HAMIL 7 BULAN DAN DIKHIANATI! SURAT RAHASIA WANITA INI MEMBONGKAR RENCANA KEJAM KELUARGA KONGLOMERAT SEBELUM BAYINYA LAHIR!

Pengacara keluarga itu bernama Darmawan Halim. Selama hampir tiga puluh tahun, dia menangani urusan hukum keluarga Pratama. Adrian mengenalnya sejak masih duduk di bangku sekolah.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Adrian melihat ketakutan yang nyata di wajah pria tersebut.

Darmawan berjalan ke arah pintu ruang kerja, menutupnya rapat, lalu memastikan tidak ada orang lain di luar.

“Duduklah,” katanya pelan.

“Aku tidak mau duduk. Katakan sekarang.”

Darmawan menatap Adrian beberapa detik.

“Maya bukan hanya istrimu.”

Adrian mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Secara hukum, Maya adalah pemegang hak waris terakhir dari aset yang menjadi fondasi awal Pratama Group.”

Adrian membeku.

“Itu tidak masuk akal.”

“Memang sengaja dibuat agar tidak pernah terlihat masuk akal.”

Darmawan membuka tas kerjanya, lalu mengeluarkan salinan dokumen tua.

Empat puluh dua tahun lalu, ketika Pratama Group masih berupa perusahaan logistik kecil, kakek Adrian, Surya Pratama, hampir bangkrut. Perusahaan itu diselamatkan oleh seorang pengusaha bernama Harun Saraswati.

Harun adalah kakek Maya.

Dia menanamkan modal dalam jumlah sangat besar, tetapi tidak meminta namanya dimasukkan ke dalam struktur perusahaan.

Sebagai gantinya, dibuat sebuah perjanjian khusus.

Selama keluarga Saraswati tidak memiliki keturunan sah yang mencapai garis pewarisan tertentu, keluarga Pratama boleh mengelola aset tersebut.

Namun jika keturunan terakhir keluarga Saraswati menikah dengan pewaris utama Pratama dan melahirkan seorang anak, hak pengendalian atas sejumlah saham akan beralih otomatis kepada anak itu melalui sebuah trust keluarga.

Adrian merasakan tengkuknya dingin.

“Berapa banyak saham?”

Darmawan menatapnya lurus.

“Empat puluh satu persen.”

Adrian tidak bergerak.

Pratama Group adalah kerajaan bisnis dengan puluhan anak perusahaan, properti, pelabuhan, rumah sakit, perkebunan, dan perusahaan energi.

Empat puluh satu persen bukan sekadar kekayaan.

Itu berarti kendali.

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena ayahmu memilih menutupinya.”

Adrian langsung menatap Darmawan.

“Ayah?”

Darmawan mengangguk.

“Dia takut konflik keluarga. Setelah ayahmu meninggal, Oskar menemukan dokumen perjanjian itu.”

Semua potongan yang sebelumnya terasa terpisah kini mulai menyatu.

Oskar.

Polis asuransi.

Obat Maya.

CCTV yang dihapus.

Adrian menggertakkan gigi.

“Kalau anakku lahir?”

“Begitu bayi itu tercatat hidup dan sah secara hukum, trust akan aktif. Maya menjadi wali sementara sampai anak tersebut cukup umur. Oskar kehilangan hampir seluruh pengaruhnya dalam struktur holding.”

“Kalau Maya meninggal sebelum melahirkan?”

“Perjanjian itu gagal aktif.”

“Dan polis Rp750 miliar?”

“Masuk ke yayasan yang dia kuasai.”

Adrian berjalan mundur hingga punggungnya menyentuh meja.

Untuk beberapa detik, dia bahkan kesulitan bernapas.

Lalu satu hal lain terlintas dalam pikirannya.

Siska.

Dia langsung mengambil ponsel dan menelepon.

Tidak diangkat.

Sekali lagi.

Tetap tidak diangkat.

Adrian membanting ponselnya ke meja.

Darmawan menatapnya.

“Apa hubunganmu dengan Siska sebenarnya?”

Adrian mengusap wajah.

“Aku bertemu dia karena dia menghubungiku enam hari lalu.”

“Kenapa?”

