Dua pengemis cilik menghampiri mejaku dan dengan polos bertanya

Dunia seakan berhenti berputar. Di tengah hiruk-pikuk restoran mewah itu, pelukan kami menjadi satu-satunya poros yang nyata. Lucas dan Leo, anak-anak yang selama lima tahun hanya bisa kupeluk dalam mimpi, kini berada dalam dekapanku—meski tubuh mereka terasa sangat kurus, tulang-tulang mereka menonjol di balik baju yang sudah koyak.

“Ma… Mama?” Leo terisak, suaranya parau. “Apakah kami sudah mati? Apakah ini surga?”

Pertanyaan itu menghunjam jantungku lebih dalam daripada pisau mana pun. Mereka tidak lagi mengenali konsep kasih sayang, mereka hanya mengenal kelaparan dan penderitaan. Aku melepaskan pelukan, menatap wajah mereka yang penuh noda debu dan luka lebam. “Tidak, Sayang. Kalian hidup. Dan mulai detik ini, Mama tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kalian lagi.”

Aku segera memanggil pelayan, mengabaikan tatapan sinis dan jijik dari pengunjung lain. Tanpa memedulikan statusku sebagai CEO yang selalu menjaga citra, aku membungkus mereka dengan jas mahalku dan segera membawa mereka masuk ke dalam mobil limusin pribadiku.

Di dalam mobil, saat mereka melahap makanan dengan rakus—seperti hewan yang sudah berhari-hari tidak makan—aku mulai mengorek informasi. Luka di tubuh mereka bukan sekadar bekas terjatuh. Itu adalah bekas cambukan dan sundutan rokok.

“Siapa yang membawa kalian dari mobil pengasuh?” tanyaku lembut, berusaha menahan amarah yang mendidih di dadaku.

Lucas, yang lebih berani, menunduk. “Lelaki dengan bekas luka di mata kiri. Dia menyebut dirinya ‘Tuan Besar’. Kami tinggal di bawah jembatan, di sebuah gudang tua bersama anak-anak lain. Kalau kami tidak membawa uang hasil mengemis, mereka tidak memberi makan.”

Nama itu—Tuan Besar—terpatri di ingatanku. Aku tahu siapa dia. Itu adalah kelompok sindikat perdagangan manusia yang selama ini selalu lolos dari kejaran polisi karena dilindungi oleh tangan-tangan “berkuasa” di pemerintahan. Dan aku, selama ini, secara tidak langsung telah mendanai kelompok itu melalui pajak dan investasi perusahaan yang kuanggap bersih.

Kemarahanku berubah menjadi rencana yang dingin dan mematikan.

Setelah membawa mereka ke rumah sakit swasta milik Imperial Group, aku memastikan mereka dalam kondisi stabil. Namun, saat mereka tertidur pulas dalam kenyamanan ranjang sutra, aku berubah menjadi sosok yang berbeda. Aku tidak lagi Madam Olivia yang dermawan; aku adalah badai yang siap menghancurkan.

Aku memanggil kepala keamanan pribadiku, seorang pensiunan agen intelijen yang paling setia. “Hancurkan sindikat gudang tua di sektor utara malam ini. Jangan tinggalkan jejak, tapi pastikan pemimpinnya tetap hidup. Bawa dia ke ruang bawah tanah pribadiku.”

“Bagaimana dengan pihak kepolisian, Nyonya?”

“Beli mereka,” jawabku dingin. “Beli semua yang bisa dibeli. Jika mereka tidak bisa dibeli, hancurkan reputasi mereka. Gunakan semua data korupsi yang selama ini kita kumpulkan sebagai senjata.”

Dalam dua minggu berikutnya, kerajaan bisnisku yang selama ini berfokus pada kemajuan ekonomi, mendadak berubah menjadi mesin perang. Aku menggunakan dana miliaran untuk memutus jalur distribusi sindikat tersebut. Aku membeli setiap properti di sekitar gudang mereka, mengisolasi setiap titik pelarian.

Puncaknya terjadi pada malam Jumat. Aku berdiri di depan seorang pria yang terikat di kursi besi di ruang bawah tanahku. Itu adalah orang yang sama yang merenggut anak-anakku. Wajahnya babak belur, ketakutan luar biasa terpancar dari matanya saat melihatku masuk dengan gaun hitam sempurna, tampak seperti malaikat maut.

“Siapa kau?” rintihnya.

Aku mendekat, membisikkan sesuatu di telinganya. “Aku adalah orang yang membayar mahal untuk kebahagiaan anak-anakku. Dan kau, kau adalah tiket untuk kejatuhan semua orang yang membiarkanmu melakukan ini.”

Aku tidak langsung membunuhnya. Itu terlalu mudah. Aku menghancurkan hidupnya secara sistematis. Aku mengungkap seluruh jaringannya ke media, menyeret nama-nama besar pejabat tinggi yang melindunginya, dan membuat namanya menjadi buronan paling dicari di seluruh negeri.

Saat aku berdiri di balkon kantor pusat Imperial Group, melihat berita di layar raksasa tentang penangkapan besar-besaran sindikat tersebut dan pengunduran diri para pejabat korup, aku merasakan kepuasan yang dingin.

Anak-anakku kini aman. Mereka perlahan mulai pulih, meski trauma itu akan membekas selamanya. Namun, saat aku melihat mereka tertawa di taman rumah, aku tahu satu hal: Dunia ini terlalu kejam untuk mereka, dan aku adalah satu-satunya pelindung yang akan memastikan tidak ada lagi predator yang berani menatap mereka dengan niat jahat.

Balas dendamku bukan hanya tentang keadilan; ini tentang memastikan bahwa Imperial Group bukan lagi hanya sekadar kerajaan bisnis, melainkan sebuah benteng yang tak tertembus bagi mereka yang kucintai. Aku telah menjadi monster agar anak-anakku bisa tetap menjadi malaikat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang