Dunia terasa berputar hebat. Kalimat “Terima kasih sudah menjaga tunanganku untukku” yang diucapkan Vivian dari balik kaca seolah menjadi belati yang menusuk tepat ke jantungku.
Aku merasa oksigen di ruangan itu menipis. Caleb, yang menyadari perubahan wajahku, segera mencengkeram lenganku dengan erat.

—Luna, jangan tunjukkan kelemahanmu di depan mereka. Ingat, kau adalah adik Caleb Santos. Kita mungkin bawahan mereka, tapi kita punya harga diri.
Namun, harga diri terasa tidak berarti saat aku melihat Shen Ke perlahan melepaskan rangkulan Vivian, namun tidak dengan cara yang kasar. Itu adalah keintiman yang terbiasa.
Mereka berdua berjalan masuk ke restoran. Langkah kaki Vivian yang elegan bergema di lantai marmer, seirama dengan detak jantungku yang kacau. Saat mereka sampai di meja kami, Shen Ke tidak menatapku. Tatapannya tertuju pada menu, seolah-olah apa yang terjadi di kamar hotel tadi malam hanyalah sebuah insiden yang sudah dia hapus dari memorinya.
—Caleb, —suara Shen Ke berat dan memerintah, —bawa adikmu pulang. Aku ada urusan bisnis dengan Vivian.
Caleb tampak lega karena bisa keluar dari situasi ini, namun aku tidak bisa bergerak.
—Tunggu, —ucapku pelan, namun cukup untuk membuat langkah Vivian terhenti.
Aku berdiri, menatap Shen Ke tepat di matanya. Pria yang tadi malam berbisik di telingaku dengan suara yang penuh gairah dan kerinduan, pria yang merupakan “Ace” di balik layar ponselku, kini berdiri di sana dengan topeng sedingin es.
—Tadi malam, —suaraku bergetar namun tegas, —kau bilang itu sebuah kesalahan.
Shen Ke memutar tubuhnya perlahan. Matanya menyipit, tajam seperti pisau.
—Memang. Dan sebaiknya kau melupakannya sebelum kau kehilangan lebih dari sekadar martabatmu, Luna.
Vivian tertawa kecil, suara yang terdengar sangat manis namun beracun. Dia mendekat ke arahku, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa kudengar:
—Dia tidak membiarkan siapa pun menyentuh “miliknya”, kecuali untuk urusan tertentu. Kau hanya hiburan saat dia sedang bosan dengan rutinitasnya sebagai tunanganku. Jangan terlalu percaya diri dengan panggilan “sayang” di telepon itu.
Dunia seakan runtuh. Jadi, selama ini, akulah yang menjadi selingan? Akulah yang menjadi objek pelarian saat dia lelah berpura-pura di depan tunangannya?
Caleb menarik tanganku dengan kasar untuk mengajakku pergi, tapi aku menepisnya. Aku mengeluarkan ponselku dari tas. Aku membuka aplikasi pesan tempatku dan Ace menghabiskan ribuan kata selama setahun terakhir.
Aku menatap Shen Ke.
—Jadi, selama setahun ini, setiap kata yang kau ketik, setiap cerita tentang betapa kau ingin menikahiku… itu semua adalah bagian dari “hiburan” saat kau bosan?
Shen Ke terdiam. Untuk pertama kalinya, aku melihat keraguan di matanya—hanya sepersekian detik sebelum dia kembali menjadi pria tak berperasaan itu.
—Anggap saja begitu.
Aku menatapnya dengan tatapan yang dia tidak akan pernah lupakan. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku menghapus aplikasi itu tepat di depannya. Aku mematikan ponselku, meletakkannya di atas meja restoran, tepat di depan piringnya.
—Aku bukan orang yang bisa kau jadikan pelarian, Shen Ke. Dan soal tunanganmu… selamat untuk kalian. Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Sama-sama beracun.
Aku berbalik dan berjalan keluar dari restoran, meninggalkan Caleb yang terbengong-bengong di belakang, dan meninggalkan Shen Ke yang untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak bisa membalas satu kata pun.
Malam itu, di Manila, aku tidak hanya kehilangan pria yang kucintai secara daring. Aku kehilangan kepolosanku. Dan di saat yang sama, aku bersumpah dalam hati: aku akan membuat pria itu menyesal karena telah menganggap perasaanku sebagai kesalahan.
Apakah ini akhir dari segalanya, atau justru awal dari sebuah pembalasan yang manis?
