Namun bukan air mata itulah yang membuat Pak Joaquin menghentikan sepeda tuanya. Yang membuatnya berhenti adalah apa yang ia lihat di mata anak itu—kehampaan dan kesedihan yang sama seperti yang ia lihat di cermin setiap pagi selama lima belas tahun terakhir.

Di tengah kemacetan Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, orang-orang berlomba mengejar waktu. Klakson bersahutan, gedung-gedung menjulang memantulkan cahaya matahari sore, dan ribuan wajah berlalu tanpa pernah saling mengenal. Di antara keramaian itu, hanya sedikit yang memperhatikan seorang lelaki tua yang setiap hari mengayuh sepeda roda tiganya sambil mengumpulkan kardus dan botol plastik bekas. Bagi kebanyakan orang, ia hanyalah bagian dari pemandangan kota.

Namanya Hasan.

Sudah hampir dua puluh tahun ia hidup sendirian. Tidak ada keluarga yang menunggu di rumah karena rumah pun tak lagi ia miliki. Malam hari ia tidur di sebuah pos ronda tua yang sudah lama tidak dipakai. Pagi-pagi sekali ia berangkat sebelum matahari terbit, berharap hari itu cukup baik untuk membeli sebungkus nasi dan segelas kopi hangat.

Hasan jarang mengeluh. Ia percaya hidup telah mengambil banyak darinya, tetapi ia tidak ingin membiarkan kepahitan mengambil sisa hatinya.

Suatu sore, ketika hujan turun begitu deras hingga jalanan mulai tergenang, Hasan melihat seorang anak laki-laki duduk sendirian di halte bus. Seragam sekolah internasional yang dikenakannya basah sebagian. Tas mahalnya diletakkan di samping, sementara wajahnya tertunduk.

Orang-orang berlalu begitu saja. Sebagian mungkin mengira orang tua anak itu akan segera datang.

Namun Hasan melihat sesuatu yang berbeda.

Anak itu menangis tanpa suara.

Hasan menghentikan sepedanya.

“Nak, kamu menunggu siapa?”

Anak itu mengangkat kepala. Matanya merah dan wajahnya pucat.

“Saya… saya tidak tahu harus pulang bagaimana.”

“Bukannya dijemput?”

“Sopir lupa. Handphone saya mati. Ayah dan Ibu sedang di Singapura.”

Hasan mengangguk pelan.

“Namamu siapa?”

“Arka.”

Hasan duduk di bangku halte, menjaga jarak agar anak itu tidak merasa takut.

“Kamu tahu alamat rumahmu?”

Arka menyebutkan sebuah kawasan elite di Jakarta Selatan.

Hasan mengenal daerah itu. Jauh sekali.

“Kamu mau saya antar?”

Arka menatap pakaian Hasan yang lusuh, sepeda penuh barang bekas, lalu menatap hujan yang semakin deras. Setelah beberapa detik ia mengangguk pelan.

Perjalanan hampir satu jam itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.

Di tengah jalan, Arka mulai bercerita.

Awalnya sedikit.

Lalu semakin banyak.

Ia bercerita tentang rumahnya yang besar tetapi selalu sepi. Tentang ulang tahun yang sering hanya dirayakan bersama para karyawan. Tentang ayah yang selalu mengangkat telepon saat makan malam. Tentang ibunya yang lebih sering berada di luar negeri daripada di rumah.

“Ayah bilang semua ini buat masa depan saya.”

“Lalu menurutmu?”

Arka menunduk.

“Saya cuma ingin makan bakso bareng mereka.”

Hasan tidak langsung menjawab.

Ia tahu ada rasa sakit yang tidak bisa disembuhkan dengan uang.

Sesampainya di depan rumah, gerbang otomatis terbuka. Beberapa satpam berlari panik melihat Arka pulang bersama seorang pemulung.

Tak lama kemudian, kepala rumah tangga keluar sambil berkali-kali meminta maaf.

Ternyata benar, semua orang baru sadar Arka belum pulang hampir dua jam setelah sekolah selesai.

Sebelum Hasan pergi, Arka berlari menghampirinya.

“Pak… boleh datang lagi?”

Hasan tersenyum.

“Kalau memang kamu mau.”

Sejak hari itu, setiap Sabtu Arka selalu mengundang Hasan.

Mereka makan siang bersama di dapur, bukan di ruang makan utama.

Mereka bermain catur.

Membaca buku.

Kadang hanya duduk sambil berbicara.

Hasan menjadi satu-satunya orang dewasa yang benar-benar mendengarkan setiap cerita Arka tanpa terburu-buru.

Sementara bagi Hasan sendiri, kehadiran Arka membuat hari-harinya kembali memiliki arti.

Namun tidak semua orang menyukai kedekatan itu.

Suatu hari, ayah Arka akhirnya pulang dari luar negeri.

Begitu melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan putranya akrab dengan seorang pemulung, wajahnya langsung berubah.

“Mulai sekarang orang itu jangan diizinkan masuk lagi.”

“Tapi, Pak…”

“Ini soal keamanan.”

Ketika Hasan datang Sabtu berikutnya, satpam menghentikannya di gerbang.

“Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan perintah.”

Hasan mengangguk.

Ia tidak marah.

Ia hanya menitipkan sebuah buku cerita bekas yang sudah ia sampul rapi.

“Tolong berikan untuk Arka.”

Lalu ia pergi.

Di dalam rumah, Arka menangis saat mengetahui Hasan ditolak masuk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berteriak kepada ayahnya.

“Papa bahkan tidak kenal dia!”

“Ayah melakukan ini demi kamu.”

“Tidak! Papa melakukan semuanya demi pekerjaan Papa!”

Suasana rumah menjadi sunyi.

Malam itu ayah Arka tidak bisa tidur.

Kata-kata putranya terus terngiang.

Beberapa hari kemudian terjadi sesuatu yang mengubah segalanya.

Perusahaan keluarga mengalami serangan siber besar-besaran. Data penting hilang. Saham perusahaan anjlok.

Media mulai memberitakan kemungkinan kebangkrutan.

Ayah Arka harus bekerja hampir tanpa tidur selama berminggu-minggu.

Suatu malam ia pulang sangat larut.

Mobilnya mogok di kawasan yang belum pernah ia lewati sebelumnya.

Karena sinyal buruk, ia berjalan mencari bantuan.

Tanpa sadar ia tiba di sebuah gang kecil.

Di sanalah ia melihat Hasan.

Lelaki tua itu sedang membagikan nasi bungkus kepada beberapa anak jalanan.

Dengan uang yang hampir tidak cukup untuk dirinya sendiri.

Ayah Arka berdiri mematung.

Ia memperhatikan bagaimana anak-anak itu memanggil Hasan dengan penuh hormat.

“Terima kasih, Pak Hasan.”

“Besok datang lagi ya.”

Tidak ada kamera.

Tidak ada wartawan.

Tidak ada orang kaya yang melihat.

Hasan melakukannya karena memang ingin.

Ayah Arka akhirnya mendekat.

“Pak Hasan…”

Hasan menoleh dan sedikit terkejut.

“Bapak?”

“Saya ingin meminta maaf.”

Hasan tersenyum tipis.

“Tidak perlu.”

“Tidak. Saya salah menilai Bapak.”

Hasan hanya diam.

Ayah Arka menarik napas panjang.

“Saya sibuk membangun perusahaan sampai lupa membangun hubungan dengan anak saya.”

Kalimat itu terasa begitu berat.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, seorang direktur utama menangis di depan seorang pemulung.

Seminggu kemudian, Hasan kembali diundang ke rumah.

Kali ini bukan melalui pintu belakang.

Ayah Arka sendiri yang membukakan gerbang.

Ia mempersilakan Hasan duduk di ruang tamu utama.

Arka langsung memeluk Hasan erat.

“Saya kira Bapak tidak akan datang lagi.”

“Saya sudah janji.”

Hari itu mereka makan siang bersama.

Bukan hanya bertiga.

Seluruh keluarga duduk di meja yang sama.

Tidak ada telepon genggam.

Tidak ada rapat daring.

Tidak ada sekretaris yang menyela.

Hanya percakapan sederhana yang telah lama hilang dari rumah itu.

Beberapa bulan kemudian, perusahaan keluarga meluncurkan sebuah yayasan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.

Semua orang mengira ide itu berasal dari tim konsultan.

Padahal tidak.

Ide itu muncul dari percakapan seorang anak kesepian dengan seorang pemulung yang mengajarinya bahwa manusia tidak diukur dari pakaian, melainkan dari kepedulian.

Hasan tetap menjadi pemulung.

Ia menolak ketika ditawari rumah mewah atau jabatan di yayasan.

“Apa yang saya butuhkan sudah cukup.”

Namun ia menerima satu permintaan.

Setiap Sabtu, ia datang ke rumah Arka.

Mereka membaca buku bersama, memasak mi goreng, bermain catur, lalu berjalan kaki ke taman kota.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Arka lulus sebagai dokter, ia diminta menyampaikan pidato wisuda.

Di hadapan ribuan orang, ia tidak menyebut nama ayahnya yang terkenal.

Ia juga tidak menyebut perusahaan keluarganya.

Ia hanya berkata,

“Orang yang mengubah hidup saya bukanlah orang terkaya yang pernah saya kenal. Ia adalah seseorang yang hampir tidak memiliki apa-apa, tetapi selalu punya waktu untuk mendengarkan. Dari beliau saya belajar bahwa kasih sayang adalah kekayaan yang tidak pernah bisa dibeli.”

Di barisan paling belakang, Hasan yang rambutnya kini seluruhnya memutih tersenyum sambil menahan air mata.

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula.

Namun bagi Hasan, suara yang paling berarti bukanlah tepuk tangan itu.

Melainkan suara seorang anak yang dahulu merasa sendirian, tetapi kini tumbuh menjadi manusia yang mampu membuat banyak orang merasa tidak sendirian lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang