Namaku Nisa. Selama bertahun-tahun aku percaya bahwa kamera tidak pernah berbohong. Kamera selalu menangkap kenyataan. Setidaknya itulah yang diajarkan ibuku, seorang influencer terkenal yang hidup dari jutaan pasang mata yang mengaguminya setiap hari.
Di layar ponsel, kami terlihat seperti keluarga sempurna. Ibuku selalu tampil anggun dengan kulit mulus dan senyum hangat. Aku berdiri di sampingnya memakai pakaian yang serasi, tetapi hanya sedikit bagian wajahku yang masuk ke dalam bingkai. Setiap kali ada komentar yang membandingkan kami, ibuku hanya tertawa sambil berkata bahwa aku sedang berada di masa pubertas.

Begitu kamera dimatikan, senyum itu ikut menghilang.
“Kalau kamu lebih rajin merawat diri, Mama tidak perlu mengatur sudut kamera supaya wajahmu tidak terlalu kelihatan.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Aku mulai menghindari cermin. Aku berhenti berfoto bersama teman-teman sekolah. Bahkan ketika guru meminta kami membuat video kelompok, aku selalu memilih menjadi orang yang memegang kamera.
Ayahku sudah lama bercerai dengan Mama. Setelah perceraian itu, aku tinggal bersama Mama di Bandung. Ayah pindah ke Jakarta dan membangun hidup baru bersama seorang wanita bernama Lestari.
Mama selalu berkata kalau Ayah sudah melupakan aku.
“Ayahmu sibuk dengan keluarga barunya. Jangan berharap banyak.”
Aku mempercayainya.
Sampai suatu hari Mama berkata akan pergi ke Bali selama seminggu untuk membuat konten bersama timnya.
“Kamu tinggal saja dulu sama ayahmu. Mama lagi banyak kerjaan.”
Tidak ada pelukan.
Tidak ada ucapan hati-hati.
Aku hanya diberi koper kecil dan uang secukupnya.
Ketika tiba di rumah Ayah di Jakarta Selatan, yang membukakan pintu justru Lestari.
Dia mengenakan pakaian rumah sederhana dengan celemek yang masih penuh tepung karena sedang membuat roti.
“Kamu pasti Nisa. Masuk, Nak.”
Nada suaranya begitu tulus hingga membuatku bingung.
Di meja makan sudah tersedia makanan hangat.
Di kamarku sudah ada handuk baru, perlengkapan mandi, dan sebuah catatan kecil.
“Kalau ada yang kurang, bilang ya.”
Aku membaca catatan itu berkali-kali.
Tidak ada satu pun kalimat yang menyuruhku berubah agar lebih cantik.
Malam pertama di rumah itu aku menangis diam-diam.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena baru kali itu aku merasa diterima tanpa syarat.
Beberapa hari kemudian Lestari memperhatikanku sedang menggaruk pipi karena jerawat yang terasa nyeri.
“Sudah lama seperti ini?”
Aku mengangguk.
“Sakit?”
“Sakit.”
“Besok kita ke dokter kulit.”
Aku langsung menolak.
“Aku tidak mau ke klinik kecantikan.”
Lestari tersenyum pelan.
“Bukan supaya kamu cantik. Supaya kamu sehat.”
Kalimat sederhana itu membuatku terdiam.
Keesokan harinya kami pergi ke sebuah klinik spesialis kulit.
Dokter memeriksa wajahku cukup lama.
Beliau lalu bertanya tentang makanan, tidur, stres, hingga obat yang pernah kukonsumsi.
Ketika aku mengatakan bahwa setiap malam Mama memberiku minuman herbal khusus agar kulitku cepat bersih dan berat badanku turun, ekspresi dokter berubah serius.
“Masih ada minumannya?”
Aku menggeleng.
“Tapi saya meminumnya hampir dua tahun.”
Dokter meminta kami melakukan pemeriksaan darah.
Hasilnya keluar sore itu.
Beberapa nilai hormonnya tidak normal. Fungsi hatiku juga menunjukkan tanda-tanda pernah bekerja terlalu keras.
Dokter bertanya lagi.
“Apakah kamu sering dipaksa minum suplemen tertentu?”
Aku mengangguk pelan.
Mama selalu bilang minuman itu adalah produk premium yang sedang dipromosikannya.
Setiap kali aku mengeluh mual atau jantung berdebar, Mama berkata tubuhku sedang membuang racun.
Dokter menghela napas.
“Kalau boleh, kami ingin menguji salah satu produk itu.”
Lestari langsung menghubungi asisten rumah tangga lama yang masih bekerja di rumah Mama. Beruntung, masih ada beberapa botol tersisa.
Seminggu kemudian hasil laboratorium keluar.
Produk itu ternyata mengandung campuran bahan keras yang tidak tercantum pada label. Kandungan tersebut memang bisa membuat berat badan turun sementara, tetapi berisiko mengganggu hormon remaja jika dikonsumsi terus-menerus.
Dokter memandang Ayah dengan wajah prihatin.
“Kalau Nisa terlambat diperiksa, dampaknya bisa jauh lebih serius.”
Aku gemetar.
Aku baru sadar bahwa selama ini aku bukan sedang gagal menjadi cantik.
Tubuhku justru sedang berusaha bertahan.
Ayah memintaku menceritakan semua yang kuingat.
Aku akhirnya mengaku bahwa sebelum setiap sesi pemotretan, Mama selalu menyuruhku meminum cairan itu.
Katanya agar wajahku tidak terlalu bengkak di kamera.
Semakin banyak aku bercerita, semakin pucat wajah Ayah.
Lestari hanya menggenggam tanganku.
Tidak lama kemudian berita mengejutkan muncul.
Badan pengawas kesehatan mengumumkan sedang menyelidiki beberapa produk kecantikan yang dipromosikan influencer terkenal karena diduga mengandung bahan berbahaya.
Salah satu nama yang disebut adalah merek milik Mama.
Media langsung ramai.
Mama mengunggah video sambil menangis.
Dia mengaku menjadi korban produsen nakal.
Namun penyelidikan tidak berhenti.
Polisi menemukan percakapan antara Mama dan pemilik perusahaan.
Dalam percakapan itu terlihat jelas bahwa Mama mengetahui kandungan sebenarnya sejak awal.
Bahkan dia meminta dosis tertentu agar hasil penurunan berat badan pelanggan terlihat lebih cepat sehingga testimoni di media sosial menjadi viral.
Aku tidak percaya saat membaca berita itu.
Lebih menyakitkan lagi ketika penyidik menemukan bahwa sebagian besar video transformasi produk tersebut menggunakan diriku sebagai contoh.
Foto-fotoku ketika wajahku dipenuhi jerawat sengaja disimpan.
Mama mengambil gambar diam-diam setiap kali kondisiku memburuk.
Foto-foto itu kemudian dipakai sebagai materi promosi sebelum dan sesudah dengan model lain.
Penderitaanku ternyata bukan kecelakaan.
Itu adalah strategi pemasaran.
Aku merasa seluruh tubuhku mati rasa.
Orang yang seharusnya melindungiku justru menjadikan rasa sakitku sebagai alat mencari keuntungan.
Kasus itu berkembang semakin besar.
Ratusan konsumen melapor mengalami efek samping yang sama.
Beberapa remaja bahkan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Nama Mama yang dulu dipuja perlahan menghilang dari dunia maya.
Semua kontrak kerja dibatalkan.
Sponsor meninggalkannya.
Suatu sore, beberapa bulan setelah penyelidikan dimulai, Mama datang ke rumah Ayah.
Tidak ada kamera.
Tidak ada riasan mewah.
Tidak ada senyum yang biasa kulihat di media sosial.
Dia terlihat jauh lebih tua.
“Nisa… Mama cuma ingin bicara.”
Aku mempersilahkannya masuk.
Kami duduk berhadapan.
Untuk pertama kalinya, tidak ada ponsel di antara kami.
Dia menangis.
“Mama salah.”
Aku menatapnya lama.
Kalimat yang dulu sangat ingin kudengar akhirnya benar-benar keluar.
Anehnya, aku tidak merasa lega.
“Apa Mama pernah benar-benar melihat aku?”
Dia terdiam.
“Bukan melihat angka penonton. Bukan melihat komentar. Tapi melihat aku sebagai anak Mama.”
Tangisnya semakin keras.
Namun aku sudah tidak ikut menangis.
Ada luka yang bisa sembuh.
Ada juga luka yang meninggalkan bekas seumur hidup.
Aku memaafkannya, tetapi aku tidak bisa kembali menjadi anak yang selalu mengejar perhatian ibunya.
Setahun berlalu.
Perawatan rutin membuat kulitku jauh lebih sehat. Bekas jerawat memang masih ada, tetapi tidak lagi membuatku malu.
Aku mulai berani tampil di depan kelas.
Aku bahkan bergabung dengan komunitas remaja yang mendampingi korban perundungan akibat standar kecantikan di media sosial.
Suatu hari seorang siswi kelas tujuh menghampiriku setelah acara seminar.
“Kak, aku jelek ya?”
Aku tersenyum.
Pertanyaan itu terasa seperti mendengar diriku sendiri beberapa tahun lalu.
Aku menggeleng.
“Tidak. Kamu hanya hidup di dunia yang terlalu sering memakai filter.”
Dia ikut tersenyum.
Saat pulang, aku melihat Ayah dan Lestari menungguku di parkiran.
Lestari melambaikan tangan sambil membawa roti hangat buatannya.
Tanpa sadar aku berlari memeluknya.
Dulu aku berpikir keluarga adalah orang yang melahirkan kita.
Kini aku mengerti bahwa keluarga adalah orang yang tetap memilih tinggal ketika seluruh dunia sibuk menilai penampilan kita.
Hari itu aku akhirnya berani menatap bayanganku sendiri di kaca mobil.
Bekas jerawat itu masih ada.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak melihat seorang gadis yang gagal menjadi cantik.
Aku melihat seorang anak yang berhasil selamat. Dan ternyata, itulah wajah yang paling pantas untuk dibanggakan.
