TIGA TAHUN SUAMIKU TIDUR DI KAMAR MERTUA SETIAP MALAM — AKU PIKIR DIA HANYA “ANAK MAMA

Tiga tahun adalah waktu yang lama untuk hidup dalam bayang-bayang pertanyaan. Malam itu, Jumat, 5 Juli 2026, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Aku, Clarissa, memejamkan mata, mengatur napas agar sedatar mungkin. Dante, seperti rutinitas membosankan selama seribu malam terakhir, mencium keningku dengan lembut.

“Tidurlah, Sayang. Mama memanggil,” bisiknya. Langkah kakinya menjauh, pintu kamar ditutup pelan, dan bunyi kunci diputar dari luar terdengar—sebuah prosedur yang sebenarnya sudah sangat tidak lazim.

Aku menunggu sepuluh menit. Jantungku berdegup kencang, memukul rusukku seperti narapidana yang ingin meloloskan diri. Dengan hati-hati, aku turun dari ranjang. Aku tidak menggunakan pintu utama. Aku memiliki kunci cadangan untuk pintu penghubung antara kamar kami dan ruang keluarga yang tersambung ke koridor menuju kamar mertuaku.

Rumah itu gelap gulita, hanya disinari cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela. Saat aku mendekati kamar Nyonya Soledad, aku mendengar suara—bukan suara tangisan manja, bukan pula suara pembicaraan seorang anak dan ibu. Itu adalah suara logam beradu. Ting… ting… srak…

Aku mengintip melalui celah kecil di engsel pintu yang sengaja kubiarkan sedikit terbuka. Apa yang kulihat membuat kakiku lemas, napas tertahan di tenggorokan hingga hampir membuatku pingsan.

Rahasia di Balik Tembok

Dante tidak tidur di samping ibunya. Dia berada di sudut ruangan, berlutut di atas karpet tebal, sementara Nyonya Soledad—yang selama ini kulihat pikun dan galak—duduk tegak di kursi roda dengan mata yang tajam, sangat tajam.

Di depan Dante, terdapat sebuah lantai kayu yang sudah dibongkar. Dante sedang memegang sebuah kotak besi tua yang berat. Dia membukanya, dan di dalamnya bukan perhiasan atau uang, melainkan kumpulan dokumen kuno yang terikat pita hitam dan serangkaian kunci-kunci tua dengan simbol aneh.

“Apakah dia sudah mulai curiga?” suara Nyonya Soledad terdengar sangat jernih, tanpa ada sisa-sisa kepikunan yang sering ia pertontonkan di depanku.

“Clarissa mulai berulah, Ma. Dia terus mendesak,” suara Dante terdengar bergetar, penuh ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Dia bukan sekadar istri, Dante. Dia adalah ‘penjaga’ yang salah alamat,” jawab Nyonya Soledad dingin. “Dia tidak tahu bahwa garis keturunan kita bukanlah tentang kekayaan, melainkan tentang memastikan pintu itu tetap terkunci.”

Dante menghela napas panjang. Dia mengeluarkan sebotol cairan merah dari kotak itu, lalu meneteskannya ke atas lantai kayu. Tiba-tiba, lantai itu menyala dengan pendar biru kehijauan yang tidak wajar. Dante mulai merapalkan sesuatu, suara bahasa yang tidak pernah kudengar, terdengar seperti gesekan batu kasar.

Aku menutup mulutku agar tidak menjerit. Dante bukan anak mama yang manja. Dia adalah seorang penjaga ritual.

Kenyataan yang Mengerikan

Dante terus melakukan ritual itu selama hampir satu jam. Aku terjepit di kegelapan, antara ketakutan yang luar biasa dan rasa penasaran yang mematikan. Ternyata, “kepikunan” mertuaku adalah kedok agar tidak ada orang asing yang datang bertamu, agar dia bisa fokus memantau sesuatu yang berada di bawah fondasi rumah kami.

Menurut apa yang kudengar dari percakapan mereka, rumah tua ini dibangun di atas sebuah celah yang konon menghubungkan dunia kita dengan sesuatu yang lain—sesuatu yang sangat lapar akan energi kehidupan. Setiap malam, Dante harus “mengisi ulang” segel pelindung itu. Jika dia tidak melakukannya, segel itu akan melemah, dan sesuatu yang terkunci di bawah sana akan mulai mempengaruhi pikiran penghuni rumah, membuat mereka gila, atau lebih buruk lagi, merasuki mereka.

Itulah alasan Dante selalu terlihat lelah. Itulah alasan dia tidak pernah tidur di sampingku. Dia tidak hanya menahan kantuk; dia sedang bertarung mempertahankan kewarasannya agar tidak ikut tersedot ke dalam kegelapan di bawah sana.

Pengkhianatan yang Tak Terduga

Aku mencoba mundur perlahan. Namun, tumitku tidak sengaja menginjak vas bunga kecil di lorong. Pyarr!

Dunia seakan berhenti berputar. Pintu kamar mertuaku terbuka lebar. Dante berdiri di sana, wajahnya pucat pasi, matanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kesedihan, ada kemarahan, dan ada keputusasaan.

“Clarissa?”

“Kamu… kamu membohongiku selama ini?” suaraku gemetar hebat.

Nyonya Soledad keluar di belakangnya. Tidak ada lagi wanita pikun yang lemah. Dia berdiri tegak, memegang tongkat kayu yang ujungnya memiliki ukiran yang sama dengan simbol di kunci tadi. “Sekarang kamu tahu, Clarissa. Dan karena kamu tahu, kamu tidak bisa pergi.”

Aku mundur hingga punggungku menabrak dinding. “Apa maksudmu?”

Dante melangkah maju, namun kali ini bukan untuk memelukku. Dia menatapku dengan mata yang mulai berubah warna, perlahan menjadi gelap total. “Aku mencintaimu, Clarissa. Itu sebabnya aku tidak mau kamu tahu. Tapi, ritual ini… dia membutuhkan energi yang lebih kuat untuk siklus tiga tahunan ini. Energimu, cintamu, perhatianmu… itu semua telah terkumpul selama tiga tahun ini.”

Aku baru menyadari satu hal yang membuat bulu kudukku berdiri. Selama tiga tahun ini, Dante tidak hanya tidur di sana. Setiap kali dia memelukku, setiap kali dia mencium keningku sebelum pergi, dia sedang “mengambil” sisa-sisa energi vital dariku.

Aku bukan istrinya. Aku adalah baterai cadangannya.

Akhir yang Tak Terduga

Dante memegang tanganku, dan seketika aku merasa tubuhku kehilangan kekuatannya. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa berteriak. Aku melihat Dante mulai menangis.

“Maafkan aku, Sayang. Aku harus menyelamatkan dunia ini, meski harus mengorbankan separuh jiwamu.”

Namun, di tengah keputusasaanku, sesuatu yang tak terduga terjadi. Saat Dante hendak menyelesaikan ritual tersebut, simbol di lantai itu tiba-tiba meledak. Bukan karena kegagalan, tapi karena sesuatu yang lain.

Tiba-tiba, pintu depan rumah terbuka dengan suara dentuman keras. Sejumlah pria berpakaian hitam masuk dengan cepat. Mereka bukan polisi. Mereka mengenakan lambang yang sama persis dengan yang ada di kunci Dante, tapi dengan warna perak yang berkilau.

“Dante Soledad! Kamu telah menyalahgunakan Segel Leluhur untuk keuntungan pribadi!” teriak salah satu pria itu.

Ternyata, Dante dan ibunya bukanlah penjaga yang sah. Mereka adalah pencuri kekuatan. Mereka telah memanipulasi segel tersebut selama tiga tahun untuk memperpanjang usia Nyonya Soledad dan memberikan kekuatan supranatural kepada Dante.

Dante mencoba melawan, namun dia terlalu lemah setelah menguras energinya sendiri. Nyonya Soledad mencoba berlari, namun tubuhnya tiba-tiba membeku, berubah menjadi patung batu tepat di depan mataku.

Aku tergeletak di lantai, lemas, melihat bagaimana pria-pria itu membawa pergi Dante yang meronta-ronta sambil meneriakkan namaku.

Titik Balik

Keesokan harinya, rumah itu sudah bersih. Tidak ada lagi lantai yang dibongkar. Tidak ada lagi kotak besi. Tidak ada lagi mertua yang galak. Hanya ada aku, sendirian di rumah yang terasa asing.

Polisi mengatakan bahwa suamiku dan mertuaku telah lama menjadi buronan kasus penipuan besar dan pelarian. Mereka bilang, mereka membawa lari Dante untuk pengadilan yang adil.

Namun, seminggu kemudian, aku menerima sepucuk surat tanpa pengirim. Di dalamnya terdapat satu kunci tua yang sama, dan sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan Dante:

“Clarissa, mereka yang membawaku bukan penyelamat. Mereka adalah pemilik asli kegelapan itu. Kamu adalah satu-satunya orang yang masih memiliki sisa energi suci dariku. Pergilah dari rumah itu. Buang kuncinya ke laut. Jika kamu melihat seseorang dengan lambang perak di pergelangan tangannya… lari, jangan pernah menoleh lagi.”

Aku menatap cermin. Bayanganku di cermin tampak aneh. Mataku… salah satu mataku kini memiliki warna yang sama dengan pendar biru di lantai waktu itu.

Aku menyadari, Dante tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang telah mengambil sebagian jiwaku, tapi dia juga menyisakan “sesuatu” di dalam diriku. Kini, akulah yang diburu. Dan saat aku melihat ke jendela, di seberang jalan, seorang pria dengan lambang perak di pergelangan tangannya sedang menatap tepat ke arah rumahku, tersenyum sinis.

Permainan baru saja dimulai, dan aku bukan lagi Clarissa yang lemah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang