PULANG DARI RUMAH SAKIT MENGGENDONG BAYIKU, AKU MENEMUKAN MANTAN SUAMIKU MENGHITUNG UANGKU SEMENTARA PRIA LAIN MENJAGA BAYIKU. DIA TERTAWA DAN BERKATA: “KAU MAU MEMBESARKAN ANAK ORANG LAIN?”

Maya tidak langsung menjawab.

Kalimat Aris terus berputar di kepalanya.

“Karena saya berutang nyawa pada seorang pria dari keluarga Anda.”

Angin Lembang berembus di antara rumpun hydrangea. Maya menatap pria asing itu dengan curiga.

“Siapa?”

Aris menarik napas panjang.

“Bima Larasati.”

Jantung Maya seperti berhenti sesaat.

Bima adalah ayahnya.

Pria yang meninggal ketika Maya baru berusia sembilan tahun.

Sepanjang hidupnya, Ibu Ratna hanya mengatakan bahwa ayah Maya meninggal dalam kecelakaan saat bekerja di Kalimantan. Tidak pernah ada cerita lain.

“Anda kenal ayah saya?”

Aris mengangguk.

“Dia menyelamatkan hidup saya dua puluh enam tahun lalu.”

Aris membuka salah satu koper. Maya spontan mengangkat cangkulnya, tetapi yang dikeluarkan pria itu hanyalah sebuah foto lama.

Dua lelaki muda berdiri di depan sebuah truk berlumpur. Salah satunya jelas Bima Larasati.

Maya mengenali senyum ayahnya.

Di sebelah Bima berdiri seorang pemuda kurus yang ternyata adalah Aris.

“Terjadi longsor di lokasi proyek,” kata Aris. “Ayah Anda menarik saya keluar. Beberapa menit kemudian tanah longsor kedua datang.”

Suara Aris melemah.

“Dia tidak sempat menyelamatkan dirinya sendiri.”

Maya menggigit bibir.

Selama bertahun-tahun dia membayangkan kematian ayahnya sebagai kecelakaan tanpa wajah. Kini tiba-tiba ada seseorang berdiri di hadapannya membawa detik-detik terakhir lelaki itu.

“Kenapa baru datang sekarang?”

“Saya mencarinya bertahun-tahun. Saya baru menemukan alamat ini setelah bertemu bekas mandor proyek.”

Maya menatap kedua koper itu.

“Apa isinya?”

“Barang-barang saya.”

“Jadi Anda berharap tinggal di rumah saya?”

“Tidak gratis.”

Maya hampir tertawa.

“Saya tidak punya pekerjaan untuk Anda.”

Aris memandang kebun.

“Saya bisa bekerja.”

Maya ingin menolak. Namun pagar baru saja diperbaiki oleh lelaki itu dalam lima menit, sementara pompa air rusak selama seminggu, atap gudang bocor, dan tubuhnya semakin berat setiap hari.

Akhirnya Aris diizinkan tinggal di gudang kecil di belakang rumah.

Kesepakatannya sederhana. Aris membantu kebun, Maya menyediakan tempat tidur dan makanan seadanya.

Hari-hari berikutnya terasa aneh.

Aris tidak banyak bicara.

Dia bangun sebelum subuh, memperbaiki pompa air, membersihkan saluran irigasi, mengganti genteng gudang, lalu membantu Maya membawa bunga ke pengepul.

Suatu pagi, Aris melihat pengepul memberikan Rp120.000 untuk enam ikat hydrangea.

“Cuma segitu?”

“Memangnya kenapa?”

“Di Bandung, satu rangkaian bunga seperti ini bisa dijual beberapa kali lipat.”

Maya mendengus.

“Kalau gampang, semua petani sudah kaya.”

Aris tidak membantah.

Malam itu dia memotret bunga menggunakan ponsel tua miliknya.

Tiga hari kemudian sebuah mobil datang dari Bandung.

Seorang perempuan pemilik usaha dekorasi pernikahan turun dan memesan bunga senilai Rp3.800.000.

Maya menatap Aris seperti melihat pesulap.

“Anda apakan bunga saya?”

“Saya menjualnya kepada orang yang membutuhkan bunga, bukan kepada orang yang membutuhkan petani putus asa.”

Untuk pertama kalinya sejak Hendra pergi, Maya tertawa.

Perlahan kebun itu hidup kembali.

Aris membuat akun media sosial sederhana untuk kebun bernama Kebun Ratna. Dia menghubungi toko bunga, fotografer pernikahan, hotel, dan kafe.

Pesanan bertambah.

Rp700.000.

Rp1.200.000.

Rp4.500.000.

Maya mulai membayar tunggakan listrik.

