Rina menatap nama yang tercetak pada lembar kedua itu berkali-kali, seolah berharap huruf-huruf di hadapannya akan berubah jika ia cukup lama memandanginya.
Salsabila Burhanuddin.
Di bawah nama itu tercantum keterangan yang membuat napasnya tercekat.
Anak kandung perempuan Pak Haji Burhan.
Rina perlahan mengangkat wajah. Perempuan muda berbaju merah yang berdiri di dekat tempat tidur tampak pucat. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak berusaha menyangkal.
“Anak kandung?” suara Lina terdengar hampir seperti bisikan. “Katanya kau tidak pernah punya anak.”
Pak Haji Burhan bangkit dari tempat tidur.
“Letakkan kertas itu.”
“Jawab dulu!” Lina membentak untuk pertama kalinya sejak mereka menikah. “Siapa perempuan ini?”
“Namaku Salsa,” perempuan muda itu akhirnya berkata. “Dan benar, aku anaknya.”
Rina merasa dadanya dihantam sesuatu yang berat.
Selama berbulan-bulan mereka dibuat percaya bahwa lelaki itu mendambakan seorang anak. Mereka bahkan membiarkan hubungan persaudaraan yang bertahan hampir setengah abad berubah menjadi persaingan hanya demi memenuhi keinginan tersebut.
Kini ternyata ia telah memiliki anak selama ini.
“Kalau dia anakmu, kenapa hasil pemeriksaan ini mengatakan kau hampir tidak mungkin memiliki keturunan?” tanya Rina.
Salsa menatap ayahnya sebelum menjawab.
“Karena pemeriksaan itu dilakukan setelah aku lahir.”
Kamar mendadak sunyi.
Pak Haji Burhan memejamkan mata sesaat, seolah menyadari bahwa rahasia yang disimpannya selama bertahun-tahun tidak mungkin lagi ditutup.
Salsa lahir dua puluh enam tahun lalu dari pernikahan pertama Burhan dengan seorang perempuan bernama Rahmawati. Namun ketika Salsa baru berusia empat tahun, hubungan kedua orang tuanya memburuk. Rahmawati membawa putrinya pindah ke Makassar dan memutus hampir seluruh hubungan dengan keluarga Burhan.
Bertahun-tahun kemudian, Rahmawati meninggal karena sakit.
Salsa yang telah dewasa kembali mencari ayahnya.
“Tapi kenapa disembunyikan?” Lina bertanya.
Kali ini Burhan menjawab.
“Karena keluargaku tidak pernah mengakui Salsa.”
Rina mengerutkan kening.
Burhan kemudian membuka rahasia lain yang selama ini bahkan tidak diketahui sebagian besar warga desa.
Sebagian besar tanah, tambak, kebun kelapa, dan rumah besar yang mereka tempati ternyata bukan sepenuhnya milik pribadi Burhan. Harta tersebut berasal dari warisan keluarga besar yang pengelolaannya diberikan kepadanya.
Ayah Burhan meninggalkan surat wasiat yang mengutamakan keturunan laki-laki sebagai penerus pengelolaan usaha keluarga.
Salsa dianggap tidak memenuhi keinginan keluarga tersebut.
“Jadi kau menikahi kami untuk mendapatkan anak laki-laki?” tanya Lina.
Burhan diam.
“Padahal kau tahu kemungkinan itu hampir tidak ada?”
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
Rina mulai memahami sesuatu.
Bukan cinta yang membawa lelaki itu datang ke rumah kayu mereka.
Bukan pula sekadar keinginan memiliki keluarga.
Ia sedang dikejar waktu.
Beberapa bulan sebelumnya, saudara-saudara Burhan mulai mempertanyakan pengelolaan aset keluarga. Jika Burhan meninggal tanpa penerus yang dianggap sah menurut kesepakatan lama keluarga, sebagian besar aset akan kembali dibagi kepada kerabat lainnya.
Burhan takut kehilangan semuanya.
Karena itulah ia membuat rencana nekat.
Ia mencari perempuan yang dianggap membutuhkan uang, tidak memiliki anak, dan mudah dipengaruhi dengan janji kehidupan nyaman.
Rina dan Lina adalah pilihan sempurna.
“Tapi tetap tidak masuk akal,” kata Rina. “Kalau kau tahu hampir mustahil membuat kami hamil, untuk apa semua ini?”
Wajah Salsa berubah.
“Ayah, katakan semuanya.”
Burhan menatap putrinya tajam.
“Diam.”
Salsa justru mengambil satu dokumen lain dari dalam map.
“Lebih baik mereka tahu sekarang.”
Ia menyerahkannya kepada Rina.
Dokumen itu bukan hasil pemeriksaan kesehatan.
Itu rancangan perjanjian warisan.
Rina membaca perlahan.
Semakin jauh ia membaca, semakin dingin tubuhnya.
Dalam rancangan tersebut terdapat skenario bahwa jika salah satu istri Burhan melahirkan anak selama masih terikat pernikahan dengannya, anak tersebut akan diakui sebagai ahli waris keluarga tanpa pemeriksaan lebih jauh mengenai hubungan biologis.
Lina membutuhkan beberapa detik untuk memahami maksudnya.
Ketika akhirnya mengerti, wajahnya berubah penuh jijik.
“Jadi kalau salah satu dari kami hamil…”
Burhan menunduk.
“…kau tidak peduli anak siapa sebenarnya?”
Tidak ada jawaban.

Itulah rencana sebenarnya.
Burhan mengetahui dirinya hampir tidak mungkin memiliki anak lagi. Namun ia membutuhkan seorang bayi laki-laki yang secara administratif dapat disebut sebagai anaknya.
Ia sengaja menciptakan persaingan antara Rina dan Lina.
Ia memberikan uang, perhatian, dan janji warisan. Pada tahap berikutnya, Burhan berencana membuat keduanya semakin putus asa dengan berbagai pengobatan kesuburan.
Jika suatu hari salah satu dari mereka mencari jalan lain untuk hamil, Burhan berniat menutup mata.
Yang ia butuhkan bukan darahnya sendiri.
Ia membutuhkan nama seorang anak laki-laki di atas dokumen.
Lina terduduk di tepi kursi.
Air matanya jatuh.
Bukan karena kehilangan kesempatan menjadi kaya.
Ia menangis karena baru menyadari betapa mudahnya dirinya membiarkan keserakahan merusak hubungan dengan orang yang paling mencintainya.
“Aku sampai berharap Kak Rina gagal,” katanya lirih.
Rina menatap saudara kembarnya.
“Aku juga.”
Untuk beberapa saat keduanya hanya saling memandang.
Hampir lima puluh tahun mereka berbagi makanan, pakaian, kesedihan, bahkan luka akibat pernikahan pertama mereka.
Namun hanya dalam beberapa bulan, seorang lelaki berhasil membuat mereka saling berharap buruk.
Rina menggenggam tangan Lina.
“Kita pulang.”
Burhan langsung berdiri.
“Kalian mau ke mana?”
“Ke rumah kami.”
Burhan tertawa pendek.
“Rumah reyot itu?”
Rina berhenti di depan pintu.
“Rumah itu bocor ketika hujan. Dindingnya hampir roboh. Kami harus bekerja dari subuh untuk makan.”
Ia menatap Burhan tepat di mata.
“Tapi di sana kami tidak pernah menjual saudara sendiri demi warisan.”
Kalimat itu membuat Burhan terdiam.
Rina dan Lina kembali ke kamar mereka. Tidak sampai tiga puluh menit, pakaian mereka telah dimasukkan ke dalam dua tas.
Saat mereka turun, Salsa menunggu di ruang tengah.
“Tunggu.”
Rina berhenti.
“Aku harus mengatakan sesuatu.”
Salsa menjelaskan bahwa ia datang malam itu bukan untuk menjalin hubungan terlarang dengan ayahnya seperti yang semula mereka kira. Gaun merah yang dikenakannya merupakan pakaian yang baru dibelinya untuk menghadiri pesta ulang tahun temannya di Makassar. Burhan memanggilnya mendadak karena ingin membicarakan pembagian aset.
Botol di meja juga bukan minuman keras, melainkan minuman herbal impor yang dibawa Salsa.
Ia sengaja meninggalkan dokumen pemeriksaan di meja.
“Aku ingin kalian menemukannya.”
Rina terkejut.
“Kenapa?”
“Karena aku tahu rencana Ayah.”
Salsa sudah berkali-kali meminta Burhan menghentikan kebohongan tersebut. Namun ayahnya selalu menolak.
“Aku tidak mau ada perempuan lain yang hidupnya dihancurkan hanya supaya keluarga kami bisa mempertahankan tanah.”
Lina memandang perempuan muda itu cukup lama.
“Kalau begitu ikut kami.”
Salsa tersenyum pahit.
“Aku masih harus menyelesaikan sesuatu.”
Keesokan paginya, Rina dan Lina benar-benar meninggalkan rumah besar itu.
Warga desa kembali bergunjing.
Ada yang mengatakan mereka diusir karena gagal memberikan keturunan.
Ada pula yang menertawakan mereka karena baru beberapa bulan menikmati kehidupan kaya sebelum kembali ke rumah reyot.
Rina dan Lina tidak menjelaskan apa pun.
Mereka kembali berkebun.
Kembali mengangkat keranjang sayuran.
Kembali membersihkan kolam nila dengan tangan sendiri.
Anehnya, kehidupan yang dahulu terasa begitu berat sekarang justru membuat mereka tenang.
Suatu sore, ketika keduanya sedang memperbaiki atap rumah, Lina tiba-tiba tertawa.
“Kenapa?” tanya Rina.
“Aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Kita pernah tidur di kasur seharga puluhan juta, tapi aku lebih nyenyak tidur di tikar ini.”
Rina ikut tertawa.
Hubungan mereka perlahan kembali seperti dahulu.
Namun persoalan Burhan belum selesai.
Dua bulan kemudian, beberapa mobil memasuki desa.
Bukan mobil milik Burhan.
Orang-orang dari kantor pertanahan dan pengacara keluarga datang bersama Salsa.
Berita yang kemudian tersebar membuat seluruh desa terkejut.
Salsa telah menemukan dokumen asli peninggalan kakeknya.
Surat tersebut membuktikan bahwa tidak pernah ada ketentuan hukum yang mewajibkan pewaris laki-laki.
Keinginan tentang penerus laki-laki hanyalah kesepakatan lisan yang selama puluhan tahun dipertahankan beberapa anggota keluarga.
Secara hukum, Salsa memiliki hak atas sebagian besar warisan ibunya dan bagian tertentu dari aset keluarga.
Lebih mengejutkan lagi, ditemukan bukti bahwa selama bertahun-tahun Burhan menggunakan beberapa aset bersama sebagai jaminan pinjaman pribadi tanpa persetujuan ahli waris lain.
Pertengkaran besar pecah di keluarga Burhan.
Dalam waktu kurang dari setahun, sebagian tanah dan tambaknya harus dilepas untuk menyelesaikan kewajiban.
Lelaki yang dahulu begitu takut kehilangan kekayaan akhirnya kehilangan sebagian besar kendalinya justru karena kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
Namun kejutan terbesar bagi Rina dan Lina datang enam bulan kemudian.
Pagi itu Salsa tiba di rumah mereka.
Ia mengenakan kemeja sederhana dan celana panjang. Tidak ada mobil mewah. Ia datang mengendarai motor.
“Aku membawa sesuatu.”
Ia menyerahkan sebuah map.
Rina langsung menggeleng.
“Kalau uang, kami tidak mau.”
“Baca dulu.”
Di dalam map terdapat sertifikat sebidang tanah seluas hampir dua hektare tidak jauh dari sungai.
Rina terbelalak.
“Ini apa?”
“Tanah milik ibuku.”
Sebelum meninggal, Rahmawati pernah mengatakan bahwa sebagian warisannya harus digunakan untuk membantu perempuan yang kehilangan tempat bergantung setelah perceraian atau ditinggalkan keluarga.
Salsa baru memahami pesan itu setelah bertemu Rina dan Lina.
“Aku ingin membuat kebun dan kolam ikan di sana. Kalian yang mengelola.”
“Kami tidak bisa menerima tanah sebesar ini.”
“Bukan hadiah.”
Salsa tersenyum.
“Kerja sama.”
Rina dan Lina saling berpandangan.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak melihat kemewahan sebagai jalan pintas.
Mereka melihat kesempatan untuk membangun sesuatu dengan tangan sendiri.
Setahun kemudian, lahan tersebut berubah menjadi kebun sayur, kolam nila, dan tempat pengolahan makanan sederhana yang mempekerjakan belasan perempuan dari desa sekitar.
Ada janda.
Ada ibu tunggal.
Ada perempuan lanjut usia yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Rina mengelola kebun.
Lina menangani penjualan.
Salsa mengurus administrasi dan pemasaran melalui internet.
Hasilnya jauh melampaui dugaan mereka.
Produk sayuran segar dan ikan olahan mereka mulai dikirim ke Parepare hingga Makassar.
Rumah kayu Rina dan Lina akhirnya direnovasi.
Bukan menjadi rumah mewah.
Hanya rumah sederhana dengan dinding kokoh, atap baru, dua kamar tidur, dan teras menghadap Sungai Saddang.
Suatu sore, sebuah mobil tua berhenti di depan rumah.
Burhan turun sendirian.
Tubuhnya tampak lebih kurus.
Tidak ada lagi pakaian mahal atau sopir yang membukakan pintu.
Rina dan Lina sedang membersihkan sayuran di teras.
Burhan berdiri beberapa meter dari mereka.
“Aku datang meminta maaf.”
Tidak ada yang menjawab.
“Aku terlalu takut kehilangan apa yang kumiliki sampai tidak sadar aku sudah kehilangan keluargaku lebih dulu.”
Lina menatapnya.
“Bagaimana Salsa?”
“Dia tidak mau tinggal bersamaku.”
Burhan tersenyum pahit.
“Tapi setidaknya sekarang dia masih mau menjawab teleponku.”
Rina mempersilakannya duduk.
Bukan karena melupakan semua yang pernah terjadi.
Melainkan karena mereka tidak ingin menghabiskan sisa hidup dengan membawa kebencian.
Burhan tidak pernah kembali menjadi suami mereka. Perceraian telah diselesaikan beberapa bulan sebelumnya.
Ia hanya datang sesekali membeli ikan atau sayuran seperti warga lainnya.
Beberapa tahun kemudian, ketika usaha mereka semakin berkembang, Rina dan Lina berdiri di depan sebuah bangunan kecil yang baru selesai dibangun di dekat kebun.
Di atas pintunya terdapat tulisan Rumah Rahma.
Tempat itu menyediakan pelatihan kerja gratis bagi perempuan yang ingin memulai kembali hidup mereka setelah kehilangan pasangan atau pekerjaan.
Salsa berdiri di antara Rina dan Lina pada hari peresmian.
Seorang wartawan lokal bertanya kepada Rina tentang satu hal yang membuatnya tersenyum.
“Apakah Ibu pernah menyesal menikah dengan Pak Burhan?”
Rina menoleh kepada Lina.
Saudara kembarnya tertawa kecil.
“Menyesal tentu pernah,” jawab Rina. “Tapi kalau malam itu kami tidak membuka pintu kamar itu, mungkin sampai sekarang kami masih sibuk berlomba mendapatkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kami butuhkan.”
Wartawan itu bertanya lagi.
“Apa yang paling Ibu syukuri sekarang?”
Rina menggenggam tangan Lina.
“Dulu kami pikir pewaris adalah anak laki-laki yang akan menerima kekayaan seseorang.”
Ia kemudian memandang kebun yang dipenuhi pekerja, kolam ikan di kejauhan, dan perempuan-perempuan yang kini memperoleh penghasilan dari usaha mereka.
“Ternyata warisan tidak selalu berupa harta dan tidak selalu diberikan kepada anak kandung.”
Lina tersenyum.
“Kadang warisan terbaik adalah kesempatan yang kita tinggalkan agar orang lain bisa hidup lebih baik.”
Matahari sore turun perlahan di atas Sungai Saddang.
Rina dan Lina berdiri berdampingan seperti puluhan tahun sebelumnya, ketika mereka hanya memiliki rumah kayu bocor, sebidang kebun kecil, dan satu sama lain.
Mereka memang tidak pernah mendapatkan putra yang dijanjikan sebagai pewaris.
Mereka juga tidak membawa pulang kekayaan Pak Haji Burhan.
Namun pada akhirnya, dua perempuan yang pernah rela mempertaruhkan persaudaraan demi mengejar kemewahan justru meninggalkan warisan yang jauh lebih besar daripada seluruh tanah yang dahulu mereka impikan.
Dan setelah hampir kehilangan segalanya karena mengejar kehidupan orang lain, mereka akhirnya memahami bahwa kekayaan terbesar yang pernah mereka miliki sebenarnya sudah ada sejak awal.
Mereka memiliki satu sama lain.
