DIHINA DAN DIUSIR ANAK KANDUNG SAAT WISUDA KARENA PAKAIANNYA LUSUH

Di dalam aula, musik instrumental terdengar lembut sementara para wisudawan mulai menempati kursi masing-masing. Tiara duduk di barisan depan bersama mahasiswa berprestasi lainnya. Ia mencoba tersenyum ketika Amel dan beberapa temannya mengajaknya berfoto, tetapi pikirannya terus kembali pada wajah ayahnya beberapa menit sebelumnya.

Ada sesuatu yang mengganggu dadanya.

Tatapan Pak Joko sebelum pergi.

Tidak marah. Tidak membentak. Hanya kecewa.

Namun Tiara segera mengusir perasaan itu.

Ia meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Setelah acara selesai, mungkin ia bisa pulang dan meminta maaf. Mungkin ayahnya akan mengerti seperti biasanya.

Pak Joko selalu memaafkannya.

Lampu aula perlahan diredupkan. Rektor Universitas Cendrawasih, Prof. Dr. Hendra Wibowo, naik ke podium.

Setelah membuka acara, ia menyampaikan pidato mengenai perjuangan, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab para lulusan kepada masyarakat.

Tiara mendengarkan setengah hati.

Sampai sebuah kalimat membuat seluruh aula menjadi lebih hening.

“Sebelum kita memanggil para lulusan terbaik, saya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat istimewa.”

Prof. Hendra berhenti sejenak.

“Universitas ini memiliki banyak gedung, laboratorium, dan program beasiswa. Tetapi ada satu program yang paling dekat di hati saya, yaitu Dana Pendidikan Cendrawasih untuk mahasiswa dari keluarga kurang mampu.”

Layar besar di belakang panggung menampilkan foto puluhan mahasiswa penerima beasiswa.

Tiara mengenali beberapa wajah.

Termasuk dirinya.

“Empat tahun terakhir,” lanjut rektor, “lebih dari dua ratus mahasiswa dapat melanjutkan pendidikan melalui dana tersebut.”

Tepuk tangan terdengar.

“Banyak orang mengira dana ini berasal dari perusahaan besar. Ada yang mengira dari yayasan internasional. Bahkan selama bertahun-tahun, pihak kampus diminta merahasiakan identitas donatur utamanya.”

Prof. Hendra tersenyum.

“Tetapi hari ini, dengan izin beliau, kami ingin mengungkapkannya.”

Tiara tiba-tiba merasa tidak nyaman.

Entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat.

“Total donasi yang telah beliau berikan kepada universitas kita mencapai lima puluh miliar rupiah.”

Aula langsung riuh.

Beberapa orang berbisik kagum.

Amel menoleh kepada Tiara.

“Gila, lima puluh miliar. Siapa, ya?”

Tiara mengangkat bahu.

Rektor melanjutkan.

“Yang membuat kisah ini luar biasa adalah beliau bukan konglomerat. Bukan pejabat. Bukan pemilik perusahaan besar.”

Foto di layar berubah.

Tiara membeku.

Di sana terlihat seorang pria mengenakan kaus sederhana, berdiri di tengah Pasar Induk Kramat Jati bersama beberapa pedagang.

Wajahnya sangat ia kenal.

“Ayah…” bisik Tiara.

Amel menoleh.

“Apa?”

Tiara tidak menjawab.

Tangannya mulai dingin.

Prof. Hendra berkata dengan suara berat, “Nama beliau adalah Bapak Joko Santoso.”

Suasana aula tiba-tiba terasa jauh bagi Tiara.

Seolah suara orang-orang menghilang.

Yang tersisa hanya satu kalimat.

Bapak Joko Santoso.

Nama ayahnya.

“Selama lebih dari dua puluh tahun,” lanjut rektor, “Bapak Joko bekerja sebagai buruh panggul di pasar. Tetapi hampir tidak ada yang mengetahui bahwa beliau juga merupakan pemilik sah sebagian lahan lama Pasar Kramat Jati yang diwariskan oleh orang tuanya.”

Tiara menatap layar tanpa berkedip.

Foto-foto lama mulai ditampilkan.

Sebuah rumah sederhana.

Sebidang tanah.

Dokumen sertifikat.

Kemudian foto Pak Joko bersama beberapa pengurus yayasan pendidikan.

“Lima tahun lalu,” kata rektor, “sebagian lahan tersebut dibeli sebuah perusahaan pengembang. Nilainya sangat besar. Bapak Joko sebenarnya bisa berhenti bekerja, membeli rumah mewah, mobil, atau menikmati hidup nyaman.”

Prof. Hendra menarik napas.

“Tetapi beliau tidak melakukan itu.”

Layar menampilkan sebuah dokumen penyerahan dana.

“Beliau menyumbangkan sebagian besar hasil penjualan tanah tersebut untuk pendidikan.”

Tangis mulai terdengar dari beberapa sudut aula.

“Ketika kami bertanya mengapa, jawabannya sederhana.”

Rektor membuka sebuah catatan.

“Beliau berkata, saya tidak sekolah tinggi. Saya tahu rasanya ketika kemiskinan membuat orang merasa tidak punya pilihan. Kalau uang ini bisa membuat anak-anak lain memiliki pilihan, gunakanlah.”

Tiara menutup mulut.

Air matanya mulai jatuh.

Namun rektor belum selesai.

“Dan ada satu permintaan khusus dari Bapak Joko. Putrinya sendiri tidak boleh mengetahui bahwa ayahnya adalah donatur.”

Amel menatap Tiara dengan wajah berubah.

“Ti… itu ayahmu?”

Tiara tidak mampu menjawab.

Prof. Hendra melanjutkan.

“Beliau ingin putrinya mendapatkan pendidikan berdasarkan kemampuan, bukan berdasarkan nama atau uang ayahnya.”

Tiara merasa dadanya seperti dihantam.

Selama empat tahun, ia membanggakan ayah khayalan yang bekerja sebagai direktur di Dubai.

Padahal ayah yang sesungguhnya diam-diam telah membiayai pendidikan ratusan orang.

Termasuk sebagian program beasiswa yang membantunya sendiri.

“Bahkan,” lanjut rektor, “Bapak Joko meminta agar dirinya tetap bekerja seperti biasa. Katanya, bekerja membuatnya merasa berguna dan mengingatkan dirinya dari mana ia berasal.”

Tepuk tangan mulai memenuhi aula.

Sebagian orang berdiri.

Prof. Hendra tersenyum dan melihat ke kursi tamu kehormatan di sebelah kanan panggung.

“Pagi ini sebenarnya kami telah menyediakan kursi khusus untuk beliau.”

Kamera menyorot sebuah kursi kosong.

Tulisan kecil di depannya terbaca jelas.

Bapak Joko Santoso.

Donatur Utama Yayasan Pendidikan Cendrawasih.

Rektor terdiam beberapa detik.

“Tetapi saya baru mendapat kabar bahwa beliau meninggalkan kampus sebelum acara dimulai.”

Tiara langsung berdiri.

Semua mata beralih kepadanya.

Wajahnya basah oleh air mata.

Prof. Hendra mengenalinya.

“Saudari Tiara?”

Tiara mencoba berbicara, tetapi suaranya pecah.

“Pak… Pak Rektor… beliau ayah saya.”

Bisikan langsung memenuhi aula.

Amel dan teman-temannya saling berpandangan.

Tiara menunduk.

“Saya yang menyuruh beliau pergi.”

Aula mendadak sunyi.

Prof. Hendra tidak berkata apa-apa.

Tiara mulai menangis.

“Saya malu karena pakaian beliau lusuh.”

Kalimat itu keluar dengan susah payah.

“Saya bilang kepada teman-teman kalau ayah saya direktur di Dubai.”

Ia menutup wajah.

“Saya bahkan menjatuhkan bunga yang beliau bawa dan menyuruh beliau pulang.”

Tidak ada yang menertawakannya.

Justru keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan.

Prof. Hendra turun dari podium.

“Tiara.”

Tiara mengangkat wajah.

Rektor menatapnya dengan tenang.

“Saya mengenal ayahmu sekitar lima tahun.”

Tiara terisak.

“Beliau hampir tidak pernah membicarakan dirinya sendiri. Tetapi setiap bertemu saya, ada satu hal yang selalu beliau tanyakan.”

“Apa?”

“Bagaimana perkembangan Tiara?”

Tangis Tiara pecah.

Prof. Hendra melanjutkan, “Setiap kali mendapatkan laporan prestasimu, beliau menyimpannya. Fotokopi sertifikatmu ada di rumahnya. Nilaimu, artikel tentang lombamu, semua.”

Tiara tidak sanggup lagi berdiri.

Ia duduk sambil menangis.

“Pak… saya harus mencari Ayah.”

Prof. Hendra mengangguk.

“Pergilah.”

Tiara bahkan tidak menunggu namanya dipanggil sebagai lulusan terbaik.

Ia melepaskan topi toga lalu berlari keluar aula.

Hujan masih turun deras.

Ia mencari ke seluruh halaman kampus.

“Ayah!”

Tidak ada jawaban.

Tiara berlari menuju gerbang.

Satpam mengatakan melihat seorang pria tua berjalan ke arah halte sekitar dua puluh menit sebelumnya.

Tiara langsung memesan ojek daring.

Sepanjang perjalanan, tangannya gemetar.

Ia menelepon ayahnya berkali-kali.

Tidak diangkat.

Satu kali.

Lima kali.

Sepuluh kali.

Tidak ada jawaban.

Tiara semakin panik.

Ia meminta pengemudi menuju Pasar Induk Kramat Jati.

Ketika sampai, beberapa pedagang mengenalinya.

“Mbak Tiara?”

“Pak Joko ada?”

Seorang kuli bernama Bang Udin menggeleng.

“Belum balik.”

“Kalau bukan di sini, Ayah biasanya ke mana?”

Bang Udin berpikir.

Kemudian wajahnya berubah.

“Mungkin ke makam ibumu.”

Tiara langsung terdiam.

Ia tahu tempat itu.

TPU kecil di kawasan Jakarta Timur.

Setibanya di sana, hujan mulai mengecil menjadi gerimis.

Tiara berlari melewati deretan nisan dengan toga wisuda yang basah menempel di tubuhnya.

Dari kejauhan, ia melihat seseorang duduk di depan sebuah makam.

Pak Joko.

Punggungnya membungkuk.

Di tangannya terdapat sebuah foto lama.

Tiara mendekat perlahan.

Ia mendengar ayahnya berbicara.

“Maaf ya, Bu.”

Suara Pak Joko terdengar serak.

“Aku pikir hari ini kita berhasil.”

Tiara berhenti beberapa meter di belakangnya.

“Aku pikir anak kita akhirnya sampai di tempat yang dulu kita impikan.”

Pak Joko tertawa kecil, tetapi suaranya bergetar.

“Dia memang sudah sampai.”

Ia mengusap batu nisan.

“Mungkin aku saja yang tidak lagi cocok berada di dunianya.”

“Ayah!”

Pak Joko menoleh.

Wajahnya terkejut ketika melihat Tiara berdiri dengan toga basah dan mata sembap.

“Nak?”

Tiara berlari.

Ia langsung berlutut di tanah basah lalu memeluk kaki ayahnya.

“Ayah, maaf.”

Pak Joko diam.

“Ayah, maafkan Tiara.”

Tangisan Tiara semakin keras.

“Aku jahat, Yah. Aku bodoh. Aku malu kepada orang yang seharusnya paling kubanggakan.”

Pak Joko mencoba mengangkatnya.

“Bangun dulu. Bajumu kotor.”

Tiara justru memeluknya semakin erat.

“Aku tidak peduli.”

Pak Joko terdiam.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi bagi Tiara, itulah pertama kalinya dalam bertahun-tahun ia benar-benar mengatakannya dari hati.

“Aku sudah tahu semuanya,” katanya.

“Tahu apa?”

“Tanah Kakek. Uang lima puluh miliar. Beasiswa. Semua.”

Wajah Pak Joko berubah.

“Rektor bilang?”

Tiara mengangguk.

“Kenapa Ayah tidak pernah cerita?”

Pak Joko menatap makam istrinya.

“Untuk apa?”

“Lima puluh miliar, Yah.”

Pak Joko tersenyum tipis.

“Kalau Ayah bilang punya uang, apakah itu akan membuat Ayah lebih pantas menjadi ayahmu?”

Tiara terdiam.

Pak Joko menatapnya.

“Pagi tadi Ayah datang sebagai kuli panggul dengan baju lama. Sekarang setelah kamu tahu tentang uang itu, kamu datang mengejar Ayah.”

Tiara langsung menggeleng kuat.

“Bukan karena uang.”

“Lalu karena apa?”

Tiara menangis.

“Karena aku baru sadar orang seperti apa Ayah sebenarnya.”

Pak Joko menghela napas.

“Itulah masalahnya, Nak.”

Tiara menatapnya.

“Ayah tetap orang yang sama pagi tadi dan sekarang.”

Kalimat itu menghantam Tiara lebih keras daripada semua pengumuman rektor.

Pak Joko melanjutkan.

“Kalau seseorang baru dianggap berharga setelah diketahui punya uang, berarti yang dihargai bukan orangnya.”

Tiara menunduk.

“Ayah tidak marah kamu malu karena kita miskin. Ayah tahu hidup miskin memang berat.”

Suara Pak Joko semakin lembut.

“Tapi Ayah sedih karena pendidikan tinggi yang Ayah perjuangkan untukmu ternyata belum mengajarimu cara menghargai manusia.”

Tiara menangis tanpa suara.

Beberapa saat mereka hanya ditemani gerimis dan suara dedaunan.

“Ayah masih mau memaafkanku?”

Pak Joko tidak langsung menjawab.

Ia mengambil sesuatu dari kantong celananya.

Beberapa kuntum melati yang sudah rusak.

Tiara mengenalinya.

Ternyata ayahnya tidak membuang semuanya.

“Ayah ambil lagi?”

Pak Joko mengangguk.

“Setelah keluar gedung, Ayah balik sebentar.”

“Kenapa?”

“Karena Ayah ingat ibumu suka melati.”

Pak Joko meletakkannya di atas makam.

Tiara kembali menangis.

“Ayah tidak bisa menghapus apa yang kamu lakukan pagi tadi,” katanya. “Tapi manusia memang bisa salah.”

Ia memandang putrinya.

“Yang penting bukan seberapa keras kamu menangis setelah tahu kesalahanmu.”

Tiara menunggu.

“Yang penting apa yang kamu lakukan setelahnya.”

Beberapa minggu kemudian, Tiara mengambil keputusan yang mengejutkan teman-temannya.

Ia menolak tawaran pekerjaan bergaji tinggi dari sebuah perusahaan besar untuk sementara waktu dan memilih bergabung dengan yayasan pendidikan yang selama ini didukung ayahnya.

Bukan sebagai direktur.

Bukan sebagai wajah kampanye.

Ia meminta ditempatkan di bagian pendampingan mahasiswa penerima beasiswa.

Tiara juga kembali menemui seluruh teman kuliahnya.

Termasuk Amel.

“Aku mau minta maaf,” katanya.

Amel tersenyum kecil.

“Karena bohong soal ayahmu?”

Tiara mengangguk.

Amel terdiam sebentar.

“Kamu tahu, Ti, kami sebenarnya tidak pernah peduli ayahmu kerja apa.”

Tiara terkejut.

“Yang membuat kami kecewa bukan karena ayahmu kuli panggul.”

Amel menatapnya.

“Tapi karena kamu merasa harus menjadi orang lain supaya berteman dengan kami.”

Tiara menangis lagi hari itu.

Beberapa bulan kemudian, Universitas Cendrawasih membuka gedung perpustakaan baru hasil donasi yayasan.

Pihak kampus ingin menamainya Gedung Joko Santoso.

Pak Joko menolak.

Sebagai gantinya, ia meminta nama istrinya digunakan.

Perpustakaan Sri Wahyuni.

Pada hari peresmian, Pak Joko kembali datang dengan batik lama yang sama.

Jahitannya masih terlihat.

Sepatunya juga masih sederhana.

Bedanya, kali ini Tiara sudah menunggu di pintu masuk.

Di depan ratusan mahasiswa, dosen, pejabat universitas, dan kamera media, Tiara berjalan menghampiri ayahnya.

Ia menggenggam tangan kasar penuh kapalan itu.

“Ayah.”

Pak Joko tersenyum.

“Apa?”

“Kita foto bersama, ya.”

Pak Joko tertawa kecil.

“Sekarang tidak malu?”

Tiara menggeleng.

Matanya berkaca-kaca.

“Kalau dulu aku malu karena melihat pakaian Ayah, sekarang aku malu karena pernah tidak melihat pengorbanan di balik pakaian itu.”

Mereka berdiri di depan kamera.

Pak Joko mengenakan batik pudar.

Tiara mengenakan pakaian sederhana.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada cerita tentang direktur di Dubai.

Hanya seorang ayah dan putrinya.

Ketika fotografer meminta mereka tersenyum, Tiara memeluk lengan ayahnya erat.

Foto itu kemudian dipasang di dinding utama perpustakaan.

Di bawahnya hanya terdapat satu kalimat pilihan Pak Joko.

Harga seseorang tidak pernah ditentukan oleh pakaian yang ia kenakan, tetapi oleh kebaikan yang ia tinggalkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Dan bagi Tiara, gelar summa cum laude yang diterimanya pada hari wisuda bukan lagi pencapaian terbesar dalam hidupnya.

Pelajaran terbesar justru datang dari seorang kuli panggul berbatik lusuh yang pernah ia usir dari kampus.

Seorang lelaki yang tidak memiliki gelar apa pun di belakang namanya.

Namun telah mengajarinya arti pendidikan yang sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang