DIBELI DENGAN UTANG 80 JUTA OLEH PRIA TULI, WANITA INI MENEMUKAN SESUATU DI TELINGA SUAMINYA HINGGA MEMBONGKAR TARUHAN KEJAM KELUARGANYA!

Jeritan Aris membuat Laras menjatuhkan pinset dari tangannya.

Benda hitam yang baru saja ia tarik tergeletak di atas lantai dapur.

Panjangnya hampir dua sentimeter, berwarna cokelat kehitaman, dengan tubuh pipih yang menggeliat lemah di antara bercak darah.

Laras mundur satu langkah.

Itu bukan serpihan kayu.

Bukan gumpalan kotoran.

Itu seekor serangga kecil yang tampaknya sudah lama berada di dalam telinga Aris.

Namun Laras segera menyadari sesuatu yang lebih aneh.

Di salah satu ujung tubuh serangga itu terdapat benang tipis berwarna gelap.

Benang tersebut tidak terlihat alami.

Seperti serat sintetis yang sengaja dililitkan.

Laras menatap Aris yang masih terbaring lemas.

Darah merembes dari telinganya.

Ia tidak berani melakukan apa pun lagi.

Malam itu juga, Laras membawa Aris turun dari bukit menuju klinik 24 jam terdekat dengan bantuan Pak Darsa, tetangga yang tinggal sekitar satu kilometer dari rumah mereka.

Dokter jaga langsung memeriksa telinga Aris.

Wajahnya berubah serius.

“Siapa yang mengeluarkan benda ini?”

Laras mengangkat tangan dengan ragu.

“Saya.”

Dokter menghela napas panjang.

“Untung tidak terjadi pendarahan besar. Tapi setelah ini jangan pernah memasukkan pinset ke telinga lagi. Benda itu menempel cukup dalam.”

Laras mengangguk cepat.

“Dok, itu apa?”

Dokter menatap wadah kecil tempat serangga tadi disimpan.

“Sejenis kutu atau serangga dari lingkungan ternak. Tapi saya tidak yakin benda ini berada di sana sejak kecil.”

Laras langsung menoleh.

Aris yang membaca gerak bibir dokter tampak kebingungan.

Dokter kemudian menuliskan penjelasannya di atas kertas.

Peradangan di telinga Aris memang sudah lama.

Namun luka baru yang ditemukan dokter menunjukkan bahwa sesuatu kemungkinan terus menerus dimasukkan atau dibiarkan masuk ke telinganya dalam beberapa tahun terakhir.

“Kalau benar dari kecil,” ujar dokter, “serangga ini tidak mungkin hidup selama puluhan tahun.”

Kalimat itu membuat Laras merinding.

Aris menatap kertas tersebut lama sekali.

Kemudian tangannya mulai gemetar.

Ia menulis.

“Setiap beberapa bulan telingaku terasa seperti digigit dari dalam.”

Laras membaca tulisan itu, lalu bertanya pelan.

“Sejak kapan?”

Aris berpikir lama.

Kemudian menulis lagi.

“Sejak umur sembilan tahun.”

Dokter mengerutkan kening.

“Apakah dulu pernah ada pemeriksaan rumah sakit besar?”

Aris menggeleng.

Yang ia ingat hanya satu.

Setiap kali telinganya sakit ketika kecil, keluarganya selalu membawanya kepada seorang mantri tua di kampung sebelah.

Setelah itu rasa sakit biasanya mereda selama beberapa bulan.

Lalu datang kembali.

Pagi menjelang ketika Laras dan Aris pulang.

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang mengatakan apa pun.

Namun sejak malam itu, sesuatu berubah di antara mereka.

Laras tidak lagi melihat Aris sebagai pria asing yang “membelinya” dengan uang 80 juta.

Ia melihat seorang laki-laki yang ternyata juga hidup dengan luka yang tidak pernah ia pahami.

Dan Aris mulai melihat Laras bukan sebagai perempuan yang diserahkan kepadanya karena utang.

Ia mulai melihat seseorang yang berani berjongkok di lantai, memegang kepalanya saat ia kesakitan, tanpa jijik sedikit pun.

Tiga hari kemudian, Laras sedang membersihkan gudang belakang ketika menemukan sebuah kotak kayu tua.

Di dalamnya terdapat foto-foto masa kecil Aris.

Sebagian sudah menguning.

Ada satu foto yang membuat Laras berhenti.

Aris kecil berdiri di depan rumah bersama dua anak laki-laki lain.

Di belakang foto tertulis:

Aris, Bayu, Doni. Lomba layangan 1998.

Jantung Laras seperti berhenti satu detik.

Doni.

Ia membalik foto itu lagi.

Anak laki-laki paling kanan memang mirip kakaknya.

Laras membawa foto tersebut kepada Aris.

Begitu melihatnya, wajah Aris langsung menegang.

“Kamu kenal Doni sejak kecil?”

Aris mengangguk pelan.

Kemudian mengambil buku catatan.

“Kami pernah sekolah dasar yang sama.”

Laras merasa tengkuknya dingin.

“Kenapa Doni tidak pernah bilang?”

Aris terdiam cukup lama.

Akhirnya ia menulis.

“Doni tidak suka padaku.”

“Kenapa?”

Aris menatap foto masa kecil itu.

Kemudian ia menulis kalimat yang membuat Laras semakin tidak tenang.

“Karena dulu mereka pernah membuat taruhan.”

Laras langsung duduk.

“Taruhan apa?”

Aris tidak menjawab.

Ia berdiri, berjalan menuju kamar belakang, lalu membuka lemari tua yang selama ini selalu terkunci.

Dari sana ia mengeluarkan sebuah kaleng biskuit.

Di dalamnya terdapat kelereng, uang logam lama, kartu permainan, dan sebuah buku kecil dengan sampul merah.

Aris menyerahkannya kepada Laras.

Buku itu adalah buku harian milik kakak Aris, Bayu, yang meninggal dalam kecelakaan motor sepuluh tahun lalu.

Pada salah satu halaman tertulis kalimat dengan tulisan anak-anak.

Hari ini Doni bilang kalau Aris benar-benar tuli sampai gede, dia menang. Aku bilang Aris cuma sakit telinga. Doni masukin kumbang kecil waktu Aris tidur. Aku takut cerita ke Ayah.

Tangan Laras langsung dingin.

Ia membaca kalimat itu berulang kali.

Tidak mungkin.

Doni saat itu masih anak-anak.

Tetapi ada halaman lain.

Beberapa tahun kemudian, tulisan Bayu sudah berubah lebih rapi.

Doni datang lagi. Dia tanya Aris masih tuli atau tidak. Dia tertawa. Katanya taruhannya belum selesai kalau Aris masih hidup normal. Aku usir dia.

Laras menutup buku itu.

Napasnya memburu.

“Aris, kenapa kamu tidak pernah melaporkan ini?”

Aris memandangnya dengan mata merah.

Kemudian menulis.

“Saya baru menemukan buku ini setelah Bayu meninggal. Saya tidak punya bukti bahwa Doni masih melakukan sesuatu.”

Laras tiba-tiba teringat malam pernikahan mereka.

Doni dan teman-temannya tertawa.

“Gue kira si tuli itu bakal mundur di menit terakhir.”

Kalimat itu sekarang terdengar berbeda.

Seolah Doni bukan sekadar mengejek.

Seolah ia sedang menunggu sesuatu.

Laras langsung mengambil ponselnya.

Ia menelepon ayahnya.

Pak Surya menjawab dengan suara gugup.

“Laras? Kamu baik-baik saja?”

“Ayah tahu Doni kenal Aris sejak kecil?”

Di ujung telepon terdengar keheningan.

Terlalu lama.

“Ayah?”

Pak Surya akhirnya berkata, “Itu urusan masa lalu.”

Dada Laras terasa sesak.

“Ayah tahu soal taruhan itu?”

Telepon langsung diputus.

Laras membeku.

Jawaban itu lebih buruk daripada pengakuan.

Sore harinya, Doni datang ke rumah Aris.

Sendirian.

Wajahnya tidak lagi seperti kakak yang suka mengejek.

Ia terlihat panik.

“Ngapain lo bongkar-bongkar barang lama?”

Laras berdiri di depan pintu.

“Jadi benar.”

Doni mengangkat dagu.

“Benar apaan?”

“Kamu memasukkan serangga ke telinga Aris waktu kecil.”

Doni tertawa pendek.

“Namanya juga anak-anak.”

“Dan setelah itu?”

Senyum Doni hilang.

Aris berdiri beberapa meter di belakang Laras.

Matanya tidak lepas dari wajah Doni.

Doni menunjuk Aris.

“Lo jangan sok jadi korban. Hidup lo enak. Punya kebun. Punya ternak. Punya tanah.”

Laras terkejut mendengar kebencian dalam suaranya.

“Ternyata ini bukan cuma soal taruhan.”

Doni mendengus.

“Memangnya lo ngerti apa?”

Laras menatap kakaknya sendiri.

Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang asing di wajah Doni.

Doni akhirnya kehilangan kendali.

Ketika masih kecil, ayah Aris dan Pak Surya pernah bekerja sama mengelola lahan perkebunan.

Namun setelah usaha gagal, keluarga Surya kehilangan sebagian besar tanah mereka.

Sebaliknya, keluarga Aris justru berkembang.

Doni tumbuh dengan mendengar Pak Surya terus menyalahkan keluarga Aris.

Suatu hari, Doni dan beberapa teman membuat taruhan bodoh.

Mereka memasukkan serangga ke telinga Aris yang sedang tidur di saung.

Aris mengalami infeksi parah.

Pendengarannya menurun drastis.

Namun yang lebih mengerikan baru terjadi setelah itu.

Pak Surya mengetahui kejadian tersebut.

Alih-alih membawa Doni meminta maaf, ia menyuruh semua orang diam.

Karena menurutnya, penderitaan keluarga Aris adalah “balasan”.

Laras merasa mual.

“Terus kenapa telinganya masih sering terluka sampai sekarang?”

Doni tidak menjawab.

Laras maju selangkah.

“Jawab!”

Doni akhirnya berteriak.

“Karena Aris bodoh!”

Ia mengusap wajah kasar.

“Setiap beberapa bulan dia masih datang ke kandang lama dekat kebun buat tidur siang. Teman gue cuma iseng. Kadang masukin serangga kecil. Biar lihat si tuli masih bisa ngerasain atau nggak.”

Laras menutup mulutnya.

Aris berdiri kaku.

Wajahnya pucat.

Hampir tiga puluh tahun.

Semua rasa sakit yang dianggapnya sebagai penyakit.

Semua malam ketika ia mencengkeram kepala sendirian.

Ternyata bukan takdir.

Itu kekejaman yang terus dipelihara.

“Dan pernikahan ini?” tanya Laras.

Doni mendadak diam.

“Apa hubungannya utang Ayah dengan Aris?”

Doni menatap lantai.

Laras merasakan ketakutan yang lebih besar.

“Apa kalian juga membuat taruhan soal aku?”

Doni tidak menjawab.

Aris tiba-tiba maju.

Ia meraih kerah baju Doni.

Untuk pertama kalinya Laras melihat kemarahan besar di wajah suaminya.

Doni langsung panik.

“Oke! Oke!”

Ia mendorong tangan Aris.

“Awalnya gue cuma bilang sama teman-teman, kalau Aris dikasih perempuan kayak Laras, dia pasti nolak.”

Laras membeku.

Doni melanjutkan dengan suara melemah.

“Gue bilang nggak mungkin orang aneh kayak dia mau nikahin perempuan yang bahkan keluarganya sendiri anggap beban.”

Setiap kata terasa seperti pisau.

“Teman gue taruhan lima juta.”

Laras menatap kakaknya tanpa berkedip.

“Jadi Ayah menjualku karena taruhanmu?”

“Bukan!”

“Terus 80 juta itu dari mana?”

Doni terdiam.

Akhirnya rahasia terakhir terbuka.

Utang 80 juta itu sebenarnya bukan milik Pak Surya.

Utang tersebut milik Doni.

Ia kehilangan uang dalam bisnis motor bekas yang gagal, kemudian meminjam melalui nama ayahnya karena riwayat kreditnya sendiri buruk.

Ketika penagih mulai datang, Doni memanfaatkan hubungan lama keluarga mereka dengan Aris.

Ia mengatakan kepada Pak Surya bahwa Aris bersedia membantu membayar utang jika Laras menikah dengannya.

Padahal Aris tidak pernah memberikan syarat tersebut.

Aris hanya tahu Pak Surya sedang kesulitan dan menawarkan membeli sebidang tanah kecil milik keluarga mereka seharga 80 juta.

Tanah itu bahkan dibeli dengan harga lebih tinggi daripada nilai pasarnya.

Doni mengubah transaksi tersebut menjadi cerita bahwa Laras “dibeli”.

Laras menoleh perlahan kepada Aris.

Pria itu terlihat sama terkejutnya.

Dengan tangan gemetar, Aris mengambil buku catatan.

“Saya tidak pernah membeli kamu.”

Air mata Laras langsung jatuh.

Aris menulis lagi.

“Ayahmu bilang kamu ingin menikah dengan saya karena ingin pergi dari rumah.”

Laras menutup wajah.

Jadi mereka berdua sama-sama ditipu.

Laras dibuat percaya bahwa dirinya dijual.

Aris dibuat percaya bahwa Laras memilihnya.

Semua demi menutupi utang Doni.

Tanpa diketahui Doni, sejak awal percakapan Laras sudah menyalakan perekam suara di ponselnya.

Dua hari kemudian, rekaman itu diserahkan kepada polisi bersama buku harian Bayu, catatan medis Aris, dan keterangan dokter.

Kasus lama memang sulit dibuktikan sepenuhnya.

Namun penganiayaan yang terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir memiliki saksi.

Salah seorang teman Doni akhirnya mengaku.

Ia bahkan menunjukkan grup percakapan tempat mereka membahas “uji telinga si tuli” sebagai lelucon.

Doni ditetapkan sebagai tersangka bersama dua temannya.

Pak Surya tidak dipenjara, tetapi hubungannya dengan Laras tidak pernah kembali seperti dulu.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, Pak Surya datang ke rumah di bukit.

Tubuhnya terlihat jauh lebih tua.

Ia berdiri di depan Laras dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah salah.”

Laras menatapnya lama.

“Ayah bukan cuma salah karena diam.”

Pak Surya menunduk.

“Ayah membuat aku percaya bahwa aku tidak berharga.”

Air mata Pak Surya jatuh.

Laras tidak mengusirnya.

Namun ia juga tidak memeluknya.

Ada luka yang bisa dimaafkan tanpa harus dilupakan.

Beberapa bulan kemudian, Aris menjalani operasi di rumah sakit Bandung.

Kerusakan pendengarannya terlalu parah untuk dipulihkan sepenuhnya.

Namun dokter memasangkan alat bantu dengar khusus di telinga kirinya yang masih memiliki sedikit fungsi.

Pada hari pertama alat itu dinyalakan, Laras duduk di sampingnya.

Dokter menekan tombol.

Aris tersentak.

Matanya membesar.

Ia mendengar suara samar untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Suara kipas.

Suara pintu.

Suara langkah kaki.

Kemudian Laras berkata perlahan.

“Aris.”

Pria itu memandangnya.

Air matanya langsung jatuh.

Suara Laras terdengar kabur.

Jauh.

Tidak sempurna.

Namun ia mendengarnya.

Aris mencoba berbicara.

Suaranya tetap serak dan patah-patah.

“Laras.”

Laras menangis sambil tertawa.

Untuk pertama kalinya, mereka tidak membutuhkan buku catatan.

Setahun kemudian, rumah batu di atas bukit itu tidak lagi terasa sepi.

Laras membuka usaha jahit kecil di bagian depan rumah.

Aris memperbesar peternakannya.

Mereka tetap menyimpan buku catatan lama di atas meja.

Bukan karena mereka masih membutuhkannya.

Melainkan sebagai pengingat bahwa cinta mereka justru tumbuh dari kalimat-kalimat sederhana yang ditulis dua orang yang sama-sama merasa tidak pernah didengar.

Suatu sore, ketika Laras sedang merapikan lemari, ia menemukan foto pernikahan mereka.

Di sudut foto, Doni terlihat sedang tertawa bersama teman-temannya.

Laras menatapnya beberapa detik.

Kemudian membalik foto tersebut.

Di bagian belakang, Aris rupanya pernah menuliskan sesuatu.

Tulisan itu dibuat pada malam pertama pernikahan mereka.

Laras membacanya perlahan.

“Saya tahu mereka menertawakan saya karena tuli. Tapi saya menikah dengan Laras bukan karena kasihan. Saya memilihnya karena ketika semua orang melihat kekurangan, saya melihat seseorang yang seumur hidupnya hanya belum pernah diberi kesempatan untuk percaya bahwa dirinya berharga.”

Laras berdiri lama dengan foto itu di tangannya.

Air matanya kembali turun.

Selama bertahun-tahun ia percaya bahwa dirinya adalah perempuan yang ditukar dengan utang 80 juta rupiah.

Ternyata bukan itu yang terjadi.

Delapan puluh juta tersebut memang membawa Laras ke rumah seorang pria tuli di atas bukit.

Namun uang itu tidak pernah membeli hidupnya.

Justru di rumah itulah Laras akhirnya menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri.

Hak untuk dihormati.

Hak untuk memilih.

Dan seseorang yang, bahkan ketika hampir tidak bisa mendengar suara apa pun, menjadi orang pertama yang benar-benar mendengarkan dirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang