Remy bahkan tidak berani mengangkat wajahnya ketika Hakim Mariano Velasco mulai membuka map tebal berisi putusan. Ruang sidang terasa begitu sunyi hingga suara lembaran kertas yang dibalik terdengar jelas. Di bangku pengunjung, puluhan mata memandangnya dengan penuh cibiran. Beberapa wartawan sudah menyiapkan kamera, menunggu momen ketika perempuan miskin itu dijatuhi hukuman.
Di sisi kanan ruang sidang, Rodrigo Montenegro duduk dengan jas mahalnya. Di sampingnya, Amelia Montenegro menggenggam tangan Miguel, putra mereka yang kini berusia tujuh belas tahun. Wajah Miguel tampak bingung sejak awal sidang. Ia masih teringat perempuan tua yang memanggilnya “Nak” sambil menangis di depan gerbang sekolah beberapa minggu lalu. Saat itu ia mengira perempuan itu memang mengalami gangguan jiwa.
Hakim menghela napas panjang.

“Berdasarkan seluruh alat bukti dan kesaksian…”
Belum sempat kalimat itu selesai, selembar foto yang dipeluk Remy terjatuh ke lantai.
Foto itu sudah robek, kusam, dan warnanya hampir hilang dimakan usia.
Hakim Mariano secara refleks menatap ke arah foto tersebut.
“Apa itu?” tanyanya.
Remy buru-buru berlutut mengambilnya.
“Itu… satu-satunya foto anak saya.”
Suasana ruang sidang tetap hening.
Hakim memperhatikan bagaimana perempuan itu memegang foto tersebut dengan tangan gemetar, seolah sedang memegang sesuatu yang lebih berharga daripada hidupnya sendiri.
“Tolong berikan foto itu kepada saya.”
Semua orang menoleh.
Rodrigo tampak sedikit gelisah.
“Itu tidak ada hubungannya dengan perkara ini, Yang Mulia,” katanya cepat.
Hakim tetap mengulurkan tangan.
“Saya ingin melihatnya.”
Petugas mengambil foto itu lalu menyerahkannya.
Hakim memperhatikan bagian depan yang memperlihatkan seorang bayi laki-laki digendong perempuan muda. Namun yang membuatnya mengernyit bukan gambar itu.
Melainkan tulisan yang masih samar di bagian belakang foto.
Dengan hati-hati beliau membaliknya.
Tulisan tinta biru yang mulai pudar masih dapat dibaca.
“Miguel… lahir 12 Mei… Rumah Sakit Harapan Ibu… Semoga suatu hari kau tahu betapa ibu mencintaimu.”
Hakim tiba-tiba berhenti membaca.
Tatapannya berubah serius.
“Sidang ditunda selama lima belas menit.”
Ruangan langsung gaduh.
Rodrigo berdiri.
“Yang Mulia, bukti itu tidak relevan.”
Hakim menatap tajam.
“Sayalah yang menentukan relevan atau tidak.”
…
Lima belas menit kemudian sidang kembali dibuka.
Hakim memandang Remy.
“Siapa yang menulis tulisan di belakang foto ini?”
“Saya sendiri.”
“Kapan?”
“Tujuh belas tahun lalu. Hari anak saya lahir.”
Rodrigo langsung berdiri.
“Itu bisa saja dibuat kemarin.”
Remy hanya tersenyum pahit.
“Kalau memang baru dibuat kemarin, bagaimana mungkin tintanya sudah hampir hilang?”
Semua orang terdiam.
Hakim mulai bertanya lebih rinci.
“Dari mana Anda mendapatkan anak itu?”
Air mata Remy mulai jatuh.
“Tujuh belas tahun lalu saya melahirkan bayi laki-laki di Rumah Sakit Harapan Ibu. Saya miskin. Suami saya meninggal dua bulan sebelum anak itu lahir karena kecelakaan kerja. Setelah saya sadar dari operasi, perawat bilang bayi saya meninggal.”
Suara Remy mulai bergetar.
“Tapi saya tidak pernah melihat jenazahnya.”
Ruangan mulai dipenuhi bisik-bisik.
Hakim bertanya lagi.
“Mengapa Anda baru mencari sekarang?”
“Saya tidak pernah berhenti mencari.”
Remy mengeluarkan sebuah map plastik yang sudah usang.
Di dalamnya ada puluhan surat.
Ada laporan polisi.
Ada surat permohonan ke rumah sakit.
Ada hasil pencarian bertahun-tahun.
Semua sudah menguning.
“Saya bekerja mencuci pakaian, membersihkan rumah orang, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hanya untuk mencari anak saya.”
Hakim membuka satu demi satu dokumen itu.
Beberapa dokumen berasal dari tujuh belas tahun lalu.
Sementara Rodrigo mulai terlihat gelisah.
Amelia bahkan mulai menggenggam tasnya semakin erat.
Hakim kemudian bertanya kepada Rodrigo.
“Di mana akta kelahiran Miguel?”
Rodrigo langsung menyerahkan salinannya.
Hakim membaca beberapa menit.
Kemudian beliau mengernyit.
“Tidak ada nama dokter yang membantu persalinan.”
“Itu kesalahan administrasi,” jawab Rodrigo cepat.
“Dan cap rumah sakit terlihat berbeda.”
“Itu juga…”
Hakim belum selesai.
Beliau meminta panitera menghubungi Rumah Sakit Harapan Ibu.
Beberapa jam kemudian seorang staf administrasi senior datang membawa arsip lama.
Semua orang menunggu dengan tegang.
Petugas membuka buku registrasi kelahiran tahun tujuh belas tahun lalu.
Di sana tercatat seorang bayi laki-laki lahir dari ibu bernama Remy Susanti.
Status bayi…
Sehat.
Bukan meninggal.
Ruangan langsung gempar.
Hakim memukul palu.
“Tenang!”
Rodrigo mulai berkeringat.
Hakim bertanya kepada petugas rumah sakit.
“Mengapa dalam data tertulis bayi sehat?”
Petugas menggeleng.
“Data ini tidak pernah diubah, Yang Mulia.”
“Lalu mengapa ibunya diberi tahu bahwa bayinya meninggal?”
Petugas tampak bingung.
“Kami tidak tahu.”
Hakim langsung memerintahkan penyelidikan.
Sidang kembali ditunda.
…
Tiga minggu kemudian persidangan dilanjutkan.
Kali ini bukan hanya Remy yang duduk sebagai terdakwa.
Seorang mantan kepala ruang bersalin bernama Sulastri juga hadir sebagai saksi.
Rambutnya sudah memutih.
Begitu disumpah, ia langsung menangis.
“Saya sudah terlalu lama menyimpan dosa ini.”
Seluruh ruang sidang membeku.
“Tujuh belas tahun lalu… pasangan Montenegro datang ke rumah sakit.”
Rodrigo langsung berdiri.
“Itu bohong!”
Hakim memerintahkan agar ia duduk.
Sulastri melanjutkan.
“Istri Pak Rodrigo mengalami keguguran di usia kandungan delapan bulan.”
Amelia langsung menangis histeris.
Sulastri memejamkan mata.
“Mereka tidak sanggup menerima kenyataan.”
“Beberapa hari kemudian lahirlah bayi Remy.”
“Saya disuap.”
Suara kamera wartawan langsung bersahut-sahutan.
“Saya mengatakan kepada Remy bahwa bayinya meninggal.”
“Lalu bayi itu saya serahkan kepada keluarga Montenegro.”
Tangisan memenuhi ruang sidang.
Miguel mematung.
Ia memandang kedua orang yang selama ini dipanggil Ayah dan Ibu.
“Apa… itu benar?”
Rodrigo tidak menjawab.
Amelia hanya menangis.
Hakim memerintahkan tes DNA.
Seminggu kemudian hasilnya keluar.
Kemungkinan hubungan biologis antara Remy dan Miguel mencapai 99,9999 persen.
Sedangkan Rodrigo dan Amelia tidak memiliki hubungan biologis sedikit pun dengan Miguel.
Miguel merasa seluruh dunianya runtuh.
Selama tujuh belas tahun ia hidup dalam kebohongan.
Namun ia juga sadar bahwa pasangan Montenegro membesarkannya dengan kasih sayang.
Di sisi lain, ibu kandungnya hidup sendirian dalam kemiskinan sambil terus mencarinya tanpa pernah menyerah.
Beberapa hari setelah hasil DNA diumumkan, Miguel diam-diam mendatangi rumah kontrakan Remy.
Rumah itu sangat sederhana.
Atapnya bocor.
Dindingnya mulai lapuk.
Remy sedang mencuci pakaian tetangga ketika mendengar suara di depan pintu.
Ia menoleh.
Ember yang dipegangnya jatuh.
“Miguel…”
Anak laki-laki itu berdiri dengan mata berkaca-kaca.
“Kata orang… Ibu tidak pernah berhenti mencariku.”
Remy mengangguk sambil menangis.
“Setiap ulang tahunmu aku selalu datang ke rumah sakit itu.”
Miguel perlahan mendekat.
“Mengapa Ibu tidak menyerah?”
Remy tersenyum.
“Karena seorang ibu boleh kehilangan apa saja… tapi tidak pernah kehilangan harapan.”
Miguel memeluknya.
Tangisan keduanya pecah.
Tak ada kata yang mampu menggambarkan tujuh belas tahun yang hilang.
…
Beberapa bulan kemudian pengadilan menjatuhkan hukuman kepada Rodrigo, Amelia, dan beberapa pihak rumah sakit yang terlibat dalam perdagangan bayi dan pemalsuan dokumen.
Hakim Mariano menatap Remy sebelum sidang terakhir ditutup.
“Hari ini pengadilan memang memberikan keadilan secara hukum.”
Beliau berhenti sejenak.
“Namun tidak ada putusan yang mampu mengembalikan tujuh belas tahun kehidupan seorang ibu.”
Ruangan kembali sunyi.
Miguel menghampiri Remy.
Tanpa memedulikan puluhan kamera yang menyorot mereka, ia menggenggam tangan perempuan yang dulu dianggap penculik.
“Bu…”
Remy menoleh.
“Aku tidak bisa mengembalikan masa kecil yang hilang.”
Air matanya kembali mengalir.
“Tapi kalau Ibu masih mengizinkan…”
Ia tersenyum.
“…izinkan aku menjadi anak Ibu mulai hari ini.”
Remy memeluknya erat.
Foto lama yang dulu hampir membuatnya dipenjara kini berada di tangan Miguel.
Foto yang robek itu tidak pernah diperbaiki.
Bukan karena tidak bisa.
Melainkan karena robekan itu menjadi pengingat bahwa kebohongan selama bertahun-tahun akhirnya dikalahkan oleh satu hal yang tidak pernah pudar, yaitu kasih sayang seorang ibu yang tak pernah berhenti percaya bahwa suatu hari anaknya akan kembali pulang.
