Namaku Nadia Prameswari
Arman bukan takut kami menemukan sesuatu yang memalukan. Ia takut kami menemukan sesuatu yang bisa menghancurkan hidupnya.
Aku menatap jemarinya yang mencengkeram pergelangan tanganku.
Lalu suara itu terdengar lagi.
Bzzzzt.
Bzzzzt.
Getarannya begitu jelas hingga kain satin biru tua di pinggang Maya bergerak tipis.
“Lepaskan tangan saya.”
Suara yang muncul dari belakang membuat Arman menoleh. Pak Dedi, petugas pemakaman yang sejak tadi berdiri dekat pintu, kini mendekat.

“Kalau memang ada benda di pakaian almarhumah, sebaiknya diperiksa.”
“Tidak ada apa-apa,” jawab Arman cepat.
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa takut diperiksa?” tanyaku.
Arman melepaskan tanganku.
Rafi langsung berlari dan memeluk pinggangku.
“Tante,” bisiknya. “Itu bunyinya.”
Aku menatap wajah Maya.
Entah kenapa, di tengah ketakutan yang memenuhi dadaku, aku seperti mendengar kembali pesan terakhirnya.
Jangan langsung percaya pada cerita pertama yang kamu dengar.
Tanganku gemetar saat menyentuh sisi gaun itu.
Arman maju.
“Jangan.”
Pak Dedi menghalanginya.
Aku meraba bagian pinggang Maya dan menemukan sesuatu yang keras di balik lapisan kain.
Bukan ponsel.
Benda itu dijahit ke bagian dalam gaun.
Aku meminta gunting kecil.
Ibu mulai menangis.
“Nadia, sebenarnya ada apa?”
“Aku juga belum tahu, Bu.”
Aku membuka beberapa jahitan di sisi gaun. Dari sana keluar sebuah benda hitam kecil sebesar korek api, dibungkus plastik transparan.
Sebuah perekam suara mini.
Ruangan seketika sunyi.
Wajah Arman kehilangan seluruh warnanya.
Rafi memandang benda itu, kemudian berbisik, “Mama bilang Tante pasti tahu harus ngapain.”
Aku menekan tombolnya.
Tidak terjadi apa-apa.
Lalu kusadari getaran tadi berasal dari alarm yang diatur pada perangkat tersebut. Lampu kecil berkedip.
Ada satu rekaman tersimpan.
Aku menekan tombol putar.
Suara berdesis memenuhi ruang tengah.
Kemudian terdengar suara Maya.
“Nad, kalau kamu mendengar ini, berarti rencanaku gagal.”
Ibu terisak.
Aku merasa lututku hampir kehilangan tenaga.
Suara Maya terdengar pelan, tetapi jelas.
“Aku nggak tahu apa aku masih hidup saat rekaman ini ditemukan. Aku cuma tahu aku nggak punya banyak waktu.”
Arman tiba-tiba bergerak.
Ia menerjang ke arahku.
Pak Dedi dan dua sepupuku langsung menahannya.
“Matikan itu!” teriak Arman. “Kalian nggak tahu apa-apa!”
Rekaman terus berjalan.
“Aku menemukan sesuatu tentang Arman tiga minggu lalu.”
Tangisku berhenti.
Suara Maya berubah lebih tegang.
“Awalnya aku pikir dia selingkuh. Dia sering pulang malam, menghapus pesan, dan menyimpan ponsel kedua di mobil. Aku bahkan berharap cuma itu masalahnya.”
Terdengar Maya menarik napas.
“Tapi ternyata bukan.”
Arman meronta semakin keras.
“FITNAH!”
“Diam!” bentakku.
Itu pertama kalinya aku berteriak kepadanya.
Rekaman berlanjut.
Maya bercerita bahwa beberapa bulan terakhir Arman terlilit utang akibat investasi bodong dan pinjaman daring yang tidak pernah diketahui keluarga. Jumlahnya bukan puluhan juta.
Hampir satu miliar rupiah.
Yang lebih mengerikan, tanpa sepengetahuan Maya, Arman menggunakan dokumen pribadinya untuk mengajukan pinjaman dan menjaminkan beberapa aset keluarga.
Ketika Maya mengetahuinya, ia mengancam akan melapor.
Sejak saat itu, perilaku Arman berubah.
“Dia mulai menanyakan asuransi jiwaku,” suara Maya bergetar. “Dia bilang cuma buat memastikan masa depan Rafi. Tapi minggu lalu aku menemukan salinan polis yang baru diperbarui.”
Aku memandang Arman.
Ia berhenti meronta.
“Nilainya dua miliar.”
Ibu jatuh terduduk.
Aku memeluk Rafi lebih erat.
Kemudian suara Maya mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan membeku.
“Kalau aku meninggal karena kecelakaan, penerima manfaatnya Arman.”
Arman menggeleng.
“Nggak. Jangan percaya. Maya sedang depresi!”
Aku menatapnya.
“Kalau dia depresi, kenapa kamu mau merebut alat itu?”
Arman tidak menjawab.
Rekaman belum selesai.
Maya mengatakan ia sudah menyimpan salinan dokumen utang dan polis tersebut di tempat lain. Ia berniat menemui pengacara pada hari Senin.
Tetapi dua malam sebelum kematiannya, ia mendengar Arman berbicara melalui telepon.
“Aku cuma dengar satu kalimat,” kata Maya dalam rekaman. “Dia bilang, setelah semuanya selesai, orang akan percaya itu kecelakaan.”
Aku merasa darahku membeku.
Hari Senin tidak pernah datang bagi Maya.
Ia meninggal Minggu dini hari.
Menurut Arman, istrinya terpeleset dari tangga.
Suara rekaman berhenti beberapa detik.
Lalu Maya berkata, “Aku belum punya bukti bahwa dia benar-benar akan menyakitiku. Mungkin aku cuma ketakutan. Tapi kalau sesuatu terjadi, jangan biarkan tubuhku dikuburkan sebelum diperiksa lagi.”
Aku menatap Pak Dedi.
Ia langsung memahami maksudku.
“Keluarga harus hubungi polisi,” katanya.
Arman tertawa pendek.
Tawa orang yang terpojok.
“Kalian gila. Polisi sudah datang waktu kejadian. Semua sudah diperiksa.”
“Belum semuanya,” kataku.
Aku memandang gaun biru yang tidak pernah dimiliki kakakku.
Kenapa Arman memilih pakaian itu?
Kenapa ia sendiri yang mengurus pakaian jenazah?
Lalu aku melihat sesuatu.
Bagian kerah gaun menutupi hampir seluruh leher Maya.
Aku mendekat.
“Pak Dedi, tolong bantu saya.”
“Nadia, jangan!” teriak Arman.
Aku menurunkan sedikit bagian kerahnya.
Dan di sanalah aku melihatnya.
Di bawah rahang Maya terdapat dua lebam kecil berwarna keunguan.
Bukan luka akibat jatuh.
Aku bukan dokter, jadi aku tidak berani menyimpulkan apa pun.
Namun cukup untuk membuat kami menghentikan rencana pemakaman.
Aku menelepon polisi.
Malam itu berubah menjadi kekacauan.
Rumah Ibu yang sebelumnya dipenuhi doa berubah menjadi lokasi pemeriksaan. Petugas datang. Rekaman diserahkan. Jenazah Maya dibawa untuk pemeriksaan forensik lebih lanjut.
Arman diminta ikut memberikan keterangan.
Sebelum dibawa pergi, ia menatap Rafi.
“Rafi, bilang sama mereka Mama jatuh.”
Rafi bersembunyi di belakangku.
Arman mencoba mendekat.
Aku berdiri di depannya.
“Jangan bicara sama dia.”
“Nadia, dia anak saya.”
“Justru karena dia anakmu.”
Tatapan Arman berubah.
Untuk sesaat aku melihat wajah yang selama bertahun-tahun mungkin hanya dikenal Maya.
Bukan Arman yang ramah saat Lebaran.
Bukan ayah yang mengunggah foto Rafi setiap ulang tahun.
Melainkan seseorang yang sangat terbiasa membuat orang lain takut.
Pemeriksaan forensik mengubah segalanya.
Dua hari kemudian, polisi memanggil kami.
Maya memang mengalami benturan di kepala akibat jatuh dari tangga.
Tetapi benturan itu bukan penyebab utama kematiannya.
Ada tanda tekanan pada leher.
Ada pula kandungan obat penenang dalam tubuhnya.
Dalam kadar yang cukup tinggi untuk membuat seseorang kehilangan keseimbangan dan kesadaran.
Penyelidikan kemudian menemukan rekaman kamera keamanan milik rumah tetangga.
Kamera itu tidak mengarah langsung ke rumah Maya, tetapi merekam sebagian halaman depan.
Pada pukul 01.47, lampu ruang atas menyala.
Pukul 01.52 terdengar suara benturan.
Namun ambulans baru dipanggil pukul 02.31.
Tiga puluh sembilan menit kemudian.
Arman selama ini mengatakan ia langsung meminta pertolongan setelah menemukan istrinya.
Ia berbohong.
Polisi menemukan ponsel kedua Arman di sebuah loker kantor. Di dalamnya terdapat percakapan mengenai utang, asuransi, dan pencarian tentang pencairan polis kematian.
Tetapi bagian yang paling menyakitkan bukan itu.
Rafi akhirnya bicara.
Bukan kepada polisi pada awalnya.
Kepadaku.
Malam ketiga setelah Arman ditahan, ia terbangun sambil menangis.
Untuk pertama kalinya sejak Maya meninggal.
Aku memeluknya di kamar yang dulu menjadi kamar masa kecilku.
“Aku dengar Mama,” katanya.
Aku mengusap rambutnya.
“Dengar apa?”
“Malam itu.”
Tubuhku menegang.
Rafi mengatakan ia terbangun karena haus.
Dari kamarnya ia mendengar orang tuanya bertengkar.
Maya menangis.
Arman berteriak.
Kemudian terdengar suara benda jatuh.
Rafi keluar.
Ia melihat ibunya terbaring di bawah tangga.
“Papa lihat aku,” katanya sambil terisak. “Papa bilang Mama jatuh karena ceroboh. Papa bilang kalau aku cerita yang lain, polisi bakal bawa Mama pergi dan aku nggak akan ketemu Mama lagi.”
Aku menutup mulut agar tangisku tidak pecah.
Jadi selama ini Rafi bukan tidak berduka.
Ia ketakutan.
Beberapa hari sebelum kematiannya, Maya rupanya sudah menyadari bahwa Rafi mungkin menjadi satu-satunya saksi jika sesuatu terjadi.
Karena itulah ia memberikan instruksi aneh kepada anaknya.
Tunggu bunyinya.
Jangan pergi ketika Papa mulai buru-buru.
Percaya pada Tante Nadia.
Namun masih ada satu hal yang tidak masuk akal.
Bagaimana alat perekam itu bisa berada di dalam gaun yang justru dipilih Arman setelah Maya meninggal?
Jawabannya baru kami temukan seminggu kemudian.
Ibu sedang membereskan barang-barang Maya ketika ia menemukan sebuah amplop di dalam tas sekolah Rafi.
Di bagian depan tertulis namaku.
NADIA.
Tulisan tangan Maya.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Aku membacanya.
Tanganku langsung dingin.
“Nad, kalau kamu membaca ini, mungkin kamu sudah menemukan rekamannya. Aku tahu Arman yang biasanya memilih pakaian kalau terjadi sesuatu karena dia selalu ingin mengendalikan semuanya. Gaun biru itu sengaja kubeli dan kutaruh paling depan di lemari dengan catatan kecil bertuliskan pakai ini kalau aku meninggal. Kedengarannya gila, ya? Tapi aku butuh tempat yang kemungkinan besar tidak akan diperiksa Arman.”
Aku berhenti membaca.
Air mataku jatuh.
Maya sudah merencanakan semuanya.
Bukan kematiannya.
Cara kebenaran menemukan jalan keluar jika ia tidak sempat menyelamatkan dirinya sendiri.
Namun kalimat terakhir surat itu menghancurkanku.
“Dan satu hal lagi. Jangan salahkan Rafi kalau dia diam. Aku yang menyuruhnya diam sampai dia mendengar bunyi. Anak kita terlalu kecil untuk melawan orang dewasa. Tugas kita bukan mengajarinya menjadi pahlawan. Tugas kita membuat dia tetap hidup.”
Berbulan-bulan kemudian, perkara Arman masuk pengadilan.
Bukti forensik, rekaman suara, jejak digital, keterangan saksi, serta kebohongannya mengenai waktu pemanggilan ambulans menjadi bagian penting dalam perkara tersebut.
Aku menghadiri hampir setiap persidangan.
Rafi tidak.
Aku tidak ingin masa kecilnya berubah menjadi deretan kursi pengadilan dan wajah orang-orang yang membicarakan kematian ibunya.
Ia mulai menjalani konseling dan tinggal bersama Ibu dan aku.
Perlahan, ia kembali menjadi anak delapan tahun.
Ia mulai bermain bola.
Mulai mengeluh soal PR matematika.
Mulai tertawa saat menonton kartun.
Tetapi setiap mendengar ponsel bergetar, tubuhnya masih menegang.
Suatu malam, hampir setahun setelah Maya meninggal, kami berziarah ke makamnya.
Rafi membawa boneka beruang cokelat yang dulu dipeluknya di samping peti.
Ia meletakkannya sebentar di atas rumput.
“Tante.”
“Ya?”
“Waktu itu Mama tahu bakal meninggal?”
Pertanyaan itu membuatku lama terdiam.
“Aku rasa Mama nggak tahu.”
“Terus kenapa Mama siapin semuanya?”
Aku menatap nama kakakku pada batu nisan.
“Karena Mama kamu takut. Tapi dia tetap berusaha melindungi kamu.”
Rafi mengangguk pelan.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah ponsel lama milik Maya yang sudah diperiksa polisi dan akhirnya dikembalikan kepada keluarga.
“Aku nemu ini di galeri.”
Ia menunjukkan sebuah video.
Tanggalnya tiga hari sebelum Maya meninggal.
Maya duduk di kamar Rafi.
Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia tersenyum ke kamera.
“Halo, Rafi. Kalau suatu hari kamu nonton ini saat Mama nggak ada, Mama mau kamu tahu satu hal.”
Aku menahan napas.
“Kalau kamu takut, kamu boleh lari. Kalau kamu sedih, kamu boleh nangis. Kalau orang dewasa menyuruh kamu menyimpan rahasia yang bikin kamu takut, kamu boleh cerita. Kamu nggak pernah punya kewajiban melindungi orang dewasa.”
Rafi mulai menangis.
Di layar, Maya tersenyum.
“Dan jangan pernah berpikir kamu gagal menyelamatkan Mama. Mama adalah ibumu. Seharusnya Mama yang menyelamatkan kamu.”
Aku memeluk Rafi.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman itu, ia menangis tanpa berusaha menahan suara.
Tangis seorang anak yang akhirnya mengerti bahwa diamnya bukan pengkhianatan.
Bahwa ketakutannya bukan kesalahan.
Sebelum pulang, Rafi berdiri di depan makam ibunya.
“Mama,” katanya lirih, “aku dengar bunyinya.”
Angin sore bergerak melewati pepohonan.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada getaran.
Tidak ada rahasia lain yang harus ditemukan.
Rafi menggenggam tanganku.
Lalu kami berjalan meninggalkan makam.
Beberapa langkah kemudian ia menoleh sekali lagi dan tersenyum kecil.
Saat itulah aku akhirnya memahami pesan Maya yang sebenarnya.
Bunyi yang ia tunggu bukan sekadar alarm dari sebuah alat perekam.
Itu adalah batas yang dibuat seorang ibu antara ketakutan dan kebenaran.
Maya tidak bisa memastikan siapa yang akan mempercayainya ketika ia masih hidup.
Maka ia meninggalkan jejak agar kebenaran tetap bisa berbicara ketika suaranya sendiri sudah tidak ada.
Dan malam ketika gaun jenazahnya bergetar, yang bangkit bukanlah Maya.
Yang bangkit adalah keberaniannya.
