima beasiswa yayasan. Sekarang dia menjadi relawan setiap akhir pekan.”
Gabriel hanya mengangguk.
Tidak ada perasaan yang terburu-buru.
Tidak ada ketertarikan karena penampilan.
Yang ia lihat hanyalah ketulusan.
Di sisi lain kota, Bianca menjalani kehidupan yang sangat berbeda.
Ia tinggal di apartemen kecil dan bekerja di sebuah butik.
Suatu sore ia melihat berita tentang Gabriel di televisi.
Dalam tayangan itu, Gabriel sedang menyerahkan kursi roda elektrik kepada seorang anak penyandang disabilitas.
Anak itu memeluk Gabriel sambil menangis bahagia.
Tanpa sadar air mata Bianca ikut mengalir.
Baru saat itu ia memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia mengerti.
Selama bertahun-tahun ia selalu mengira kekayaan adalah alasan seseorang layak dicintai.
Padahal yang membuat Gabriel begitu berharga bukanlah perusahaan, mobil mewah, ataupun penthouse megahnya.
Melainkan hati yang tetap memilih memaafkan ketika memiliki kesempatan untuk menghancurkan.
Bianca mematikan televisi lalu memandang pantulan dirinya di jendela.
Ia tidak lagi menyalahkan Gabriel.
Ia juga tidak menyalahkan keadaan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengakui bahwa orang yang menghancurkan masa depannya bukanlah Gabriel, melainkan dirinya sendiri.
Sementara itu, di balkon kantor pusat perusahaan, Gabriel berdiri memandangi langit senja Jakarta.
Ibunya menghampiri sambil membawa dua cangkir kopi.
“Masih memikirkan masa lalu?”
Gabriel tersenyum.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Aku sedang bersyukur.”
“Bersyukur karena apa?”
“Karena ternyata Tuhan tidak mengambil apa pun dariku enam bulan yang lalu.”
Ibunya tersenyum bingung.
“Bukankah kamu kehilangan seorang istri?”
Gabriel menggeleng pelan.
“Tidak, Bu.”
Ia memandang matahari yang perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tinggi.
“Aku tidak kehilangan istri. Aku hanya kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar mencintaiku. Dan sebagai gantinya, aku menemukan siapa saja yang tetap berdiri di sisiku ketika seluruh dunia mengira aku sudah jatuh.”
Angin sore bertiup lembut.
Di tengah kota yang terus bergerak tanpa henti, Gabriel akhirnya mengerti bahwa ujian terbesar dalam hidup bukanlah kehilangan harta, jabatan, atau kesehatan.
Ujian terbesar adalah mengetahui siapa yang tetap memilih tinggal ketika semua alasan untuk pergi sudah terbuka lebar.
Dan pada akhirnya, topeng selalu memiliki batas waktu.
Cepat atau lambat, kebenaran akan berdiri dengan sendirinya, sementara kepura-puraan akan runtuh oleh pilihannya sendiri.
