Dante memutar kursi kulitnya dengan perlahan, menatap Sheila tepat di manik mata. Di ruangan yang didominasi warna biru laut dan perak itu, atmosfer terasa begitu dingin, kontras dengan teriknya pasar lima tahun silam. Sheila terpaku, kakinya seolah berakar ke lantai marmer yang licin.
“Dante… aku… aku tidak menyangka,” Sheila terbata-bata, mencoba memaksakan senyum yang paling manis, namun bibirnya justru bergetar hebat. “Kamu terlihat… luar biasa. Aku tahu kamu pasti bisa sukses. Dulu aku hanya… aku sedang emosional.”

Dante tidak bergeming. Ia membuka sebuah map kulit di hadapannya, jemarinya yang kini halus dan terawat bergerak lincah menelusuri dokumen. “Nona Sheila, kita berada di ruang wawancara, bukan di tempat kenangan. Mari kita bicara tentang kualifikasi Anda. Anda memiliki pengalaman administrasi, namun riwayat kredit Anda… sedikit berantakan.”
Sheila menunduk malu. “Itu hanya kesalahan kecil, Dante. Seseorang menipuku. Tapi aku yakin, dengan bantuanmu… maksudku, dengan dukunganku di sini, aku bisa memperbaiki semuanya. Kita bisa kembali seperti dulu, kan?”
Dante tertawa kecil, suara yang terdengar asing bagi telinga Sheila—suara pria yang telah ditempa oleh kejamnya dunia bisnis global. “Seperti dulu? Saat kamu membuang kue keringku ke dalam tong berisi ikan nila yang busuk? Saat kamu menghinaku di depan semua orang?”
Sheila terdiam, wajahnya memerah karena malu dan ketakutan. “Aku menyesal, Dante. Sungguh.”
“Penyesalan adalah komoditas yang tidak memiliki nilai tukar di perusahaan ini,” sahut Dante dingin. “Namun, saya memiliki posisi yang tepat untuk Anda. Posisi yang sangat cocok dengan… keahlian Anda.”
Sheila merasa ada setitik harapan. “Apapun itu, Dante. Aku akan melakukannya.”
Dante menekan sebuah tombol di bawah meja. Pintu ruang konferensi terbuka, dan seorang asisten pria masuk membawa sebuah seragam berwarna abu-abu yang sangat sederhana.
“Gudang pendingin bawah tanah kami membutuhkan staf pembersih harian,” ujar Dante santai sambil menatap ke luar jendela lagi. “Tugasmu adalah memastikan sisa-sisa es dan lendir ikan yang menempel di lantai pembuangan bersih setiap jam. Baunya mungkin akan sedikit menyengat. Tapi, setidaknya kamu tidak perlu mencium bau itu di rumah, bukan? Kamu akan bekerja di sumbernya sepanjang hari.”
Sheila ternganga. “Apa? Kamu memperlakukanku seperti budak? Ini penghinaan!”
“Ini adalah pekerjaan, Sheila. Sesuai keinginanmu dulu, kamu ingin pria yang bisa menghidupimu. Pekerjaan ini memberikan gaji yang cukup untuk kebutuhan pokok. Atau apakah kamu lebih memilih kelaparan di jalanan dengan hutang yang menumpuk?”
Sheila menggigit bibirnya. Dengan harga diri yang hancur berkeping-keping, ia mengambil seragam itu. Ia berpikir, “Tak apa, aku akan berada di dekatnya. Aku akan merayunya kembali. Aku akan menjadi Nyonya Blue Ocean.”
Namun, nasib memiliki selera humor yang gelap.
Hari-hari berlalu. Sheila bekerja dengan pakaian kusam, bergelut dengan lantai yang licin dan bau amis yang menusuk hidung—sebuah ironi yang menyiksa. Ia sering mencoba mendekati Dante saat sang CEO lewat, namun pria itu selalu dikelilingi oleh pengawal dan selalu menatapnya dengan tatapan hampa, seolah-olah Sheila hanyalah bagian dari furnitur kantor yang tidak bernyawa.
Puncaknya terjadi di bulan keenam. Sheila memutuskan untuk melakukan sesuatu yang nekat. Ia mencuri kunci cadangan kantor CEO saat Dante sedang dalam perjalanan bisnis ke Tokyo. Ia ingin masuk, mencari dokumen bukti kekayaan Dante, dan mungkin, memerasnya atau menemukan celah untuk kembali ke hatinya.
Malam itu, kantor kosong. Sheila berhasil masuk ke ruang kerja Dante. Ia mengobrak-abrik laci, namun yang ia temukan bukanlah dokumen bisnis. Ia menemukan sebuah buku harian tua, yang terikat tali kasar.
Sheila membukanya. Halaman-halamannya penuh dengan catatan tentang harga ikan, jadwal kapal, dan… puisi-puisi pendek tentang dirinya. Namun, di halaman terakhir, tertulis sebuah catatan dengan tinta merah yang tajam:
“Kepada Sheila, yang mengajariku bahwa ‘bau’ bukanlah tentang ikan yang kubawa, melainkan tentang karakter seseorang. Terima kasih telah mencampakkanku. Tanpa itu, aku tidak akan pernah belajar bahwa dunia ini tidak peduli dengan perasaanmu, hanya dengan seberapa besar keuntungan yang bisa kamu hasilkan. Kamu tidak meninggalkan penjual ikan, Sheila. Kamu meninggalkan seorang pria yang sedang bersiap membangun kerajaan. Dan sekarang, aku telah mendapatkan apa yang kubutuhkan: kamu di bawah kakiku, mencium bau yang dulu paling kamu benci, sebagai pengingat abadi bahwa kesombongan akan selalu berakhir di tempat sampah.”
Sheila terdiam. Ia baru saja akan menutup buku itu ketika tiba-tiba lampu menyala terang. Dante berdiri di ambang pintu, didampingi oleh dua orang polisi.
“Nona Sheila,” suara Dante menggema di ruangan itu. “Saya tidak hanya mempekerjakan Anda untuk membersihkan lantai. Saya mempekerjakan Anda untuk mengawasi Anda. CCTV di ruangan ini merekam setiap upaya Anda untuk merayu saya, dan malam ini, kamera menangkap Anda melakukan tindak pidana: memasuki ruang pribadi CEO tanpa izin dan percobaan pencurian dokumen rahasia.”
Sheila gemetar. “Dante, tidak! Ini tidak seperti yang terlihat!”
“Bagi hukum, ini adalah pencurian,” ujar Dante tenang. “Dan bagi saya, ini adalah akhir dari eksperimen saya.”
Polisi membawa Sheila pergi. Saat ia diseret keluar, Sheila berteriak, “Aku mencintaimu, Dante! Kita masih punya waktu!”
Dante hanya menatapnya dari balik kaca jendela, menyesap kopinya dengan tenang. Saat Sheila menghilang di balik pintu lift, Dante meletakkan cangkirnya. Ia menoleh ke arah asistennya.
“Siapkan kontrak kerja sama dengan pemasok baru dari Norwegia,” perintah Dante.
“Baik, Pak. Bagaimana dengan Nona Sheila?”
Dante tersenyum sinis, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. “Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya menjadi ‘ikan’ di dalam jaring orang lain. Dia ingin pria yang sukses? Dia mendapatkan pria itu, tapi dia lupa bahwa pria sukses tidak lagi menginginkan wanita yang mencintai kesuksesannya, melainkan wanita yang mampu berdiri di sampingnya saat ia masih berbau amis.”
Dante berbalik kembali ke jendela, menatap teluk yang luas. Di tangannya, ia memegang sebuah kue kecil—kue yang sama jenisnya dengan kue yang dibuang Sheila lima tahun lalu. Ia meremas kue itu hingga hancur di tangannya, membiarkan remah-remahnya jatuh ke lantai marmer yang kini begitu bersih, lalu ia memanggil petugas kebersihan yang baru—bukan Sheila—untuk membersihkannya.
Sheila tidak hanya kehilangan cintanya; ia kehilangan segalanya karena ia tidak pernah menyadari bahwa di balik bau amis itu, Dante sudah memiliki segalanya—termasuk rencana matang untuk menghancurkannya dengan cara yang paling elegan. Dante bukanlah pria yang terobsesi pada dendam, ia hanyalah seorang pengusaha yang sangat efisien dalam membuang sampah yang tidak lagi berharga bagi perusahaannya.
