Setiap pagi sebelum matahari benar-benar muncul di balik tembok tinggi Lapas Cibinong, seorang narapidana tua selalu melakukan kebiasaan yang sama. Ia duduk di sudut sel paling ujung, menggenggam serpihan batu bata yang sudah aus, lalu menggoreskan garis, angka, nama, dan bentuk-bentuk aneh di dinding yang catnya telah mengelupas.
Namanya Silvestre.
Tak ada yang benar-benar tahu siapa dirinya sebelum masuk penjara hampir tiga puluh tahun lalu. Berkasnya tipis. Tak pernah dijenguk keluarga. Tak pernah menerima kiriman barang. Seolah-olah dunia sudah menghapus keberadaannya.
Para narapidana lain menganggapnya sudah pikun.

“Lihat, Kakek mulai nulis surat buat tembok lagi,” ejek Rian sambil tertawa.
“Besok-besok dia mungkin ngobrol sama semut,” sahut yang lain.
Tawa memenuhi blok tahanan.
Silvestre tidak pernah membalas. Ia hanya tersenyum tipis, lalu kembali menggoreskan batu ke dinding.
Sipir muda bernama Damar baru enam bulan bertugas di lapas itu. Ia sering memperhatikan lelaki tua tersebut. Berbeda dengan sipir lain yang menganggap Silvestre hanya orang tua kesepian, Damar merasa ada sesuatu yang ganjil.
Tulisan itu tidak pernah benar-benar acak.
Ada pola.
Setiap hari Silvestre menambahkan satu bagian, lalu keesokan harinya menghapus sebagian dan menggambar ulang dengan posisi berbeda.
Suatu malam ketika melakukan patroli, Damar melihat Silvestre masih terjaga.
“Apa yang Bapak tulis?”
Silvestre berhenti menggores.
“Bukan tulisan.”
“Lalu?”
“Ingatan.”
Damar mengernyit.
“Kalau tidak kutulis setiap hari, ingatan itu akan mati.”
“Ingatan tentang apa?”
Silvestre menatap matanya cukup lama.
“Tentang seseorang yang tidak boleh dilupakan.”
Belum sempat Damar bertanya lagi, bel pemeriksaan berbunyi.
Hari-hari berlalu.
Rasa penasaran Damar justru semakin besar.
Ia mulai memotret diam-diam dinding itu setiap malam sebelum petugas kebersihan menghapusnya.
Ketika foto-foto itu disusun berdasarkan tanggal, sesuatu mulai terlihat.
Garis-garis itu ternyata membentuk grid.
Angka-angka memiliki urutan tertentu.
Huruf-huruf muncul berulang.
R.
M.
Lalu angka 43.
Kemudian sebuah panah kecil.
Damar menunjukkan foto itu kepada temannya yang bekerja di bagian administrasi.
“Mungkin cuma orang tua yang mengigau.”
Namun Damar tidak puas.
Ia mencoba memasukkan pola itu ke komputer.
Tiga jam kemudian ia terpaku.
Itu bukan gambar sembarangan.
Itu koordinat.
Koordinat yang mengarah ke kawasan pergudangan tua di pinggiran Jakarta.
Jantung Damar berdegup lebih cepat.
Esok paginya ia kembali menemui Silvestre.
“Kenapa Bapak menulis koordinat?”
Silvestre tidak menjawab.
“Huruf R itu siapa?”
Tetap diam.
“Lalu angka empat puluh tiga?”
Silvestre menghela napas.
“Kalau kamu belum percaya bahwa orang tidak bersalah bisa dipenjara, percuma aku menjawab.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Damar.
Ia mulai mencari arsip perkara Silvestre.
Yang ia temukan justru membuatnya semakin bingung.
Berkas pengadilan hilang.
Berita acara pemeriksaan hanya tersisa salinan.
Bukti fisik sudah dimusnahkan bertahun-tahun lalu.
Yang tersedia hanya putusan singkat bahwa Silvestre dihukum karena pembunuhan seorang kontraktor bernama Markus Rahman.
Kasus itu sudah hampir dilupakan semua orang.
Namun ada satu kejanggalan.
Di putusan tertulis korban meninggal pada malam 17 Oktober.
Sementara laporan polisi pertama dibuat sehari sebelumnya.
Mustahil polisi membuat laporan pembunuhan sebelum korban dinyatakan meninggal.
Damar mulai merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Ia mengajukan izin melihat arsip lama di kepolisian daerah.
Petugas arsip mengeluh karena sebagian dokumen sudah rusak akibat banjir.
Namun setelah mencari hampir seharian, mereka menemukan satu kotak tua yang belum pernah dibuka lagi selama puluhan tahun.
Di dalamnya terdapat foto-foto TKP.
Salah satu foto memperlihatkan tembok gudang.
Di sudut bawah ada simbol yang persis sama dengan yang setiap hari digambar Silvestre di dinding sel.
Damar langsung merinding.
Ia kembali menemui Silvestre.
“Kakek pernah menggambar simbol ini di gudang itu?”
Silvestre mengangguk pelan.
“Itu bukan simbol.”
“Lalu?”
“Itu posisi kamera.”
Damar terdiam.
Silvestre mengambil napas panjang.
“Dulu aku bekerja sebagai teknisi keamanan. Gudang itu dipasang kamera oleh timku.”
“Kalau begitu…”
“Ada rekaman.”
“Kenapa tidak pernah dipakai di pengadilan?”
“Malam sebelum sidang, ruang penyimpanan terbakar.”
“Terbakar?”
Silvestre tersenyum pahit.
“Begitulah yang diberitakan.”
Malam itu Damar tidak bisa tidur.
Ia memutuskan mendatangi gudang lama yang kini sudah kosong.
Bangunan itu hampir roboh.
Namun ketika melihat susunan dinding, ia menyadari sesuatu.
Koordinat yang ditulis Silvestre mengarah ke satu tiang beton tertentu.
Dengan bantuan petugas setempat, ia membongkar bagian bawah tiang tersebut.
Tak ada emas.
Tak ada uang.
Hanya sebuah kotak logam kecil yang sudah berkarat.
Di dalamnya terdapat kartu memori lama yang dibungkus plastik berlapis.
Damar hampir tidak percaya.
Ia membawanya ke laboratorium digital.
Proses pemulihan data memakan waktu tiga hari.
Saat file pertama berhasil dibuka, seluruh ruangan menjadi sunyi.
Video itu menunjukkan malam pembunuhan.
Korban masih hidup.
Beberapa pria berjas memasuki gudang.
Terjadi pertengkaran.
Lalu salah satu dari mereka menembak Markus.
Silvestre sama sekali tidak terlihat sebagai pelaku.
Sebaliknya, ia tampak berusaha menolong korban.
Rekaman berikutnya memperlihatkan seseorang mengambil senjata lalu meletakkannya di dekat tubuh Silvestre yang pingsan akibat dipukul dari belakang.
Semua orang di laboratorium saling berpandangan.
“Itu rekayasa…”
Damar langsung menyerahkan temuan tersebut kepada penyidik khusus.
Penyelidikan dibuka kembali.
Nama-nama lama mulai muncul.
Dua mantan pejabat ternyata pernah memiliki hubungan bisnis dengan korban.
Saksi yang dulu memberi keterangan palsu akhirnya mengaku sebelum meninggal karena sakit.
Ia mengaku menerima uang untuk menyalahkan Silvestre.
Berita itu langsung menjadi perhatian media.
“Lelaki yang dipenjara hampir tiga puluh tahun diduga tidak bersalah.”
Televisi menayangkan wajah Silvestre yang selama ini tidak pernah dikenal publik.
Orang-orang terkejut.
Sebagian meminta negara meminta maaf.
Sebagian lagi mempertanyakan bagaimana sistem hukum bisa membiarkan kesalahan sebesar itu selama puluhan tahun.
Sidang peninjauan kembali berlangsung singkat.
Bukti baru terlalu kuat untuk dibantah.
Hakim membacakan putusan dengan suara bergetar.
“Pengadilan menyatakan Saudara Silvestre tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan. Putusan sebelumnya dibatalkan.”
Seluruh ruang sidang hening.
Silvestre tidak menangis.
Ia hanya memejamkan mata.
Seolah-olah ia sedang menghitung sesuatu.
Setelah keluar dari ruang sidang, wartawan mengerubunginya.
“Pak, apa yang pertama kali ingin Bapak lakukan setelah bebas?”
Silvestre menjawab pelan.
“Aku ingin melihat langit tanpa jeruji.”
Ia berhenti sebentar.
“Lalu aku ingin tidur semalaman tanpa takut lupa.”
Damar yang berdiri di sampingnya tidak mengerti.
“Lupa apa?”
Silvestre tersenyum.
“Kalau aku berhenti mengingat, tidak akan ada yang mencari kebenaran.”
Beberapa hari kemudian, Damar membantu membersihkan sel yang dulu ditempati Silvestre.
Dindingnya sudah dicat ulang.
Semua goresan telah hilang.
Namun ketika menggeser ranjang besi tua, ia menemukan satu ukiran kecil yang selama ini tersembunyi.
Bukan angka.
Bukan koordinat.
Hanya satu kalimat pendek.
“Jika semua bukti bisa dihancurkan, ingatan manusia adalah arsip terakhir.”
Damar memandangi kalimat itu lama sekali.
Barulah ia sadar bahwa selama hampir tiga puluh tahun, orang-orang mengira seorang narapidana tua sedang mencoret-coret tembok karena kesepian.
Padahal setiap garis yang ia buat adalah usaha putus asa agar kebenaran tidak ikut terkubur oleh waktu.
Beberapa bulan kemudian pemerintah memberikan ganti rugi kepada Silvestre, tetapi lelaki tua itu hanya menggunakan sebagian kecil uang tersebut. Ia mendirikan sebuah rumah belajar sederhana untuk anak-anak dari keluarga narapidana. Di sana ia mengajarkan membaca, menulis, dan satu pelajaran yang selalu ia ulang di akhir kelas.
“Jangan pernah berhenti bertanya ketika sesuatu terasa tidak masuk akal. Keadilan tidak selalu datang lebih cepat daripada kebohongan, tetapi selama masih ada seseorang yang mau mengingat, kebenaran tidak akan benar-benar hilang.”
Damar sering berkunjung ke rumah belajar itu. Setiap kali melihat Silvestre tersenyum kepada anak-anak, ia teringat dinding kusam di dalam sel yang dulu penuh goresan aneh. Kini ia mengerti, garis-garis itu bukan tanda kegilaan, melainkan jejak keberanian seorang manusia yang menolak membiarkan sejarah ditulis oleh kebohongan. Dan justru karena keteguhan seorang lelaki tua yang dianggap telah kehilangan akal sehat itulah, sebuah kasus yang telah dilupakan hampir tiga dekade akhirnya menemukan kebenarannya.
