DEMI OPERASI IBUNYA, LIMA TAHUN LALU DIA RELA MENYEWAKAN RAHIMNYA. KINI, CEO BARU DATANG MEMBAWA SEORANG ANAK DAN BERKATA, “DIA IBUMU!”

“Kalau begitu… sekarang aku sudah boleh memanggilmu Ibu?”

Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana.

Namun bagi Alya, lima kata tersebut seperti merobek seluruh luka yang selama lima tahun dia jahit sendiri dengan diam-diam.

Bibirnya terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar.

Reno masih berdiri di ambang pintu apartemennya, menatap dengan sepasang mata yang terlalu mirip dengannya. Mata yang selama bertahun-tahun hanya bisa Alya bayangkan dalam mimpi.

Alya perlahan berjongkok di hadapan anak itu.

Tangannya gemetar ketika terangkat, seolah ingin menyentuh wajah Reno, tetapi berhenti beberapa sentimeter sebelum kulit mereka bertemu.

Dia takut.

Takut kalau ini hanya mimpi.

Takut kalau begitu menyentuhnya, seseorang akan kembali datang dan merebut anak itu dari pelukannya.

Reno justru maju setengah langkah.

Pipinya menyentuh telapak tangan Alya.

Saat itulah air mata perempuan itu jatuh.

“Boleh,” bisiknya parau. “Kalau kamu mau… boleh.”

Wajah Reno yang sejak tadi tegang langsung berubah.

“Benarkah?”

Alya mengangguk berkali-kali.

Reno tiba-tiba memeluk lehernya.

“Ibu.”

Satu kata.

Hanya satu kata.

Namun Alya menangis sejadi-jadinya.

Dia memeluk tubuh kecil itu begitu erat sampai takut menyakitinya. Aroma sampo anak-anak dari rambut Reno, hangat tubuhnya, bahkan detak jantung kecil yang menempel di dadanya terasa seperti sesuatu yang seharusnya sudah dia miliki lima tahun lalu.

Di belakang mereka, Adrian tetap berdiri tanpa bergerak.

Wajahnya datar.

Tetapi rahangnya mengeras.

Alya baru menyadari keberadaannya setelah Reno melepaskan pelukan.

Dia berdiri dan menatap Adrian dengan mata merah.

“Kenapa?”

Adrian tidak menjawab.

“Kenapa sekarang?” suara Alya meninggi. “Kenapa setelah lima tahun kamu datang begitu saja, membawa dia ke sini, lalu bilang aku ibunya seolah semuanya sesederhana itu?”

Reno menoleh bingung.

Adrian menatap putranya sebentar.

“Reno, masuk dulu. Duduk di sofa.”

Anehnya, anak itu menurut tanpa protes.

Begitu Reno sudah berada di ruang tamu, Adrian menutup pintu apartemen.

Alya langsung berkata, “Kamu tidak punya hak melakukan ini.”

“Justru aku sedang memperbaiki sesuatu yang lima tahun lalu tidak bisa kulakukan.”

Alya tertawa getir.

“Memperbaiki?”

Tatapannya menusuk.

“Kamu bahkan tidak mengenaliku pagi tadi.”

“Aku mengenalimu.”

Jawaban itu membuat Alya terdiam.

Adrian melanjutkan, “Aku mengenalimu sejak kamu masuk ke ruanganku.”

“Lalu kenapa kamu berpura-pura?”

“Karena ada orang lain di sana.”

Pak Hendra.

Alya mengerutkan kening.

Adrian berjalan mendekati jendela.

“Dan aku belum tahu siapa di perusahaan itu yang bekerja untuk ibuku.”

Nama Herawati membuat tengkuk Alya terasa dingin.

“Dia masih mengendalikan hidupmu?”

Adrian menoleh.

“Tidak lagi.”

Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Alya sadar bahwa lima tahun terakhir tidak semudah yang dia bayangkan.

Adrian menarik napas pelan.

“Setelah aku kembali dari Singapura lima tahun lalu, semuanya sudah selesai. Kamu tidak ada. Bayi itu sudah lahir. Ibuku bilang perempuan yang mengandung anakku mengambil uangnya dan pergi.”

Alya menatapnya tak percaya.

“Apa?”

“Dia bilang kamu tidak pernah ingin melihat anak itu.”

“Itu bohong.”

“Aku tahu sekarang.”

Alya mengepalkan tangan.

“Aku menangis meminta menggendongnya.”

“Aku tahu.”

“Aku bahkan tidak tahu dia laki-laki atau perempuan.”

“Aku tahu.”

“Berhenti mengatakan kamu tahu!”

Suara Alya pecah.

Reno yang duduk di sofa langsung menoleh.

Alya menutup mulutnya, mencoba menahan tangis.

Adrian menurunkan nada suaranya.

“Aku baru tahu semuanya enam bulan lalu.”

Dia mengeluarkan sebuah amplop tipis dari dalam jasnya.

Di dalamnya ada salinan dokumen.

Alya mengenali tanda tangannya sendiri di bagian bawah.

Kontrak lima tahun lalu.

Namun ada halaman lain yang belum pernah dia lihat.

Sebuah surat pernyataan bertuliskan bahwa Alya secara sukarela melepaskan hak terhadap anak tersebut dan meminta agar identitasnya dirahasiakan selamanya.

Tandatangannya terlihat hampir sempurna.

Hampir.

“Aku tidak pernah menandatangani ini,” kata Alya.

“Aku tahu. Tanda tangan itu dipalsukan.”

Napas Alya tercekat.

Adrian melanjutkan, “Pengacara lamaku menemukannya ketika aku mulai memeriksa arsip keluarga.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena ibuku terkena stroke delapan bulan lalu.”

Alya membeku.

“Saat dia tidak lagi bisa mengendalikan perusahaan, aku mengambil alih semuanya. Termasuk dokumen pribadinya.”

Ada kesunyian panjang.

Dari ruang tamu terdengar suara Reno sedang memainkan mobil-mobilan kecil yang dibawanya.

Alya memandang Adrian.

“Kalau kamu sudah tahu enam bulan lalu, kenapa baru datang sekarang?”

Adrian menatapnya lama.

“Karena aku tidak tahu apakah kamu ingin bertemu Reno.”

Alya tertawa pahit.

“Setelah semua yang keluargamu lakukan kepadaku, kamu masih berani bertanya seperti itu?”

“Aku tidak mau memaksa.”

“Tapi malam ini kamu memaksa.”

“Karena Reno menemukannya.”

“Apa?”

Adrian menoleh kepada anaknya.

Beberapa minggu sebelumnya, Reno membuka sebuah laci lama di rumah neneknya saat mencari buku gambar.

Di sana dia menemukan sebuah foto.

Foto seorang perempuan berusia 22 tahun, mengenakan gaun rumah sederhana, berdiri di taman vila Puncak dengan perut hamil besar.

Perempuan itu adalah Alya.

Sejak saat itu Reno terus bertanya.

Siapa perempuan dalam foto?

Kenapa dia hamil?

Kenapa matanya mirip denganku?

Herawati selalu mengatakan bahwa ibu Reno meninggal setelah melahirkannya.

Namun anak itu cukup pintar untuk menyadari sesuatu tidak cocok.

Kemudian dua hari lalu, ketika Adrian membawa Reno ke kantor karena pengasuhnya sakit, Reno melihat Alya keluar dari ruang rapat.

Dia langsung mengenalinya.

“Papa,” katanya saat itu, “itu perempuan di foto Nenek.”

Adrian tidak bisa lagi menunda.

Alya menutup mata.

Selama bertahun-tahun dia membayangkan pertemuan dengan anaknya dalam ribuan kemungkinan.

Tidak pernah sekalipun dia membayangkan Reno sendirilah yang menemukan jalan kepadanya.

“Apakah Reno tahu semuanya?” tanyanya.

“Tidak.”

Alya langsung menatap Adrian tajam.

“Dan dia tidak perlu tahu semuanya sekarang,” lanjut Adrian. “Dia baru lima tahun.”

Alya mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu, mereka sepakat tentang sesuatu.

Reno tiba-tiba datang menghampiri.

“Ibu.”

Alya refleks menoleh.

Anak itu membawa sebuah mobil kecil berwarna merah.

“Besok Ibu kerja?”

“Iya.”

“Lusa?”

“Iya.”

“Sabtu?”

Alya tersenyum kecil.

“Sabtu Ibu tidak kerja.”

Reno menatap Adrian.

“Papa, Sabtu aku boleh ke sini?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Dia menatap Alya.

Kali ini keputusan diberikan kepadanya.

Alya menelan ludah.

“Boleh.”

Reno tersenyum begitu lebar hingga membuat wajahnya berubah sepenuhnya.

Untuk pertama kali, Alya melihat sedikit dirinya sendiri dalam ekspresi anak itu.

Sejak malam tersebut, kehidupan Alya berubah.

Awalnya hanya Sabtu.

Kemudian Minggu.

Lalu makan malam hari Rabu karena Reno mengatakan dia “kebetulan” ingin makan ayam goreng buatan Alya.

Tentu saja itu bukan kebetulan.

Anak itu sengaja mencari alasan untuk datang.

Alya tidak keberatan.

Dia belajar banyak hal kecil yang selama ini hilang.

Reno tidak suka wortel.

Dia tidur sambil memeluk bantal kecil berbentuk dinosaurus.

Dia takut suara petir tetapi malu mengakuinya.

Dia bisa menghabiskan waktu dua jam menyusun balok hanya untuk menghancurkannya sendiri lima detik kemudian.

Dan setiap kali hendak pulang, Reno selalu memeluk Alya sedikit lebih lama.

Hubungan Alya dengan Adrian juga perlahan berubah.

Mereka masih canggung.

Kadang-kadang bahkan dingin.

Namun ada sesuatu yang semakin sulit diabaikan.

Adrian ternyata tidak seperti yang diingat Alya lima tahun lalu.

Dulu pria itu hampir selalu marah.

Sekarang Alya memahami alasannya.

Adrian saat itu sedang sakit parah, dibius berbagai obat, dikendalikan ibunya, dan dipaksa menjadi bagian dari sebuah rencana keluarga yang bahkan tidak dia pahami sepenuhnya.

Suatu malam, setelah Reno tertidur di sofa apartemen Alya, Adrian berkata pelan, “Aku juga korban, tapi itu tidak berarti lukamu lebih kecil.”

Alya memandangnya.

Kalimat itu berbeda dari permintaan maaf yang selama ini dia bayangkan.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Hanya pengakuan.

Dan mungkin karena itulah Alya bisa menerimanya.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Tiga minggu kemudian, Herawati Mahendra muncul.

Perempuan itu datang ke kantor menggunakan kursi roda, ditemani dua pengawal dan seorang pengacara.

Wajahnya lebih kurus akibat stroke, tetapi tatapan matanya tidak berubah.

Saat melihat Alya berdiri di lorong bersama Reno, wajahnya langsung menegang.

“Kamu.”

Alya berhenti.

Reno menggenggam tangannya.

Herawati menatap tangan mereka seolah melihat sesuatu yang menjijikkan.

“Lepaskan cucuku.”

Reno justru memegang Alya lebih erat.

“Nenek, ini Ibu.”

Wajah Herawati pucat.

Adrian muncul beberapa detik kemudian.

“Cukup, Ma.”

“Apa yang kamu lakukan?” Herawati membentak. “Perempuan itu sudah dibayar!”

Alya merasakan tubuh Reno menegang.

Adrian langsung memerintahkan asistennya membawa Reno ke ruang lain.

Namun terlambat.

Anak itu mendengar.

Reno menatap Alya.

“Dibayar apa?”

Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab.

Herawati justru tersenyum dingin.

“Karena dia bukan ibumu dalam arti yang kamu pikirkan. Dia hanya perempuan yang dibayar untuk melahirkanmu.”

“Ma!”

Bentakan Adrian menggema di lorong.

Namun kerusakan sudah terjadi.

Reno berlari.

Alya mengejarnya sampai ke tangga darurat.

Dia menemukan anak itu duduk di anak tangga, menangis tanpa suara.

Alya berjongkok.

“Reno.”

“Jangan bohong.”

“Ibu tidak akan bohong.”

“Nenek bilang Ibu dibayar.”

Alya merasa dadanya seperti ditusuk.

Dia tahu satu hari nanti harus menjelaskan semuanya.

Dia hanya berharap hari itu datang bertahun-tahun kemudian.

“Dengar Ibu.”

Reno menunduk.

“Dulu, Nenek memang memberi Ibu uang.”

Mata anak itu langsung berkaca-kaca.

“Tapi bukan karena Ibu tidak sayang kamu.”

Alya memegang kedua tangannya.

“Nenek Ibu, nenekmu juga, waktu itu sakit keras. Ibu sangat takut kehilangan dia. Ibu melakukan sesuatu yang menurut Ibu bisa menyelamatkan hidupnya.”

“Jadi Ibu jual aku?”

Pertanyaan polos itu menghancurkan Alya.

“Tidak.”

Dia menggeleng kuat.

“Ibu tidak pernah menjualmu.”

Air matanya jatuh.

“Kalau Ibu boleh memilih, Ibu ingin memelukmu sejak hari kamu lahir.”

Reno mulai menangis.

“Kenapa tidak?”

“Karena waktu itu Ibu tidak diberi pilihan.”

Anak itu terdiam cukup lama.

Kemudian dia bertanya, “Sekarang Ibu punya pilihan?”

Alya menatapnya.

“Iya.”

“Kalau begitu pilih aku.”

Alya langsung memeluknya.

“Akan selalu.”

Setelah kejadian itu, Adrian memutus hubungan Herawati dengan Reno untuk sementara.

Namun Herawati belum selesai.

Dia menggugat Adrian.

Bukan untuk mendapatkan hak asuh.

Melainkan untuk membatalkan posisi Adrian sebagai CEO dengan alasan kondisi mentalnya tidak stabil dan keputusan pribadinya membahayakan perusahaan keluarga.

Skandal mulai bocor ke media.

Nama Alya ikut terseret.

Foto-foto lama tentang program ibu pengganti, transaksi rekening, dan kontrak keluarga tersebar.

Alya tiba-tiba menjadi bahan perbincangan.

Ada yang menyebutnya perempuan miskin yang menjual tubuh demi uang.

Ada yang menuduhnya kembali karena Adrian sekarang kaya.

Dia hampir mengundurkan diri.

Namun Adrian menolak surat resign yang diletakkan Alya di mejanya.

“Aku tidak mau kamu tinggal karena kasihan kepadaku,” kata Alya.

“Aku juga tidak menahanmu karena kasihan.”

Adrian merobek surat itu.

“Pekerjaanmu bagus. Itu saja.”

Alya menatap serpihan kertas.

“Dan soal orang-orang yang bicara?”

Adrian menatapnya tenang.

“Biarkan mereka bicara sampai bosan.”

Kemudian muncul kejutan terbesar.

Dalam proses pemeriksaan dokumen untuk persidangan perusahaan, tim hukum menemukan laporan medis lama milik Herawati.

Di dalamnya terdapat bukti bahwa operasi ibu Alya sebenarnya hanya menghabiskan kurang dari sepertiga uang yang disebutkan dalam kontrak.

Sisanya tidak pernah diberikan kepada Alya.

Uang itu dipindahkan ke perusahaan cangkang milik salah satu orang kepercayaan Herawati.

Artinya, bahkan alasan utama Alya menyetujui kesepakatan tersebut telah dimanfaatkan.

Lebih mengejutkan lagi, dokter yang dulu mengatakan operasi harus dilakukan dalam waktu 48 jam ternyata menerima pembayaran dari pihak Mahendra.

Operasi memang diperlukan.

Tetapi tidak pernah sedarurat yang dikatakan.

Herawati menciptakan kepanikan agar Alya tidak memiliki waktu mencari alternatif.

Saat Alya membaca berkas itu, tangannya gemetar.

Selama lima tahun dia menyalahkan dirinya sendiri.

Ternyata sejak awal dia memang diarahkan ke satu pilihan.

Adrian menutup map.

“Kita bisa membawanya ke polisi.”

Alya terdiam.

Herawati adalah nenek Reno.

Perempuan yang kejam terhadap Alya, tetapi juga perempuan yang selama beberapa tahun merawat Reno ketika Adrian sering keluar negeri.

Reno tetap menyayanginya.

Pada akhirnya Alya berkata, “Lakukan yang memang harus dilakukan. Bukan untuk balas dendam.”

Proses hukum berjalan.

Herawati tidak masuk penjara karena kondisi kesehatannya, tetapi sebagian besar kendali bisnisnya dicabut setelah berbagai pemalsuan dokumen terbukti.

Perusahaan juga membersihkan nama Alya secara terbuka.

Beberapa bulan kemudian, hidup perlahan menjadi normal.

Alya tetap bekerja.

Adrian tetap menjadi CEO.

Dan Reno mulai membagi waktunya antara rumah ayahnya dan apartemen Alya.

Sampai suatu sore, Reno pulang dari taman kanak-kanak membawa sebuah tugas.

“Aku harus gambar keluarga.”

Dia mengeluarkan kertas besar.

Di sana ada tiga orang.

Seorang anak kecil di tengah.

Seorang perempuan di kiri.

Seorang pria di kanan.

Di atasnya Reno menulis dengan huruf besar yang tidak rata.

PAPA, IBU, RENO.

Alya tersenyum.

Namun kemudian dia melihat satu sosok kecil lain di sudut gambar.

“Ini siapa?”

Reno terlihat ragu.

“Nenek.”

Alya terdiam.

“Nenek bilang dia jahat,” kata Reno. “Tapi Papa bilang orang jahat tetap bisa menyesal.”

Alya menoleh kepada Adrian yang berdiri di dekat pintu.

Pria itu tidak mengatakan apa-apa.

Reno menatap Alya lagi.

“Ibu masih benci Nenek?”

Pertanyaan itu sulit.

Alya memikirkan semua yang telah hilang.

Lima tahun pertama kehidupan anaknya.

Tangisan pertama.

Langkah pertama.

Kata pertama.

Semua hal itu tidak mungkin dikembalikan.

“Ada hal yang mungkin Ibu tidak akan pernah bisa maafkan sepenuhnya,” jawabnya. “Tapi Ibu juga tidak mau hidup sambil terus membenci.”

Reno tampak memikirkan jawabannya.

Kemudian dia menggambar garis yang menghubungkan keempat sosok di kertas.

“Aku kasih jalan saja.”

“Jalan?”

“Iya. Kalau Nenek berubah, dia bisa pulang.”

Alya tak mampu menjawab.

Adrian mendekat lalu mengusap kepala anaknya.

Malam itu, setelah Reno tertidur, Adrian duduk bersama Alya di balkon.

Lampu-lampu Jakarta terbentang di bawah mereka.

“Alya.”

“Hm?”

“Aku mau mengatakan sesuatu.”

Alya tersenyum tipis.

“Kalau soal Reno menghabiskan saus sambal di kulkasku, aku sudah tahu.”

Adrian tertawa kecil.

Itu salah satu dari sedikit kali Alya melihatnya tertawa tanpa beban.

“Bukan.”

Dia terdiam beberapa detik.

“Lima tahun lalu, sebelum aku berangkat ke Singapura, aku pernah menulis surat untukmu.”

Alya menoleh.

“Apa?”

“Aku tahu kamu membenciku waktu itu.”

“Aku memang membencimu.”

“Aku juga membenci semua orang waktu itu.”

Alya hampir tersenyum.

“Di surat itu aku bilang kalau aku berhasil sembuh, aku ingin kita membicarakan semuanya tanpa campur tangan keluarga.”

“Suratnya di mana?”

Adrian memandang ke dalam apartemen.

“Reno menemukannya minggu lalu.”

Ternyata surat tersebut selama lima tahun tersimpan di bagian belakang sebuah buku lama milik Adrian yang kemudian masuk ke rumah Herawati.

Surat itu tidak pernah sampai kepada Alya.

Adrian mengeluarkannya dari saku.

Kertasnya sudah menguning.

Alya membukanya perlahan.

Tulisan tangan Adrian terlihat jauh lebih berantakan daripada sekarang.

Di bagian paling akhir hanya ada satu kalimat.

Kalau suatu hari anak ini lahir dan aku masih hidup, aku ingin dia tahu bahwa perempuan yang mengandungnya bukan sekadar bagian dari kesepakatan.

Alya menutup mulutnya.

Air matanya jatuh.

Ternyata lima tahun lalu, bahkan ketika mereka sama-sama menjadi korban dari situasi yang tidak mereka pilih, ada sesuatu yang hampir tumbuh di antara mereka.

Sesuatu yang diputus sebelum sempat memiliki nama.

Adrian tidak meminta jawaban malam itu.

Dia hanya berkata, “Aku tidak ingin mengulang kesalahan keluargaku. Jadi apa pun yang terjadi setelah ini, kamu yang memilih.”

Alya menatap Reno yang tidur di sofa.

Kemudian menatap Adrian.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, pilihan benar-benar berada di tangannya.

Alya tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia hanya mengulurkan tangan.

Adrian menggenggamnya.

Beberapa bulan setelah itu, sebuah amplop datang ke apartemen Alya.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada satu lembar surat dengan tulisan tangan yang bergetar.

Surat dari Herawati.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Hanya sebuah kalimat pendek.

Aku menghabiskan hidupku memastikan keluarga Mahendra memiliki pewaris, sampai aku lupa bahwa seorang anak tidak membutuhkan dinasti. Dia membutuhkan keluarga.

Di bagian bawah tertulis satu permintaan.

Bolehkah suatu hari aku melihat Reno lagi?

Alya membaca surat itu dua kali.

Kemudian dia meletakkannya di meja.

Reno yang sedang menggambar langsung bertanya, “Dari siapa?”

Alya tersenyum kecil.

“Dari seseorang yang sedang mencari jalan pulang.”

Reno menatapnya beberapa detik, lalu kembali menggambar.

Kali ini dia menggambar sebuah rumah.

Di depan rumah itu ada empat orang.

Tetapi pintunya tidak tertutup.

Pintunya terbuka.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alya memahami bahwa menjadi ibu bukanlah tentang siapa yang membayar, siapa yang menandatangani kontrak, atau bahkan siapa yang memiliki nama keluarga paling berkuasa.

Menjadi ibu adalah tentang siapa yang tetap memilih mencintai ketika akhirnya diberi kebebasan untuk memilih.

Lima tahun lalu, Alya pernah kehilangan hak untuk menentukan hidupnya sendiri.

Kini dia mendapatkannya kembali.

Dan pilihan pertama yang dia buat dengan kebebasan itu adalah pilihan yang paling sederhana.

Dia memilih anaknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang