Pesan itu berbunyi singkat.
Rina, Ayah sudah kembali ke Indonesia. Besok pagi kita harus bicara tentang saham perusahaan sebelum rapat pemegang saham. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang keluarga Wijaya.
Aku membaca kalimat terakhir dua kali.
Keluarga Wijaya.
Tanganku mendadak terasa dingin.
Sudah hampir tujuh tahun aku tidak bertemu langsung dengan pengirim pesan itu.
Namanya Surya Adinata.
Ayah kandungku.
Orang yang selama ini diketahui keluarga Ardi hanya sebagai mantan suami ibuku yang sudah lama tinggal di luar negeri dan tidak lagi memiliki hubungan dekat denganku.
Mereka tidak tahu bahwa Surya Adinata adalah pendiri Adinata Medika Group, perusahaan tempatku bekerja.
Mereka juga tidak tahu bahwa sejak aku berusia dua puluh lima tahun, sebagian saham perusahaan telah dialihkan atas namaku.
Gaji Rp40 juta yang selalu mereka ambil hanyalah penghasilanku sebagai Direktur Pengembangan Bisnis.
Bukan dividen.
Bukan investasi.
Bukan aset yang diwariskan Ayah kepadaku.
Aku sengaja tidak pernah membicarakannya.
Bukan karena ingin berbohong.
Aku hanya ingin hidup sebagai Rina, bukan sebagai putri pemilik perusahaan.
Ketika mengenal Ardi empat tahun lalu, dia bahkan bekerja sebagai supervisor pemasaran di perusahaan otomotif biasa. Hubungan kami terasa sederhana dan tulus.
Setidaknya aku mengira begitu.
“Rina!”
Suara Bu Ratna membuyarkan pikiranku.
“Siapa yang mengirim pesan?”
Aku mematikan layar ponsel.
“Bukan urusan Ibu.”
Wajahnya langsung mengeras.
“Sejak kapan kamu bicara begitu kepada saya?”
Aku menatapnya tenang.
“Mungkin sejak Ibu mengatakan ibu kandung saya adalah orang luar.”
Ardi menarik lenganku.
“Jangan kurang ajar.”
Aku menurunkan pandangan ke tangannya yang mencengkeram pergelangan tanganku.
“Lepaskan.”
“Jawab dulu. Uang itu dari mana?”
“Ardi.”
Aku mengangkat wajah.
“Lepaskan tanganku.”
Entah karena nada suaraku atau ekspresiku, dia akhirnya melepas genggamannya.
Aku mengambil tas dari kursi.
“Aku ke Yogyakarta malam ini.”
“Kamu tidak boleh pergi.”
Bu Ratna berdiri menghalangi jalan.
Aku hampir tertawa.
Selama tiga tahun perempuan ini menentukan berapa uang yang boleh kusimpan, kapan aku boleh membantu keluargaku, bahkan barang apa yang dianggap terlalu mahal untuk kubeli menggunakan uangku sendiri.
Dan aku membiarkannya.
Bukan karena lemah.
Aku hanya terlalu ingin menjaga pernikahanku.
Sayangnya, kadang-kadang kita baru menyadari bahwa sesuatu sudah tidak layak dipertahankan ketika harga yang harus dibayar adalah harga diri kita sendiri.
Aku menatap Bu Ratna.
“Bu, saya tidak sedang meminta izin.”
Ruangan mendadak hening.
Aku berjalan melewatinya.
Ardi mengejarku sampai halaman.
“Rina!”
Aku berhenti di samping mobil.
“Apa?”
“Kamu mau meninggalkan rumah hanya karena masalah enam puluh lima juta?”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Masalahnya bukan enam puluh lima juta.”
“Lalu apa?”
“Kamu.”
Dia terdiam.
“Selama tiga tahun aku memberikan hampir seluruh gajiku untuk keluargamu. Ketika ayahmu sakit, aku tidak pernah bertanya kenapa saudara-saudaranya tidak membantu. Ketika Dimas butuh uang kuliah, aku tidak pernah bilang dia bukan tanggung jawabku.”
Aku menarik napas panjang.
“Tapi ketika ibuku sakit, kamu bahkan tidak bisa mengatakan satu kalimat bahwa dia juga keluarga kita.”
Ardi mengusap wajah.
“Kamu terlalu emosional.”
Aku tersenyum pahit.
Kalimat itu terasa sangat familiar.
Setiap kali aku terluka, aku dianggap emosional.
Setiap kali aku keberatan, aku dianggap perhitungan.
Setiap kali aku menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri, aku dianggap egois.
“Aku pergi.”
“Kalau kamu keluar malam ini, jangan harap semuanya bisa kembali seperti semula.”
Tanganku berhenti di gagang pintu mobil.
Aku menoleh.
“Justru itu yang kuinginkan.”
Aku meninggalkan Surabaya malam itu juga.
Di perjalanan menuju bandara, aku menelepon rumah sakit di Yogyakarta dan memastikan semua biaya tindakan Ibu sudah terjamin.
Aku tidak mengatakan bahwa aku telah mentransfer Rp650 juta.
Aku hanya mengatakan agar Ibu tidak memikirkan uang.
Aku tiba menjelang subuh.
Ketika masuk ke kamar rawat, Ibu sedang tertidur.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada terakhir kali aku mengunjunginya dua bulan lalu.
Aku duduk di samping ranjang dan menggenggam tangannya.
Tiba-tiba semua kemarahan yang sejak tadi kutahan runtuh.
Air mataku jatuh tanpa suara.
Ibu membuka mata perlahan.
“Rina?”
Aku buru-buru menghapus wajah.
“Iya, Bu.”
“Kenapa kamu datang malam-malam?”
“Aku kangen.”
Ibu tersenyum lemah.
Kemudian matanya turun ke wajahku.
“Kamu bertengkar dengan Ardi?”
Aku diam.
Seperti kebanyakan ibu, dia tidak membutuhkan jawaban.
Tangannya mengusap kepalaku.
“Ibu tidak mau sakit Ibu membuat rumah tanggamu bermasalah.”
Aku menunduk.
“Bukan Ibu yang membuatnya bermasalah.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku menceritakan semuanya.
Tentang gajiku.
Tentang Bu Ratna.
Tentang bagaimana Ardi selalu meminta aku mengalah.
Tentang kalimat orang luar.
Ibu mendengarkan tanpa menyela.
Setelah aku selesai, dia hanya mengatakan satu hal.
“Rina, menikah bukan berarti kamu harus kehilangan dirimu.”
Aku menggigit bibir.
“Aku takut gagal, Bu.”
“Gagal mempertahankan pernikahan belum tentu sama dengan gagal menjalani hidup.”
Aku menangis di pelukannya seperti anak kecil.
Pagi harinya, setelah memastikan kondisi Ibu stabil, aku menemui Ayah di sebuah hotel dekat Malioboro.
Surya Adinata sudah berusia enam puluh dua tahun, tetapi posturnya masih tegap.
Ketika melihatku, dia berdiri.

Untuk beberapa detik kami hanya saling menatap.
Hubungan kami tidak pernah benar-benar mudah.
Setelah bercerai dari Ibu, Ayah pindah ke Singapura dan membangun bisnisnya di sana. Dia selalu memenuhi kewajiban finansial, tetapi jarang hadir secara emosional.
Mungkin karena itulah aku tumbuh menjadi perempuan yang terlalu menghargai kehadiran keluarga, sampai tidak sadar sedang dimanfaatkan atas nama keluarga.
“Apa maksud pesan Ayah?”
Aku langsung bertanya.
Ayah menggeser sebuah map ke arahku.
“Baca.”
Di dalamnya terdapat dokumen perusahaan.
Aku mengenali nama salah satu anak perusahaan kami, Adinata Healthcare Supply.
Namun ada nama lain yang membuat alisku mengernyit.
Wijaya Prima Distribusi.
“Itu perusahaan siapa?”
“Ayah rasa kamu tahu.”
Aku membaca nama direktur utama.
Bambang Wijaya.
Ayah Ardi.
Dadaku seketika terasa kosong.
“Ayah mertuaku?”
Surya mengangguk.
“Wijaya Prima sudah menjadi distributor regional kita selama lima tahun.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak pernah tahu.”
“Karena selama ini kontraknya ditangani divisi procurement. Tetapi enam bulan terakhir ada audit internal.”
Ayah membuka halaman berikutnya.
“Invoice ganda. Penggelembungan harga. Barang yang dilaporkan dikirim tetapi tidak pernah sampai ke beberapa fasilitas kesehatan.”
Aku semakin sulit bernapas.
“Berapa?”
“Hampir delapan miliar rupiah.”
Aku membeku.
Kemudian satu ingatan muncul.
Beberapa bulan lalu, Bu Ratna membeli mobil baru.
Dimas pindah ke apartemen dekat kampus.
Keluarga mereka merenovasi bagian belakang rumah.
Ketika aku bertanya dari mana uangnya, Bu Ratna hanya menjawab investasi lama keluarga sedang bagus.
“Ayah sudah tahu aku menikah dengan anak mereka?”
“Tahu.”
Aku menatapnya tajam.
“Kenapa Ayah diam?”
“Karena kamu meminta Ayah tidak ikut campur dalam kehidupanmu.”
Aku tidak bisa membantah.
“Awalnya Ayah juga mengira itu kebetulan. Tetapi dua hari lalu, tim audit menemukan email.”
Ayah mengeluarkan beberapa lembar cetakan.
Salah satunya membuat tanganku gemetar.
Email itu dikirim tiga tahun lalu.
Dari Ardi Wijaya kepada Bambang Wijaya.
Aku membaca satu kalimat yang membuat seluruh ruangan seperti kehilangan suara.
Kalau Rina sudah menikah denganku, hubungan dengan Adinata akan jauh lebih aman. Jangan khawatir soal perpanjangan kontrak.
Aku berhenti bernapas beberapa detik.
Tanggal email itu dua minggu sebelum Ardi melamarku.
“Ayah…”
Suaraku nyaris tidak terdengar.
Surya menatapku.
“Ayah berharap ada penjelasan lain.”
Aku membaca email berikutnya.
Semakin banyak aku membaca, semakin jelas semuanya.
Ardi mengetahui identitasku jauh sebelum kami menikah.
Dia tahu aku anak Surya Adinata.
Dia tahu aku memiliki saham.
Dia bahkan pernah menulis kepada ayahnya bahwa aku tidak terlalu tertarik mengurus bisnis keluarga dan mudah merasa bersalah jika menyangkut urusan keluarga.
Kalimat terakhir menghancurkan sesuatu di dalam diriku.
Rina tipe perempuan yang akan terus memberi asal dibuat merasa itu kewajiban.
Aku menutup map.
Tanganku gemetar hebat.
Semua kenangan empat tahun terakhir berubah bentuk dalam hitungan menit.
Pertemuan pertama kami yang kukira kebetulan.
Kepeduliannya terhadap pekerjaanku.
Pertanyaan-pertanyaannya tentang Ayah.
Bahkan cara Bu Ratna begitu cepat meminta aku menyerahkan gaji setelah menikah.
Semua terasa seperti potongan teka-teki yang akhirnya tersusun.
“Ayah akan membawa ini ke polisi?”
“Tim hukum sudah bersiap. Tapi karena kamu pemegang saham terbesar kedua, keputusan tentang penghentian kontrak harus dibahas besok.”
Aku tertawa kecil.
Ironis.
Semalam keluarga Wijaya melarangku menggunakan uangku sendiri untuk menyelamatkan ibuku.
Pagi ini aku justru memegang keputusan yang bisa menentukan nasib perusahaan mereka.
Ponselku berdering.
Ardi.
Aku menatap layar beberapa detik sebelum menjawab.
“Di mana kamu?”
“Yogyakarta.”
“Pulang sekarang.”
Nada suaranya berubah.
Tidak lagi keras.
Terdengar panik.
“Ayah baru dapat telepon dari kantor Adinata. Katanya kontrak perusahaan kami sedang diperiksa.”
Aku memejamkan mata.
Jadi mereka sudah tahu.
“Lalu?”
“Rina, aku rasa ada kesalahpahaman. Kita harus bicara.”
“Aku sedang bicara denganmu.”
Dia terdiam.
Kemudian suaranya melembut.
“Sayang, soal semalam, aku minta maaf. Ibu juga sebenarnya tidak bermaksud begitu.”
Aku hampir tidak mengenali laki-laki ini.
Semalam dia mengatakan ibuku sebaiknya meminjam uang kepada saudara.
Sekarang dia memanggilku sayang karena kontrak ayahnya sedang terancam.
“Ardi.”
“Iya?”
“Kamu tahu siapa ayahku sejak sebelum kita menikah?”
Keheningan di ujung telepon menjawab semuanya.
Tetapi aku tetap menunggu.
“Siapa yang bilang?”
“Jawab.”
“Rina, dengar dulu…”
“Kamu tahu?”
Dia menghela napas panjang.
“Iya.”
Mataku terasa panas.
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan setelah kita kenal.”
Bohong.
Aku memandangi email di meja.
“Aku sedang memegang email yang kamu kirim dua minggu sebelum melamarku.”
Tidak ada suara.
“Ardi?”
Telepon tiba-tiba terputus.
Aku tidak menelepon kembali.
Siang itu Ardi datang ke Yogyakarta bersama kedua orang tuanya.
Entah bagaimana mereka mengetahui hotel tempat Ayah menginap.
Bu Ratna yang selama tiga tahun selalu bicara kepadaku dengan dagu terangkat kini berdiri di depan ruang pertemuan hotel dengan wajah pucat.
“Rina.”
Untuk pertama kalinya dia memegang tanganku dengan kedua tangannya.
“Semalam Ibu sedang emosi.”
Aku menarik tanganku perlahan.
“Ibu bilang ibu kandungku orang luar.”
“Itu cuma ucapan.”
“Ucapan menunjukkan cara seseorang berpikir.”
Pak Bambang maju.
“Kita keluarga. Jangan campurkan masalah rumah tangga dengan bisnis.”
Ayah yang sejak tadi berdiri di belakangku akhirnya bicara.
“Justru selama bertahun-tahun bisnis dicampurkan dengan keluarga oleh Anda.”
Pak Bambang kehilangan warna wajahnya.
Ardi menatapku.
“Kita bisa memperbaiki semuanya.”
Aku menggeleng.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”
Dia diam.
“Bukan uang.”
Aku mengeluarkan salinan email dan meletakkannya di meja.
“Ini.”
Ardi membaca satu halaman.
Wajahnya berubah.
“Aku memang awalnya mendekatimu karena tahu siapa ayahmu.”
Bu Ratna langsung menoleh kepadanya.
“Ardi!”
“Tapi kemudian aku benar-benar mencintainya!”
Dia menatapku putus asa.
“Rina, aku serius. Awalnya memang ada kepentingan keluarga. Tapi setelah itu perasaanku sungguhan.”
Aku menatap laki-laki yang pernah kupikir akan menjadi pasangan hidupku sampai tua.
Mungkin dia benar.
Mungkin di antara semua kebohongan itu pernah ada cinta.
Namun cinta yang meminta seseorang menyerahkan seluruh dirinya sementara keluarganya sendiri dianggap orang luar bukanlah cinta yang ingin kupelihara.
“Kamu mungkin pernah mencintaiku.”
Aku berkata pelan.
“Tapi kamu lebih mencintai kenyamanan yang bisa kudapatkan untuk keluargamu.”
Air muka Ardi runtuh.
Bu Ratna mulai menangis.
“Rina, jangan lakukan ini. Kalau kontrak dihentikan, perusahaan kami bisa bangkrut.”
Aku menatapnya.
Kemudian teringat satu kalimat.
Bahkan Rp1 juta pun tidak akan Ibu keluarkan untuk urusan keluarga sana.
Aku tidak merasakan kemenangan.
Aneh sekali.
Aku hanya merasa lelah.
“Audit dan proses hukum bukan keputusan balas dendam saya.”
Aku memandang Pak Bambang.
“Kalau tidak ada pelanggaran, perusahaan Bapak tidak perlu takut.”
Dia menunduk.
Itu jawaban yang cukup.
Dua minggu kemudian, hasil audit resmi keluar.
Wijaya Prima Distribusi terbukti melakukan manipulasi transaksi dan pelanggaran kontrak.
Kerja sama dihentikan.
Kasusnya dilanjutkan secara hukum.
Aku tidak pernah meminta Ayah meringankan ataupun memberatkan prosesnya.
Aku hanya meminta satu hal.
Semuanya harus sesuai bukti.
Ardi beberapa kali mencoba menemui aku.
Aku menolak.
Sebulan kemudian, melalui pengacara, aku mengajukan gugatan cerai.
Ibu menjalani tindakan medis dengan lancar dan kondisi kesehatannya perlahan membaik.
Suatu sore, saat aku menemaninya berjalan di taman rumah sakit, dia bertanya sesuatu.
“Kenapa waktu itu kamu transfer sampai enam ratus lima puluh juta? Bukannya kurangnya cuma enam puluh lima juta?”
Aku tersenyum.
“Karena selama bertahun-tahun Ibu selalu bilang tidak mau merepotkanku.”
Aku menggenggam tangannya.
“Jadi sekarang aku ingin Ibu berhenti memikirkan biaya hidup dan fokus sembuh.”
Ibu langsung memukul lenganku pelan.
“Uang sebanyak itu jangan dihamburkan.”
Aku tertawa.
Itulah Ibu.
Diberi Rp650 juta pun yang dipikirkan pertama justru cara menghematnya.
Enam bulan kemudian aku pindah ke Jakarta dan mulai lebih aktif mengelola Adinata Medika Group.
Suatu pagi, sekretarisku membawa sebuah amplop.
“Dikirim dari Surabaya, Bu.”
Tulisan tangan di depannya kukenal.
Ardi.
Aku hampir meminta sekretarisku membuangnya.
Namun akhirnya kubuka.
Tidak ada permintaan untuk kembali.
Tidak ada alasan panjang.
Hanya selembar surat.
Ardi menulis bahwa perusahaan ayahnya telah kehilangan sebagian besar aset. Pak Bambang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bu Ratna menjual rumah besar mereka dan pindah ke rumah yang lebih kecil.
Kemudian ada satu kalimat terakhir.
Aku baru mengerti sekarang. Selama ini kami menyebut ibumu orang luar, padahal orang yang paling asing terhadap perasaanmu justru kami yang tinggal serumah denganmu.
Aku membaca kalimat itu cukup lama.
Kemudian melipat suratnya kembali.
Aku tidak membalas.
Bukan karena masih marah.
Aku hanya sudah tidak membutuhkan penjelasan lagi.
Di meja kerjaku terdapat sebuah foto.
Aku dan Ibu di depan rumah kecilnya di Yogyakarta.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada rumah besar.
Tidak ada orang yang menanyakan berapa gajiku bulan ini.
Hanya dua perempuan yang tersenyum ke arah kamera.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak kupahami.
Keluarga bukan tentang siapa yang paling berhak atas uang kita.
Bukan pula tentang siapa yang namanya sama di kartu keluarga.
Keluarga adalah orang-orang yang ketika kita sedang memiliki banyak, tidak merasa berhak mengambil semuanya.
Dan ketika kita sedang tidak memiliki apa-apa, mereka tetap membuka pintu.
Aku pernah kehilangan lebih dari satu miliar rupiah untuk mempelajari hal itu.
Namun pada akhirnya, yang paling mahal bukanlah uang yang pernah kuhabiskan.
Melainkan tiga tahun hidup yang kulewati sambil percaya bahwa untuk disebut istri yang baik, aku harus terus mengorbankan diriku sendiri.
Untungnya, hidup masih memberiku kesempatan untuk berhenti.
Dan malam ketika Bu Ratna menyebut ibuku orang luar ternyata bukan malam ketika keluargaku hancur.
Itu adalah malam ketika aku akhirnya mengetahui siapa keluargaku yang sebenarnya.
