Kapitan Tiyago tidak langsung menjawab. Ia melangkah dengan tenang, langkah kakinya yang berat di atas tanah berdebu seolah memberikan ritme pada ketegangan yang mencekam. Ia berhenti tepat di depan Marites yang masih meliuk-liuk di tanah, lidahnya menjulur dengan sisa pasta gigi yang mulai mengering.
“Bukan dukun,” suara Kapitan berat dan berwibawa, memecah kebisingan warga yang sedang berdoa dengan panik. “Untuk iblis level 5 yang bisa membaca mantra Wingardium Leviosa, hanya ada satu cara untuk mengusirnya.”
Marites, yang telinganya tajam meski sedang pura-pura kerasukan, sedikit menahan napas. Apa lagi ini? pikirnya cemas.

Kapitan mengeluarkan sesuatu dari balik saku seragamnya. Bukan salib, bukan air suci, melainkan sebuah mikrofon kecil dan speaker portabel yang biasa ia gunakan untuk pengumuman desa.
“Berdasarkan Peraturan Desa Pasal 42 ayat 3,” lanjut Kapitan dengan nada formal, “Setiap entitas supranatural yang merasuki warga desa wajib membayar pajak hiburan dan pajak penghasilan dari jasa ‘kesurupan’ yang dilakukan. Jika tidak, entitas tersebut akan langsung dijebloskan ke dalam sel isolasi listrik tegangan tinggi di kantor desa.”
Para tetangga terdiam. Susan menatap Kapitan dengan bingung. “Kap, dia itu setan! Mana mungkin dia punya uang pajak?”
“Oh, tentu saja dia punya,” sahut Kapitan. “Jika dia tidak membayar dalam hitungan detik, saya akan memerintahkan petugas untuk menyiramnya dengan air garam mendidih dan menyalakan musik dangdut koplo dengan volume maksimal tepat di telinganya. Setan manapun pasti akan lari terbirit-birit.”
Duh, air garam mendidih? Marites mulai gemetar sungguhan. Dia sudah membayangkan kulitnya yang melepuh.
“Satu…” Kapitan mulai menghitung.
Marites masih berakting, namun keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
“Dua…”
Suara musik dangdut dari speaker Kapitan mulai berdengung, siap meledak.
“TIGA! EKSEKUSI!”
Belum sempat musik itu berbunyi, Marites tiba-tiba berdiri tegak secepat kilat. Mata yang tadi mendelik seketika kembali normal. Pasta gigi di mulutnya ia telan—rasanya seperti mint murahan yang menyesakkan dada. Ia tidak lagi meracau bahasa Latin, melainkan berteriak dengan suara cempreng aslinya.
“TUNGGU! JANGAN! AKU SEMBUH! AKU SUDAH SEMBUH!”
Suasana seketika hening. Burung-burung di pohon seolah berhenti berkicau menyaksikan adegan memalukan itu. Aling Susan yang tadi ketakutan kini mematung dengan mulut menganga. Warga desa yang tadinya sibuk berdoa kini menatap Marites dengan tatapan menghina dan geli.
“Oh, lihatlah,” sindir Kapitan sambil melipat tangan. “Keajaiban telah terjadi. Kesurupan level 5 sembuh dalam hitungan detik hanya dengan ancaman pajak dan dangdut.”
Marites merasa wajahnya panas terbakar. Ia ingin menghilang ke dalam tanah saat itu juga. Namun, sebelum ia sempat mencari alasan untuk kabur, Kapitan mendekatinya.
“Marites,” bisik Kapitan, cukup keras untuk didengar orang di sekitar. “Kau pikir aku tidak tahu kau kalah kartu semalam? Dan kau pikir aku tidak tahu kalau kau menyimpan uang hasil curian dari kantin sekolah di bawah lantai dapurmu?”
Mata Marites membelalak. Rahasianya terbongkar! “Ka-Kapitan, aku…”
“Bayar utangmu pada Susan sekarang, atau aku akan melaporkan pencurian uang kantin itu ke kantor polisi kabupaten,” ancam Kapitan.
Dengan tangan gemetar dan kepala tertunduk, Marites merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan sisa uang yang ia sembunyikan untuk modal judi berikutnya, dan menyerahkannya kepada Susan.
“Ini… ini utangku,” bisiknya malu.
Susan menyambar uang itu dengan kasar, wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi senyum kemenangan. “Lain kali, jangan coba-coba membohongi orang dengan akting murahanmu itu!”
Warga desa mulai bubar sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka menjadikan insiden ini sebagai bahan gosip baru yang jauh lebih menarik daripada sekadar utang piutang.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Kapitan Tiyago berbalik badan dan berjalan menjauh. Saat ia sudah cukup jauh dari kerumunan, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel jadul.
“Halo?” suara Kapitan terdengar dingin, jauh dari kesan ramah yang ia tunjukkan tadi. “Dia sudah menyerahkan uangnya. Semua berjalan sesuai rencana. Kita berhasil memancingnya mengeluarkan uang itu tanpa harus repot-repot menggeledah rumahnya.”
Ternyata, Kapitan Tiyago bukanlah pahlawan desa yang lurus. Ia adalah dalang di balik semua kekacauan itu. Ia tahu persis Marites mencuri uang kantin, dan ia sengaja menciptakan skenario “kesurupan” agar Marites panik dan melakukan kesalahan fatal.
“Dan soal uang kantin itu?” suara di seberang telepon bertanya.
Kapitan tersenyum tipis, menatap langit pagi. “Biarkan saja. Besok, aku akan datang ke rumahnya lagi. Aku punya rencana baru untuk menguras sisa uang yang dia sembunyikan di bawah ubin dapur. Hari ini hanyalah pemanasan.”
Kapitan menutup telepon. Ia tidak menyadari bahwa di balik semak-semak dekat kantor desa, seekor kucing hitam sedang mengawasi dengan mata yang aneh—seolah-olah ia mengerti setiap kata yang diucapkan Kapitan.
Mungkin, desa itu memang tidak pernah aman. Bukan karena setan atau arwah jahat, melainkan karena manusia yang jauh lebih pandai berpura-pura menjadi malaikat, sementara di dalam hatinya, mereka menyimpan rahasia yang jauh lebih kelam dari sekadar kesurupan palsu.
Marites duduk di ambang pintunya yang rusak, menatap jalanan yang kini kosong. Ia tidak menangis. Ia justru tersenyum sinis. Ia tahu Kapitan mengincar uangnya, itulah sebabnya ia sengaja membiarkan Kapitan “menemukan” uangnya yang sedikit, sementara uang yang benar-benar besar telah ia pindahkan ke dalam pot bunga di rumah Susan sejak subuh tadi.
Permainan baru saja dimulai. Dan di desa kecil itu, tidak ada yang benar-benar jujur—bahkan para pemimpinnya pun hanyalah aktor dalam drama yang mereka ciptakan sendiri untuk bertahan hidup di dunia yang penuh tipu muslihat.