Kemudian mencicil utang.

Namun Aris tidak pernah menyentuh satu rupiah pun hasil penjualan.

Ketika Maya menawarkan upah, dia selalu menolak.

“Anggap saja saya membayar utang lama.”

“Utang Anda bukan kepada saya.”

Aris tersenyum tipis.

“Mungkin memang bukan.”

Dua bulan berlalu.

Suatu malam, ketika hujan menghantam atap rumah, Maya terbangun karena rasa sakit menusuk perutnya.

Air ketubannya pecah.

“Aris!”

Pria itu muncul dalam hitungan detik.

Maya dibawa ke rumah sakit di Bandung menggunakan mobil pikap tua milik tetangga.

Persalinannya berlangsung hampir sembilan jam.

Menjelang pagi, tangisan bayi memenuhi ruangan.

Seorang bayi laki-laki.

Maya menangis ketika tubuh kecil itu diletakkan di dadanya.

Dia menamainya Bima.

Nama ayahnya.

Selama tiga hari Maya dirawat.

Aris datang setiap pagi membawa makanan, pakaian bersih, dan bunga hydrangea dari kebun.

Pada hari keempat, dokter mengizinkan Maya pulang.

Tetangganya mengantar Maya dengan mobil. Bayi Bima tertidur di gendongannya.

Ketika kendaraan memasuki halaman, Maya melihat sebuah mobil hitam terparkir di depan rumah.

Jantungnya langsung berdegup keras.

Dia mengenali mobil itu.

Hendra.

Pintu rumah terbuka.

Maya masuk perlahan.

Suara lembaran uang terdengar dari ruang tengah.

Hendra duduk di meja makan.

Di depannya terdapat beberapa amplop berisi uang hasil pembayaran pelanggan Kebun Ratna.

Tangannya sedang menghitung lembaran seratus ribuan.

Aris berdiri beberapa meter darinya.

Wajahnya dingin.

“Hendra?”

Mantan suaminya menoleh.

Tidak ada rasa bersalah.

Tidak ada kerinduan.

Hendra justru tersenyum.

“Nah, akhirnya pulang juga.”

Maya memeluk bayinya lebih erat.

“Taruh uang itu.”

Hendra tertawa kecil.

“Uang siapa?”

“Uang kebun.”

“Kebun ini dibangun saat kita masih menikah. Artinya saya punya hak.”

“Kau meninggalkan saya.”

“Saya cuma pergi sebentar.”

“Tiga bulan.”

Hendra berdiri.

Barulah matanya jatuh kepada bayi dalam pelukan Maya.

Wajahnya berubah.

“Jadi ini anaknya?”

Maya tidak menjawab.

Hendra melirik Aris.

Kemudian kembali menatap bayi itu.

Senyumnya berubah menjadi ejekan.

“Cepat sekali.”

Maya mengernyit.

“Apa maksudmu?”

Hendra menunjuk Aris dengan dagunya.

“Kau tinggal dengan laki-laki lain, lalu sekarang pulang membawa bayi.”

Aris maju satu langkah.

“Jaga mulut Anda.”

Hendra tertawa semakin keras.

“Kenapa? Tersinggung?”

Dia mendekati Maya.

“Jangan-jangan kau sendiri tidak tahu siapa bapaknya.”

Tamparan Maya mendarat keras di wajahnya.

Ruangan langsung sunyi.

Hendra memegang pipinya.

“Keluar.”

“Maya…”

“Keluar dari rumah ibu saya.”

Namun Hendra tidak bergerak.

Sebaliknya dia mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

“Rumah ini sebentar lagi bukan rumahmu.”

Maya menatap map itu.

Surat dari bank.

Hendra tersenyum puas.

“Saya sudah bicara dengan pihak yang membeli piutang rumah ini.”

Darah Maya terasa turun dari wajahnya.

Utang yang sebelumnya sekitar Rp15 juta ternyata telah membengkak akibat bunga, tunggakan, dan pinjaman lain yang diam-diam dibuat Hendra menggunakan dokumen usaha mereka.

Totalnya Rp186.000.000.

“Besok jatuh tempo,” kata Hendra. “Kalau tidak dibayar, rumah dan kebun masuk proses penyitaan.”

Maya hampir kehilangan keseimbangan.

“Kau yang membuat utang ini.”

“Secara hukum, beberapa dokumen memakai nama usaha kita.”

Hendra menunjuk bayi Bima.

“Kalau kau mau membesarkan anak orang lain bersama laki-laki itu, silakan. Tapi jangan pakai aset yang setengahnya seharusnya milik saya.”

Aris tiba-tiba bertanya, “Siapa yang membeli piutangnya?”

Hendra menyebut nama sebuah perusahaan.

Aris diam.

Lalu mengambil ponselnya.

Dia menelepon seseorang.

Percakapannya hanya berlangsung kurang dari satu menit.

“Batalkan proses eksekusinya. Lunasi pokoknya. Audit semua dokumen pinjaman tambahan dan kirim yang memiliki tanda tangan palsu ke bagian hukum.”

Hendra tertawa.

“Siapa yang kau telepon? Tuhan?”

Aris memasukkan ponselnya kembali ke saku.

“Bukan.”

Lima menit kemudian ponsel Hendra berdering.

Wajahnya berubah ketika membaca layar.

Dia mengangkat telepon.

“Apa?”

Beberapa detik kemudian ekspresinya membeku.

“Tidak mungkin.”

Telepon terputus.

Hendra menatap Aris.

“Siapa sebenarnya kau?”

Aris tidak menjawab.

Sebuah mobil SUV berhenti di halaman.

Dua orang turun membawa dokumen.

Salah satunya berjalan masuk dan mengangguk hormat kepada Aris.

“Pak Aris, sesuai instruksi, kewajiban pokok atas properti Ibu Maya telah diselesaikan. Tim legal juga menemukan tiga dokumen dengan indikasi pemalsuan tanda tangan.”

Hendra mundur.

“Pak Aris?”

Maya menatap pria yang selama berbulan-bulan tidur di gudang belakang rumahnya.

Petugas itu melanjutkan.

“Sebagai Direktur Utama Baskoro Agro Nusantara, Bapak perlu menandatangani konfirmasi pengalihan.”

Maya merasa seolah tidak memahami bahasa yang baru saja didengarnya.

Baskoro Agro Nusantara adalah salah satu perusahaan distribusi hortikultura terbesar yang pernah dia dengar.

Aris mengambil dokumen.

“Kenapa Anda tidak pernah bilang?”

Aris menatap Maya.

“Karena saya datang sebagai Aris. Bukan sebagai direktur.”

Hendra pucat.

Dia mencoba pergi.

Namun salah seorang petugas menghentikannya.

“Ada beberapa pertanyaan mengenai dokumen pinjaman atas nama Ibu Maya.”

Hendra berbalik kepada Maya.

“Maya, kita bisa bicara baik-baik.”

Maya menatap lelaki yang pernah dicintainya.

Aneh.

Tidak ada lagi marah.

Yang tersisa hanya rasa lega.

“Dulu kau meninggalkan saya dengan Rp45.000 dan anakmu di dalam kandungan.”

Hendra terdiam.

“Sekarang selesaikan urusanmu sendiri.”

Beberapa minggu kemudian penyelidikan membuktikan Hendra memalsukan tanda tangan Maya untuk dua pinjaman tambahan. Dia harus mempertanggungjawabkannya melalui proses hukum.

Maya kembali mengelola kebun.

Namun sebuah pertanyaan terus mengganggunya.

Suatu sore dia menemukan Aris duduk di depan gudang, memandangi foto lama bersama Bima Larasati.

“Kenapa sebanyak ini?”

Aris menoleh.

“Apa?”

“Memperbaiki kebun. Mencari pelanggan. Melunasi rumah. Anda sudah membayar utang kepada ayah saya berkali-kali.”

Aris lama tidak menjawab.

Kemudian dia masuk ke gudang dan membawa koper kulit yang selama ini tidak pernah dibuka di depan Maya.

Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen tua.

Aris mengambil sebuah amplop menguning.

Tulisan di bagian depan membuat Maya mengenali tulisan tangan ibunya.

Untuk Aris Baskoro.

Tangan Maya gemetar.

Aris menyerahkan surat itu.

Maya membacanya.

Aris, jika suatu hari kau berhasil menemukan surat ini, jangan pernah merasa berutang kepada Bima. Dia menyelamatkanmu karena dia memang seperti itu. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah kukatakan kepada Maya. Bima tidak meninggal ketika menyelamatkanmu.

Maya berhenti membaca.

Napasnya tercekat.

Dia menatap Aris.

“Apa maksudnya?”

Aris menunduk.

“Longsor itu tidak langsung membunuh ayah Anda.”

Maya kembali membaca.

Bima selamat dari longsor pertama. Dia terluka parah, tetapi masih hidup. Ketika tim penyelamat datang, dia meminta mereka membawa Aris lebih dulu karena kondisinya lebih kritis. Bima meninggal dua jam kemudian dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Air mata Maya jatuh ke kertas.

Di bagian terakhir, tulisan Ibu Ratna semakin bergetar.

Sebelum meninggal, Bima hanya meminta satu hal. Jika anak yang kukandung lahir perempuan, dia ingin menamainya Maya. Dia berkata, “Semoga dia tumbuh menjadi perempuan yang tidak takut kehilangan apa pun selama masih punya keberanian untuk memulai lagi.”

Maya menutup mulutnya.

Selama tiga puluh tahun dia tidak pernah tahu bahwa namanya adalah pesan terakhir ayahnya.

Aris memandang kebun.

“Saya hidup karena ayah Anda memilih saya lebih dulu.”

“Jadi Anda mencari saya karena rasa bersalah?”

“Awalnya.”

“Lalu?”

Aris tersenyum.

“Lalu saya melihat seorang perempuan hamil tujuh bulan mencangkul tanah sendirian ketika seluruh hidupnya hampir runtuh.”

Maya ikut tersenyum di antara air matanya.

Dari dalam rumah terdengar tangisan Bima kecil.

Maya berdiri.

Namun Aris lebih dulu berjalan masuk.

Beberapa saat kemudian dia keluar sambil menggendong bayi itu.

Bima kecil langsung tenang di dadanya.

Maya tertawa.

“Anda ternyata lebih pintar menjaga bayi daripada menjelaskan rahasia.”

Aris memandang bayi itu.

“Mungkin karena bayi tidak banyak bertanya.”

Maya hendak menjawab ketika sebuah amplop kecil jatuh dari bagian bawah koper.

Dia mengambilnya.

Di atasnya tertulis namanya.

Maya Larasati.

Tulisan itu bukan milik ibunya.

Itu tulisan ayahnya.

Aris membeku.

“Anda belum pernah membuka itu?”

Aris menggeleng.

“Surat itu memang untuk Anda.”

Maya membuka amplop dengan hati-hati.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas kecil.

Jika suatu hari Aris menemukan keluargaku, jangan biarkan dia membayar nyawanya dengan uang. Suruh dia duduk di meja makan kami. Ratna selalu memasak terlalu banyak.

Maya tertawa sekaligus menangis.

Aris memalingkan wajah, tetapi matanya sudah merah.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Aris tidak makan sendirian di gudang.

Dia duduk di meja makan bersama Maya.

Bima kecil tidur di keranjang di samping mereka.

Di luar jendela, hydrangea biru bergoyang diterpa angin pegunungan.

Setahun kemudian, Kebun Ratna tidak lagi menjual bunga kepada pengepul.

Maya mengembangkan kebun itu menjadi usaha hortikultura yang memasok bunga ke hotel, pernikahan, dan toko bunga di Bandung serta Jakarta.

Dia membayar kembali seluruh uang yang pernah dikeluarkan Aris untuk menyelamatkan rumahnya.

Aris sempat menolak.

Maya memaksanya.

“Ayah saya sudah bilang Anda tidak boleh membayar nyawa dengan uang.”

Aris akhirnya menerima pembayaran itu.

Tetapi dia tetap datang setiap akhir pekan.

Kadang untuk memeriksa kebun.

Kadang memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tidak rusak.

Lebih sering untuk menggendong Bima.

Pada ulang tahun pertama anaknya, Maya berdiri di tempat yang sama ketika dulu Aris pertama kali muncul membawa dua koper.

Pagar kayu yang pernah rusak itu masih berdiri.

Maya sengaja tidak menggantinya.

Aris berdiri di sampingnya sambil menggendong Bima.

“Kenapa pagarnya tidak diganti? Sekarang Anda mampu membeli pagar yang jauh lebih bagus.”

Maya menyentuh engsel yang pernah diperbaiki Aris.

“Karena tidak semua benda yang pernah rusak harus dibuang.”

Aris terdiam.

Maya memandang rumah, kebun, dan putranya.

Setahun lalu dia mengira hidupnya telah berakhir ketika seorang suami pergi meninggalkannya dengan Rp45.000.

Ternyata kehilangan itu hanya sedang membuka pintu bagi sesuatu yang tidak pernah dia duga.

Bukan seorang lelaki kaya yang datang menyelamatkan hidupnya.

Bukan uang yang menyelamatkan rumahnya.

Yang menyelamatkan Maya adalah keberanian untuk tetap mencangkul tanah ketika dia tidak tahu apakah besok masih memiliki kebun itu.

Dan mungkin itulah warisan terbesar Bima Larasati.

Bukan rumah.

Bukan tanah.

Bukan bunga-bunga yang tumbuh setiap musim.

Melainkan keyakinan bahwa ketika seseorang memilih tetap menanam sesuatu di tengah kehancuran, hidup selalu punya cara yang aneh untuk membuatnya berbunga kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang