Suasana di lorong itu seolah membeku. Manajer HR dan manajer departemen yang tadi berdiri dengan angkuh di samping Bianca kini tampak gelisah. Keringat dingin mulai membasahi pelipis mereka.
Bianca, yang tidak menyadari perubahan aura Rafael, masih mencoba memasang wajah manis. Dia melangkah maju, mencoba menyentuh lengan Rafael. “Rafael, wanita ini sangat ceroboh. Dia menjatuhkan semua hadiah perusahaan dan…”
PLAK!
Suara itu bergema tajam di koridor yang sunyi. Rafael menepis tangan Bianca dengan kasar, hampir membuatnya terjatuh.

Rafael bahkan tidak melirik Bianca. Dia berlutut di hadapan saya—mengabaikan lantai yang kotor dan sisa pecahan kaca—lalu meraih tangan saya dengan sangat hati-hati, seolah tangan saya adalah barang pecah belah yang paling berharga di dunia.
“Aku bertanya sekali lagi,” ucap Rafael dengan nada dingin yang membuat siapa pun yang mendengarnya gemetar. “Siapa yang membuat istriku terluka?”
Kata “istriku” mengguncang seluruh lorong.
Manajer departemen saya, yang tadinya bersandar angkuh, kini lututnya gemetar hingga dia jatuh terduduk di lantai. Staf HR menunduk dalam-dalam, wajahnya sepucat kertas. Bianca ternganga, matanya membelalak tak percaya.
“I-istri?” gumam Bianca lirih, wajahnya yang penuh riasan mahal kini kehilangan kilaunya.
Saya menarik tangan saya pelan dari genggaman Rafael, meskipun dia enggan melepaskannya. Saya menatapnya—pria yang selama tiga tahun ini saya pikir saya kenal dengan baik, pria yang kini memancarkan aura otoritas yang begitu asing sekaligus mengerikan.
“Apakah ini bagian dari kejutan yang kamu bicarakan, Rafael?” tanya saya, suara saya datar namun tajam.
Rafael menatap mata saya, menyadari ada kekecewaan yang dalam di sana. “Maya, ini tidak seperti yang kamu lihat—”
“Tidak seperti yang kulihat?” Saya memotong kalimatnya. Saya menunjuk ke arah pecahan kaca, ke arah kardus-kardus barang milik saya yang berserakan, dan ke arah surat mutasi yang masih tergeletak di lantai. “Aku dicoret dari bonus karena dianggap ‘tidak lolos evaluasi’, dipindahkan ke sebelah kamar mandi, dan dihina oleh orang-orang yang mengklaim bahwa wanita lain adalah ‘pemilik’ perusahaan ini.”
Rafael berdiri tegak. Tubuhnya yang tinggi menjulang menutupi cahaya lampu koridor, menciptakan bayangan gelap yang menakutkan di atas Bianca.
Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon asisten pribadinya dengan suara yang dingin dan mutlak.
“Batalkan seluruh kontrak kerja Bianca dela Cruz dalam waktu lima menit. Pastikan dia tidak pernah bisa bekerja di industri ini lagi. Dan untuk departemen HR serta manajer departemen… pastikan mereka menerima surat pemecatan dengan alasan pelanggaran berat dan penindasan di tempat kerja.”
“Rafael! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku…” teriak Bianca histeris, tapi dua petugas keamanan sudah menarik lengannya dengan paksa.
Rafael kembali menatap saya. Dia mencoba meraih tangan saya lagi, tapi saya mundur selangkah.
“Maya, aku bersumpah, aku tidak tahu tentang apa yang terjadi selama aku pergi. Aku terlalu fokus mengamankan aset perusahaan agar kita bisa segera hidup lebih tenang tanpa harus menyembunyikan status kita lagi.”
Saya menatapnya, lalu menatap kerumunan karyawan yang masih mematung di sana.
“Rafael,” bisik saya pelan. “Tiga tahun aku bertahan di sini sebagai Maya Santos—pekerja keras yang berusaha meraih semuanya dengan usahanya sendiri. Tapi hari ini, kamu membuktikan bahwa usahaku tidak ada artinya di hadapan kekuasaanmu.”
Saya melepaskan cincin pernikahan yang selama ini saya simpan di saku dalam tas saya. Saya meletakkannya di telapak tangannya yang terbuka.
“Aku tidak ingin menjadi ‘wanita di sisi CEO’. Aku hanya ingin menjadi istri yang kamu hargai.”
Saya berbalik meninggalkan lorong itu. Rafael tidak mengejar. Dia mematung, menatap cincin di tangannya, sementara suara bisik-bisik karyawan mulai memenuhi ruangan—sebuah skandal yang akan menghancurkan citra perusahaan malam ini juga.
Saya berjalan keluar dari kantor itu, menuju lift, menyadari bahwa hidup saya tidak akan pernah sama lagi. Apakah ini akhir dari pernikahan kami, atau justru awal dari perang yang sebenarnya?
