AKU DATANG KE RUMAH TANPA MEMBERI KABAR DAN MENDAPATI ANAKKU SEDANG MEMAKAN JAGUNG MENTAH DI DALAM KANDANG AYAM TUA, SEMENTARA SUAMINYA YANG KEJAM TERANG-TERANGAN BERENCANA MEREBUT RUMAH ITU SEBAGAI HADIAH UNTUK SELINGKUHANNYA

Angin sore di Pantai Indah Kapuk mendadak terasa begitu dingin dan menusuk tulang, membawa serta aroma lumpur dan kotoran ayam yang menyengat dari sudut pekarangan belakang rumah mewah itu. Mataku masih terpaku pada sosok mengenaskan di dalam kandang besi berkarat. Di sana, di antara jeruji yang sempit dan lantai semen yang lembap, putriku yang dulu hidup penuh kemewahan kini meringkuk bagaikan tahanan perang. Bulu matanya basah oleh air mata yang bercampur debu, sementara tangannya yang gemetar masih menggenggam sebutir jagung mentah.

Hatiku hancur berkeping-keping. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam rongga dadaku tanpa ampun. Tiga tahun lamanya aku berada di Singapura demi memperluas gurita bisnis keluarga, percaya buta pada kebohongan manis yang dilontarkan menantuku setiap kali kami melakukan panggilan telepon singkat. Marco selalu berkata bahwa Angela menderita depresi pasca-melahirkan dan memilih hidup tenang tanpa gangguan dunia luar. Sialnya, kebodohanku karena terlalu percaya telah menyerahkan belahan jiwaku ke dalam cengkeraman monster berkedok manusia.

“Sudahlah, sayang, jangan dipedulikan perempuan tak berguna itu,” suara tawa renyah nan manja terdengar dari arah teras belakang, memecah kesunyian yang mencekam.

Aku segera menarik tubuhku lebih rapat ke balik batang pohon mangga besar, mengatur napas agar tidak terdengar. Di sana, di bawah naungan payung teras yang elegan, Marco berdiri tegak dengan setelan jas mahal yang tidak kancingnya terbuka separuh, sementara tangannya melingkar mesra di pinggang seorang wanita bergaun merah menyala. Vanessa. Wanita itu menyesap anggur merah dari gelas kristal dengan gaya angkuh, matanya menatap sinis ke arah kandang ayam tempat Angela dikurung.

“Aku hanya memastikan kapan sertifikat rumah ini sepenuhnya beralih atas nama kita, Marco,” ucap Vanessa dengan nada manja yang membuat darahku mendidih. “Bagaimanapun, aku tidak mau tinggal serumah dengan orang gila selamanya. Kalau perempuan itu tidak segera meneken surat kuasa penyerahan aset, lebih baik kamu singkirkan saja dia sekalian.”

Marco terkekeh dingin, meneguk sisa anggurnya sebelum menjawab dengan nada suara yang memancarkan kebencian murni. “Tenang saja, Vanessa. Seluruh aset keluarga Beatriz di Jakarta sudah berada dalam genggamanku. Selama tiga tahun ini, aku perlahan-lahan memutus akses komunikasi Angela dengan dunia luar, membuat surat kuasa palsu, dan meyakinkan notaris bahwa istriku mengalami gangguan jiwa berat. Tinggal selangkah lagi, rumah mewah seluas dua ribu meter persegi ini resmi menjadi milik kita sebagai hadiah pernikahan kedua kita nanti.”

Mendengar pengakuan itu, dunia seolah runtuh seketika. Kemarahan yang membakar dada berubah menjadi dingin, mengalirkan tekad baja ke seluruh pembuluh darahku. Sebagai Beatriz, seorang pebisnis wanita yang telah membangun kekaisaran finansial dari nol di Asia Tenggara, aku tidak akan membiarkan bajingan dan wanita jalang ini menikmati hasil jerih payahku di atas penderitaan anakku.

Aku melangkah mundur tanpa suara, keluar dari persembunyian, lalu berjalan perlahan menuju gerbang depan seolah-olah aku baru saja tiba dari bandara. Dengan menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosi yang bergejolak, aku menekan bel rumah berukuran besar itu tiga kali berturut-turut dengan nada tegas.

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari dalam. Pintu utama terbuka lebar, memperlihatkan wajah Marco yang seketika memucat pasi, berubah pucat seperti mayat hidup saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Senyum licik yang tadi menghiasi bibirnya lenyap digantikan oleh keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya.

“M-Mama?” panggil Marco terbata-bata, suaranya bergetar hebat saat mencoba menutupi kepanikannya. “Kapan… kapan Mama pulang dari Singapura? Kenapa tidak mengabari kami dulu supaya bisa dijemput di bandara?”

Aku menatapnya tajam, menembus manik matanya yang dipenuhi rasa takut yang teramat sangat. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku melangkah masuk melewati tubuhnya begitu saja, mengabaikan sapaan kaku dari Vanessa yang kini berdiri kaku di dekat ruang tamu dengan wajah sepucat kertas.

“Rumah ini tampak sangat luas dan sunyi, Marco,” kataku dengan suara dingin yang sengaja aku tekan serendah mungkin, menciptakan atmosfer horor yang mencekam di dalam rumah megah itu. “Tetapi mengapa udara di sini terasa begitu busuk? Bau kebohongan dan pengkhianatan begitu pekat tercium bahkan dari pintu gerbang.”

Marco menelan ludah dengan susah payah, mencoba memasang senyum paksanya. “Mama bicara apa? Rumah ini selalu bersih dan terawat. Angela… ah, Angela sedang beristirahat di kamarnya di lantai atas karena kesehatannya sedang tidak stabil.”

“Oh, benarkah?” tanyaku penuh penekanan sambil menatap lurus ke arah matanya. “Kalau begitu, mari kita temui dia bersama-sama. Aku sangat merindukan putriku.”

Sebelum Marco sempat mencegah atau mencari-cari alasan lain, aku berbalik arah dan berjalan cepat menuju halaman belakang, tempat kandang ayam tua itu berada. Langkahku diikuti oleh Marco dan Vanessa yang panik setengah mati, wajah mereka menyiratkan keputusasaan yang luar biasa.

Begitu pintu kandang ayam itu kuobrak-abrik dan kubuka lebar, bau menyengat langsung menerpa hidung mereka. Angela mendongak perlahan, matanya yang sayu menatapku dengan tatapan kosong sebelum akhirnya air matanya tumpah kembali.

“Ibu…” bisik Angela lemah, suaranya serak nyaris tak terdengar.

Melihat kondisi putrinya yang mengenaskan, kemarahan yang sedari tadi kutahan akhirnya meledak, namun bukan dalam bentuk tangisan, melainkan senyuman tipis yang mematikan. Aku berbalik menghadap Marco dan Vanessa yang kini berdiri mematung di ambang pintu halaman belakang.

“Marco, menantuku tersayang,” kataku dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa. “Tiga tahun lalu, aku menyerahkan putriku kepadamu dengan harapan kau menjaganya seperti permata. Tapi kau memperlakukannya lebih rendah dari hewan. Dan sekarang, kau berencana merebut rumah ini?”

Marco jatuh berlutut di tanah, mencengkeram ujung sepatuku sambil memohon ampun dengan suara gemetar. “Maafkan aku, Ma! Aku khilaf! Semua ini karena godaan Vanessa! Ampuni aku, Ma!”

Vanessa yang panik langsung mundur ketakutan, berteriak histeris, “Jangan dengarkan dia, Nyonya! Marco yang merencanakan semuanya! Dia yang ingin menguasai harta keluarga Anda!”

Aku tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding. Aku mengangkat tangan kananku, memberi isyarat ke arah gerbang depan. Dalam hitungan detik, enam orang pria berbadan tegap berpakaian jas hitam—tim pengamanan pribadi dan pengacara kepercayaanku—masuk berbondong-bondong ke halaman belakang, membawa serta koper besar berisi dokumen penting dan kamera perekam.

“Kalian tidak perlu saling menyalahkan,” kataku dingin sambil menatap tajam kedua pengkhianat itu. “Karena percakapan kalian di teras tadi, beserta seluruh bukti manipulasi dokumen kepemilikan rumah ini selama tiga tahun terakhir, telah terekam sempurna oleh sistem keamanan pintar yang diam-diam dipasang di seluruh sudut properti ini sejak hari pertama aku membelinya.”

Marco menatapku dengan mata terbelalak, menyadari bahwa dirinya telah masuk ke dalam perangkap yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Ia mengira dirinyalah yang paling pintar, padahal ia hanyalah tikus kecil yang sedang menggali kuburannya sendiri di hadapan sang pemilik sah kekaisaran bisnis.

“Bawa mereka berdua ke kantor kepolisian sekarang juga,” perintahku tegas kepada para pengawal pribadiku. “Dan pastikan mereka tidak bisa keluar dari jeruji besi seumur hidup mereka, persis seperti tempat mereka mengurung putriku.”

Sementara Marco dan Vanessa diseret menjauh sambil berteriak histeris dan memohon ampun, aku segera berlutut di hadapan kandang ayam itu, merengkuh tubuh Angela yang gemetar kedalam pelukannya yang hangat. Kuusap rambutnya yang kotor dengan penuh kelembutan, membisikkan kata-kata penenang di telinganya.

“Semuanya sudah berakhir, sayang,” bisikku lirih sambil mengecup keningnya yang penuh luka. “Ibu sudah pulang, dan tidak ada lagi yang bisa menyakitimu di dunia ini.”

Malam itu, di bawah temaram lampu taman Pantai Indah Kapuk, keadilan akhirnya menemukan jalannya kembali. Rumah mewah itu tidak jatuh ke tangan para pengkhianat, melainkan kembali menjadi saksi bisu atas kekuatan cinta seorang ibu yang tidak akan pernah tinggal diam ketika darah dagingnya diinjak-injak oleh keserakahan manusia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang