Di dalam kepala wanita tua itu, terdapat sesuatu yang kecil dan hitam. Itu adalah tanda

…melainkan suara yang keluar dari gumpalan hitam itu.

Sebuah bisikan parau, frekuensi rendah yang tidak berasal dari pita suara manusia, melainkan dari getaran benda padat yang seolah-olah memiliki nyawa sendiri. Suara itu menyebut sebuah nama dengan sangat jelas: Alejandro.

Zoé dengan sigap menjatuhkan gumpalan hitam itu ke dalam sebuah kantong kain kecil yang ia keluarkan dari sakunya, lalu mengikatnya dengan benang merah yang tampak sudah usang dan teroksidasi oleh waktu. Doña Margarita tersentak, napasnya yang semula berat kini kembali teratur, seolah-olah beban ribuan ton yang menekan paru-parunya baru saja diangkat.

Alejandro membeku. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Ia baru saja menyaksikan sesuatu yang melampaui logika bisnis, saham, dan kekuasaan yang selama ini menjadi dunianya.

“Apa itu?” tanya Alejandro dengan suara serak.

Zoé tidak menjawab segera. Ia menatap gumpalan di kantong kain itu dengan tatapan penuh duka. “Ini disebut ‘La Sombra del Ego’. Bayangan Ego. Ini bukan sekadar kutukan, Tuan. Ini adalah cermin. Sesuatu ini hanya bisa tumbuh di dalam kepala seseorang jika ada orang lain yang begitu membencinya, namun ia tidak bisa menyerang secara langsung karena perlindungan atau kekuatan targetnya terlalu besar.”

Alejandro memandang ibunya yang kini tertidur pulas seperti bayi. “Siapa? Siapa yang melakukan ini?”

Zoé menatap mata Alejandro. Ada ketenangan yang menakutkan di sana. “Tuan, Anda adalah pria paling berpengaruh di negara ini. Anda pikir siapa yang paling diuntungkan jika perusahaan Anda jatuh dalam kekacauan karena kesehatan ibu Anda?”

Pikiran Alejandro berputar. Ia memikirkan rival bisnisnya, para direktur di dewan komisaris, bahkan mungkin sepupunya yang sudah lama memendam rasa iri. Namun, Zoé menggelengkan kepalanya sebelum Alejandro sempat menyebut satu nama pun.

“Bukan orang luar, Tuan. Orang itu haruslah seseorang yang memiliki akses ke barang-barang pribadi Doña Margarita. Seseorang yang sering berada di dekatnya, yang bisa menaruh ‘benih’ ini di bantalnya, di sisirnya, atau di minyak wangi yang ia pakai.”

Alejandro terdiam. Seseorang yang sangat dekat. Ia teringat akan Elena, istrinya. Elena, yang selalu tampak sempurna, yang selalu merawat ibunya dengan penuh kasih sayang, yang bahkan sering membawakan teh setiap sore.

“Tidak mungkin,” bisik Alejandro. “Elena mencintainya.”

“Cinta dan kebencian adalah dua sisi dari koin yang sama,” jawab Zoé pelan. “Elena tidak membenci ibumu karena dia jahat, Tuan. Dia membencinya karena dia merasa terkurung. Dia merasa ibumu adalah alasan mengapa dia tidak bisa memiliki kendali penuh atas hidup Anda, atas harta Anda.”

Zoé berbalik untuk pergi, tetapi Alejandro mencekal lengannya. “Tunggu! Bagaimana aku bisa membuktikannya? Bagaimana aku bisa memastikan?”

Zoé memberikan kantong kain itu ke tangan Alejandro. “Jangan buka ini. Jika Anda membukanya, kutukan ini akan mencari inang baru. Namun, pergilah ke kamar Elena saat ini juga. Jika dia sedang tidur, perhatikan napasnya. Seseorang yang mengirimkan ‘La Sombra’ akan selalu memiliki sisa-sisa kegelapan itu di ujung jari mereka selama beberapa jam setelah ‘ditarik kembali’ oleh pemiliknya.”

Alejandro melepaskan tangan Zoé dan berlari menuju kamar utama. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia menghadapi krisis kebangkrutan perusahaan.

Ia masuk ke kamar tanpa mengetuk. Kamar itu gelap, diterangi hanya oleh cahaya bulan yang menerobos celah tirai. Elena sedang tidur telentang, napasnya teratur. Alejandro mendekat, tangannya gemetar hebat. Ia meraih tangan kanan istrinya yang tergeletak di atas selimut sutra.

Di bawah cahaya remang, Alejandro menahan napas. Ujung jari telunjuk dan tengah Elena bukan berwarna kulit biasa. Kulitnya tampak sedikit menghitam, seperti bekas terbakar arang yang tidak bisa dicuci bersih. Itu adalah tanda yang sama dengan warna gumpalan hitam yang tadi dipegang Zoé.

Alejandro jatuh terduduk di lantai. Kebenaran itu terasa lebih menyakitkan daripada melihat ibunya sekarat. Istri yang ia cintai adalah pembunuh yang sedang mengincar ibunya sendiri.

Namun, di saat itulah sebuah tawa kecil memecah keheningan kamar.

Itu bukan tawa Elena. Itu suara yang berasal dari dalam kantong kain yang dipegang Alejandro.

“Kau bodoh, Alejandro,” suara itu kini terdengar persis seperti suara dirinya sendiri.

Alejandro menoleh ke arah tempat tidur, namun kini ia melihat sesuatu yang aneh. Elena yang sedang tidur itu tampak tidak nyata, seperti bayangan yang berpendar. Ia menoleh ke arah cermin besar di sudut kamar.

Di dalam cermin, ia melihat dirinya sendiri—Alejandro—sedang berdiri memegang kantong kain itu. Namun, bayangan di cermin tidak memegang kantong. Bayangan itu sedang tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan kegelapan yang sama dengan gumpalan di tangannya.

Pintu kamar terbuka. Zoé masuk, namun kali ini ia tidak terlihat seperti pelayan. Ia berdiri tegak, matanya bersinar dengan cahaya yang tidak alami.

“Kau salah paham, Alejandro,” kata Zoé dengan suara yang tenang. “Aku tidak menarik kutukan itu dari ibumu. Aku hanya memindahkannya.”

“Apa maksudmu?” suara Alejandro bergetar.

“Doña Margarita memang sakit karena kedengkian. Tapi kedengkian itu bukan milik Elena. Kedengkian itu milikmu. Ambisimu, rasa hausmu akan kekuasaan yang membuatmu ingin menyingkirkan siapa pun yang menghalangimu, bahkan ibumu sendiri jika ia mulai membatasi langkahmu. Kamu terlalu takut untuk mengakuinya, jadi jiwamu menciptakan ‘Zoé’—bagian dari dirimu yang gelap—untuk melakukan perbuatan kotor itu.”

Alejandro melihat ke tangannya. Kantong kain itu menghilang. Ia melihat ke arah cermin lagi, dan kini, di cermin itu, Elena bangun dan menatapnya dengan ketakutan luar biasa. Elena melihat Alejandro sedang berbicara sendiri sambil memegang udara kosong, wajahnya penuh dengan kegilaan.

“Tidak… tidak mungkin!” teriak Alejandro.

“Kau tidak akan pernah bisa membunuh ibumu, karena dia adalah fondasimu,” bisik Zoé yang kini hanya menjadi bayangan di samping Alejandro. “Tapi kau baru saja menerima hukumanmu. Sekarang, kutukan itu tidak lagi ada di luar. Itu telah masuk kembali ke dalam inangnya.”

Alejandro memegangi kepalanya. Rasa sakit yang dirasakan ibunya tadi, kini berpindah padanya. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk otaknya, seperti batu panas yang membakar tengkoraknya.

Keesokan harinya, para pelayan menemukan Alejandro Romero, pria terkaya di Meksiko, tergeletak di lantai kamarnya dalam keadaan koma total. Para dokter didatangkan kembali. Mereka melakukan CT scan. Mereka melakukan tes darah.

“Hasilnya bersih,” kata kepala dokter dengan wajah bingung. “Tidak ada tumor. Tidak ada penggumpalan darah. Tidak ada penjelasan medis.”

Di sudut ruangan, seorang pelayan baru yang pendiam dan tak kasat mata sedang menyapu lantai. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum tipis saat melihat Alejandro, pria yang selama ini merasa mampu membeli segalanya, kini terjebak di dalam penjaranya sendiri: pikirannya yang gelap.

Dan di atas nakas, sebuah kantong kain kecil yang tadinya ada di sana, kini lenyap, seolah-olah ia tidak pernah ada di dunia ini.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang