Lampu kristal di lobi Hotel Mulia Senayan terus memantulkan cahaya gemerlap, tetapi Gempita Pratama merasa seolah seluruh ruangan itu mendadak runtuh menimpanya. Udara di sekitarnya terasa begitu padat, menyesakkan dada, dan mengunci setiap inci tenggorokannya. Ines masih berdiri di sampingnya dengan napas tertahan, sebelah tangannya yang tadi melingkar erat di lengan Gempita kini terlepas begitu saja, seolah jemari itu baru saja menyentuh bara api yang menyengat. Tatapan Ines beralih antara Gempita dan Maya yang kini berdiri kaku di balik troli pembersihan, membawa beban kehamilan yang begitu besar di tengah seragam biru tua berlogo hotel mewah tersebut.
Keheningan yang mencengkeram lobi seketika pecah oleh suara langkah kaki tergesa-gesa dari arah pintu masuk utama, membawa gelombang kepanikan baru yang semakin mencekam. Dua orang pria berjas rapi dengan map kulit hitam di tangan tampak berjalan cepat, didampingi oleh seorang petugas keamanan senior yang memandu mereka langsung menuju ke arah Maya. Gempita ingin melangkah mendekat, ingin menerobos benteng kebingungan yang melilit pikirannya, namun kakinya seolah terpaku di atas lantai marmer yang dingin.
Dalam benaknya, bayangan delapan bulan silam berputar bagaikan kaset rusak yang tak bisa dihentikan. Malam itu, rumah mereka yang megah di kawasan Menteng tidak lagi terasa seperti tempat perlindungan, melainkan sebuah panggung sandiwara tempat rahasia-rahasia busuk mulai terbongkar di balik tirai kemewahan. Maya tidak pernah menuntut, tidak pernah berteriak histeris, dan tidak pernah mengeluarkan air mata saat ia memutuskan untuk menghilang begitu saja dari kehidupan Gempita. Wanita itu memilih pergi dengan membawa luka yang teramat dalam, menepis segala fasilitas dan kekayaan yang selama ini diagung-agungkan oleh Gempita sebagai bukti kesuksesannya.

Dan sekarang, di tempat di mana orang-orang kaya membuang uang demi kesenangan sesaat, wanita yang dulu dinistirakannya justru berdiri sebagai buruh rendahan dengan perut membuncit yang siap melahirkan kapan saja. Salah satu dari pria berjas hitam itu, yang belakangan diketahui bernama Hendra dan merupakan pengacara senior dari sebuah firma hukum terkemuka di Jakarta, berhenti tepat di depan Maya dengan sikap penuh hormat yang sangat kontras dengan situasi di sekitar mereka. Pak Hendra membungkuk sedikit sebelum menyerahkan sebuah dokumen tebal kepada Maya, lalu berkata dengan suara yang cukup jelas untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Nyonya Maya, seluruh proses pengalihan aset dan pembekuan rekening atas nama PT Pratama Graha Mandiri telah selesai sesuai dengan instruksi hukum yang Anda berikan kemarin siang. Kalimat itu meluncur begitu tenang, namun bagi Gempita, kalimat tersebut terdengar seperti sambaran petir di siang bolong yang menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Gempita langsung maju dua langkah, matanya melotot tajam ke arah sang pengacara sambil membentak dengan suara yang bergetar hebat. Apa maksudmu? Aset apa yang kamu bicarakan? Perusahaan itu milikku! PT Pratama Graha Mandiri adalah hasil kerja kerasku selama belasan tahun!
Pengacara bernama Hendra itu menoleh perlahan, menatap Gempita dengan senyum tipis yang menyiratkan rasa jijik yang ditutupi secara sempurna di balik profesionalismenya. Pak Gempita, mungkin Anda lupa atau sengaja melupakan fakta bahwa seluruh modal awal, hak paten, dan sertifikat kepemilikan tanah di SCBD yang menjadi fondasi imperium bisnis Anda bukanlah milik Anda seorang. Semua itu diwariskan kepada istri Anda oleh mendiang ayahnya, mendiang Komisaris Utama PT Sentosa Utama, jauh sebelum Anda mengenal dunia malam dan wanita-wanita simpanan seperti dia. Hendra menunjuk sekilas ke arah Ines yang kini memucat pasi, tubuhnya gemetar ketakutan menyadari bahwa dirinya telah terseret ke dalam pusaran konflik hukum bernilai ratusan miliar rupiah.
Gempita menggelengkan kepala dengan panik, kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri seolah berusaha menahan kepalanya agar tidak pecah berkeping-keping. Tidak mungkin! Maya hanya anak seorang guru biasa! Selama ini dia tidak pernah bicara apa-apa tentang perusahaan besar! Maya yang sejak tadi hanya terdiam, perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada lagi sisa-sisa kepedihan di matanya, yang tersisa hanya ketenangan seorang ratu yang baru saja merebut kembali singgasananya dari tangan seorang penipu ulung.
Karena kamu tidak pernah benar-benar melihatku, Gempita, suara Maya terdengar begitu lembut, namun setiap suku kata yang diucapkannya menghujam jantung Gempita tanpa ampun. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri, dengan pesta-pesta mewahmu, dengan wanita-wanita yang kamu bawa ke rumah kita, hingga kamu lupa siapa sebenarnya yang memberi makan ambisimu selama ini. Malam itu, saat aku memergokimu membawa wanita ini ke kamar tidur kita, aku tidak menangis karena aku lemah. Aku menangis karena aku baru menyadari bahwa aku telah memberikan seluruh hidupku kepada seorang pria yang tidak memiliki apa-apa selain kesombongan kosong.
Gempita merasa dunianya benar-benar runtuh. Ingatannya berkelebat kembali pada malam terkutuk itu, malam di mana ia merasa berada di puncak dunia setelah memenangkan tender besar, membawa Ines pulang ke rumah utamanya karena ia mengira Maya sedang tidur di kamar tamu. Ia ingat betul bagaimana Maya berdiri di ambang pintu dengan balutan piyama sederhana, menatap mereka berdua tanpa sepatah kata pun sebelum berbalik meninggalkannya dalam kegelapan malam. Ia pikir Maya pergi karena ketakutan dan rasa bersalah karena tidak bisa mengimbanginya. Ia pikir ia adalah penguasa mutlak di rumah itu. Namun kenyataannya, Maya adalah pemilik sesungguhnya dari seluruh kekayaan yang diagungkannya selama ini, dan ia hanyalah seorang manajer bayaran yang diberi izin untuk memimpin perusahaan di atas kertas, sementara sang pemilik sejati memilih untuk mengawasi dari balik bayang-bayang.
Pak Hendra kembali membuka dokumen di tangannya dan membacakan pasal demi pasal dengan suara tegas yang menarik perhatian seluruh pengunjung lobi hotel bintang lima tersebut. Selain pembekuan aset perusahaan, pengadilan niaga telah mengeluarkan surat perintah penahanan sementara terhadap Anda atas dugaan penggelapan dana dan pemalsuan dokumen kepemilikan aset pribadi milik klien kami, Nyonya Maya Safira Pratama. Dan mengenai anak ini, pengacara tersebut melirik ke arah perut besar Maya dengan senyuman penuh makna, anak ini adalah pewaris sah satu-satunya dari seluruh kepemilikan saham mayoritas yang perusahaannya kini telah resmi ditarik kembali dari tangan Anda.
Gempita jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Kekuatan di kedua kakinya seolah lenyap seketika, meninggalkan dirinya sebagai sosok pria paruh baya yang tampak begitu kecil dan rapuh di hadapan mantan istri yang selama bertahun-tahun ia remehkan keberadaannya. Ines, wanita yang tadinya bergelayut manja di lengannya, perlahan melangkah mundur, melepaskan tas tangan bermerk miliknya dan berbalik lari meninggalkan lobi hotel tanpa menoleh lagi begitu menyadari bahwa pria yang bersamanya kini telah jatuh miskin dan berstatus sebagai tersangka kasus penipuan besar.
Gempita mendongak dengan air mata yang mulai membasahi pipinya, menatap Maya yang kini dikelilingi oleh para pengacara dan petugas keamanan hotel yang bersiap membawanya pergi ke tempat yang lebih aman untuk menanti proses persalinannya. Maya, bisiknya dengan suara serak yang nyaris tak terdengar di antara hiruk-pikuk orang-orang yang mulai berkerumun. Tolong aku… kita bisa bicarakan ini baik-baik sebagai suami istri… Maya berhenti sejenak tepat di ambang pintu keluar lobi, tempat mobil mewah berlogo khusus telah menantinya. Ia menunduk menatap Gempita untuk terakhir kalinya, bukan dengan rasa benci, melainkan dengan tatapan penuh kelegaan seolah ia baru saja melepaskan sebuah beban berat yang menindih punggungnya selama belasan tahun.
Suami? tanya Maya pelan sebelum ia melangkah keluar menuju malam Jakarta yang basah oleh air hujan. Gelar itu sudah kulepas sejak malam kamu membawa wanita lain ke rumah kita, Gempita, dan malam ini, kamu baru saja membayar harga penuh dari semua kesombongan yang kamu bangun di atas air mata dan pengorbananku. Pintu mobil tertutup rapat, meninggalkan Gempita seorang diri di tengah kemegahan lobi hotel yang kini terasa bagaikan sebuah penjara emas tanpa ujung, sementara sirene mobil polisi mulai terdengar mendekat dari kejauhan, membawa serta kenyataan pahit bahwa hidupnya benar-benar telah berakhir dalam sekejap mata.
