Mantan suamiku baru saja menikah lagi dengan perempuan lain, tetapi setiap malam dia masih memaksaku datang untuk merawat ayahnya yang lumpuh.

Althea menarik napas panjang sebelum membuka pintu mobil. Hujan masih turun deras, membasahi seluruh halaman parkir kantor. Polisi yang berdiri di hadapannya memperlihatkan surat laporan, tetapi sebelum sempat mengucapkan apa pun, Althea mengangkat teleponnya.

“Pak, saya masih tersambung dengan kuasa hukum saya. Semua percakapan ini sedang didengar.”

Gabriel tersenyum sinis.

“Bagus. Biar dia juga tahu kalau kamu akan dipenjara.”

Attorney Mateo Reyes langsung berbicara dari pengeras suara.

“Perwira, klien saya bersedia bekerja sama. Namun saya harap setiap tindakan dilakukan sesuai prosedur. Kami juga sudah mengajukan permohonan perlindungan terhadap seluruh bukti yang berkaitan dengan perkara ini.”

Polisi itu tampak sedikit ragu. Ia belum sempat menjawab ketika sebuah mobil lain berhenti di belakang SUV Gabriel. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun sambil membawa map tebal.

“Ada apa ini?” tanyanya.

Gabriel menoleh.

“Om Ernesto? Kenapa Om ada di sini?”

Pria itu tidak menjawab Gabriel. Ia justru menghampiri polisi dan memperlihatkan kartu identitasnya.

“Saya notaris keluarga Villanueva. Saya baru menerima pemberitahuan dari Pengadilan Regional mengenai pembekuan aset keluarga. Semua tindakan yang berkaitan dengan dokumen warisan harus dilakukan melalui saya.”

Wajah Gabriel langsung berubah.

“Kok Om tahu?”

“Karena ayahmu yang menunjukku.”

Kalimat itu membuat suasana semakin sunyi.

Althea turun dari mobil. Air hujan membasahi rambut dan pakaiannya, tetapi ia tidak lagi memedulikannya.

Gabriel menunjuk wajahnya.

“Kamu mencuri dokumen dari rumah kami!”

Althea menatapnya tenang.

“Aku tidak mencuri.”

“Lalu dari mana kamu mendapatkannya?”

“Dari orang yang memiliki hak penuh untuk memberikannya.”

Gabriel tertawa mengejek.

“Papa bahkan hampir tidak bisa bicara.”

“Tetapi beliau masih bisa berpikir.”

Untuk pertama kalinya sejak datang, ekspresi Gabriel terlihat goyah.

Polisi akhirnya meminta semua pihak menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan. Attorney Reyes juga tiba tidak lama kemudian. Ia datang dengan membawa salinan surat permohonan pembekuan aset beserta dokumen medis Don Rafael yang menunjukkan bahwa kondisi mental pria tua itu masih cukup baik saat memberikan dokumen kepada Althea.

Selama hampir tiga jam pemeriksaan berlangsung.

Gabriel terus bersikeras bahwa Althea telah memalsukan tanda tangan ayahnya.

Namun ketika notaris Ernesto membuka arsip, semua tanda tangan ternyata telah dicocokkan beberapa bulan sebelumnya melalui proses legalisasi.

Bahkan terdapat rekaman CCTV yang memperlihatkan Don Rafael sendiri memasukkan dokumen ke dalam brankas bersama notaris.

Laporan Gabriel mulai kehilangan dasar.

Tetapi Attorney Reyes masih belum mengeluarkan kartu terbesarnya.

Ia hanya berbisik kepada Althea.

“Belum waktunya.”

Malam itu Althea pulang dengan tubuh lelah.

Begitu membuka pintu apartemen kecil yang disewanya, teleponnya kembali berdering.

Nomor rumah sakit.

“Bu Althea?”

“Ya.”

“Kondisi Pak Rafael mendadak memburuk.”

“Beliau meminta bertemu Ibu.”

Tanpa berpikir panjang Althea langsung berangkat.

Sesampainya di rumah sakit, ia melihat Gabriel, Valeria, dan ibu Gabriel sudah berada di depan ruang ICU.

Melihat Althea datang, ibu Gabriel langsung menampar wajahnya.

“Perempuan tidak tahu diri!”

“Kamu mau merebut semua milik keluarga kami!”

Tamparan itu begitu keras hingga sudut bibir Althea berdarah.

Namun ia tidak membalas.

Dokter keluar beberapa detik kemudian.

“Pasien hanya ingin bertemu satu orang.”

Semua orang serempak berdiri.

“Ayah pasti memilih saya,” kata Gabriel.

Dokter menggeleng.

“Beliau menyebut nama Althea.”

Ruangan mendadak sunyi.

Gabriel mencoba menerobos masuk, tetapi dokter menghalanginya.

“Maaf. Itu permintaan pasien.”

Ketika Althea memasuki ruang ICU, suara alat monitor memenuhi ruangan.

Don Rafael tampak jauh lebih kurus daripada terakhir kali ia melihatnya.

Namun matanya masih sadar.

Dengan susah payah pria tua itu menggenggam tangan Althea.

“Maaf…”

Air mata Althea langsung mengalir.

“Jangan bicara dulu.”

Don Rafael menggeleng pelan.

“Aku… terlambat…”

Ia meminta sebuah map kecil yang disimpan di laci samping ranjang.

Di dalamnya terdapat surat lain.

“Aku… tahu… Gabriel… berubah… sejak tiga tahun lalu…”

Althea membukanya perlahan.

Isinya adalah catatan harian Don Rafael selama dua tahun terakhir.

Setiap penyimpangan dana.

Setiap transaksi.

Setiap ancaman yang diterimanya.

Bahkan setiap kali Gabriel memaksanya menandatangani dokumen kosong.

Halaman terakhir membuat napas Althea tercekat.

Jika sesuatu terjadi kepadaku, berarti itu bukan kecelakaan.

Kalimat itu ditulis dengan tinta biru yang sudah mulai memudar.

Don Rafael kembali berusaha bicara.

“USB…”

“Ada… video…”

Air mata kembali mengalir di pipinya.

“Aku… gagal… mendidik… anakku…”

Tidak lama kemudian dokter meminta Althea keluar.

Keesokan paginya, Attorney Reyes mengajukan laporan pidana baru berdasarkan seluruh bukti yang dimiliki.

Video di dalam USB akhirnya diputar di hadapan penyidik.

Rekaman berasal dari kamera keamanan ruang kerja Don Rafael.

Malam itu Don Rafael sedang memeriksa laporan keuangan.

Gabriel masuk bersama ibunya.

Perdebatan berlangsung cukup lama.

Suara mereka terekam jelas.

“Kalau Papa terus menolak, semua rencana kita akan gagal.”

“Aku tidak akan pernah mengizinkan kalian menggelapkan uang perusahaan.”

Beberapa menit kemudian Gabriel mendorong kursi roda ayahnya dengan kasar.

Don Rafael berusaha menahan.

Dalam perebutan itu kursi roda menghantam meja.

Tubuh Don Rafael jatuh membentur lantai marmer.

Kepalanya terbentur sangat keras.

Yang paling mengejutkan bukan jatuhnya Don Rafael.

Melainkan apa yang terjadi setelahnya.

Gabriel tidak segera memanggil ambulans.

Ia berdiri mematung.

Ibunya justru berkata pelan,

“Jangan sentuh dulu.”

“Hapus dulu semua dokumen.”

Hampir dua puluh menit berlalu sebelum mereka akhirnya menelepon rumah sakit.

Dokter forensik kemudian menyatakan bahwa keterlambatan penanganan kemungkinan besar memperparah kerusakan otak yang menyebabkan stroke permanen.

Ketika rekaman selesai diputar, ruangan pemeriksaan benar-benar sunyi.

Gabriel masih mencoba membela diri.

“Itu bukan sengaja.”

Namun bukti-bukti lain terus bermunculan.

Transfer dana.

Perusahaan fiktif.

Kontrak palsu.

Pemalsuan laporan pajak.

Semua saling berkaitan.

Beberapa hari kemudian seluruh media mulai memberitakan kasus keluarga Villanueva.

Perusahaan mereka kehilangan hampir semua mitra bisnis.

Bank menolak memberikan fasilitas kredit.

Para pemasok menarik kerja sama.

Valeria yang selama ini menikmati kehidupan mewah perlahan menghilang dari sisi Gabriel.

Saat wartawan mulai mengejarnya, perempuan itu menghapus seluruh foto pernikahan mereka.

Sebulan kemudian muncul kabar bahwa Valeria mengajukan pembatalan pernikahan.

Ia mengaku tidak mengetahui semua kejahatan tersebut.

Gabriel tertawa pahit ketika membaca berita itu di ruang tahanan.

Perempuan yang katanya memberinya kekuatan untuk memulai hidup baru ternyata menjadi orang pertama yang meninggalkannya.

Sementara itu kondisi Don Rafael sempat membaik.

Ia masih tidak bisa berjalan, tetapi sudah mampu berbicara lebih jelas.

Suatu sore ia meminta Althea datang ke rumah sakit.

“Ayah tidak pantas meminta maaf.”

Althea menggenggam tangannya.

“Jangan berkata begitu.”

“Tidak.”

Don Rafael menutup mata sejenak.

“Selama ini Ayah tahu kamu diperlakukan tidak adil.”

“Tapi Ayah terlalu lemah.”

Althea hanya tersenyum tipis.

“Masa lalu tidak bisa diubah.”

“Tapi masa depan masih bisa.”

Beberapa minggu setelah kasus itu selesai disidangkan, surat wasiat resmi dibuka.

Semua anggota keluarga hadir.

Isi surat tersebut membuat semua orang terdiam.

Don Rafael tidak menyerahkan seluruh hartanya kepada Althea.

Sebaliknya, ia membagi sebagian besar aset kepada yayasan kesehatan yang menyediakan perawatan bagi lansia tidak mampu.

Sisanya diberikan kepada para karyawan lama yang selama puluhan tahun membangun perusahaan bersama dirinya.

Gabriel hanya menerima bagian minimum sesuai ketentuan hukum.

Bukan karena Don Rafael membenci anaknya.

Melainkan karena ia percaya kekayaan tanpa tanggung jawab hanya akan menghancurkan seseorang.

Di bagian terakhir surat wasiat tertulis sebuah pesan.

“Untuk Althea.”

“Terima kasih karena telah merawatku ketika bahkan keluargaku sendiri memilih pergi.”

“Kamu tidak pernah menjadi menantuku.”

“Kamu selalu menjadi anak yang kupilih dengan hati.”

Beberapa bulan berlalu.

Althea kembali menjalani hidup sederhana sebagai akuntan.

Ia menolak tawaran menjadi direktur perusahaan keluarga yang sedang direstrukturisasi.

Sebagai gantinya, ia membantu yayasan yang dibentuk menggunakan sebagian aset Don Rafael untuk membangun pusat rehabilitasi stroke.

Di sana, setiap pasien diperlakukan dengan hormat.

Tidak ada yang dianggap sebagai beban.

Suatu pagi, ketika Althea sedang membantu seorang lansia belajar menggenggam sendok kembali, ponselnya menerima satu notifikasi.

Gabriel telah dijatuhi hukuman penjara atas penggelapan, pemalsuan dokumen, dan kelalaian yang menyebabkan luka berat terhadap ayahnya sendiri.

Althea membaca berita itu sebentar, lalu mematikan layar.

Ia tidak merasa menang.

Ia juga tidak merasa puas.

Yang ia rasakan hanyalah lega.

Selama bertahun-tahun ia mengira kesetiaan berarti mengorbankan diri tanpa batas.

Kini ia memahami bahwa cinta yang sehat tidak pernah meminta seseorang kehilangan harga dirinya.

Hujan kembali turun seperti hari ketika semuanya dimulai.

Namun kali ini Althea tidak lagi merasa dingin.

Ia melangkah keluar gedung rehabilitasi sambil memandang langit yang perlahan mulai cerah.

Beberapa badai memang datang untuk menghancurkan.

Tetapi ada juga badai yang membersihkan jalan, agar seseorang akhirnya berani melangkah menuju kehidupan yang memang pantas ia miliki.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang