DI HARI VALENTINE, AKU MEMBAWA 12 MAWAR DAN 2 TIKET KE PARIS UNTUK SUAMIKU. TAPI TERNYATA DIA SEDANG MERAYAKAN PERTUNANGANNYA DENGAN ATASAN BARUNYA DI DEPAN 200 KARYAWAN!

Maya baru saja menyalakan mesin mobil ketika ponselnya mulai bergetar tanpa henti.

Ryan menelepon.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Maya membiarkannya.

Beberapa detik kemudian, pesan-pesan masuk bertubi-tubi.

“Maya, angkat telepon.”

“Kamu salah paham.”

“Jangan lakukan sesuatu yang gegabah.”

“Kita harus bicara sebelum kamu mengambil keputusan.”

Maya membaca pesan terakhir itu sambil tersenyum hambar.

Sepuluh menit sebelumnya, Ryan merayakan pertunangannya dengan perempuan lain di depan hampir dua ratus karyawan. Sekarang laki-laki itu justru meminta istrinya agar tidak mengambil keputusan gegabah.

Ironis sekali.

Ponselnya kembali berbunyi.

Kali ini Siska yang menelepon.

“Protokol sudah berjalan,” katanya tanpa basa-basi. “Akses Ryan terhadap rekening operasional strategis dibatasi. Semua keputusan di atas lima ratus juta rupiah harus menunggu otorisasi pemegang saham pengendali.”

“Bagaimana dengan wewenangnya sebagai Direktur Utama?”

“Aku sedang mengirim surat pemanggilan rapat luar biasa. Dewan Komisaris sudah menerima pemberitahuan.”

Maya menatap kaca spion.

Dari tempatnya, ia masih bisa melihat pintu masuk gedung.

Orang-orang mulai keluar dari lobi. Beberapa karyawan berdiri bergerombol sambil memandangi ponsel masing-masing.

Berita rupanya menyebar cepat.

“Satu hal lagi,” ujar Siska.

Nada suaranya berubah.

“Ada sesuatu yang perlu kamu lihat sebelum rapat.”

“Apa?”

“Transaksi.”

Maya terdiam.

Siska melanjutkan, “Tim audit keluarga menemukan beberapa pembayaran mencurigakan selama delapan belas bulan terakhir. Total sementara hampir dua puluh tujuh miliar rupiah.”

Jari Maya mengencang di atas setir.

“Ke mana?”

“Beberapa perusahaan konsultan. Salah satunya terhubung dengan keluarga Clara.”

Untuk pertama kalinya sejak melihat spanduk pertunangan tadi, kemarahan Maya benar-benar muncul.

Bukan karena perselingkuhan.

Bukan karena cincin berlian.

Melainkan karena Ryan mungkin telah menggunakan perusahaan peninggalan ayahnya untuk membiayai kehidupan bersama perempuan lain.

“Kirim semuanya kepadaku.”

Maya mematikan sambungan.

Belum sempat ia meletakkan ponsel, pintu parkir terbuka.

Ryan berlari keluar.

Jasnya tidak lagi rapi. Dasi yang tadi terpasang sempurna kini miring. Wajah percaya diri yang selama bertahun-tahun menghiasi sampul majalah bisnis telah hilang.

Ia mengetuk kaca mobil Maya.

“Maya!”

Maya menurunkan kaca beberapa sentimeter.

“Apa?”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Pulang.”

“Jangan pura-pura tidak tahu maksudku!”

Ryan menahan suaranya, tetapi kepanikan jelas terdengar.

“Bagian keuangan baru saja menerima instruksi pembatasan akses. Komisaris meneleponku. Kamu mengaktifkan protokol itu?”

“Ya.”

“Maya, kamu gila?”

Maya menatapnya lama.

“Aku gila karena melindungi perusahaan milikku sendiri?”

Ryan langsung diam.

Beberapa karyawan yang baru keluar dari gedung memperlambat langkah.

Ryan sadar mereka sedang diperhatikan.

Ia merendahkan suara.

“Jangan campur masalah rumah tangga dengan perusahaan.”

Maya hampir tertawa.

“Kamu melamar selingkuhanmu di lobi perusahaan pada jam kerja, menggunakan fasilitas perusahaan, di depan dua ratus karyawan, lalu bilang aku yang mencampur urusan rumah tangga dengan perusahaan?”

Wajah Ryan memerah.

“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Jadi cincin di jari Clara sebenarnya flashdisk?”

“Maya!”

“Besok jam sembilan. Ruang rapat utama.”

Ryan menatapnya bingung.

“Untuk apa?”

“Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.”

Wajah Ryan kehilangan warna.

Maya menaikkan kaca mobil.

“Datang tepat waktu. Untuk sekali ini, jangan membuat pemilik perusahaan menunggu.”

Mobilnya meninggalkan gedung.

Malam itu Maya tidak pulang ke rumah yang selama sepuluh tahun ditempatinya bersama Ryan.

Ia pergi ke rumah lama ayahnya di Kebayoran Baru.

Rumah itu sudah lama kosong, tetapi staf keluarga masih merawatnya.

Ketika Maya memasuki ruang kerja almarhum ayahnya, aroma kayu dan buku tua seketika membawa kembali kenangan yang selama bertahun-tahun ia hindari.

Di atas meja masih ada foto dirinya ketika berusia dua puluh empat tahun.

Dalam foto itu, Maya berdiri di antara ayahnya dan Ryan.

Ryan saat itu hanyalah manajer proyek muda.

Ambisius, pintar, dan tampak sangat mencintainya.

Ayah Maya pernah berkata sesuatu seminggu sebelum pernikahan mereka.

“Memberi kepercayaan kepada seseorang itu baik. Tapi jangan pernah menyerahkan seluruh kendali atas hidupmu hanya karena kamu mencintainya.”

Dulu Maya menganggap ayahnya terlalu curiga.

Sekarang ia memahami setiap kata itu.

Laptopnya berbunyi.

Siska telah mengirim berkas audit awal.

Maya membuka satu demi satu dokumen.

Pembayaran konsultan.

Biaya perjalanan.

Kontrak pemasaran.

Pembelian kendaraan.

Semuanya terlihat normal jika diperiksa secara terpisah.

Namun ketika disusun berdasarkan tanggal dan penerima manfaat, sebuah pola mulai terlihat.

Salah satu perusahaan konsultan bernama CS Strategic Advisory menerima pembayaran hampir sebelas miliar rupiah.

Direktur perusahaan itu adalah Leonard Susanto.

Ayah Clara.

Ada pula pembayaran untuk sebuah apartemen mewah di kawasan SCBD yang dicatat sebagai “rumah singgah eksekutif”.

Nama penyewa terdaftar?

Clara Susanto.

Maya menutup laptop perlahan.

Ternyata pengkhianatan Ryan jauh lebih mahal daripada sebuket bunga dan sebuah cincin.

Pukul delapan pagi keesokan harinya, Maya sudah berada di kantor.

Kali ini ia tidak masuk melalui lobi umum.

Mobilnya langsung menuju pintu eksekutif.

Saat Maya berjalan memasuki ruang rapat utama, para komisaris sudah duduk menunggu.

Siska berada di sisi kanan meja.

Di depannya terdapat tumpukan dokumen.

Ryan datang pukul delapan lewat lima puluh lima.

Clara bersamanya.

Maya mengangkat alis.

“Kenapa dia ada di sini?”

Clara duduk tanpa diminta.

“Saya Direktur Operasional. Saya berhak hadir.”

Siska langsung menjawab.

“Ini rapat pemegang saham, bukan rapat direksi. Anda tidak memiliki saham dan tidak menerima undangan.”

Clara tersenyum.

“Saya datang sebagai pendamping Pak Ryan.”

Maya menatap Ryan.

“Bagus. Setidaknya sekarang kalian tidak perlu bersembunyi.”

Ryan menarik kursi.

“Maya, cukup dengan drama ini.”

Maya tidak menjawab.

Tepat pukul sembilan, rapat dimulai.

Siska berdiri.

“Berdasarkan daftar pemegang saham terakhir, Arisandi Family Holdings menguasai delapan puluh tiga persen hak suara PT Arisandi Karya Utama. Pemilik manfaat akhir dan pemegang kendali tunggal adalah Ibu Maya Arisandi.”

Ruangan hening.

Clara menoleh cepat ke arah Ryan.

Ekspresinya berubah.

“Delapan puluh tiga persen?”

Ryan menggertakkan rahang.

“Tidak relevan.”

“Justru sangat relevan,” jawab Maya.

Siska melanjutkan.

“Agenda pertama adalah evaluasi jabatan Direktur Utama berdasarkan dugaan pelanggaran tata kelola dan penyalahgunaan kewenangan.”

Ryan menghantam meja.

“Penyalahgunaan apa?”

Siska mendorong sebuah map ke tengah meja.

“Sebelas miliar rupiah kepada CS Strategic Advisory.”

Clara langsung berdiri.

“Itu kontrak sah!”

“Benar,” kata Siska. “Secara administratif terlihat sah. Masalahnya, perusahaan tersebut dimiliki ayah Anda dan kontraknya disetujui tanpa pengungkapan konflik kepentingan.”

Clara membeku.

Maya membuka dokumen berikutnya.

“Lalu apartemen di SCBD.”

Ryan menatap Maya.

“Apartemen itu fasilitas perusahaan.”

“Untuk siapa?”

Ryan tidak menjawab.

Maya memandang Clara.

“Direktur Operasional mendapat apartemen senilai seratus delapan puluh juta rupiah per bulan, kendaraan perusahaan, perjalanan ke Singapura, dan pembayaran renovasi interior. Menarik sekali.”

Clara memotong.

“Saya membawa banyak kontrak besar untuk perusahaan ini.”

“Kalau begitu hasil kerja Anda seharusnya cukup untuk membenarkan fasilitas itu tanpa perlu menyembunyikannya.”

Ryan berdiri.

“Cukup!”

Semua mata beralih kepadanya.

“Aku yang membesarkan perusahaan ini!”

Suara Ryan menggema di ruang rapat.

“Ketika aku masuk, perusahaan ini tidak sebesar sekarang. Aku bekerja siang malam. Aku membawa klien. Aku membangun tim. Aku membuat nama Arisandi dikenal!”

Maya menatapnya tanpa berkedip.

“Aku tidak pernah menyangkal kerja kerasmu.”

Ryan terdiam.

“Justru karena itu aku memberikanmu kepercayaan. Jabatan. Kebebasan. Bahkan membiarkan publik menganggap semua keberhasilan perusahaan berasal darimu.”

Maya menarik napas.

“Tapi kamu mulai percaya pada kebohongan yang kubiarkan itu.”

Wajah Ryan menegang.

“Kamu lupa bahwa dipercaya mengelola sesuatu tidak sama dengan memilikinya.”

Salah seorang komisaris kemudian mengangkat tangan.

Pemungutan suara dilakukan.

Dengan delapan puluh tiga persen hak suara berada di tangan Maya, hasilnya tidak pernah benar-benar menjadi misteri.

Ryan diberhentikan sementara dari posisi Direktur Utama sampai audit independen selesai.

Seluruh akses strategisnya dicabut.

Clara juga dinonaktifkan sementara sebagai Direktur Operasional selama pemeriksaan konflik kepentingan.

Clara berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser keras.

Ia menatap Ryan dengan wajah penuh ketidakpercayaan.

“Kamu bilang perusahaan ini milikmu.”

Ryan diam.

“Kamu bilang Maya cuma ibu rumah tangga yang hidup dari uangmu!”

Beberapa komisaris menunduk, pura-pura membaca dokumen.

Maya justru merasa sangat tenang.

Ryan berusaha menggenggam tangan Clara.

Namun Clara menepisnya.

“Kamu bohong padaku?”

Ryan berbisik, “Aku tetap yang membangun perusahaan ini.”

“Bukan itu yang kamu bilang!”

Clara mengambil tasnya dan berjalan keluar.

Ryan mengejarnya sampai ke lorong.

Namun sebelum pintu tertutup, suara Clara terdengar jelas.

“Kalau kamu bahkan tidak punya kendali atas perusahaan, untuk apa aku mempertaruhkan karierku?”

Kalimat itu membuat Ryan berhenti.

Maya melihat semuanya dari balik pintu kaca ruang rapat.

Untuk pertama kalinya, Ryan merasakan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dinilai hanya berdasarkan apa yang bisa diberikan.

Persis seperti cara ia memperlakukan Maya.

Tiga minggu kemudian, hasil audit independen keluar.

Tidak semua transaksi terbukti ilegal, tetapi ditemukan cukup banyak pelanggaran tata kelola, konflik kepentingan, dan penggunaan fasilitas perusahaan tanpa prosedur yang semestinya.

Ryan mengundurkan diri sebelum Dewan Komisaris menyelesaikan proses pemberhentiannya.

Clara juga menyerahkan surat pengunduran diri.

Hubungan mereka berakhir bahkan sebelum cincin pertunangan itu sempat berusia satu bulan.

Namun kejutan terbesar justru datang ketika proses perceraian Maya dan Ryan dimulai.

Di kantor Siska, Ryan duduk di seberang Maya.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding sebulan sebelumnya.

“Aku tidak akan meminta perusahaan,” katanya.

Maya diam.

“Aku juga tidak akan mempermasalahkan rumah.”

“Lalu?”

Ryan menunduk.

“Aku cuma ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Apakah selama sepuluh tahun ini kamu pernah benar-benar mencintaiku?”

Pertanyaan itu membuat Maya terdiam cukup lama.

“Aku mencintaimu sampai aku rela mengecilkan diriku sendiri supaya kamu bisa merasa besar.”

Ryan mengangkat wajah.

Mata laki-laki itu memerah.

“Kalau begitu kenapa kamu tidak pernah bilang perusahaan itu masih sepenuhnya dalam kendalimu?”

Maya tersenyum sedih.

“Karena aku ingin melihat apa yang akan kamu lakukan ketika merasa tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanmu.”

Ryan membeku.

Maya mengeluarkan sebuah amplop lama dari tasnya.

Surat itu ditulis ayahnya sebelas tahun lalu.

Sebelum meninggal, ayah Maya sebenarnya sudah mencurigai ambisi Ryan.

Ia sengaja menyusun struktur perusahaan agar Maya tetap menjadi pemegang kendali mutlak, tetapi membiarkan Ryan memperoleh ruang sebesar mungkin untuk memimpin.

Di bagian terakhir surat itu tertulis sebuah kalimat yang selalu Maya ingat.

Kekuasaan tidak mengubah seseorang. Kekuasaan hanya menunjukkan siapa dirinya ketika ia merasa tidak perlu lagi berpura-pura.

Maya memasukkan kembali surat itu ke dalam tas.

Ryan menundukkan kepala.

Ia akhirnya memahami bahwa dirinya tidak kehilangan perusahaan karena Maya membalas dendam.

Ia kehilangan semuanya karena ketika diberi kepercayaan tanpa batas, ia memilih mengkhianatinya.

Beberapa bulan kemudian, pada hari ulang tahun perusahaan yang ke-25, Maya berdiri di atas panggung di hadapan seluruh karyawan.

Untuk pertama kalinya, namanya diperkenalkan secara terbuka sebagai pemegang saham pengendali sekaligus Ketua Dewan Strategis Arisandi Karya Utama.

Di barisan depan, ada beberapa wajah yang juga hadir pada pesta pertunangan Ryan dan Clara.

Maya tidak membicarakan skandal.

Ia tidak menyebut nama mantan suaminya.

Ia hanya mengatakan satu kalimat sebelum menutup pidatonya.

“Perusahaan yang besar bukan dibangun oleh satu orang yang ingin terlihat paling hebat, tetapi oleh banyak orang yang tetap memilih melakukan hal yang benar ketika tidak ada yang melihat.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Setelah acara selesai, seorang staf resepsionis menghampirinya.

Staf yang sama yang pertama kali melihat Maya membawa mawar pada hari Valentine.

“Ibu Maya.”

Perempuan itu menyerahkan sebuah kotak kecil.

“Ada kiriman untuk Ibu.”

Maya membukanya.

Di dalamnya terdapat dua belas mawar putih dan sebuah kartu tanpa nama.

Tulisan tangannya sangat ia kenal.

Maaf karena aku baru mengerti nilaimu setelah kehilangan hak untuk berdiri di sampingmu.

Maya membaca kartu itu sekali.

Lalu menyerahkannya kepada staf tersebut.

“Bunganya taruh di ruang istirahat. Biar semua orang menikmatinya.”

“Kartunya bagaimana, Bu?”

Maya memandang kertas kecil itu beberapa detik.

“Buang saja.”

Ia kemudian berjalan menuju lift.

Pintu hampir tertutup ketika ponselnya berbunyi.

Siska mengirimkan sebuah dokumen.

Maya membukanya dan mendadak tersenyum.

Dua tiket kelas bisnis ke Paris.

Nama penumpangnya hanya satu.

Maya Arisandi.

Ternyata setelah membatalkan perjalanan Valentine beberapa bulan lalu, Maya diam-diam memesan kembali tiket itu.

Bukan untuk pergi bersama Ryan.

Bukan untuk membuktikan sesuatu kepada Clara.

Dan bukan untuk melarikan diri dari kegagalan pernikahannya.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Maya akan pergi ke tempat yang ia inginkan tanpa harus bertanya apakah jadwal suaminya memungkinkan.

Di dalam lift, ia melihat pantulan dirinya sendiri pada dinding logam.

Dulu ia membeli dua tiket karena mengira kebahagiaan harus selalu dibagi dengan seseorang.

Sekarang ia akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Terkadang tiket kedua memang harus dibatalkan.

Bukan karena perjalanan itu gagal.

Melainkan karena ada perjalanan tertentu yang baru benar-benar dimulai ketika kita berhenti membawa orang yang salah bersama kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang