Langkah Cika yang semula santai mendadak terasa berat ketika ia berdiri di depan pintu ruang Dokter Anton.
Entah kenapa, sejak rekan perawatnya menyampaikan panggilan itu, ada firasat aneh yang terus mengusik pikirannya.
Namun Cika segera menepisnya.
Paling-paling hanya soal jadwal jaga.
Ia mengetuk pintu dua kali.
“Masuk.”
Cika membuka pintu dengan senyum yang sudah dipersiapkan.
“Dokter Anton panggil saya?”
Namun senyumnya perlahan menghilang.
Di dalam ruangan itu ternyata bukan hanya ada Dokter Anton.
Kepala keperawatan, bagian HRD rumah sakit, dan dokter dari poli jiwa yang tadi sempat bertemu dengannya juga berada di sana.
Suasana ruangan terasa sangat serius.
“Silakan duduk, Suster Cika,” ujar Dokter Anton.
Cika menelan ludah.
“Memangnya ada apa, Dok?”
Dokter Anton tidak langsung menjawab. Ia menatap Cika cukup lama sebelum akhirnya mendorong sebuah tablet ke tengah meja.
“Coba kamu lihat.”
Di layar tablet itu terlihat rekaman CCTV koridor rumah sakit beberapa puluh menit sebelumnya.
Wajah Cika langsung pucat.
Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana ia menunjuk-nunjuk Rania, mengejek seorang pria tua, memanggil mereka orang gila, bahkan mengajak beberapa perawat lain untuk membawa keduanya secara paksa ke bangsal kejiwaan.
Suara memang tidak terlalu jelas, tetapi gestur dan situasinya sudah cukup menjelaskan banyak hal.
“Dok, saya bisa jelaskan.”
“Bagus,” potong Dokter Anton dingin. “Karena kami memang sedang menunggu penjelasanmu.”
Cika menarik napas.
“Perempuan itu mengaku dokter, padahal saya kenal dia. Namanya Rania. Setahu saya dia bukan dokter. Terus kakek-kakek yang bersamanya malah ngaku direktur rumah sakit. Saya cuma mencoba mencegah mereka menipu orang.”
Dokter dari poli jiwa yang duduk di sudut ruangan langsung mengusap wajahnya.
Ekspresinya terlihat sangat tidak nyaman.
“Suster Cika,” katanya pelan, “saya sudah menghubungi Bu Mitha.”
Cika menoleh cepat.
“Terus?”
“Dokter Rania memang dokter.”
Ruangan mendadak terasa hening.
Cika tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar dipaksakan.
“Dokter bercanda, ya?”
“Tidak.”
Dokter Anton membuka sebuah berkas.
“Rania Prameswari. Dokter spesialis anestesi yang sedang mengikuti program kerja sama klinis di rumah sakit kita. Beliau memang belum tercantum di beberapa papan jadwal karena administrasi penempatannya baru selesai minggu ini.”
Wajah Cika seketika kehilangan warna.
“Nggak mungkin.”
Kepala keperawatan menatapnya tajam.
“Data registrasi, surat penugasan, dan identitas profesinya lengkap.”
Cika menggeleng berkali-kali.
“Tapi saya kenal dia dari dulu. Dia nggak mungkin jadi dokter.”
“Kenapa tidak mungkin?” tanya Dokter Anton.
Pertanyaan sederhana itu justru membuat Cika terdiam.
Karena ia sendiri sebenarnya tidak mempunyai jawaban yang masuk akal.
Yang ia miliki hanya keyakinan.
Keyakinan bahwa Rania yang dulu hidup sederhana tidak mungkin bisa melampauinya.

Keyakinan bahwa perempuan yang pernah ditinggalkan Arya itu seharusnya tetap berada di bawahnya.
Dan keyakinan itulah yang selama ini membuatnya merasa bebas menghina Rania.
Dokter Anton kembali berbicara.
“Masalahnya bukan cuma kamu salah mengenali seorang dokter. Kamu juga mempermalukannya di depan umum, mencoba menahan orang tanpa pemeriksaan medis, dan yang lebih serius, memerintahkan staf lain membawa seseorang ke bangsal kejiwaan tanpa asesmen dokter.”
Cika mulai panik.
“Saya cuma salah paham, Dok.”
“Kamu juga menyebut seorang pasien atau bahkan orang yang kamu anggap pasien sebagai orang gila.”
Cika terdiam.
“Sebagai tenaga kesehatan, kamu seharusnya tahu betapa seriusnya ucapan seperti itu.”
“Tapi saya benar-benar mengira mereka berbahaya.”
Dokter Anton mengembuskan napas.
“Kalau begitu kamu seharusnya mengikuti prosedur. Bukan mengejek, mempermalukan, lalu menggunakan statusmu sebagai perawat untuk bertindak semaumu.”
Cika menunduk.
Beberapa detik kemudian ia kembali teringat sesuatu.
“Kalau Rania memang dokter, pria tua tadi siapa?”
Tak seorang pun langsung menjawab.
Justru karena itulah jantung Cika semakin berdebar.
Dokter Anton menutup berkas di depannya.
“Beliau benar-benar direktur rumah sakit ini.”
Cika mendadak berdiri.
“Apa?!”
“Duduk.”
Suara kepala keperawatan membuat lutut Cika seketika lemas.
“Pak Rahmat Santoso adalah direktur utama dari yayasan yang menaungi rumah sakit ini. Beliau memang jarang datang ke area pelayanan tanpa rombongan karena lebih banyak bekerja dari kantor pusat.”
Cika seperti kehilangan kemampuan bernapas.
Bayangan lelaki tua yang tadi ia ejek sebagai orang gila muncul kembali di kepalanya.
Ia bahkan sempat menertawakan dua pengawal lelaki itu dan menyebut mereka preman kompleks.
“Kenapa… kenapa beliau nggak bilang dari awal?”
Dokter Anton memandangnya heran.
“Bukankah beliau sudah mengatakannya?”
Cika bungkam.
Memang benar.
Pria itu sudah mengaku sebagai direktur.
Masalahnya, Cika tidak pernah memberi kesempatan kepada siapa pun untuk menjelaskan.
Ia sudah terlalu sibuk merasa paling benar.
“Mulai hari ini kamu dinonaktifkan sementara dari pelayanan sampai proses pemeriksaan internal selesai,” ujar kepala keperawatan.
Mata Cika membesar.
“Bu, jangan! Saya butuh pekerjaan ini.”
“Itu keputusan sementara.”
“Saya mau minta maaf.”
“Kamu boleh meminta maaf. Tetapi permintaan maaf tidak otomatis menghapus konsekuensi.”
Air mata mulai memenuhi mata Cika.
Untuk pertama kalinya hari itu, kesombongannya benar-benar runtuh.
Sementara itu, Rania sedang duduk di taman kecil belakang rumah sakit.
Ia baru saja menyelesaikan beberapa urusan administrasi ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Arya masuk.
Rania, kita harus bicara.
Rania menatap layar beberapa saat, lalu mematikan ponselnya.
Ia tidak tertarik.
Sudah terlalu lama hidupnya dikendalikan oleh opini Arya dan keluarganya.
Dulu, ketika mereka masih dekat, Arya memang tahu bahwa Rania ingin menjadi dokter.
Namun yang tidak pernah Arya tahu adalah betapa keras Rania memperjuangkan mimpi itu setelah hubungan mereka kandas.
Rania pernah bekerja malam sambil kuliah.
Ia mendapatkan beasiswa.
Ia mengajar les.
Ia bahkan pernah hanya tidur tiga atau empat jam sehari selama masa pendidikan klinis.
Tidak ada yang mudah.
Karena itulah ia hampir tertawa ketika Cika mengatakan bahwa dirinya tidak cukup pintar untuk masuk fakultas kedokteran.
Orang lain hanya melihat hasil.
Jarang ada yang mau memahami harga yang harus dibayar seseorang untuk mencapainya.
“Dokter Rania.”
Rania menoleh.
Pak Direktur berjalan mendekatinya. Kali ini tanpa pengawal.
“Pak?”
“Saya dengar masalah tadi sudah ditangani.”
Rania mengangguk.
“Dokter Anton sudah menghubungi saya.”
Pak Direktur duduk di bangku di sampingnya.
“Saya minta maaf. Kejadian seperti itu seharusnya tidak terjadi di rumah sakit kita.”
“Bukan salah Bapak.”
“Sebagai pimpinan, tetap menjadi tanggung jawab saya.”
Rania tersenyum tipis.
“Saya cuma berharap Cika belajar dari kejadian ini.”
Pak Direktur menatapnya.
“Setelah semua yang dia lakukan, kamu masih memikirkan itu?”
“Saya tidak bilang dia tidak perlu menerima konsekuensi.”
Rania memandang pepohonan di depan mereka.
“Tapi kehilangan pekerjaan bukan bagian yang paling penting. Kalau dia tetap merasa selalu benar dan terus merendahkan orang, di tempat kerja berikutnya dia akan melakukan hal yang sama.”
Pak Direktur tersenyum.
“Saya semakin mengerti kenapa Pak Arnold begitu merekomendasikan kamu.”
Belum sempat Rania menjawab, ponselnya kembali bergetar.
Kali ini panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
Ia mengangkatnya.
“Halo?”
“Dokter Rania?”
“Iya.”
“Selamat sore, Dok. Saya Letnan Arif dari bagian administrasi satuan. Saya ingin mengonfirmasi dokumen yang dikirimkan atas nama Saudara Arya Pratama.”
Dahi Rania mengernyit.
“Dokumen apa?”
“Di salah satu berkas pengajuan pernikahan tercantum nama Anda sebagai pihak yang pernah memiliki ikatan resmi dengannya.”
Rania langsung berdiri.
“Apa?”
Pak Direktur menatapnya heran.
Rania menjauh beberapa langkah.
“Maaf, Pak. Saya nggak pernah menikah atau bertunangan secara resmi dengan Arya.”
Pihak di seberang terdiam.
“Berarti Anda juga tidak pernah menandatangani surat pernyataan pemutusan pertunangan?”
“Tidak pernah.”
Nada suara lelaki itu langsung berubah serius.
“Baik, Dok. Terima kasih atas konfirmasinya.”
Telepon ditutup.
Rania masih berdiri mematung.
Baru sekarang ia memahami alasan Arya datang ke rumah sakit membawa berkas dan kenapa Cika begitu bersemangat membantunya.
Ternyata ada masalah administrasi yang jauh lebih besar.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Arya sedang berada di area parkir ketika dua anggota Polisi Militer menghampirinya.
“Saudara Arya Pratama?”
Arya menoleh.
“Iya?”
“Kami perlu klarifikasi terkait berkas yang Anda ajukan.”
Wajah Arya berubah.
“Berkas apa?”
“Salah satu tanda tangan dalam dokumen Anda terindikasi tidak sesuai.”
Arya langsung teringat kepada Rania.
Darahnya seolah berhenti mengalir.
Beberapa bulan sebelumnya, karena tidak ingin proses pernikahannya dengan Cika terhambat, Arya memang menyertakan sebuah dokumen lama yang sudah dimodifikasi.
Ia mengira itu hanya formalitas.
Ia tidak pernah membayangkan seseorang akan benar-benar memeriksanya.
Di saat itulah Cika keluar dari gedung dengan mata sembap.
Begitu melihat Arya bersama dua anggota Polisi Militer, langkahnya langsung terhenti.
“Mas?”
Arya menatapnya.
“Kamu bilang berkasnya aman.”
Cika terkejut.
“Memangnya kenapa?”
“Salah satu tanda tangannya diperiksa.”
Wajah Cika langsung pucat.
Beberapa minggu lalu, Arya memang pernah meminta bantuannya mencetak dan melengkapi beberapa dokumen.
Cika bahkan dengan percaya diri mengatakan bahwa tidak akan ada seorang pun yang mengecek detailnya.
Sekarang semuanya berbalik menghantam mereka.
“Mas, aku cuma bantu…”
“Saudari juga ikut dengan kami untuk dimintai keterangan,” ujar salah satu petugas.
Cika menatap Arya.
“Mas…”
Namun lelaki yang tadi masih memanggilnya sayang itu kini bahkan tidak berani menatap matanya.
Dari lantai dua rumah sakit, Rania kebetulan melihat mereka dibawa pergi untuk klarifikasi.
Tidak ada rasa puas di wajahnya.
Hanya keheningan.
Dokter dari poli jiwa yang berdiri di sampingnya berkata pelan, “Saya benar-benar minta maaf soal tadi, Dok. Saya hampir percaya pada mereka.”
Rania tersenyum tipis.
“Nggak apa-apa, Dok. Yang penting lain kali jangan menilai kondisi mental seseorang hanya berdasarkan omongan orang.”
Dokter itu mengangguk malu.
Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan internal rumah sakit keluar.
Cika mendapatkan sanksi berat dan diwajibkan mengikuti evaluasi etik sebelum dapat kembali bekerja di bidang pelayanan.
Sementara perkara dokumen Arya diteruskan ke pihak yang berwenang untuk diperiksa lebih lanjut.
Rania tidak pernah mencari tahu bagaimana akhirnya hubungan Arya dan Cika.
Ia tidak lagi peduli.
Sebulan setelah kejadian itu, Rania resmi menerima penempatan permanen di rumah sakit tersebut.
Pada hari pertamanya sebagai dokter tetap, sebuah papan nama baru dipasang di depan ruangannya.
Dr. Rania Prameswari.
Rania berdiri cukup lama memandangi namanya sendiri.
Bukan karena gelar itu membuatnya merasa lebih tinggi daripada siapa pun.
Justru karena hanya dirinya yang tahu perjalanan panjang di balik dua huruf sederhana di depan namanya.
Tangis ibunya ketika ia diterima kuliah.
Malam-malam panjang belajar dengan mata merah.
Rasa lapar yang pernah ia tahan demi menghemat uang.
Kegagalan.
Penolakan.
Dan orang-orang yang berkali-kali mengatakan bahwa mimpinya terlalu tinggi.
Pak Direktur kebetulan lewat dan berhenti di sampingnya.
“Bagaimana rasanya?”
Rania tersenyum.
“Seperti akhirnya sampai di tempat yang dulu cuma bisa saya bayangkan.”
Pak Direktur mengangguk.
“Jangan terlalu lama berdiri. Pasien pertama kamu sudah menunggu.”
Rania tertawa kecil.
“Siap, Pak.”
Ia membuka pintu ruangannya.
Namun sebelum masuk, Rania menoleh sekali lagi ke papan nama itu.
Hari itu ia akhirnya memahami sesuatu.
Tidak semua penghinaan harus dibalas dengan kemarahan.
Kadang, jawaban terbaik adalah terus berjalan sampai hidup sendiri yang membuktikan siapa diri kita sebenarnya.
Dan orang-orang yang pernah meremehkan kita?
Cepat atau lambat, mereka akan bertemu dengan kenyataan yang selama ini terlalu sombong untuk mereka percaya.