“Dia bilang punya bukti Oskar menggunakan perusahaan cangkang untuk mengambil dana Pratama Group.”

“Dan kalimatmu di restoran?”

Adrian terdiam.

Darmawan menunggu.

“Aku bilang perusahaan fiktif itu harus lenyap sebelum persalinan Maya, karena aku ingin membereskan masalah perusahaan sebelum anakku lahir.”

Wajah Darmawan berubah.

“Jadi Maya salah memahami percakapan kalian.”

“Sebagian.”

Adrian menunduk.

“Tapi aku memang menyembunyikan pertemuan itu darinya. Aku takut membuatnya stres.”

Darmawan mendengus pelan.

“Dan sekarang justru dia mengira kamu ingin membunuhnya.”

Adrian tidak menjawab.

Karena dia tahu dirinya ikut menciptakan situasi itu.

Selama bertahun-tahun, dia terbiasa mengendalikan masalah sendirian.

Dia menyebutnya perlindungan.

Maya sering menyebutnya kebiasaan menutup diri.

Malam itu, konsekuensinya berdiri jelas di hadapannya.

Sementara itu, lebih dari dua puluh kilometer dari rumah keluarga Pratama, Maya duduk di sebuah kamar sederhana di daerah Depok.

Dia tidak pergi ke hotel.

Tidak pergi ke rumah teman.

Tidak pula menghubungi keluarganya.

Dia memilih tempat yang tidak pernah terpikirkan Adrian.

Sebuah rumah kontrakan milik Sri, mantan perawat ibunya.

Sri kini berusia enam puluh dua tahun dan sudah lama pensiun.

Ketika Maya tiba malam itu, perempuan tersebut langsung memeluknya.

“Kamu gemetar.”

“Aku baik-baik saja.”

“Orang yang baik-baik saja tidak datang tengah malam saat hamil tujuh bulan dengan wajah seperti dikejar kematian.”

Maya akhirnya menangis.

Bukan karena Adrian dan Siska.

Bukan pula karena polis asuransi.

Dia menangis ketika memikirkan bayi di dalam kandungannya.

“Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.”

Sri menggenggam kedua tangannya.

“Kalau begitu, jangan percaya siapa pun dulu. Kita cari fakta.”

USB yang dibawa Maya ternyata berisi sesuatu yang bahkan tidak diketahui Adrian.

Selama dua bulan terakhir, Maya diam-diam menyalin rekaman sistem rumah setelah menemukan kejanggalan pada beberapa kamera.

Pada awalnya dia hanya curiga ada pelayan yang memasuki kamarnya tanpa izin.

Namun rekaman itu menunjukkan hal lain.

Joko beberapa kali masuk ke area dapur pribadi.

Pada suatu rekaman, dia terlihat menyerahkan kotak obat kepada salah seorang staf rumah tangga.

Dua hari kemudian, vitamin kehamilan Maya diganti.

Maya menatap layar laptop.

“Jadi Joko yang melakukannya.”

Sri tidak langsung menjawab.

“Belum tentu.”

Maya menoleh.

“Dia membawa obatnya.”

“Benar. Tapi kita belum tahu siapa yang menyuruhnya.”

Maya memperbesar bagian akhir rekaman.

Sebelum meninggalkan dapur, Joko menerima panggilan.

Mulutnya bergerak.

Tidak ada suara.

Namun Maya memperhatikan bibirnya.

Sri mengambil kertas.

“Kita putar lagi.”

Mereka melihat rekaman itu berkali-kali.

Akhirnya, Maya menangkap dua kata.

Pak Oskar.

Darahnya terasa dingin.

Saat itu juga, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Sri segera menutup laptop.

Lampu ruang tamu dimatikan.

Maya berdiri.

Napasnya memendek.

Seseorang mengetuk pintu.

Tiga kali.

Sri mengintip dari celah tirai.

Kemudian wajahnya berubah tegang.

“Siapa?” bisik Maya.

Sri tidak menjawab.

Ketukan terdengar lagi.

Kemudian suara seorang perempuan.

“Maya, aku tahu kamu di dalam.”

Maya mengenali suara itu.

Siska.

Maya mundur.

Sri memandangnya.

“Kamu kenal?”

Maya mengangguk.

“Perempuan yang bersama Adrian.”

Siska mengetuk lagi.

“Aku tidak datang untuk menyakitimu.”

Maya tertawa getir dari balik pintu.

“Kalimat yang bagus untuk seseorang yang diam-diam makan malam dengan suamiku.”

Terdengar tarikan napas panjang.

“Kalau kamu tidak membuka pintu, Oskar akan menemukanmu lebih dulu.”

Kalimat itu membuat Maya diam.

Sri memberi isyarat agar Maya menjauh.

Dia membuka pintu sedikit dengan rantai pengaman masih terpasang.

Siska berdiri sendirian.

Tidak ada riasan glamor.

Tidak ada gaun pesta.

Dia mengenakan jeans, kemeja sederhana, dan topi hitam.

“Periksa tas saya kalau perlu,” katanya.

Maya akhirnya membiarkannya masuk.

Begitu pintu tertutup, Siska langsung meletakkan sebuah map hitam di atas meja.

Map yang sama seperti di restoran.

“Apa ini?”

“Bukti bahwa Oskar sudah merencanakan semuanya selama hampir sembilan bulan.”

Maya menatapnya.

“Kenapa kamu memilikinya?”

Siska terdiam.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah foto lama.

Dalam foto itu, Siska masih remaja. Dia berdiri di samping seorang pria paruh baya.

“Oskar adalah ayah biologis saya.”

Maya sampai kehilangan kata-kata.

Siska melanjutkan.

“Ibu saya adalah sekretarisnya selama bertahun-tahun. Dia tidak pernah mengakui saya secara terbuka. Tapi selama hidupnya mulai bermasalah, dia sering memakai saya untuk mendekati orang-orang tertentu.”

“Kamu bekerja untuknya?”

“Awalnya.”

Maya langsung berdiri.

“Keluar.”

“Tunggu.”

“Keluar dari rumah ini.”

“Saya yang mengambil salinan polis asuransimu.”

Maya berhenti.

Siska membuka map hitam itu.

Di dalamnya terdapat transfer bank, catatan perusahaan, polis, rekaman panggilan, dan salinan percakapan antara Oskar dengan Joko.

Salah satu pesan membuat Maya merinding.

Pastikan kandungannya tidak bertahan sampai tanggal pencatatan trust.

Maya menutup mulut.

Siska menatapnya.

“Saya mengetahui semuanya dua minggu lalu. Sejak itu saya pura-pura tetap bekerja untuk Oskar.”

“Kenapa menemui Adrian?”

“Karena saya butuh seseorang di dalam keluarga Pratama yang bisa melawannya.”

Maya mengingat kembali foto viral itu.

Tangan Siska di atas tangan Adrian.

Siska menghela napas.

“Foto itu juga direncanakan.”

“Direncanakan siapa?”

“Oskar.”

Maya terdiam.

“Dia ingin kamu melihatnya. Dia ingin kamu stres. Bertengkar dengan Adrian. Pergi dari rumah atau membuat kondisi kandunganmu memburuk.”

“Joko memotret kalian.”

“Untuk dikirim ke media.”

Maya merasa mual.

Semua itu bukan kebetulan.

Bahkan kecemburuannya telah dirancang.

Siska mendorong satu dokumen terakhir.

“Masih ada satu masalah.”

“Apa?”

“Obatmu bukan satu-satunya cara.”

Maya menatapnya tajam.

“Oskar tahu kamu sudah curiga. Karena itu dia menyiapkan rencana kedua.”

“Apa rencananya?”

Siska belum sempat menjawab.

Tiba-tiba kaca jendela pecah.

Sri berteriak.

Sebuah benda logam menghantam lantai.

Asap putih langsung memenuhi ruangan.

“Keluar!” teriak Siska.

Maya menutupi mulutnya.

Sri membuka pintu belakang.

Mereka bertiga berlari ke gang sempit di belakang rumah.

Maya baru beberapa langkah ketika perutnya mendadak terasa kencang.

Dia berhenti.

“Aduh…”

Sri berbalik.

“Maya?”

Kontraksi.

Terlalu cepat.

Maya menggigit bibir.

“Bayinya…”

Siska memegang lengannya.

“Kita harus ke rumah sakit.”

“Tidak bisa rumah sakit Pratama.”

“Bukan.”

Siska mengeluarkan kunci mobil.

“Saya tahu tempat lain.”

Empat puluh menit kemudian, Maya berada di sebuah rumah sakit swasta kecil di Bogor dengan nama pasien yang disamarkan.

Dokter menyatakan kontraksi dipicu stres berat, tetapi persalinan belum terjadi.

Bayi masih aman.

Maya menatap monitor detak jantung janin.

Untuk pertama kali malam itu, dia merasa bisa bernapas.

Kemudian pintu kamar terbuka.

Adrian masuk.

Maya langsung menegang.

“Bagaimana kamu menemukan aku?”

Adrian berhenti beberapa meter dari tempat tidur.

“Siska.”

Maya menatap perempuan itu.

Siska mengangguk.

“Saya menghubunginya setelah kita lolos.”

Adrian tidak mendekat.

Dia meletakkan sesuatu di meja.

Surat Maya.

“Aku salah karena menyembunyikan banyak hal darimu.”

Maya menatapnya dingin.

“Tapi kamu tidak ingin aku mati?”

Adrian terlihat seperti baru saja ditampar.

“Tidak.”

Dia menceritakan semuanya.

Tentang perusahaan cangkang.

Tentang pertemuannya dengan Siska.

Tentang perjanjian warisan keluarga Saraswati.

Tentang empat puluh satu persen saham.

Maya mendengarkan tanpa memotong.

Saat Adrian selesai, Maya bertanya pelan.

“Jadi semua orang tahu siapa aku kecuali aku sendiri?”

Adrian menunduk.

“Aku juga baru tahu malam ini.”

Maya menatap langit-langit.

Ironis sekali.

Selama bertahun-tahun dia berpikir keluarga Pratama menerimanya karena cinta Adrian.

Ternyata di balik pernikahan itu ada sejarah puluhan tahun yang bahkan tak pernah dia ketahui.

Pukul empat pagi, polisi datang.

Siska telah menyerahkan seluruh bukti.

Joko ditangkap beberapa jam kemudian ketika mencoba meninggalkan Jakarta menuju Surabaya.

Namun Oskar menghilang.

Dua hari berlalu.

Tiga hari.

Tidak ada jejak.

Sampai pada hari keempat, Maya menerima telepon dari nomor tak dikenal.

“Selamat pagi, Maya.”

Dia mengenali suara Oskar.

Adrian yang berada di sampingnya langsung menyalakan perekam.

“Oskar.”

“Kamu pintar sekali.”

“Apa yang kamu mau?”

“Dokumen trust.”

“Itu bahkan bukan milikku.”

“Jangan berpura-pura bodoh. Salinan asli terakhir disimpan Darmawan.”

Maya menatap Adrian.

Oskar melanjutkan.

“Serahkan dokumen itu, dan semuanya berakhir.”

“Kalau tidak?”

“Anakmu mungkin lahir. Tapi belum tentu sempat tumbuh.”

Adrian mengepalkan tangan.

Maya justru tetap tenang.

“Aku ingin bertemu.”

Adrian langsung menoleh.

Oskar tertawa.

“Akhirnya kita bicara seperti orang dewasa.”

Pertemuan diatur malam itu di sebuah gudang tua milik Pratama Group dekat Pelabuhan Sunda Kelapa.

Oskar datang sendirian.

Setidaknya dia mengira Maya juga datang sendirian.

Maya berdiri di tengah gudang sambil membawa map.

Oskar tersenyum.

“Anak pintar.”

“Kamu melakukan semua ini demi saham?”

“Jangan naif. Kekuasaan selalu lebih mahal daripada uang.”

“Kamu mencoba membunuhku.”

“Aku hanya mengembalikan keseimbangan keluarga.”

Maya menatap pria di hadapannya.

“Dan Siska?”

Wajah Oskar berubah tipis.

“Dia kesalahan lama.”

Dari tempat tersembunyi, Siska mendengar semuanya melalui alat komunikasi polisi.

Matanya berkaca-kaca.

Maya melangkah lebih dekat.

“Kamu tahu kesalahan terbesarmu?”

Oskar tersenyum meremehkan.

“Apa?”

“Kamu mengira semua orang bisa kamu gunakan selamanya.”

Lampu gudang mendadak menyala terang.

Polisi keluar dari berbagai sisi.

Oskar berbalik.

Terlambat.

Adrian berdiri bersama mereka.

Wajah Oskar berubah merah.

“Kalian menjebakku!”

Maya mengangkat map yang dibawanya.

Isinya kosong.

Oskar ditangkap malam itu atas dugaan pemalsuan dokumen, percobaan pembunuhan, manipulasi asuransi, pencucian uang, dan penggelapan dana perusahaan.

Namun kejutan terbesar datang satu bulan kemudian.

Ketika auditor independen menyelesaikan pemeriksaan Pratama Group, ditemukan bahwa Oskar bukan hanya mencoba mempertahankan kekuasaan.

Dia juga telah mencuri lebih dari Rp1,8 triliun melalui jaringan perusahaan palsu selama sebelas tahun.

Kerajaan bisnis yang terlihat kokoh itu ternyata berdiri di atas lubang yang nyaris menghancurkan seluruh keluarga.

Maya melahirkan tiga minggu lebih awal.

Seorang bayi perempuan.

Sehat.

Berat badannya sedikit di bawah rata-rata, tetapi tangisannya keras memenuhi ruang bersalin.

Adrian menangis saat pertama kali menggendongnya.

Maya hanya tersenyum.

“Aku kira pewaris Pratama Group akan laki-laki.”

Adrian tertawa sambil mengusap air mata.

“Dia bukan pewaris Pratama.”

Maya menatapnya.

“Lalu?”

“Dia pewaris dirinya sendiri.”

Bayi itu diberi nama Aurora Saraswati Pratama.

Nama yang awalnya digunakan Oskar untuk yayasan yang dirancang menerima uang kematian Maya.

Maya sengaja memilihnya.

Bukan untuk mengenang ketakutan.

Melainkan untuk mengambil kembali sesuatu yang pernah digunakan untuk menghancurkannya.

Enam bulan kemudian, dalam rapat pemegang saham pertama setelah skandal tersebut, Maya datang membawa Aurora dalam gendongan.

Para direksi berdiri ketika dia masuk.

Empat puluh satu persen saham resmi berada di bawah trust putrinya.

Namun Maya membuat keputusan yang mengejutkan semua orang.

Dia menolak menjadi ketua perusahaan.

Sebaliknya, dia menunjuk tim profesional independen untuk mengelola saham tersebut dan meminta seluruh struktur Pratama Group diaudit setiap tahun secara terbuka.

Adrian menatapnya setelah rapat.

“Kamu tahu kamu bisa mengendalikan semuanya sekarang.”

Maya menatap Aurora yang tertidur di pelukannya.

“Itulah masalah keluarga kalian selama ini.”

“Apa?”

“Semua orang terlalu sibuk ingin mengendalikan semuanya.”

Dia kemudian tersenyum kecil.

“Aku tidak ingin putriku mewarisi kerajaan.”

Adrian mengangkat alis.

“Lalu apa yang ingin kamu wariskan?”

Maya menatap wajah kecil bayinya.

“Pilihan.”

Di luar gedung, puluhan wartawan menunggu.

Berita tentang keluarga Pratama kembali memenuhi media.

Namun kali ini, Maya tidak bersembunyi.

Dia berjalan keluar melewati pintu utama.

Bukan melalui truk binatu.

Bukan melalui lorong gelap.

Dan bukan sebagai perempuan hamil yang melarikan diri karena takut kehilangan hidupnya.

Dia keluar membawa putrinya di dada, sementara Adrian berjalan di sampingnya.

Siska berada beberapa langkah di belakang mereka.

Tiga orang yang pernah dipertemukan oleh kebohongan, kini berdiri bersama karena satu kebenaran sederhana.

Keluarga tidak selalu ditentukan oleh darah.

Kekayaan tidak selalu berarti kekuasaan.

Dan terkadang, surat yang ditinggalkan seorang perempuan untuk menyelamatkan diri justru menjadi awal runtuhnya sebuah kerajaan yang dibangun dari rahasia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang