Dua tahun setelah kepergian Sari, aku akhirnya mengerti bahwa kehilangan terbesar dalam hidupku bukanlah saat dia meninggalkan dunia, melainkan saat aku menyadari bahwa selama ini masih ada bagian dari dirinya yang tersembunyi dariku.
Bagian yang ternyata menjadi alasan Tuhan memberiku kesempatan kedua.
Malam setelah Hendra pergi dari villa, aku tidak bisa tidur sama sekali. Hujan turun deras di luar jendela. Suara air yang menghantam atap villa terdengar seperti ketukan yang tidak berhenti, seolah mengingatkanku bahwa bahaya belum benar-benar pergi.
Rara dan Nia tidur di kamar lama Sari.
Aku duduk di ruang tamu sambil memandangi foto pernikahanku dengan Sari yang masih tergantung di dinding.
Dalam foto itu, Sari tersenyum lebar.
Senyuman yang selalu membuatku merasa bahwa apa pun masalah yang kami hadapi, kami akan bisa melewatinya bersama.
Tapi sekarang aku sendirian.
Atau setidaknya dulu aku berpikir begitu.
Sekarang ada dua anak kecil yang mempercayakan hidup mereka kepadaku.
Aku membuka laptop lama yang masih kusimpan di lemari. Aku mulai mencari semua bukti yang mungkin bisa membantuku.
Aku tidak boleh kalah.
Bukan hanya karena aku ingin mempertahankan anak-anakku.
Tapi karena aku tahu ini adalah permintaan terakhir Sari.
Pagi berikutnya, seperti ancaman Hendra, beberapa orang benar-benar datang ke villa.
Dua polisi.
Seorang pengacara.
Dan Hendra dengan wajah penuh kemenangan.
“Andi Pratama?” tanya salah satu polisi.
“Iya,” jawabku tenang.
“Kami mendapat laporan bahwa Anda menyembunyikan dua anak yang bukan keluarga Anda.”
Aku menatap Hendra.
Dia berdiri di belakang mereka sambil tersenyum kecil.
Senyuman seseorang yang merasa sudah memenangkan permainan.
“Saya tidak menyembunyikan siapa pun,” kataku. “Mereka anak saya.”
Pengacara Hendra langsung tertawa kecil.
“Bisa dibuktikan?”
Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak terasa sunyi.
Aku tahu mereka datang karena sudah mempersiapkan semuanya.
Aku memang memiliki surat Sari, tetapi surat itu sudah direbut Hendra.
Aku hanya punya satu harapan.
Aku harus menemukan bukti lain.
“Saya akan memberikan bukti,” jawabku.
Pengacara itu menggeleng.
“Kalau begitu kami akan membawa anak-anak itu sementara sampai masalah ini selesai.”
Mendengar itu, Rara yang berdiri di tangga langsung berlari dan memelukku.
“Papa, jangan biarkan mereka membawa kami.”
Hatiku hancur melihat ketakutannya.
Aku berlutut dan memegang bahunya.
“Papa janji. Papa tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita.”
Polisi terlihat ragu melihat keadaan itu.
Namun Hendra langsung memotong.
“Jangan tertipu oleh anak kecil. Dia mungkin sudah mengajari mereka memanggilnya ayah.”
Aku menatapnya tajam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar membenci seseorang.
Bukan karena dia ingin mengambil hartaku.
Bukan karena dia membenciku.
Tapi karena dia mencoba mengambil dua anak yang bahkan belum sempat mengenal dunia.
Saat semua orang mulai bersiap pergi, tiba-tiba seorang wanita tua datang ke halaman villa.
Aku mengenalnya.
Namanya Bu Yuni.
Dia adalah tetangga lama villa kami.
“Nanti dulu,” katanya.

Semua orang menoleh.
Bu Yuni berjalan perlahan sambil membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Saya rasa sudah waktunya semuanya diketahui.”
Wajah Hendra langsung berubah.
“Bu Yuni, ini urusan keluarga.”
Wanita tua itu menatapnya dingin.
“Tidak. Ini urusan kebenaran.”
Dia memberikan kotak itu kepadaku.
“Ada pesan dari Sari untukmu.”
Tanganku gemetar saat membuka kotak tersebut.
Di dalamnya ada sebuah flashdisk kecil dan beberapa dokumen.
“Apa ini?” tanyaku.
Bu Yuni menarik napas panjang.
“Beberapa bulan sebelum Sari meninggal, dia datang ke rumah saya. Dia menangis. Dia bilang dia takut.”
Aku menatap wanita itu.
“Takut kepada siapa?”
Bu Yuni melihat ke arah Hendra.
“Keluarganya sendiri.”
Ruangan langsung membeku.
Hendra mulai panik.
“Itu fitnah.”
Namun Bu Yuni melanjutkan.
“Sari bilang ada yang mencoba mengambil embrio yang sudah disiapkan untuknya dan Andi. Dia juga bilang ada orang yang ingin memanfaatkan kondisinya yang sedang sakit.”
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
Selama ini aku berpikir Sari hanya merahasiakan anak-anak itu karena ingin memberiku kejutan.
Ternyata ada sesuatu yang lebih besar.
Aku segera membuka flashdisk tersebut menggunakan laptop.
Di dalamnya terdapat beberapa video.
Video pertama adalah rekaman Sari.
Wajahnya terlihat pucat karena sakit.
Tapi matanya masih penuh keteguhan.
“Andi, kalau kamu melihat video ini, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya langsung kepadamu.”
Air mataku langsung jatuh.
Suara Sari.
Suara yang sudah dua tahun tidak kudengar.
“Aku minta maaf karena membuatmu bingung. Aku bukan tidak percaya padamu. Justru karena aku sangat percaya padamu, aku ingin memastikan anak-anak kita aman.”
Sari berhenti sebentar.
“Aku menemukan bahwa Hendra dan beberapa anggota keluarga ingin menggunakan anak-anak ini untuk mendapatkan akses ke aset peninggalan keluargaku.”
Aku mengepalkan tangan.
Selama ini aku tidak pernah menyangka bahwa semua ini bukan tentang kasih sayang keluarga.
Ini tentang uang.
Tentang kekuasaan.
Tentang warisan.
Video itu berlanjut.
“Satu hal yang harus kamu tahu, Andi. Aku tidak pernah meninggalkanmu sendirian. Aku tahu kamu akan menjadi ayah yang baik.”
Aku menangis tanpa suara.
Sari selalu percaya kepadaku.
Bahkan saat aku sendiri kehilangan kepercayaan pada diriku.
Ketika video selesai, semua orang diam.
Polisi melihat ke arah Hendra.
Pengacara yang tadi percaya diri mulai terlihat gelisah.
Hendra mencoba mengambil laptop itu.
“Itu bisa saja dibuat.”
Namun sebelum dia mendekat, aku berdiri.
“Cukup.”
Suaraku tidak keras.
Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa kuat.
“Kamu sudah mengambil banyak hal dari hidupku, Hendra.”
Aku menatap matanya.
“Kamu mengambil ketenangan istriku saat dia sakit. Kamu mengambil surat terakhirnya. Kamu mencoba mengambil anak-anakku.”
Aku berhenti sejenak.
“Tapi kamu tidak akan mengambil mereka.”
Beberapa hari kemudian, penyelidikan resmi dimulai.
Ternyata Bu Ratna sebelum meninggal sudah mengirim salinan dokumen kepada Bu Yuni karena dia takut sesuatu terjadi.
Hendra dan beberapa anggota keluarga Sari akhirnya terbukti memalsukan dokumen dan mencoba mengambil hak asuh anak-anak secara ilegal.
Villa yang selama ini dianggap sebagai tempat penuh kenangan buruk akhirnya menjadi tempat di mana kebenaran ditemukan.
Enam bulan kemudian, hidupku berubah.
Aku tidak menjadi orang kaya.
Aku tidak tiba-tiba memiliki kehidupan sempurna.
Aku masih harus bekerja keras.
Masih harus belajar menjadi seorang ayah.
Masih harus menghadapi malam-malam ketika Rara menangis karena mengingat ibunya.
Masih harus menjawab pertanyaan Nia tentang kapan mamanya pulang.
Tapi aku tidak lagi merasa kosong.
Setiap pagi, aku melihat dua wajah kecil berlari di halaman villa.
Aku mendengar suara tawa mereka memenuhi ruangan yang dulu terasa sunyi.
Aku mulai memperbaiki villa itu.
Bukan untuk dijual.
Bukan untuk dijadikan bisnis.
Aku mengubahnya menjadi rumah kecil yang penuh kehidupan.
Di satu sudut ruang tamu, aku membuat sebuah tempat khusus untuk Sari.
Ada foto kami.
Ada bunga kesukaannya.
Dan ada surat kecil yang kutulis untuknya.
“Terima kasih sudah meninggalkan dua alasan bagiku untuk terus berjalan.”
Lima tahun kemudian, saat Rara sudah mulai sekolah dasar, dia bertanya kepadaku.
“Papa, kenapa dulu Mama tidak langsung memberitahu Papa tentang aku dan Nia?”
Aku tersenyum.
Aku melihat ke arah langit sore dari halaman villa.
“Karena Mama ingin memastikan Papa siap.”
“Siap untuk apa?”
Aku menatap dua anak yang menjadi bagian terbesar dalam hidupku.
“Siap menjadi ayah yang tidak hanya mencintai kalian, tapi juga melindungi kalian.”
Rara tersenyum.
Lalu dia bertanya lagi.
“Papa masih kangen Mama?”
Aku mengangguk.
“Setiap hari.”
“Tapi Papa tidak sedih?”
Aku tersenyum kecil.
“Sedih dan bahagia bisa tinggal bersama di hati yang sama.”
Malam itu, aku kembali duduk di ruang tamu.
Tempat yang sama ketika dua tahun lalu aku menemukan dua anak kecil kelaparan.
Dulu aku mengira aku datang ke villa ini untuk mencari masa lalu.
Ternyata aku datang untuk menemukan masa depanku.
Sari memang pergi.
Tapi cintanya tidak pernah benar-benar hilang.
Ia tinggal dalam dua pasang mata kecil yang selalu memanggilku Papa.
Dan sejak hari itu aku tahu, terkadang kehilangan bukan akhir dari sebuah keluarga.
Kadang kehilangan adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa masih ada cinta yang belum selesai.
