“Ibu.”
Suara Raka terdengar tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat ruang keluarga terasa semakin mencekam.
“Obat Anindya ada di mana?”
Bu Ratna tidak langsung menjawab.
Rani menunduk. Sari memeluk lengannya sendiri. Dinda yang biasanya paling berani bicara kini hanya menatap lantai.
Raka memperhatikan perubahan wajah mereka satu per satu.
Lalu pandangannya berhenti pada Bu Ratna.
“Ibu dengar pertanyaan saya?”
Bu Ratna menghela napas panjang.
“Kamu jangan membesar-besarkan masalah kecil.”
Rahang Raka mengeras.
“Masalah kecil?”
“Itu cuma vitamin.”
Raka tertawa pendek tanpa sedikit pun rasa lucu.
“Dokter kandungan Anindya bilang obat itu harus diminum teratur.”
Bu Ratna mengangkat dagu.
“Dulu Ibu hamil empat kali tanpa obat macam-macam. Semua lahir sehat. Sekarang perempuan sedikit-sedikit vitamin, suplemen, kontrol, istirahat. Manja.”
Raka menatap ibunya beberapa detik.
Kemudian ia bertanya lagi.
“Obatnya di mana?”
Bu Ratna terdiam.
Sari tiba-tiba menyela.
“Sudahlah, Kak. Ibu cuma mau bantu.”
Raka menoleh.
“Bantu apa?”
Sari menelan ludah.
“Anindya terlalu bergantung sama obat. Ibu takut nanti bayinya malah kebanyakan zat kimia.”
Raka hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Kalian dokter?”
Tidak ada jawaban.
“Kalian apoteker?”
Tetap diam.
“Kalian bahkan pernah ikut satu kali saja kontrol kehamilan Anindya?”
Rani mulai terlihat gelisah.
“Raka, jangan bicara seolah-olah kami jahat. Kami cuma merasa dia terlalu dimanjakan kamu.”
Raka menatap kakaknya.
“Dimanjakan?”
Rani mendengus.
“Sejak dia hamil, semua orang harus menyesuaikan diri. Makanan harus ini, harus itu. AC nggak boleh terlalu dingin. Rumah harus tenang kalau dia tidur siang. Kamu bahkan membelikan kursi khusus buat dia.”
“Itu rekomendasi dokter karena punggungnya sakit.”
“Tetap saja.”
Raka menarik napas dalam.
Untuk sesaat, ia tidak berkata apa-apa.
Kemudian pandangannya jatuh ke tempat sampah besar di sudut dekat dapur.
Entah karena insting atau karena sesuatu yang tadi ia lihat sekilas saat masuk, Raka berjalan ke sana.
Bu Ratna langsung berdiri.
“Raka.”
Ia tidak berhenti.
“Raka, jangan bongkar sampah malam-malam.”
Langkah Raka justru semakin cepat.
Ia membuka tutup tempat sampah.
Di antara kemasan makanan, tisu, dan kantong plastik, terlihat sebuah plastik putih kecil yang diikat.
Raka mengambilnya.
Tangannya mulai gemetar ketika membuka ikatan plastik tersebut.
Di dalamnya ada beberapa strip obat.
Botol vitamin.
Suplemen zat besi.
Dan obat resep dari dokter kandungan Anindya.
Beberapa masih hampir penuh.
Raka menatap benda-benda itu dalam keheningan yang panjang.
Kemudian ia berbalik.
Tatapan matanya berbeda.
“Siapa yang membuang ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Raka mengangkat plastik itu.
“Saya tanya sekali lagi.”
Dinda tiba-tiba menangis.
“Ibu yang suruh.”
Bu Ratna menoleh tajam.
“Dinda!”
Dinda langsung menutup mulut.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Raka menatap ibunya.
Bu Ratna terlihat marah sekaligus gugup.
“Aku memang menyuruh membuangnya. Terus kenapa?”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri Raka seolah terputus.
Namun ia tidak membentak.
Ia justru tersenyum tipis.
Senyum tanpa kehangatan.
“Terima kasih sudah mengaku.”
Bu Ratna mengernyit.
“Maksud kamu?”
Raka mengeluarkan ponselnya dan menekan sesuatu.
Dari speaker terdengar suara Bu Ratna sendiri beberapa detik sebelumnya.
“Aku memang menyuruh membuangnya. Terus kenapa?”
Wajah Bu Ratna langsung berubah.
“Kamu merekam Ibu?”
“Mulai sekarang, saya akan merekam semuanya.”
“Raka, kamu keterlaluan!”
“Tidak.”
Suara Raka tetap rendah.
“Saya terlambat.”
Keempat perempuan itu terdiam.
Raka kemudian mengeluarkan dompetnya dan mengambil satu kartu.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Kartu tambahan rekening saya saya blokir malam ini.”
Rani langsung berdiri.
“Apa?”
“Kartu kredit tambahan juga.”
Sari menatapnya tidak percaya.
“Raka, jangan bercanda.”
“Saya tidak pernah seserius ini.”
Bu Ratna membanting telapak tangannya ke meja.
“Jadi karena istrimu cuci piring dan beberapa vitamin dibuang, kamu mau menghukum keluarga sendiri?”
Raka akhirnya meninggikan suara.
“Dia hamil delapan bulan!”
Ruangan seketika membeku.
Raka menunjuk ke arah lantai atas.
“Perempuan yang sedang mengandung anak saya berdiri berjam-jam mencuci piring sampai tangannya dingin dan kakinya bengkak, sementara kalian duduk tertawa di sini menggunakan uang yang saya cari!”
Bu Ratna terdiam.
Napas Raka berat.
“Dan kalian membuang obat yang diresepkan dokter.”
Rani mencoba mendekat.
“Kita bisa bicara baik-baik.”
“Kita sedang bicara baik-baik.”
“Kalau semua akses uang kamu blokir, kami bagaimana?”
Raka menatapnya datar.
“Kalian bekerja.”
Rani membeku.
Sari langsung menyahut.
“Aku kan sedang cari kerja.”
“Sudah sebelas bulan.”
“Aku belum dapat yang cocok.”
“Karena yang kamu anggap cocok adalah pekerjaan dengan gaji tinggi, jam pendek, kantor dekat, dan tidak boleh kerja Sabtu.”
Wajah Sari memerah.

Raka beralih kepada Dinda.
“Kamu masih kuliah. Biaya kuliah tetap saya bayar langsung ke kampus. Makan dan kebutuhan dasar saya tanggung sampai lulus.”
Dinda sedikit mengangguk.
Lalu Raka menatap ibunya.
“Untuk Ibu, kebutuhan pokok dan biaya kesehatan tetap saya tanggung.”
Bu Ratna mendengus.
“Jadi Ibu harus minta uang seperti pengemis?”
“Tidak.”
Raka menatapnya lurus.
“Ibu hanya tidak bisa lagi menggunakan uang saya untuk belanja yang tidak perlu, sementara istri saya diperlakukan seperti pembantu.”
Mata Bu Ratna mulai berkaca-kaca.
“Ayahmu pasti kecewa melihat kamu begini.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam beberapa saat.
Dulu, setiap kali Bu Ratna menyebut almarhum ayahnya, Raka selalu luluh.
Namun malam itu tidak.
“Kalau Ayah masih hidup, mungkin beliau juga kecewa karena saya membiarkan semua ini terlalu lama.”
Bu Ratna menatap putranya seolah baru pertama kali melihat seorang asing.
Raka menyimpan kembali ponselnya.
“Besok pagi, kita bicara soal tempat tinggal.”
Rani langsung tersentak.
“Tempat tinggal?”
“Apartemen ini atas nama saya dan Anindya.”
Sari berdiri.
“Kamu mau mengusir kami?”
Raka tidak menjawab langsung.
Ia menatap wajah mereka satu per satu.
“Kalian punya waktu tiga puluh hari untuk mencari tempat tinggal.”
Dinda mulai menangis lebih keras.
Bu Ratna menatap Raka dengan wajah pucat.
“Karena perempuan itu?”
Raka mendekat satu langkah.
“Namanya Anindya.”
Bu Ratna menegang.
“Dia istri saya. Ibu dari anak saya.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan mulai malam ini, siapa pun yang tidak bisa menghormatinya tidak punya tempat di rumah kami.”
Raka kemudian kembali ke kamar.
Namun ketika ia membuka pintu, ia menemukan Anindya duduk di tepi ranjang.
Wajahnya penuh air mata.
“Kamu dengar semuanya?” tanya Raka.
Anindya mengangguk.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
Anindya menunduk.
“Karena aku takut.”
Raka duduk di depannya.
“Takut sama mereka?”
Anindya menggeleng.
“Takut kamu membenci keluargamu karena aku.”
Raka menatap wajah istrinya lama.
“Anindya, kamu bukan penyebab masalahnya.”
Air mata Anindya kembali jatuh.
“Ada satu hal lagi.”
Raka langsung merasa dadanya menegang.
“Apa?”
Anindya menggenggam ujung bajunya.
“Jangan marah.”
“Ceritakan.”
Anindya berjalan perlahan menuju lemari lalu mengambil sebuah map transparan.
Tangannya gemetar ketika menyerahkannya kepada Raka.
Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan laboratorium dari dua minggu sebelumnya.
Raka membaca beberapa baris.
Kemudian wajahnya berubah.
“Kamu anemia berat?”
Anindya mengangguk.
“Dokter menyuruh aku istirahat dan minum suplemen zat besi lebih teratur.”
“Kenapa saya nggak tahu?”
“Aku mau cerita malam itu.”
“Terus?”
Anindya terdiam cukup lama.
“Ibu mendengar.”
Raka merasa darahnya mendidih.
“Ibu bilang kalau aku cerita ke kamu, kamu pasti menyuruh mereka keluar. Dia bilang kalau keluarga kalian pecah, itu semua salahku.”
Raka menutup mata beberapa detik.
“Dia juga bilang…”
Anindya berhenti.
“Apa?”
“Kalau aku benar-benar perempuan baik, aku harus bisa menahan sedikit capek demi keluarga.”
Raka meremas map itu sampai plastiknya berkerut.
Namun sebelum ia sempat bicara, Anindya tiba-tiba meringis.
Tangannya mencengkeram perut.
“Raka…”
Raka langsung berdiri.
“Kenapa?”
“Perutku sakit.”
“Kencang?”
Anindya mengangguk.
Raka melihat jam.
Beberapa menit kemudian rasa sakit itu datang lagi.
Kali ini lebih kuat.
Wajah Anindya langsung pucat.
Tanpa berpikir panjang, Raka mengambil tas persalinan yang memang sudah disiapkan lalu membantunya turun.
Saat mereka melewati ruang keluarga, Bu Ratna masih berdiri di dekat sofa.
Melihat wajah Anindya, ia langsung panik.
“Kenapa?”
Raka tidak berhenti.
“Kami ke rumah sakit.”
“Ibu ikut.”
“Tidak.”
Satu kata itu cukup.
Malam itu, di dalam mobil menuju rumah sakit, tangan Anindya tidak pernah lepas dari tangan Raka.
Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan kontraksi Anindya dipicu kelelahan dan dehidrasi.
Untungnya, belum terjadi persalinan aktif.
Namun tekanan darahnya tidak stabil dan kondisi anemianya membuat dokter memutuskan untuk merawatnya.
“Kita observasi dulu,” kata dokter. “Kalau kondisi memburuk, kita harus mengambil tindakan lebih cepat.”
Raka duduk di samping tempat tidur sepanjang malam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar gagal.
Bukan sebagai anak.
Bukan sebagai kakak.
Tetapi sebagai suami.
Selama ini ia mengira tanggung jawab seorang suami adalah bekerja keras, membayar kebutuhan rumah, memastikan rekening cukup, dan pulang membawa apa pun yang diminta keluarga.
Ia tidak sadar bahwa rumah yang tampak nyaman di permukaan bisa menjadi tempat yang sangat sunyi bagi seseorang yang tidak berani bicara.
Pagi harinya, Raka menerima pesan dari satpam apartemen.
Pak, maaf mengganggu. Saya menemukan beberapa rekaman CCTV yang mungkin Bapak perlu lihat.
Raka langsung menelepon.
Satpam menjelaskan bahwa beberapa minggu terakhir ia beberapa kali melihat Anindya membawa kantong sampah berat sendirian. Ia juga pernah melihat Bu Ratna membuang sesuatu dari sebuah kotak obat ke tempat sampah luar.
“Kenapa Bapak baru bilang sekarang?”
Satpam terdengar ragu.
“Saya pikir itu urusan keluarga, Pak. Tapi semalam saya dengar Bapak buru-buru membawa Ibu Anindya ke rumah sakit.”
Rekaman dikirim beberapa menit kemudian.
Raka menontonnya.
Di salah satu video, terlihat jelas Anindya berdiri di lorong sambil memegang pinggang, sementara Bu Ratna menyerahkan dua kantong belanja besar.
Di video lain, Anindya duduk sebentar di bangku dekat lift karena kelelahan.
Rani datang.
Alih-alih membantu, ia menunjuk kantong belanja dan mengatakan sesuatu yang tidak terdengar dari rekaman.
Anindya kemudian berdiri kembali.
Namun video terakhir yang membuat Raka terpaku.
Bu Ratna terlihat berdiri di area sampah sambil membuka sebuah plastik putih.
Ia mengeluarkan beberapa botol obat.
Lalu membuangnya satu per satu.
Bukti itu cukup.
Raka menyimpan semuanya.
Tiga hari kemudian, Anindya diperbolehkan pulang dengan syarat istirahat total.
Ketika mereka tiba di apartemen, suasana terasa berbeda.
Tidak ada televisi menyala.
Tidak ada tawa.
Di ruang keluarga sudah ada beberapa koper.
Bu Ratna duduk di sofa.
Rani dan Sari berdiri di belakangnya.
Dinda tampak paling terpukul.
Raka membantu Anindya duduk terlebih dahulu.
Kemudian Bu Ratna bicara.
“Kami akan pergi.”
Raka hanya mengangguk.
Namun Bu Ratna belum selesai.
“Ibu cuma mau tahu satu hal.”
Raka menatapnya.
“Apakah kamu benar-benar bisa hidup tenang setelah memilih istrimu daripada ibu sendiri?”
Anindya langsung terlihat tidak nyaman.
Namun Raka menggenggam tangannya.
“Ini bukan soal memilih istri atau ibu.”
Bu Ratna tersenyum pahit.
“Lalu?”
“Ini soal memilih benar atau salah.”
Bu Ratna tidak berkata apa-apa.
Raka melanjutkan.
“Kalau Anindya yang membuang obat Ibu, memaksa Ibu bekerja saat sakit, lalu membuat Ibu takut mengadu kepada saya, saya juga akan membela Ibu.”
Mata Bu Ratna berkaca-kaca.
“Jadi sekarang Ibu orang jahat?”
“Tidak.”
Raka menggeleng.
“Ibu adalah orang yang melakukan hal yang salah.”
Kalimat itu justru terdengar lebih menyakitkan daripada hinaan.
Rani akhirnya berkata,
“Kami memang keterlaluan.”
Sari menunduk.
“Aku juga.”
Dinda sudah menangis sejak tadi.
Namun Bu Ratna tetap diam.
Mereka pergi sore itu.
Raka menyewakan sebuah rumah sederhana tidak jauh dari apartemen untuk ibunya selama enam bulan.
Ia tetap membayar kebutuhan pokok dan biaya kesehatan Bu Ratna, tetapi tidak lagi memberikan akses bebas ke rekening.
Rani dan Sari mulai bekerja.
Dinda tetap melanjutkan kuliahnya.
Hubungan mereka tidak langsung membaik.
Ada jarak.
Ada kemarahan.
Ada rasa malu.
Namun untuk pertama kalinya, ada batas yang jelas.
Dua minggu kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Anindya sedang beristirahat ketika menerima paket kecil.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat empat botol suplemen baru yang sama persis dengan yang pernah dibuang.
Ada juga sebuah surat pendek.
Tulisan tangan itu milik Bu Ratna.
Anindya membacanya perlahan.
“Ibu tidak tahu bagaimana meminta maaf tanpa terdengar seperti sedang mencari pembenaran. Jadi Ibu tidak akan menjelaskan apa pun. Ibu salah. Ibu sudah membuatmu merasa harus mendapatkan tempat di keluarga ini dengan cara menderita. Padahal seharusnya kamu tidak perlu membuktikan apa pun.”
Anindya berhenti membaca karena air matanya jatuh.
Raka duduk di sampingnya.
Masih ada satu kalimat terakhir.
“Kalau suatu hari kamu bersedia, izinkan Ibu belajar menjadi nenek yang lebih baik daripada mertua.”
Anindya memegang surat itu erat-erat.
“Menurut kamu, dia sungguh-sungguh?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Entahlah.”
Ia menatap istrinya.
“Tapi minta maaf itu awal. Berubah itu buktinya.”
Sebulan kemudian, Anindya melahirkan seorang bayi perempuan sehat.
Mereka menamainya Aluna.
Hari pertama Bu Ratna datang menjenguk, ia tidak berani langsung masuk kamar.
Ia berdiri di depan pintu sambil membawa sebuket bunga kecil.
Untuk pertama kalinya, perempuan yang biasanya selalu yakin dirinya benar itu tampak benar-benar gugup.
Anindya yang melihatnya dari tempat tidur berkata pelan,
“Masuk saja, Bu.”
Bu Ratna menatapnya.
“Boleh?”
Anindya mengangguk.
Bu Ratna melangkah masuk.
Ketika melihat cucunya untuk pertama kali, air matanya langsung jatuh.
Ia tidak mencoba menggendong.
Tidak mencoba memberi nasihat.
Tidak mencoba mengatur apa pun.
Ia hanya berdiri di dekat ranjang dan berkata,
“Terima kasih sudah selamat.”
Anindya menatapnya lama.
Lalu perlahan mengulurkan tangan.
Bu Ratna menggenggamnya.
Tidak ada pelukan dramatis.
Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba menyembuhkan semua luka.
Tetapi sejak hari itu, sesuatu mulai berubah.
Bu Ratna belajar mengetuk pintu sebelum masuk.
Belajar bertanya sebelum membantu.
Belajar menerima jawaban tidak.
Rani dan Sari mulai datang membawa makanan, bukan membawa pakaian kotor.
Dinda bahkan menjadi orang yang paling sering menjaga Aluna ketika Raka dan Anindya harus pergi kontrol.
Enam bulan kemudian, saat seluruh keluarga kembali makan bersama untuk pertama kalinya, Bu Ratna berdiri setelah makan dan mulai mengumpulkan piring.
Anindya refleks ikut berdiri.
Bu Ratna langsung menahannya.
“Kamu duduk saja.”
Anindya tersenyum.
“Aku bisa bantu.”
Bu Ratna menggeleng.
“Bukan karena kamu nggak boleh membantu.”
Ia menatap Anindya dengan mata yang kini jauh lebih lembut.
“Tapi karena dulu Ibu pernah membuatmu merasa harus bekerja supaya pantas disebut keluarga.”
Ruangan menjadi hening.
Bu Ratna mengambil piring dari depan Anindya.
“Sekarang Ibu sudah tahu. Keluarga bukan tempat seseorang membuktikan nilainya dengan menderita.”
Raka yang duduk di ujung meja tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya menatap istrinya.
Lalu anak mereka.
Kemudian ibunya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawa kembali terdengar di rumah.
Tetapi kali ini tidak ada seorang pun yang menangis sendirian di dapur.
