Dari luar, rumah itu tampak seperti istana yang hanya bisa dilihat Miguel di televisi.

Miguel tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan menginjakkan kaki di sebuah mansion megah di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Gerbang besi hitam menjulang lebih tinggi daripada tubuhnya. Kamera pengawas mengikuti setiap langkahnya, sementara taman luas yang dipenuhi pepohonan rapi dan air mancur marmer membuat tempat itu terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupannya. Ia memarkir motor tuanya di dekat garasi, lalu kembali memeriksa detail pengiriman di ponselnya.

Dokumen penting. Penerima: Pemilik rumah.

Ia menarik napas panjang.

Sudah lebih dari tiga tahun Miguel bekerja sebagai kurir. Ia pernah mengantar makanan tengah malam, obat-obatan darurat, hingga dokumen bernilai miliaran rupiah. Namun baru kali ini ia diminta masuk ke rumah semewah itu.

“Pasti cuma orang-orang yang hidupnya sempurna yang tinggal di tempat seperti ini,” gumamnya.

Pintu utama terbuka perlahan.

Seorang pria paruh baya mengenakan jas putih menyambutnya.

“Anda kurir?”

“Iya, Pak.”

Pria itu menerima map dokumen lalu berkata, “Silakan tunggu sebentar di ruang tamu. Saya minta tanda tangan Tuan Armand.”

Miguel mengangguk.

Begitu melangkah masuk, langkahnya langsung terhenti.

Di ruang tamu yang luas, tepat di dinding utama, tergantung sebuah lukisan potret perempuan berukuran hampir dua meter. Di bawahnya tersusun bunga lili putih dan lilin-lilin yang masih menyala.

Jantung Miguel seperti berhenti.

Perempuan dalam lukisan itu…

Adalah Angela.

Istrinya.

Bukan sekadar mirip.

Setiap lekuk wajahnya sama persis. Mata lembutnya. Tahi lalat kecil di dekat bibir kirinya. Bahkan senyum tipis yang selalu ia lihat setiap pagi.

Map dokumen terlepas dari tangannya.

Kertas-kertas berserakan di lantai marmer.

“Tidak mungkin…”

Pagi tadi Angela masih membuatkan sarapan di apartemen kecil mereka di Bekasi. Ia masih sempat mengomel karena Miguel lupa membawa jas hujan.

Kalau begitu…

Siapa perempuan di lukisan itu?

“Pak?”

Suara pelayan membuyarkan lamunannya.

Miguel menunjuk lukisan tersebut dengan tangan gemetar.

“Siapa… perempuan itu?”

Pelayan itu menunduk.

“Wanita itu bernama Alena.”

Miguel mengernyit.

“Dia putri tunggal keluarga ini.”

“Masih hidup?”

Pelayan menggeleng perlahan.

“Sudah meninggal tujuh tahun lalu.”

Tubuh Miguel terasa dingin.

“Itu tidak mungkin…”

Pelayan memandangnya heran.

“Kenapa Bapak terlihat pucat?”

Miguel mengeluarkan ponselnya.

Dengan tangan gemetar ia membuka galeri dan menunjukkan foto Angela.

Pelayan itu mematung.

Matanya membelalak.

“Ya Tuhan…”

Ia hampir menjatuhkan gelas yang sedang dibawanya.

“Wajahnya…”

“Sama, kan?”

Pelayan mengangguk pelan.

“Saya bekerja di rumah ini selama lima belas tahun. Saya tidak mungkin salah mengenali Nona Alena.”

Belum sempat Miguel bertanya lagi, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh lima tahun turun perlahan.

Rambutnya memutih, tetapi sorot matanya masih tajam.

“Itu kurirnya?”

“Iya, Tuan.”

Pria tua itu hendak menandatangani dokumen, tetapi pandangannya tiba-tiba tertuju pada ponsel Miguel.

Ia langsung membeku.

Tangannya bergetar hebat.

“Dari mana… kau mendapatkan foto itu?”

“Itu istri saya.”

Pria tua itu langsung merebut ponsel tersebut.

Matanya memerah.

“Mustahil…”

Air mata mulai mengalir di pipinya.

“Alena…”

Miguel kebingungan.

“Pak, itu bukan Alena. Itu istri saya. Namanya Angela.”

Pria tua itu menatap Miguel lama.

“Ajak istrimu kemari.”

“Sekarang?”

“Sekarang juga.”

Miguel hampir menolak.

Namun sesuatu dalam tatapan pria tua itu membuatnya tidak mampu berkata apa-apa.

Satu jam kemudian.

Angela datang menggunakan ojek online.

Begitu memasuki rumah, seluruh pelayan langsung terdiam.

Beberapa bahkan menjatuhkan barang yang sedang mereka bawa.

Pria tua itu berdiri perlahan.

Tubuhnya gemetar.

“Alena…”

Angela kebingungan.

“Maaf, Pak. Saya rasa Bapak salah orang.”

Pria itu berjalan mendekat.

Tangannya menyentuh wajah Angela dengan hati-hati.

Air matanya semakin deras.

“Tahi lalat… bentuk mata… suara…”

Angela mulai merasa tidak nyaman.

Miguel segera menarik istrinya ke belakang.

“Ada apa sebenarnya?”

Pria tua itu mengusap wajahnya.

“Lima belas menit.”

“Hah?”

“Beri saya lima belas menit untuk menjelaskan.”

Mereka duduk di ruang keluarga.

Pria itu memperkenalkan dirinya.

Namanya Armand Wijaya.

Seorang pengusaha properti yang sangat terkenal.

Tujuh tahun lalu, putrinya, Alena, mengalami kecelakaan mobil di jalan tol Jagorawi.

Mobilnya terbakar.

Polisi menyatakan tidak ada yang selamat.

Jenazah yang ditemukan hangus dan diidentifikasi melalui cincin serta hasil pemeriksaan DNA.

Sejak saat itu Armand hidup sendiri.

Miguel bertanya pelan.

“Kalau begitu kenapa wajah istri saya sama persis?”

Armand menggeleng.

“Itulah yang ingin saya ketahui.”

Ia kemudian memanggil pengacara keluarga.

Beberapa menit kemudian sebuah map tua dibawa ke ruang tamu.

Di dalamnya terdapat akta kelahiran Alena.

Angela memperhatikannya sekilas.

Lalu matanya membelalak.

“Nama ibunya…”

Miguel ikut melihat.

Nama ibu kandung Alena adalah Maria.

Angela mendadak berdiri.

“Ibu angkatku juga bernama Maria.”

Ruangan menjadi sunyi.

Angela mulai bercerita.

Sejak kecil ia diasuh pasangan sederhana di Bandung.

Ia selalu diberi tahu bahwa dirinya ditemukan di depan sebuah panti asuhan saat masih bayi.

Tidak pernah ada akta lahir asli.

Tidak pernah ada foto ketika masih bayi.

Hanya sebuah gelang emas kecil yang selalu disimpan ibu angkatnya.

“Gelang itu masih ada?”

Angela mengangguk.

“Saya menyimpannya.”

Armand langsung meminta sopir mengambil mereka ke apartemen.

Setelah gelang itu dibawa kembali ke mansion, wajah Armand berubah pucat.

Ia membuka brankas besar.

Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah kotak beludru.

Di dalamnya terdapat gelang emas yang sama persis.

Kedua gelang itu jika disatukan membentuk gambar kupu-kupu.

Armand terduduk lemas.

“Itu dibuat khusus.”

“Satu untuk Alena.”

“Satu lagi…”

Ia tidak sanggup melanjutkan.

Pengacara keluarga akhirnya membuka rahasia yang selama ini disembunyikan.

Ternyata Alena dilahirkan sebagai bayi kembar.

Namun saat proses persalinan terjadi kekacauan besar.

Rumah sakit mengalami kebakaran akibat korsleting listrik.

Banyak dokumen rusak.

Salah satu bayi dinyatakan hilang.

Selama puluhan tahun keluarga mengira bayi itu meninggal.

Armand mencari ke mana-mana.

Tidak pernah menemukan jejaknya.

Angela mulai menangis.

“Jadi…”

“Saya adik kembar Alena?”

Pengacara mengangguk.

“Itulah dugaan terkuat.”

Tes DNA segera dilakukan.

Dua minggu kemudian hasilnya keluar.

Angela memang anak kandung Armand.

Ia adalah saudara kembar identik Alena.

Semua orang menangis.

Miguel memeluk istrinya erat.

Armand meminta maaf berulang kali.

“Ayah gagal menemukanmu.”

Angela menggeleng.

“Bukan salah Ayah.”

“Aku justru bersyukur dibesarkan oleh orang tua angkat yang sangat mencintaiku.”

Hubungan mereka perlahan membaik.

Namun satu pertanyaan masih belum terjawab.

Kalau Alena benar-benar meninggal…

Mengapa Angela masih sering mengalami mimpi yang sama sejak kecil?

Dalam mimpinya selalu ada seorang perempuan yang memanggil namanya di sebuah danau.

Ia tidak pernah memahami arti mimpi itu.

Suatu sore, Angela membuka kembali kotak peninggalan ibu angkatnya.

Di dasar kotak terdapat sebuah surat yang selama ini tersembunyi.

Tulisan tangan itu milik Maria.

Angela membacanya sambil menangis.

“Maafkan Ibu karena selama ini menyimpan rahasia ini. Hari ketika Ibu menemukanmu bukan di depan panti asuhan. Seorang perempuan muda yang tubuhnya penuh luka menyerahkanmu sambil menangis. Ia berkata, ‘Kalau suatu hari keluarganya menemukan anak ini, katakan bahwa kakaknya menyelamatkannya.’ Setelah itu perempuan itu pergi. Ibu tidak pernah melihatnya lagi.”

Angela membeku.

“Perempuan itu…”

Armand langsung mengambil album lama.

Di halaman terakhir terdapat foto Alena sehari sebelum kecelakaan.

Ia mengenakan pakaian yang sama persis dengan deskripsi dalam surat Maria.

Semua orang saling berpandangan.

Armand berbisik lirih.

“Berarti…”

“Alena tidak meninggal saat kecelakaan.”

“Ia selamat.”

“Dan sebelum menghilang, ia berhasil menemukan adik kembarnya yang selama ini terpisah, lalu menitipkannya kepada keluarga yang bisa melindunginya.”

Miguel mengernyit.

“Lalu jenazah yang ditemukan polisi waktu itu milik siapa?”

Tak seorang pun mampu menjawab.

Kasus lama itu akhirnya dibuka kembali oleh kepolisian.

Penyelidikan menemukan bahwa jenazah yang selama ini diyakini sebagai Alena ternyata milik perempuan lain yang identitasnya tertukar akibat kondisi kebakaran hebat.

Artinya hanya satu.

Selama tujuh tahun, keluarga Wijaya berkabung untuk orang yang bukan putri mereka.

Dan Alena…

Masih hidup di suatu tempat.

Setiap tahun, Angela dan Miguel tetap datang ke mansion itu untuk makan malam bersama Armand.

Di meja makan selalu tersedia satu kursi kosong.

Bukan lagi sebagai lambang kehilangan.

Melainkan sebagai tanda harapan.

Karena kini mereka tahu bahwa di suatu tempat, seorang perempuan yang pernah mengorbankan seluruh hidupnya demi menyelamatkan adik kembarnya mungkin masih berjalan di bawah langit yang sama, menunggu hari ketika keluarganya akhirnya menemukan jalan pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang