Empat tahun bekerja di luar negeri dan mengirim hampir 100.000 dolar setiap tahun, aku pulang tanpa memberi tahu siapa pun. Namun yang kutemukan adalah istriku telah botak, tinggal kulit membalut tulang, dan sedang mencuci piring di halaman belakang. Ibuku hanya berkata, “Dia sendiri yang membuat semua ini terjadi.” Aku tidak berteriak. Aku hanya mengeluarkan ponselku dan mengumumkan adanya paket kompensasi bernilai jutaan dolar yang ternyata menyimpan sebuah jebakan tak terduga.

BAGIAN 2

Hari-hari berikutnya bagaikan berjalan di atas bara api. Aku harus berpura-pura tersenyum, duduk di meja makan yang dipenuhi hidangan mewah, dan mendengarkan ibuku, Margaret, serta adikku, Paige, merencanakan bagaimana mereka akan menghabiskan uang empat ratus ribu dolar yang mereka yakini akan segera jatuh ke tangan kami. Mereka begitu dibutakan oleh keserakahan hingga tidak menyadari tatapan dingin yang kusembunyikan di balik senyuman ramah. Setiap kali aku melihat Gwen terbatuk darah di sudut kamar sempit itu, tekadku semakin membara. Dendam dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, menuntut keadilan yang setimpal.

Pagi itu, suasana ruang tamu mendadak tegang ketika aku meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja kopi marmer yang mahal. Margaret dan Paige langsung mendekat, mata mereka berbinar-binar bagai burung bangkai yang melihat bangkai segar. Di dalam map itu terdapat dokumen palsu yang sengaja kuciptakan menggunakan aplikasi penyunting dan koneksi lama dari pabrik tempatku bekerja, yang seolah-olah menyatakan bahwa dana kompensasi sebesar empat ratus ribu dolar telah cair, namun persyaratannya sangat ketat.

“Apa maksudnya ini, Gavin?” tanya Margaret dengan nada cemas, jemari penuh cincin emasnya gemetar memegang kertas tersebut. “Kenapa ada syarat penandatanganan bersama dan pengalihan aset?”

“Begini, Bu,” kataku dengan suara tenang namun tegas, sengaja memasang ekspresi tertekan. “Perusahaan menetapkan aturan baru yang sangat ketat untuk menghindari penyalahgunaan dana. Karena aku bekerja di luar negeri dan catatan kependudukanku di sini masih tercampur dengan urusan keluarga, pihak perusahaan dan notaris menuntut agar seluruh aset properti dan rekening tabungan yang selama ini kubiayai harus dipindahkan sepenuhnya atas nama kepala rumah tangga yang sah secara hukum, atau dalam kasus ini, istriku, Gwen, sebagai penanggung jawab utama dokumen finansial keluarga di dalam negeri.”

Paige langsung melompat dari sofa, wajahnya memerah karena marah dan tidak terima. “Kau sudah gila, Gavin! Kenapa harus Gwen? Wanita botak itu tidak tahu apa-apa! Rumah ini, truk pikap itu, perhiasan kami—semuanya dibeli dari uang yang kau kirimkan selama empat tahun! Kenapa tiba-tiba harus dialihkan kepada si sakit-sakitan itu?!”

Margaret mengangguk cepat, wajahnya yang biasanya tampak angkuh kini menunjukkan kepanikan yang nyata. “Benar kata Paige, Nak. Ibu yang mengurus rumah ini selama kau pergi. Gwen hanya membawa sial dan menghabiskan tempat. Kalau kau memberikan kendali finansial padanya, habis sudah semuanya. Buat apa percaya pada wanita yang bahkan tidak bisa membeli sampo sendiri?”

Aku menatap mereka berdua dalam-dalam. Kata-kata itu begitu kejam, keluar begitu saja dari mulut orang-orang yang seharusnya merawat keluarga kami. Aku teringat bagaimana Gwen menjual rambutnya seharga seratus lima puluh dolar hanya demi bisa berobat, sementara mereka menghamburkan ribuan dolar untuk kesenangan pribadi. Emosiku hampir meledak, namun aku berhasil menahannya. Aku tahu, kemarahan tidak akan menyelesaikan apa pun. Jebakan ini harus berjalan mulus tanpa celah.

“Aturannya mutlak, Bu,” kataku dingin, menatap lurus ke mata ibuku. “Kalau kita tidak menandatangani surat pengalihan ini hari ini juga di hadapan notaris yang sudah kutunggu di ujung jalan, maka dana empat ratus ribu dolar itu akan ditarik kembali oleh pihak perusahaan dan dinyatakan hangus. Silakan pilih: kalian serahkan semua sertifikat rumah, kunci kendaraan, dan buku rekening yang selama ini kalian pakai dari hasil jerih payahku kepada Gwen, atau kita semua kehilangan kesempatan menjadi kaya raya.”

Keheningan yang pekat langsung menyelimuti ruangan. Margaret dan Paige saling berpandangan. Keserakahan selalu menjadi kelemahan terbesar mereka. Di benak mereka, uang empat ratus ribu dolar jauh lebih besar nilainya daripada rumah dan barang-barang mewah yang mereka miliki saat ini. Mereka berpikir, toh Gwen sedang sekarat karena kanker payudara stadium lanjut. Tidak lama lagi wanita itu akan mati, dan pada akhirnya, semua harta itu akan jatuh kembali ke tangan mereka secara sah.

“Baiklah!” bentak Margaret akhirnya dengan nada penuh kebencian. “Akan kami berikan! Tapi ingat, Gavin, setelah uang itu cair, wanita itu harus segera diusir dari rumah ini! Ibu tidak tahan melihat wajahnya yang menjijikkan itu sedetik pun lebih lama.”

Tanpa membuang waktu, aku menelepon seorang teman lama yang bekerja sebagai juru sita dan pengacara independen yang sudah kuatur sebelumnya. Dalam waktu kurang dari dua jam, sebuah mobil hitam terparkir di halaman depan. Notaris palsu namun berdokumen sah secara hukum—karena semua aset tersebut memang dibeli menggunakan rekeningku dan atas namaku yang kemudian diproses ulang—masuk ke dalam rumah.

Satu per satu, tanda tangan dibubuhkan. Margaret dan Paige menyerahkan sertifikat rumah, kunci truk, surat-surat kendaraan, serta seluruh kartu ATM yang selama ini mereka gunakan untuk berfoya-foya. Mereka melakukannya dengan senyum kemenangan yang licik, yakin betul bahwa mereka sedang memperdaya aku dan Gwen sekali lagi. Setelah tanda tangan terakhir selesai, Paige bahkan tertawa kecil sambil mencibir ke arah Gwen yang duduk gemetar di ambang pintu dapur.

“Nikmati saja status barumu sebagai pemilik rumah, Gwen,” cibir Paige sinis. “Karena sebentar lagi kau akan membawa semua penyakitmu itu ke liang kubur.”

Aku tidak menjawab. Aku mengambil seluruh dokumen resmi yang kini telah sah beralih kepemilikan atas nama Gwen, memasukkannya ke dalam map kulit, dan berdiri tegak di hadapan ibu dan adikku.

“Terima kasih atas kerja samanya,” ucapku dengan senyum paling dingin yang pernah kuberikan seumur hidupku.

Malam itu, suasana rumah terasa sangat berbeda. Margaret dan Paige tidur dengan nyenyak di kamar lantai atas, bermimpi tentang jutaan dolar yang akan segera mereka nikmati. Sementara di kamar sempit lantai bawah, aku dan Gwen duduk berdampingan. Aku mengeluarkan sebuah tiket penerbangan kelas satu menuju Singapura untuk keberangkatan subuh nanti, lengkap dengan jadwal pertemuan di rumah sakit kanker terbaik di Asia Tenggara yang biayanya sudah kusiapkan dari tabungan tersembunyi yang tidak pernah mereka ketahui.

“Kita akan pergi sekarang, Gwen,” bisikku lembut sambil merapikan topi wol di kepalanya. “Rumah ini, mobil ini, dan seluruh isi tempat ini sudah resmi menjadi milikmu. Dan besok pagi, saat mereka bangun… mereka bukan siapa-siapa lagi di rumah ini.”

Gwen menatapku dengan mata berkaca-kaca, air mata haru akhirnya tumpah membasahi pipinya yang tirus. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, senyuman tulus terukir di wajahnya.

Tepat pukul lima pagi, suara ketukan keras menggema dari lantai atas. Disusul teriakan histeris Paige yang memanggil namanya sendiri karena menemukan surat pengusiran resmi dan pemberitahuan pembekuan seluruh rekening belanja mereka tertempel di pintu kamar utama. Belum sempat mereka turun untuk melabrak, dua orang petugas keamanan perumahan datang membawa surat perintah untuk mengeluarkan barang-barang pribadi Margaret dan Paige dari dalam rumah, karena pemilik sah yang baru—Gwen—telah mencabut seluruh hak tinggal mereka atas dasar penganiayaan dan penelantaran keluarga.

Aku menggenggam tangan istriku erat-erat, melangkah keluar meninggalkan rumah mewah berpagar emas itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Di luar, fajar menyingsing dengan indah, membawa udara segar kehidupan baru yang jauh dari cengkeraman keserakahan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang