Ibu Lourdes terkesiap, napasnya memburu tertahan di tenggorokan saat melihatku berjalan santai melewati kerumunan kerabat yang mulai berbisik-bisik bingung di ruang tamu. Suara musik rock dari radio mobil Marco masih mengalun samar dari luar, menciptakan kontras yang ganjil dengan keheningan mencekam yang tiba-tiba melingkupi rumah itu. Paman dan bibi Marco saling bertukar pandang, sementara beberapa sepupu berdiri dari sofa beludru merah yang dibeli menggunakan uang pesangon pertamaku tiga tahun lalu. Mereka semua mengira ini adalah kejutan Tahun Baru biasa—sebuah tradisi di mana aku, si menantu dermawan, akan membagikan amplop merah berisi uang tunai dan hadiah-hadiah mahal yang diimpor langsung dari Manila.

Namun, ekspresi Marco menghancurkan ilusi itu dalam sekejap. Pria yang selama ini dikenal paling pandai bersilat lidah dan memikat hati siapa saja itu kini berdiri mematung di ambang pintu, lututnya nyaris lemas. Keringat dingin membasahi pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang mengeras karena panik. Ia tahu betul apa arti panggilan teleponku barusan. Ia tahu bahwa permainan sandiwara yang ia bangun di atas fondasi kebohongan, manipulasi, dan pengkhianatan selama bertahun-tahun telah runtuh berkeping-keping tanpa sisa.
Tiga tahun lalu, aku adalah perempuan naif yang percaya bahwa cinta bisa dibeli dengan pengorbanan. Aku menyerahkan seluruh tabungan masa depanku untuk merenovasi rumah keluarga ini, membayar utang judi paman Marco, hingga membiayai kuliah adik iparku yang bahkan tidak pernah mengucap terima kasih. Aku mengira semua itu adalah bentuk baktiku sebagai seorang istri. Namun, balasan yang kudapatkan hanyalah cemoohan di belakang punggungku. Aku tahu dari rekaman suara yang tak sengaja kudengar minggu lalu bahwa Ibu Lourdes dan kerabatnya sering menertawakanku, menyebutku sebagai sapi perah bodoh yang sangat mudah dimanipulasi dengan sedikit senyuman manis dan pelukan palsu dari Marco.
Puncak dari kebusukan itu terjadi setahun belakangan ini, ketika Marco mulai sering pulang terlambat dengan alasan lembur proyek kantor. Awalnya aku percaya begitu saja. Namun, intuisi seorang perempuan tidak pernah bisa dibohongi. Bau parfum wanita asing di kerah kemejanya, riwayat pencarian peta di ponselnya menuju sebuah apartemen mewah di kawasan Bonifacio Global City, hingga transaksi misterius senilai ratusan juta peso membuka mataku lebar-lebar. Camille Santos bukan sekadar rekan kerja baru yang perlu dibimbing. Wanita itu adalah simpanan Marco yang menikmati fasilitas hidup dari keringat dan air mataku. Kuitansi pembelian gelang berlian senilai delapan ratus lima puluh ribu peso yang kutemukan di saku jasnya minggu lalu adalah batas akhir kewarasanku. Aku tidak menangis. Aku tidak berteriak memecah kaca. Aku hanya tersenyum, lalu mulai merancang sebuah rencana pembalasan yang elegan, dingin, dan telak.
Suara ketukan tegas di pintu pagar menghentikan keheningan yang menyesakkan di dalam rumah. Bang Ramon, kakak kandungku, melangkah masuk bersama dua orang pria berbadan tegap berjas rapi yang membawa peralatan perekam digital. Di belakang mereka, Pak Ernesto, mantan kepala barangay yang sangat disegani karena kejujurannya, berjalan dengan tongkat kayu jati tuanya, menatap seisi ruangan dengan pandangan menyelidik. Kehadiran mereka membuat suasana berubah menjadi arena pengadilan terbuka.
“Ada apa ini, Angela? Mengapa kamu membuat keributan di hari pertama tahun yang baru?” suara Ibu Lourdes bergetar, mencoba mempertahankan wibawa tuanya meski sorot matanya menyembunyikan ketakutan yang luar biasa. Ia melangkah maju, berusaha meraih tanganku seperti biasa. “Jangan mempermalukan suamimu di depan keluarga sendiri. Apa pun masalah kalian, bisa dibicarakan baik-baik di dalam kamar.”
Aku menarik tanganku perlahan, menatap wanita paruh baya itu tepat di matanya. “Bicara baik-baik, Bu? Seperti saat Ibu dan Marco merencanakan pengalihan aset rumahku? Atau seperti saat Ibu menikmati fasilitas dari uang yang kudapat dari kerja lembur sampai pagi, sementara anak kesayangan Ibu menghamburkannya untuk perempuan lain?”
Wajah Ibu Lourdes mendadak pucat pasi. Ia membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Kerabat yang tadinya duduk santai kini berdiri, saling berbisik dengan nada cemas. Marco mencoba mendekatiku dengan tangan terkatup, memohon dalam bisikan tercekat, “Angela, kumohon… hentikan ini. Jangan lakukan ini pada keluargaku. Kita bisa bicara berdua saja, batalkan mereka…”
Sebelum Marco sempat menyelesaikan kalimatnya, suara deru mobil SUV hitam berhenti tepat di halaman depan. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria paruh baya berwajah keras dengan pengawalan ketat turun dari kendaraan tersebut. Itu adalah Roberto Santos, seorang pengusaha berpengaruh di ibu kota yang juga ayah kandung dari Camille. Namanya cukup disegani, dan begitu ia melihat keberadaan Pak Ernesto serta aparat desa di halaman, raut wajahnya langsung menegang penuh amarah sekaligus kebingungan.
“Siapa yang meneleponku tadi? Di mana putriku?” suara Roberto menggelegar memecah udara sore yang panas di Pampanga.
Aku menoleh ke arah Marco yang kini sudah terduduk lemas di lantai semen, kehilangan seluruh kekuatannya. Tanpa berkata-kata, aku berjalan menuju bagian belakang mobil SUV kami. Kunci cadangan masih berada di dalam genggamanku. Dengan gerakan tenang, aku menekan tombol pelepas bagasi di kunci pintar tersebut. Pintu bagasi hidrolik itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara mendesis pelan diiringi embusan udara dingin dari dalam ruangan bagasi yang sempit.
Semua pasang mata menahan napas. Di dalam bagasi itu, terbaring sosok seorang perempuan muda dengan mantel panjang berwarna krem dan topi wol yang berantakan. Ikatan tali di pergelangan tangan dan mulutnya yang disumpal kain belumlah dilepas. Ketika lampu sorot bagasi menyala terang, wanita itu mengerang pelan, mencoba meronta dalam ikatan yang kuat.
Roberto Santos terbelalak, matanya hampir keluar dari tempatnya saat mengenali wajah putri kesayangannya yang dikabarkan sedang dinas luar kota ke Singapura selama tiga hari terakhir. “Camille!” serunya murka, bergegas maju bersama para pengawalnya untuk merobek ikatan pada putrinya.
Begitu sumpalan di mulutnya terlepas, Camille langsung terbatuk-batuk hebat sambil menangis histeris. “Ayah… tolong aku, Ayah! Marco… Marco bajingan itu yang mengurungku di sini tadi pagi!” teriaknya histeris di pelukan ayahnya, menunjuk ke arah Marco yang kini meringkuk ketakutan di lantai tanpa bisa membela diri.
Situasi di halaman itu seketika berubah menjadi kekacauan total. Ibu Lourdes menjerit histeris sambil memukuli lantai, sementara para paman dan bibi Marco berhamburan pergi karena tidak ingin ikut terseret dalam skandal hukum yang melibatkan keluarga berpengaruh seperti Roberto Santos. Pak Ernesto mencatat setiap detail kejadian dengan teliti di buku catatannya, sementara Bang Ramon berdiri di sampingku, merangkul pundakku dengan penuh kebanggaan.
Aku menunduk sedikit, menatap Marco yang kini tak berdaya di hadapanku, dikelilingi oleh amarah ayah dari selingkuhannya sendiri dan tatapan jijik dari keluarganya yang selama ini dilindunginya. Aku mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam dari saku mantelku, lalu menjatuhkannya tepat di pangkuan pria yang tiga tahun ini kusebut suami.
“Semua bukti penggelapan uang, rekam medis transfer ilegal, dokumen kepemilikan rumah yang diam-diam kalian balik nama, hingga rekaman CCTV apartemen sudah ada di dalam sini. Salinannya juga sudah kuteruskan ke kantor polisi dan departemen keuangan tempat Marco bekerja,” ucapku dengan suara tenang yang menggema di antara tangisan Camille dan kemarahan Roberto Santos.
Marco mendongak, menatapku dengan mata berlinang air mata penyesalan yang sudah terlambat. Tidak ada lagi pelukan hangat. Tidak ada lagi kata-kata manis. Yang tersisa hanya keheningan mutlak dan konsekuensi dari keserakahan yang mereka bangun sendiri. Aku berbalik meninggalkan halaman rumah itu bersama Bang Ramon dan Pak Ernesto, melangkah mantap menuju mobil lain yang sudah menunggu di luar gerbang. Udara sore di Pampanga terasa begitu segar, jauh lebih ringan dibandingkan beban yang selama bertahun-tahun menghimpit dadaku. Tahun baru ini bukan tentang hadiah yang rusak di dalam bagasi, melainkan tentang lembaran hidup baru yang kumulai dengan harga diri yang seutuhnya kembali ke tanganku.
