Hujan turun tanpa ampun sejak sore, membasahi trotoar Jakarta yang tak pernah benar-benar sepi. Cahaya lampu kendaraan memantul di genangan air seperti serpihan kaca, sementara aroma kopi dari warung kecil di sudut jalan bercampur dengan bau aspal yang baru diguyur hujan. Alya menarik napas panjang sebelum menutup kios bunga tempatnya bekerja. Tangannya dingin, tetapi senyumnya tetap ia pertahankan untuk pelanggan terakhir yang membeli setangkai bunga lili putih.
Setelah pintu kios ditutup, ia memandangi sebuah liontin perak berbentuk bunga melati yang selalu tergantung di lehernya. Liontin itu adalah satu-satunya peninggalan ibunya yang meninggal ketika ia masih kecil. Sejak saat itu, Alya dibesarkan di panti asuhan dan belajar menerima kenyataan bahwa hidup tidak pernah berpihak pada orang yang tidak memiliki siapa-siapa.

Namun beberapa bulan terakhir, hidupnya terasa berbeda sejak mengenal Arga.
Arga muncul seperti seseorang yang dikirim semesta untuk menghapus semua luka yang pernah ia simpan. Ia bekerja sebagai konsultan properti, berpakaian rapi, pandai berbicara, dan selalu tahu cara membuat Alya tertawa. Mereka bertemu secara tidak sengaja ketika Arga membeli bunga untuk ulang tahun neneknya. Dari pertemuan sederhana itu, hubungan mereka berkembang dengan cepat.
Arga tidak pernah malu menggandeng tangan Alya di tempat umum. Ia memperkenalkannya kepada teman-temannya, mengajaknya makan malam sederhana, bahkan mulai berbicara tentang masa depan.
“Aku tidak peduli kamu berasal dari mana,” kata Arga suatu malam.
“Aku cuma takut suatu hari kamu berubah pikiran.”
Arga menggenggam tangan Alya.
“Kalau aku berubah, hujan akan turun dari bawah ke atas.”
Alya tertawa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia percaya bahwa kebahagiaan memang bisa menjadi miliknya.
Di sisi lain kota, Maya menjalani kehidupan yang tampak sempurna. Ia adalah seorang desainer interior yang berasal dari keluarga berada. Rumahnya besar, mobilnya mewah, dan pekerjaannya sering membawanya bertemu klien penting. Namun semua kemewahan itu tidak pernah membuatnya merasa cukup.
Ayahnya selalu menganggap kakak laki-lakinya lebih pantas menjadi penerus perusahaan keluarga. Apa pun yang Maya capai selalu dianggap biasa.
Ketika bertemu Arga dalam sebuah seminar bisnis, Maya merasa akhirnya ada seseorang yang menghargainya sebagai pribadi, bukan sebagai anak pengusaha.
Hubungan mereka dimulai perlahan.
Arga mendengarkan semua keluh kesah Maya tanpa menghakimi.
“Kamu berbeda,” kata Maya suatu malam.
“Dalam hal apa?”
“Semua orang melihat uang keluargaku. Kamu melihat aku.”
Arga hanya tersenyum.
Yang tidak diketahui Alya maupun Maya adalah satu hal.
Arga hidup dengan dua kehidupan.
Di siang hari ia menjadi pasangan yang penuh perhatian bagi Alya.
Di waktu lain ia menjadi kekasih yang sempurna bagi Maya.
Ia yakin semua akan berjalan lancar selama kedua dunia itu tidak pernah bertemu.
Namun kebohongan sebesar apa pun selalu meninggalkan jejak.
Suatu sore, Alya menemukan sebuah kuitansi hotel di saku jas Arga yang tertinggal di mobil.
Tanggalnya bertepatan dengan hari ketika Arga mengaku sedang dinas ke Surabaya.
Alya tidak langsung marah.
Ia hanya bertanya pelan.
“Mas, kamu benar-benar ke Surabaya minggu lalu?”
Arga menjawab tanpa ragu.
“Iya.”
“Kamu yakin?”
“Tentu.”
Alya tersenyum tipis sambil menyimpan kembali kuitansi itu ke tempat semula.
Malam itu ia tidak menangis.
Ia justru mulai mencari jawaban.
Beberapa hari kemudian, ia mengikuti Arga secara diam-diam.
Yang ia lihat membuat dadanya sesak.
Arga keluar dari sebuah restoran sambil menggandeng seorang perempuan cantik berambut pendek.
Perempuan itu tertawa, lalu merapikan kerah baju Arga dengan begitu akrab.
Alya berdiri di seberang jalan.
Hatinya terasa kosong.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak mendatangi mereka.
Ia hanya memotret kejadian itu lalu pulang.
Sementara itu, Maya juga mulai merasa ada sesuatu yang aneh.
Arga semakin sering membatalkan janji.
Teleponnya sulit dihubungi pada malam hari.
Suatu hari, tanpa sengaja Maya melihat notifikasi pesan di layar ponsel Arga.
Tertera nama perempuan yang tidak pernah ia dengar.
“Terima kasih sudah mengantarku pulang. Hati-hati ya.”
Arga buru-buru mengunci layar.
“Itu rekan kerja.”
Maya mengangguk, tetapi nalurinya berkata lain.
Beberapa minggu kemudian, Maya memutuskan menyewa seorang penyelidik pribadi.
Laporan yang diterimanya membuat wajahnya pucat.
Foto-foto Arga bersama perempuan lain memenuhi satu map.
Perempuan itu adalah Alya.
Awalnya Maya ingin mendatangi Alya dan melabraknya.
Namun setelah membaca laporan lengkap, ia terdiam.
Ternyata Alya sama sekali tidak tahu keberadaan Maya.
Mereka sama-sama ditipu.
Maya meminta bertemu Alya di sebuah kedai kopi.
Saat melihat perempuan sederhana itu masuk dengan wajah bingung, Maya sempat merasa marah.
Namun ketika mata mereka bertemu, kemarahan itu berubah menjadi iba.
“Kamu Alya?”
“Iya.”
“Aku Maya.”
Suasana menjadi sunyi.
Maya meletakkan semua foto di atas meja.
Alya mengeluarkan foto-foto miliknya sendiri.
Keduanya saling menatap.
Tanpa disadari, mereka mengucapkan kalimat yang sama.
“Jadi… kita berdua.”
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada saling menyalahkan.
Yang ada hanya dua perempuan yang sama-sama menyadari bahwa mereka telah mencintai pria yang sama.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Alya.
Maya tersenyum kecil.
“Kita beri dia kejutan.”
Seminggu kemudian Arga mengundang kedua perempuan itu ke pesta ulang tahunnya secara terpisah, dengan jadwal berbeda.
Ia tidak tahu bahwa Alya dan Maya sudah merencanakan sesuatu.
Ketika pesta berlangsung, Arga sedang memberikan pidato kepada teman-temannya.
Pintu aula terbuka.
Alya masuk dari sisi kanan.
Maya masuk dari sisi kiri.
Semua tamu menoleh.
Wajah Arga berubah pucat.
“Aku rasa kamu lupa memperkenalkan kami,” kata Maya sambil tersenyum.
Alya melanjutkan, “Atau mungkin kamu bingung harus mulai dari pacar yang mana.”
Ruangan mendadak sunyi.
Teman-teman Arga saling berpandangan.
Arga mencoba menjelaskan.
“Kalian salah paham.”
Maya mengangkat ponselnya.
Video, foto, dan percakapan ditampilkan di layar besar yang sebelumnya dipakai untuk presentasi ulang tahun.
Tidak ada lagi yang bisa disangkal.
Arga kehilangan semua kata.
Beberapa tamunya meninggalkan ruangan.
Rekan bisnis yang hadir hanya menggeleng kecewa.
Hari yang ingin ia jadikan perayaan berubah menjadi awal dari kehancuran reputasinya sendiri.
Beberapa bulan berlalu.
Alya memutuskan membuka toko bunga kecil dengan tabungan yang selama ini ia kumpulkan.
Maya menjadi investor pertamanya.
Mereka yang awalnya dipertemukan oleh pengkhianatan justru membangun persahabatan yang tidak pernah mereka bayangkan.
Suatu pagi, seorang perempuan tua datang membeli bunga.
Tatapannya terpaku pada liontin melati yang dikenakan Alya.
“Dari mana kamu mendapatkan liontin itu?”
“Ini peninggalan ibu saya.”
Perempuan itu gemetar.
Ia membuka dompet dan mengeluarkan foto lusuh yang memperlihatkan seorang wanita muda mengenakan liontin yang sama.
“Itu adik saya.”
Alya membeku.
Melalui percakapan panjang dan dokumen lama, akhirnya terungkap bahwa ibunya bukan sengaja meninggalkannya di panti asuhan. Bertahun-tahun lalu, ibunya menjadi korban kecelakaan besar dan kehilangan ingatan selama waktu yang lama. Saat berhasil kembali mencari putrinya, panti asuhan tempat Alya dulu tinggal sudah tutup, sementara semua arsip penghuninya hilang akibat banjir.
Selama lebih dari dua puluh tahun, ibu dan anak itu sebenarnya saling mencari tanpa pernah berhasil menemukan jejak satu sama lain. Kini sang ibu memang telah tiada, tetapi Alya akhirnya menemukan keluarga dari garis ibunya yang selama ini bahkan tidak tahu bahwa ia masih hidup.
Malam itu, setelah toko bunga tutup, Alya berdiri di depan etalase sambil memandangi hujan yang kembali turun.
Ia menyadari bahwa kehilangan tidak selalu menjadi akhir, sebagaimana pengkhianatan tidak selalu menghancurkan hidup seseorang. Kadang-kadang, jalan paling menyakitkan justru membawa seseorang menuju orang-orang yang benar-benar akan tinggal. Ia memang kehilangan seorang pria yang tidak pernah tulus mencintainya, tetapi sebagai gantinya ia menemukan seorang sahabat, sebuah keluarga, dan keberanian untuk mempercayai masa depan lagi.
Di luar, hujan masih turun membasahi kota. Kali ini, Alya tidak lagi merasa sendirian.
