Stories

Stories

Seminggu Sebelum Pernikahanku, Aku Menemukan Keluargaku Diam-Diam Melindungi Tunanganku Dan Kakakku—Malam Itu Aku Mengemas Koper Tanpa Memberi Tahu Siapa Pun

Pagi ketika seharusnya aku bersiap menjadi pengantin, aku justru berdiri sendirian di depan cermin bandara, mengenakankemeja putih sederhana dan menggenggam paspor dengan tangan gemetar. Di belakangku, koper besar berwarna hitamberdiri tegak. Tidak ada gaun pengantin, tidak ada buket bunga, dan tidak ada keluarga yang mengantarku. Hanya ada satupesan yang belum kubaca sejak semalam, dikirim oleh Arga berkali-kali. Naya, angkat teleponmu. Kita perlu bicara. Aku mematikan layar ponsel tepat ketika pengumuman keberangkatan terdengar. Pesawatku menuju Singapura akanberangkat empat puluh menit lagi, lalu aku akan melanjutkan perjalanan bersama tim medis menuju tempat penugasankemanusiaan di wilayah yang membutuhkan bantuan. Aku tidak tahu apakah keputusan ini akan menyelamatkanku ataujustru membuat hidupku semakin rumit. Yang kutahu, aku tidak sanggup lagi tinggal di kota tempat semua orang yangkucintai bersekongkol menyembunyikan kebenaran dariku. Sebelum naik pesawat, aku mengirim satu pesan kepada Ibu. Bu, aku baik-baik saja. Jangan mencariku. Aku perlu waktu untuk memahami siapa sebenarnya keluargaku. Aku tidak menambahkan penjelasan apa pun. Setelah itu, ponsel kumatikan. Perjalanan panjang tidak membuat pikiranku tenang. Selama hampir enam tahun, Arga adalah orang yang paling kukenal.Aku tahu bagaimana dia tertawa ketika gugup, bagaimana dia selalu memesan kopi tanpa gula, dan bagaimana diamenggenggam tanganku setiap kali aku merasa takut. Aku pernah menganggap semua kebiasaan kecil itu sebagai buktibahwa cintanya tulus. Sekarang, setiap kenangan terasa seperti pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Mengapa Laras? Mengapa keluargaku melindungi mereka? Dan sejak kapan semua ini berlangsung? Tiga hari setelah tiba di tempat penugasan, aku akhirnya menyalakan ponsel. Puluhan panggilan tak terjawab memenuhilayar. Ada pesan dari Ayah, Ibu, Laras, dan Arga. Sebagian besar hanya meminta agar aku segera pulang. Namun sebuah pesan dari Laras membuatku terdiam. Naya, Kakak tahu kamu sudah melihat foto itu. Tolong jangan mengambil keputusan sebelum mendengar penjelasanKakak. Ada sesuatu yang selama ini kami sembunyikan karena kami takut kehilanganmu. Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Lalu aku membalas singkat. Kalau Kakak benar-benar peduli kepadaku, katakan semuanya. Jangan menyuruhku pulang hanya supaya kalian bisamengatur cerita yang harus kupercaya. Laras menelepon kurang dari satu menit kemudian. Aku hampir menolak, tetapi akhirnya mengangkatnya. “Naya,” suaranya terdengar serak. “Kamu di mana?” “Di tempat yang tidak bisa kalian datangi hanya untuk menyuruhku diam.” Dia terisak. Aku memejamkan mata, berusaha menahan kemarahan yang selama ini kupendam. “Apakah Kakak dan Arga sudah menikah?”

Lên đầu trang