SEPULUH TAHUN DOKTER GAGAL MEMBANGUNKAN MILIARDER INI, SAMPAI SEORANG ANAK MISKIN MENYENTUH WAJAHNYA DENGAN TANAH BASAH DAN MONITORNYA TIBA-TIBA BERUBAH

“Anak siapa ini?”

Suara seorang perawat membuat tanganku membeku tepat di atas wajah pria yang terbaring di ranjang.

Aku masih berdiri di atas kursi. Telapak tanganku penuh tanah basah dari taman belakang rumah sakit. Sebagiannya sudah menempel di pipi, dahi, dan hidung pria itu.

Aku tidak pernah membayangkan tindakan kecil itu akan membongkar rahasia yang terkubur selama sepuluh tahun.

Namaku Mira. Umurku dua belas tahun. Ibuku bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Sepulang sekolah, aku sering menunggu Ibu selesai bekerja karena kami tidak punya uang untuk membayar orang yang menjagaku.

Selama hampir setahun, aku sering melewati kamar nomor 708.

Di sanalah Eduardo Pratama terbaring.

Aku baru tahu kemudian bahwa Eduardo bukan pasien biasa. Ia pendiri Pratama Arunika Group, perusahaan properti dan logistik yang memiliki ribuan karyawan. Sepuluh tahun sebelumnya, ketika usianya baru tiga puluh delapan tahun, mobilnya mengalami kecelakaan di kawasan Puncak.

Sejak malam itu, ia tidak pernah sadar sepenuhnya.

Setidaknya begitulah yang dipercaya semua orang.

Sampai hari ketika aku mengoleskan tanah basah ke wajahnya.

Setelah monitor berubah dan jarinya bergerak, keadaan kamar 708 menjadi kacau. Dokter Arif memanggil tim neurologi. Beberapa alat pemeriksaan dibawa masuk.

Lalu Rendra, adik Eduardo sekaligus wali hukumnya, datang.

Ketika Eduardo mengeluarkan suara dan memanggil namaku, wajah Rendra mendadak pucat.

“Mira.”

Suara Eduardo sangat lemah, seperti udara yang keluar dari celah pintu.

Aku sendiri nyaris tidak percaya.

Dokter perempuan bernama dr. Ratih segera mendekat.

“Pak Eduardo, Anda bisa mendengar kami?”

Kelopak mata Eduardo bergetar.

Rendra tiba-tiba maju.

“Cukup. Kakak saya butuh istirahat.”

Dokter Arif menghalanginya.

“Pak Rendra, pasien menunjukkan respons sadar. Kami harus melakukan pemeriksaan lanjutan.”

“Dia sudah sepuluh tahun seperti ini.”

“Justru karena itu.”

Rendra menatapku.

“Dan anak ini harus keluar.”

Aku tidak membantah. Aku sudah terlalu takut memikirkan Ibu.

Petugas keamanan membawaku keluar. Di lorong, Ibu sudah berlari ke arahku dengan wajah panik.

“Mira!”

Aku menunduk.

Ibu memelukku, lalu memegang kedua bahuku.

“Kamu masuk kamar pasien?”

“Maaf, Bu.”

“Kamu tahu kalau terjadi sesuatu, Ibu bisa kehilangan pekerjaan?”

Air mataku mulai turun.

“Aku cuma merasa dia kesepian.”

Wajah Ibu berubah.

Kemarahannya perlahan menghilang.

Sebelum sempat berkata apa-apa, pintu kamar 708 terbuka. Rendra keluar.

Ia menatap Ibu.

“Anda ibunya?”

Ibu mengangguk cepat.

“Saya minta maaf, Pak. Anak saya tidak bermaksud…”

“Besok Anda tidak perlu datang bekerja lagi.”

Wajah Ibu langsung pucat.

“Pak, tolong. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini.”

“Itu bukan urusan saya.”

Aku maju.

“Ini salah saya.”

Rendra menatapku dingin.

“Kalau begitu kamu harus belajar bahwa setiap tindakan punya akibat.”

Ia pergi.

Malam itu kami pulang ke kontrakan di Tebet tanpa banyak bicara.

Ibu duduk lama di depan kipas angin tua sambil memandangi tagihan listrik dan uang sewa yang belum dibayar. Aku menangis diam-diam di kamar.

Sekitar pukul sebelas malam, ponsel Ibu berbunyi.

Nomor rumah sakit.

Ibu mengangkatnya dengan tangan gemetar.

“Halo?”

Aku melihat ekspresinya berubah.

“Sekarang?”

Setelah menutup telepon, Ibu menatapku.

“Kita harus kembali ke rumah sakit.”

“Kenapa?”

“Pak Eduardo terus bereaksi setiap kali mendengar namamu.”

Aku tidak mengerti.

Tapi setengah jam kemudian kami sudah berada kembali di lantai tujuh.

Kali ini tidak ada petugas keamanan yang mengusirku.

Dokter Arif dan dr. Ratih menungguku.

“Duduk di sampingnya,” kata dr. Ratih.

Aku mendekati ranjang.

Wajah Eduardo sudah bersih.

Anehnya, ketika tanah itu hilang, reaksinya juga melemah.

Dr. Ratih memberiku wadah kecil.

Di dalamnya ada sedikit tanah basah.

“Kami mengambil sampel dari tempat yang sama.”

Aku menatapnya bingung.

“Kenapa tanah?”

“Kami belum tahu.”

Aku mencium aromanya.

Bau hujan. Daun basah. Tanah.

Aku mendekatkannya ke Eduardo.

Monitor berubah.

Kelopak matanya bergerak.

Lalu perlahan, sangat perlahan, mata Eduardo terbuka.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Matanya kosong beberapa detik sebelum bergerak ke arahku.

Bibirnya bergetar.

“Mira…”

Aku merinding.

“Bapak kenal saya?”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

Kemudian ia berbisik satu kata lagi.

“Amira.”

Ibu yang berdiri di belakangku menjatuhkan tasnya.

Aku menoleh.

Wajah Ibu putih seperti kertas.

“Ibu?”

Eduardo berusaha mengangkat kepala.

Tatapannya tidak lagi tertuju kepadaku.

Ia menatap Ibu.

“Amira…”

Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Nama lengkap ibuku adalah Amira Lestari.

Ibu mundur satu langkah.

“Tidak mungkin.”

Eduardo menangis.

“Aku… mencarimu.”

Ibu menutup mulutnya.

Dokter Arif meminta semua orang tenang. Kondisi Eduardo masih sangat lemah. Setelah sepuluh tahun terbaring, ia bahkan kesulitan menggerakkan tubuh.

Namun malam itu, sedikit demi sedikit, masa lalu mulai terbuka.

Dua belas tahun sebelumnya, Ibu bekerja sebagai staf administrasi di salah satu proyek milik Pratama Arunika Group di Bogor.

Di sanalah ia mengenal Eduardo.

Hubungan mereka tidak pernah diketahui keluarga Eduardo karena saat itu Eduardo sudah dijodohkan dengan putri seorang pengusaha besar.

Ibu hamil.

Eduardo ingin membatalkan perjodohannya dan menikahi Ibu.

Namun sebelum semua itu terjadi, Ibu tiba-tiba dipecat.

Nomor Eduardo tidak bisa dihubungi. Kontrakan Ibu didatangi orang yang mengaku mewakili keluarga Pratama. Mereka mengatakan Eduardo sudah menikah dan tidak ingin berhubungan dengannya lagi.

Ibu pergi dari Bogor dalam keadaan hamil.

“Aku pikir kamu membuang kami,” bisik Ibu.

Eduardo menggeleng dengan susah payah.

“Tidak.”

Tangannya bergetar.

“Aku… cari.”

Lalu tatapannya berubah.

“Rendra.”

Dokter Ratih menatap Dokter Arif.

Saat itulah kami mulai memahami bahwa kecelakaan sepuluh tahun lalu mungkin bukan sekadar kecelakaan.

Keesokan paginya, rumah sakit mendadak dipenuhi orang dari keluarga Pratama.

Rendra datang bersama pengacara.

Ia menuntut Eduardo dipindahkan ke fasilitas lain.

Namun kali ini Dokter Arif menolak.

“Kondisinya belum stabil.”

“Saya wali hukumnya.”

“Status itu bisa ditinjau kembali karena pasien mulai menunjukkan kapasitas kesadaran.”

Rendra marah.

Aku melihatnya dari ujung lorong.

Ketika mata kami bertemu, ia berjalan mendekat.

“Kamu pikir kamu siapa?”

Aku diam.

“Kamu dan ibumu ingin uang?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa datang?”

Aku menatapnya.

“Karena Pak Eduardo memanggil nama Ibu.”

Rahangnya mengeras.

“Kalian seharusnya tidak pernah muncul.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Bukan karena takut.

Karena aku sadar ia tahu siapa kami.

Aku langsung berlari mencari Dokter Ratih.

Namun sebelum sampai, alarm dari kamar 708 berbunyi.

Aku berbalik.

Beberapa perawat berlari.

Ketika aku masuk, Eduardo mengalami kesulitan bernapas.

Dokter Arif menemukan selang infus yang tidak terpasang sebagaimana mestinya.

“Siapa terakhir masuk?”

Seorang perawat menjawab, “Pak Rendra.”

Rendra langsung menyangkal.

“Kalian menuduh saya?”

Dokter Arif tidak menjawab.

Petugas keamanan dipanggil.

Polisi datang beberapa jam kemudian.

Dan penyelidikan yang selama sepuluh tahun dianggap selesai akhirnya dibuka kembali.

Seminggu kemudian, kondisi Eduardo cukup stabil untuk memberikan keterangan sederhana.

Ia belum bisa berbicara panjang. Karena itu polisi mengajukan pertanyaan yang cukup dijawab dengan ya atau tidak.

Apakah ia ingat kecelakaannya?

Satu kedipan.

Ya.

Apakah ia mengemudi?

Dua kedipan.

Tidak.

Semua orang terdiam.

Catatan lama menyebut Eduardo mengendarai mobil seorang diri.

Polisi bertanya lagi.

“Apakah Rendra berada di mobil bersama Anda?”

Satu kedipan.

Ya.

Wajah Rendra yang berada di balik kaca ruang pemeriksaan berubah.

Kemudian bukti lain ditemukan.

Sebuah arsip lama perusahaan menunjukkan bahwa beberapa hari sebelum kecelakaan, Eduardo mengubah surat wasiatnya. Sebagian besar sahamnya kelak akan diwariskan kepada anak biologisnya jika anak itu ditemukan.

Pada saat bersamaan, Eduardo memerintahkan penyelidikan internal terhadap transaksi mencurigakan yang dilakukan Rendra.

Malam sebelum ia menyerahkan bukti kepada dewan direksi, kecelakaan terjadi.

Rendra selamat tanpa pernah tercatat sebagai penumpang.

Eduardo tidak pernah bangun.

Dan selama sepuluh tahun berikutnya, Rendra mengendalikan hampir seluruh kekayaan kakaknya sebagai wali hukum.

Polisi akhirnya menemukan mantan sopir keluarga yang mengaku pernah menerima uang untuk memberikan keterangan palsu.

Rendra ditangkap.

Saat dibawa melewati lorong rumah sakit, ia melihatku.

Untuk pertama kalinya aku tidak melihat seorang pria berkuasa.

Aku melihat seseorang yang ketakutan karena masa lalu akhirnya mengejarnya.

Namun masih ada satu pertanyaan yang mengganggu para dokter.

Mengapa tanah basah?

Jawabannya datang dari Ibu.

Suatu sore, ia membawa sebuah foto lama.

Dalam foto itu, Ibu dan Eduardo berdiri di sebuah kebun kecil di Bogor. Hujan baru turun. Celana mereka terkena lumpur.

Ibu tersenyum sambil menunjukkan foto itu kepadaku.

“Pak Eduardo sangat suka bau tanah setelah hujan.”

Aku teringat perkataanku pada hari pertama.

Nenekku dulu juga menyukainya.

Ibu melanjutkan.

“Di tempat inilah dia bilang ingin menikahi Ibu.”

Dokter Ratih kemudian menjelaskan bahwa aroma tertentu dapat memiliki hubungan sangat kuat dengan ingatan dan emosi. Tidak ada yang bisa memastikan tanah itu secara ajaib membangunkan Eduardo. Mungkin otaknya memang sedang memasuki tahap pemulihan. Mungkin suara, sentuhan, aroma, dan kebetulan waktu bertemu pada satu titik yang tepat.

Bagiku, penjelasannya tidak terlalu penting.

Enam bulan kemudian, Eduardo sudah bisa duduk dengan bantuan.

Setahun kemudian, ia mampu berjalan beberapa langkah menggunakan alat penyangga.

Aku sering datang menemuinya sepulang sekolah.

Suatu sore hujan turun deras di Jakarta.

Aku membuka jendela sedikit.

Aroma tanah basah masuk ke kamar.

Eduardo tersenyum.

“Dulu,” katanya perlahan, “aku pikir hal pertama yang ingin kulihat kalau bangun adalah perusahaan.”

Aku tertawa.

“Sekarang?”

Ia menatap Ibu yang sedang menuangkan teh.

Kemudian menatapku.

“Keluargaku.”

Aku tidak pernah memanggilnya Ayah saat itu.

Rasanya masih terlalu asing.

Namun sebelum pulang, Eduardo memanggilku.

“Mira.”

Aku berbalik.

Ia mengeluarkan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Buka di rumah.”

Di kontrakan, aku membukanya bersama Ibu.

Bukan uang.

Bukan surat kepemilikan perusahaan.

Itu formulir pendaftaran sekolah.

Salah satu sekolah terbaik di Jakarta.

Di bagian biaya pendidikan tertulis sudah dibayar hingga lulus.

Di bawahnya ada surat pendek yang ditulis Eduardo dengan tangan yang masih gemetar.

Mira, sepuluh tahun aku memiliki hampir semua yang bisa dibeli dengan uang, tetapi tidak memiliki satu hal yang paling berharga, kesempatan untuk menjalani hidupku sendiri.

Kamu memberiku kesempatan itu kembali.

Sekarang izinkan aku memberikan kesempatan untukmu.

Aku menangis.

Ibu juga.

Namun kejutan terakhir datang beberapa bulan kemudian ketika hasil tes DNA resmi keluar.

Kemungkinan hubungan biologis antara Eduardo Pratama dan Mira Lestari adalah 99,99 persen.

Aku membaca kertas itu berulang kali.

Ketika bertemu Eduardo, aku tidak langsung mengatakan apa pun.

Aku hanya duduk di sampingnya.

“Jadi?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Matanya berkaca-kaca.

Aku mengambil sedikit tanah dari pot tanaman di dekat jendela, membasahinya dengan air, lalu meletakkannya di telapak tangannya.

Eduardo tertawa kecil.

“Jangan oleskan ke wajah Ayah lagi.”

Aku terdiam.

Itulah pertama kalinya ia menyebut dirinya Ayah.

Aku menggenggam tangannya.

Di luar jendela, hujan mulai turun.

“Ayah.”

Eduardo menatapku.

Aku tersenyum.

“Kali ini tidak perlu dibangunkan lagi.”

Ia menggenggam tanganku lebih erat.

Dan saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Sepuluh tahun dokter berusaha membangunkan tubuh Eduardo dengan ilmu pengetahuan, obat, alat, dan segala teknologi yang tersedia.

Tetapi mungkin yang tertidur paling dalam bukan hanya tubuhnya.

Melainkan ingatan tentang kehidupan yang pernah direnggut darinya.

Dan pada suatu sore setelah hujan, seorang anak perempuan yang bahkan tidak tahu siapa dirinya datang membawa segenggam tanah basah.

Bukan untuk melakukan keajaiban.

Melainkan untuk mengingatkan seorang ayah bahwa di luar kegelapan panjang itu, masih ada seseorang yang menunggunya pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang