Ketika aku membukanya, seorang pria berdiri di depan teras dengan kemeja abu-abu yang lengannya digulung sampai siku. Di satu tangan ia membawa kotak perkakas tua, sementara tangan lainnya memegang beberapa lembar sketsa.
Usianya mungkin akhir tiga puluhan. Kulitnya kecokelatan karena terlalu sering bekerja di bawah matahari. Ada bekas luka tipis di dekat alis kirinya, dan rambutnya sedikit berantakan.
“Bu Helena?”
Aku mengangguk.
“Saya Elias Pratama. Pak Harun bilang Ibu membutuhkan tukang kayu.”
Aku menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
“Masuk.”
Tidak ada basa-basi.
Aku membawanya berkeliling rumah tua peninggalan nenekku di kawasan Menteng, Jakarta. Sebagian lantai kayunya sudah mengelupas, beberapa jendela lapuk, dan tangga menuju lantai dua mengeluarkan bunyi setiap kali diinjak.
Elias tidak banyak bicara.
Ia mengetuk dinding, memeriksa kusen, berjongkok untuk melihat lantai, lalu sesekali mencatat sesuatu.
Setelah hampir satu jam, ia berkata, “Rumah ini tidak perlu dibongkar.”
“Agen properti saya bilang renovasi akan terlalu mahal.”
“Karena mereka melihat rumah ini sebagai bangunan tua.”
“Dan Anda melihatnya sebagai apa?”
Elias mengusap permukaan pegangan tangga yang penuh goresan.
“Sesuatu yang pernah dicintai.”
Aku tertawa kecil.
“Kayu tidak punya perasaan, Pak Elias.”
Ia menatapku.
“Benar. Tapi orang yang membangunnya punya.”
Entah kenapa aku tidak membantah.
Itulah hari pertama Elias bekerja di rumah nenekku.
Dan tanpa kusadari, itu juga hari pertama seseorang mulai membongkar sesuatu yang jauh lebih keras daripada kayu tua.
Diriku.
Selama dua minggu pertama, aku hanya datang untuk mengecek pekerjaan.
Setidaknya, itulah alasan yang kukatakan pada diriku sendiri.
Padahal aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Elias selalu datang sebelum pukul delapan.
Ia tidak pernah meninggalkan serbuk kayu berserakan.
Ia memperbaiki kursi tua milik penjaga rumah tanpa meminta bayaran.
Dan setiap sore, sebelum pulang, ia duduk di teras belakang sambil minum kopi hitam dari termos.
Suatu sore aku datang setelah sidang yang melelahkan.
Aku baru saja memenangkan perkara besar melawan direktur perusahaan investasi yang terbukti menipu puluhan nasabah.
Seharusnya aku merasa puas.
Sebaliknya, kepalaku terasa seperti akan pecah.
Elias sedang mengamplas daun pintu ketika melihatku.
“Menang?”
Aku berhenti.
“Bagaimana Anda tahu saya habis dari pengadilan?”
“Sepatu Ibu.”
Aku menatap sepatu hak tinggiku.
“Ada apa dengan sepatu saya?”
“Kalau Ibu datang dari kantor, langkah Ibu cepat. Kalau habis dari pengadilan, lebih berat.”
Aku mengerutkan kening.
“Anda sering mengamati saya?”
“Sulit tidak mengamati seseorang yang selalu terlihat seperti sedang berperang.”
Aku ingin tersinggung.
Namun Elias hanya menyodorkan segelas air.
“Duduklah.”
“Saya tidak biasa diperintah.”
“Anggap saja saran profesional.”
“Anda tukang kayu.”
“Justru itu. Saya tahu kapan sesuatu akan retak kalau terus diberi beban.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tertawa tanpa sengaja.
Sejak hari itu, percakapan kami berubah.
Awalnya hanya soal rumah.
Kemudian soal makanan.
Lalu keluarga.
Sampai suatu malam, hujan turun sangat deras dan listrik rumah tiba-tiba padam.
Aku sedang memeriksa dokumen renovasi di lantai dua ketika terdengar suara keras dari bawah.
Aku bergegas menuju tangga.
Salah satu anak tangga yang belum selesai diperbaiki bergeser ketika kuinjak.
Tubuhku kehilangan keseimbangan.
Aku sempat berpikir aku akan jatuh.
Namun sebuah tangan menangkap pergelangan tanganku.
Elias.
Tangannya kasar, penuh kapalan.
Tetapi genggamannya hangat.
“Jangan dilepas,” katanya.
Aku tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu membuat dadaku berdebar begitu keras.
Setelah ia menarikku ke tempat aman, aku masih memegang tangannya.
Beberapa detik terlalu lama.
Kami saling menatap dalam cahaya redup dari ponselnya.
Aku yang pertama melepaskan tangan.
“Terima kasih.”
Elias tersenyum tipis.
“Pengacara terkenal ternyata bisa takut juga.”
“Aku tidak takut.”
“Kalau begitu kenapa tanganmu gemetar?”
Aku langsung memasukkan tanganku ke saku blazer.
“Dingin.”
Ia tidak memperpanjangnya.
Tapi malam itu aku tidak bisa tidur.
Bukan karena hampir jatuh.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
Aku menyukai cara Elias menggenggam tanganku.
Aku mencoba menjaga jarak.
Selama satu minggu aku tidak datang ke rumah.
Aku mengirim semua urusan renovasi melalui asisten.
Aku kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaan, rapat, klien, dan dokumen.
Logika.
Itu yang kupahami.
Bukan perasaan.

Namun pada hari kedelapan, Pak Harun menelepon.
“Bu Helena, Pak Elias kecelakaan kecil.”
Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku hampir jatuh.
“Di mana?”
“Rumah sakit dekat sini.”
Aku membatalkan dua rapat.
Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku mengemudi dari Sudirman ke rumah sakit.
Ketika tiba, Elias sedang duduk di ruang perawatan dengan perban di telapak tangannya.
Aku langsung mendatanginya.
“Apa yang terjadi?”
“Cuma terkena ujung pahat.”
“Cuma?”
Aku melihat perbannya.
“Dokter bilang bagaimana?”
“Tidak apa-apa.”
“Sudah rontgen?”
“Tidak perlu.”
“Siapa yang bilang tidak perlu?”
Elias menatapku, lalu terkekeh.
“Kamu sedang menginterogasi saya?”
“Jangan bercanda.”
Wajahnya berubah lembut.
“Helena.”
Itu pertama kalinya ia memanggil namaku tanpa sebutan Ibu.
Aku terdiam.
“Aku baik-baik saja.”
Dan lagi-lagi, tanpa sadar aku menggenggam tangannya.
Kali ini aku tidak segera melepaskannya.
Hubungan kami tumbuh tanpa pernah direncanakan.
Kami makan nasi goreng di warung kecil dekat rumah.
Ia mengajakku ke bengkel tempatnya bekerja di Ciputat.
Aku membawanya ke restoran mahal sekali dan ia menghabiskan lima menit memandangi harga di menu sebelum berbisik, “Dengan harga satu ikan di sini, saya bisa membeli dua papan jati.”
Aku tertawa sampai hampir menangis.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa tidak perlu menjadi Atty. Helena Ramos, pengacara yang selalu benar.
Di depan Elias, aku hanya Helena.
Tapi kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Masalah muncul dari orang yang paling kupercaya.
Namanya Adrian Wibowo.
Partner senior di firma hukum tempatku bekerja.
Ia juga mentorku selama hampir sepuluh tahun.
Suatu malam, Adrian memintaku datang ke kantornya.
Begitu aku masuk, sebuah map sudah tergeletak di meja.
“Apa ini?” tanyaku.
“Baca.”
Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan latar belakang Elias.
Aku menatap Adrian.
“Kau menyelidikinya?”
“Aku melindungimu.”
“Aku tidak meminta.”
“Helena, pria itu pernah dipenjara.”
Jantungku seperti berhenti.
Aku membuka halaman berikutnya.
Nama Elias Pratama.
Vonis dua tahun.
Kasus penggelapan dana proyek konstruksi.
Aku membaca dokumen itu berkali-kali.
“Tidak mungkin.”
“Semua tercatat.”
Aku meninggalkan kantor Adrian tanpa berkata apa pun.
Malam itu aku mendatangi bengkel Elias.
Ia sedang bekerja sendirian.
Aku melemparkan salinan berkas ke meja.
“Katakan ini bohong.”
Elias melihat dokumen itu.
Wajahnya langsung pucat.
“Helena…”
“Jangan.”
Aku menahan napas.
“Benar atau tidak?”
Ia diam.
Aku merasa sesuatu di dalam diriku runtuh.
“Benar,” katanya akhirnya.
Aku mundur satu langkah.
“Kau pernah dipenjara.”
“Ya.”
“Karena menggelapkan uang proyek.”
“Di atas kertas, ya.”
“Di atas kertas?”
Nada suaraku berubah tajam.
“Itu jawaban yang biasa diberikan semua terdakwa.”
Elias menatapku lama.
“Aku tidak mengambil uang itu.”
“Lalu kenapa kau mengaku bersalah?”
Ia tidak menjawab.
“Jawab aku.”
“Aku tidak bisa.”
Tiga kata itu terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan bersalah.
Aku pergi.
Selama dua minggu aku tidak menjawab telepon Elias.
Renovasi rumah kuhentikan.
Aku meminta kontraktor lain menyelesaikannya.
Aku kembali menjadi Helena yang lama.
Dingin.
Tepat.
Terkendali.
Lalu sebuah perkara baru masuk ke firmaku.
Kasus korupsi proyek pembangunan rumah susun sepuluh tahun lalu.
Terdakwanya seorang mantan direktur perusahaan konstruksi bernama Surya Mahendra.
Nama itu terasa familiar.
Aku membuka berkas lama.
Dan di sana aku menemukan sesuatu.
Perusahaan Surya adalah perusahaan yang sama dengan tempat Elias bekerja sebelum ia dipenjara.
Aku mulai menyelidiki.
Semakin dalam aku masuk, semakin aneh semuanya.
Dokumen proyek menunjukkan bahwa Elias hanyalah kepala tukang.
Ia bahkan tidak memiliki wewenang mengakses rekening perusahaan.
Lalu bagaimana mungkin ia menggelapkan miliaran rupiah?
Aku meminta arsip persidangan lama.
Satu nama saksi membuatku membeku.
Bima Pratama.
Adik Elias.
Bima adalah staf keuangan perusahaan.
Aku mencarinya.
Ternyata ia meninggal delapan tahun lalu akibat sakit.
Aku akhirnya mendatangi Pak Harun.
Ketika kutanyakan soal Bima, pria tua itu menghela napas.
“Pak Elias tidak pernah ingin orang tahu.”
“Tahu apa?”
“Yang mengambil uang itu adiknya.”
Aku terdiam.
“Bima masih dua puluh tahun waktu itu. Dia terlibat utang, lalu dipaksa seorang manajer memindahkan dana perusahaan. Ketika kasusnya terbongkar, Elias tahu kalau adiknya masuk penjara, ibunya yang sedang sakit mungkin tidak akan bertahan.”
“Jadi Elias mengaku?”
Pak Harun mengangguk.
“Dia bilang hidupnya sudah sulit. Dua tahun penjara bisa dia jalani. Tapi adiknya punya masa depan.”
Aku merasa sesak.
“Kenapa tidak pernah ada banding?”
“Karena ada orang yang memastikan kasus itu cepat ditutup.”
Aku membawa semuanya ke penyelidikan.
Beberapa transfer dana yang dulu hilang ternyata terhubung ke rekening perusahaan cangkang milik Surya Mahendra.
Lebih mengejutkan lagi, firma hukum yang menangani kasus Elias saat itu adalah tempatku bekerja sekarang.
Dan pengacara junior yang menandatangani kesepakatan pengakuan bersalah Elias adalah seseorang yang kukenal sangat baik.
Adrian Wibowo.
Aku mendatanginya malam itu.
Aku menaruh bukti di mejanya.
“Kau tahu Elias tidak bersalah.”
Adrian menatapku tenang.
“Berhenti menyelidiki ini.”
“Kau tahu.”
“Aku melakukan pekerjaanku.”
“Pekerjaanmu adalah memastikan seorang pekerja miskin masuk penjara supaya klien kaya kita selamat?”
“Dunia tidak sesederhana itu.”
“Bagiku sekarang cukup sederhana.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Aku sudah menyerahkan salinan bukti ini ke penyidik.”
Wajah Adrian akhirnya berubah.
“Kau akan menghancurkan kariermu.”
“Mungkin.”
“Kau akan dikeluarkan dari firma.”
“Mungkin.”
“Semua yang kau bangun selama dua belas tahun akan hilang.”
Aku menatapnya.
Dulu ancaman itu akan membuatku takut.
Kini tidak.
“Kalau semua yang kubangun berdiri di atas kebohongan, biarkan runtuh.”
Kasus itu meledak.
Media memburu firma kami.
Adrian diperiksa.
Beberapa eksekutif lama ditahan.
Namaku ikut terseret karena aku menyerahkan dokumen internal sebagai bukti.
Dua minggu kemudian aku mengundurkan diri.
Di hari terakhirku, aku memasukkan seluruh barang kantor ke dalam satu kardus.
Penghargaan.
Foto.
Buku hukum.
Semua yang selama ini kupikir mendefinisikan siapa diriku.
Aku membawa kardus itu ke rumah nenek.
Rumahnya sudah hampir selesai.
Ketika membuka pintu, aku terdiam.
Elias sedang berdiri di ruang tengah.
Ia memegang sebuah papan kayu.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Pak Harun menelepon.”
Aku menaruh kardus.
“Aku sudah tahu semuanya.”
Elias terdiam.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Karena aku tidak ingin dikasihani.”
“Aku seorang pengacara. Aku bisa membantumu membersihkan namamu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa diam?”
Ia tersenyum pahit.
“Karena setiap kali kamu bersamaku, untuk pertama kalinya ada seseorang yang melihatku sebagai Elias. Bukan mantan narapidana. Aku takut kalau kamu tahu, cara kamu melihatku akan berubah.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Ironis.
Perempuan yang tidak pernah menangis di pengadilan akhirnya menangis di depan seorang tukang kayu.
“Aku memang berubah.”
Elias menunduk.
Namun aku mendekatinya.
“Sekarang aku melihatmu sebagai pria paling bodoh yang pernah kukenal.”
Ia tertawa kecil.
“Bodoh?”
“Karena memikul kesalahan orang lain sendirian selama bertahun-tahun.”
Aku mengulurkan tangan.
“Dan pria paling baik yang pernah masuk ke hidupku.”
Elias menggenggamnya.
Seperti malam di tangga itu.
Hangat.
Kuat.
Tenang.
Tiga bulan kemudian, putusan pengadilan lama Elias resmi dibatalkan setelah bukti baru menunjukkan bahwa dana proyek dicuri melalui jaringan perusahaan Surya.
Namanya dipulihkan.
Adrian kehilangan izin praktiknya setelah terbukti membantu menutupi sejumlah transaksi ilegal.
Sedangkan aku?
Aku tidak kembali ke firma besar.
Aku membuka kantor hukum kecil di lantai depan rumah nenek.
Aku memberi nama tempat itu Ramos Legal Aid.
Sebagian klien membayar.
Sebagian tidak.
Elias mengubah bangunan belakang menjadi bengkel furnitur.
Kami sering bertengkar karena suara mesin potong kayu mengganggu teleponku.
Ia sering mengeluh karena klienku memarkir mobil sembarangan di depan bahan kayunya.
Tetapi setiap sore pukul lima, kami minum kopi bersama di teras.
Setahun setelah semuanya berakhir, Elias memberiku sebuah kotak kecil.
Aku langsung menatapnya curiga.
“Kalau ini yang kupikirkan, kau memilih cara paling tidak romantis.”
“Aku tukang kayu. Standar romantisku berbeda.”
Aku membuka kotak itu.
Tidak ada cincin.
Hanya sebuah kunci.
“Kunci apa?”
“Kamar loteng.”
“Ada apa di sana?”
Elias membawaku naik.
Ketika pintunya terbuka, napasku tertahan.
Di tengah ruangan berdiri meja kerja lama milik nenekku yang kukira sudah rusak dan dibuang.
Elias telah memperbaikinya.
Di laci meja terdapat puluhan surat tua.
Tulisan tangan nenek.
Salah satunya ditujukan kepadaku.
Aku membacanya dengan tangan gemetar.
Helena kecilku, jika suatu hari kau membaca ini, mungkin aku sudah tidak ada. Kau selalu ingin menjadi perempuan yang kuat. Jadilah kuat. Tetapi jangan salah mengira bahwa tidak membutuhkan siapa pun adalah kekuatan. Kadang-kadang keberanian terbesar adalah membiarkan seseorang menggenggam tanganmu ketika kau tidak tahu harus melangkah ke mana.
Aku menutup surat itu.
Air mataku jatuh lagi.
Aku menatap Elias.
“Kau membaca ini?”
“Tidak.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
Aku memukul lengannya.
Ia tertawa.
Lalu dari saku celananya, Elias mengeluarkan sebuah cincin sederhana.
Aku terdiam.
“Kali ini benar,” katanya.
Ia tidak berlutut.
Tidak ada musik.
Tidak ada kamera.
Hanya kami berdua di rumah tua yang hampir kujual karena menganggapnya tidak lagi memiliki nilai.
Elias mengulurkan tangannya.
“Helena, aku tidak bisa menjanjikan hidup tanpa masalah.”
Aku tersenyum sambil menangis.
“Bagus. Aku curiga pada orang yang terlalu banyak berjanji.”
“Aku hanya bisa berjanji satu hal.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari semua logikamu gagal menemukan jawaban, tanganku tetap ada di sini.”
Aku melihat telapak tangannya.
Kasar.
Penuh bekas luka.
Tangan seorang tukang kayu yang pernah kehilangan nama baik, kebebasan, dan bertahun-tahun hidupnya demi orang yang ia cintai.
Lalu aku teringat siapa diriku dulu.
Perempuan yang percaya bahwa segala sesuatu harus memiliki bukti.
Segala sesuatu harus bisa dijelaskan.
Segala sesuatu harus berada dalam kendali.
Ternyata aku salah.
Ada beberapa keputusan terbesar dalam hidup yang tidak pernah datang bersama bukti lengkap.
Kita hanya diberi pilihan.
Percaya atau pergi.
Mencintai atau terus bersembunyi.
Aku meletakkan tanganku di telapak Elias.
“Ya.”
Ia memasangkan cincin itu.
Beberapa bulan kemudian, seorang wartawan lama yang pernah menjulukiku Pengacara Tanpa Hati datang mewawancaraiku.
Di akhir percakapan, ia bertanya sambil tersenyum,
“Apakah Anda masih keberatan dengan julukan itu?”
Aku melihat keluar jendela.
Di halaman belakang, Elias sedang memperbaiki kursi sambil memarahi seekor kucing yang tidur di atas serbuk kayu.
Aku tersenyum.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena mereka salah sejak awal.”
“Apa maksud Anda?”
Aku menatap cincin di jariku.
“Aku tidak pernah tidak punya hati.”
Aku hanya terlalu lama menguncinya.
Dan ternyata, orang yang akhirnya menemukan kuncinya bukan hakim, bukan pengusaha kaya, bukan pula pengacara hebat.
Ia hanya seorang tukang kayu.
Lucunya, mungkin memang hanya seorang tukang kayu yang tahu bagaimana memperbaiki sesuatu tanpa menghancurkan bagian yang masih bisa diselamatkan.
