Tiga hari setelah kepulangan Rendra dari apa yang ia sebut sebagai perjalanan dinas ke Surabaya, Laras duduk di meja makan sambil menatap sebuah map cokelat di depannya.
Rendra baru saja meletakkan map itu di samping piring sarapan.
“Cuma dokumen biasa,” katanya ringan. “Apartemen Tebet itu mau aku jual. Lokasinya sudah kurang strategis untuk investasi. Ada pembeli yang berani bayar tinggi.”
Laras tidak langsung menyentuh map tersebut.
Apartemen di Tebet dibeli 18 tahun lalu, ketika usaha Rendra mulai berkembang dan kondisi ekonomi mereka sedang membaik.
Meski sebagian besar cicilan dibayar dari penghasilan Rendra, nama Laras juga tercantum dalam akta kepemilikan.
Selama bertahun-tahun apartemen itu disewakan.
Setidaknya, itulah yang Laras ketahui.
“Kenapa harus dijual sekarang?” tanyanya.
Rendra menuangkan kopi tanpa menatap istrinya.
“Pasar sedang bagus.”
“Siapa pembelinya?”
Rendra berhenti sesaat.
“Orang kantor.”
Jawaban itu terlalu pendek.
Terlalu cepat.
Dulu Laras mungkin akan mengangguk dan menandatangani apa pun yang diminta suaminya.
Namun pagi itu, bayangan Melani merapikan kerah kemeja Rendra di bandara masih terlihat jelas di kepalanya.
Laras membuka map.
Ada beberapa lembar dokumen.
Surat persetujuan penjualan.
Surat kuasa.
Salinan sertifikat.
Dan satu halaman yang membuat matanya berhenti.
Harga penjualan yang tercantum hanya Rp680 juta.
Laras tahu nilai apartemen itu jauh lebih tinggi.
Setahun sebelumnya, seorang tetangga pernah mengatakan unit dengan ukuran hampir sama terjual lebih dari Rp1,4 miliar.
“Murah sekali,” kata Laras.
Rendra mengangkat bahu.
“Unit kita perlu renovasi.”
“Separuh harga pasar?”
Nada suara Laras tetap tenang.
Rendra akhirnya menatap istrinya.
Ada sesuatu di matanya.
Bukan rasa bersalah.
Melainkan kewaspadaan.
“Kamu sekarang sejak kapan mengerti harga properti?”
Kalimat itu menusuk.
Namun Laras tidak terpancing.
Ia menutup map perlahan.
“Aku mau baca dulu.”
Rendra tersenyum tipis.
“Kamu tidak percaya sama suamimu sendiri?”
Laras menatapnya tepat di mata.
“Tiga puluh tahun aku percaya.”
Rendra tidak menjawab.
Malam itu, setelah suaminya tertidur, Laras membawa map tersebut ke ruang kerja kecil di lantai bawah.
Ia memotret seluruh dokumen menggunakan ponsel.
Kemudian ia mengirimkannya kepada Ratna, teman lamanya yang bekerja sebagai notaris di Jakarta Selatan.
Ratna menelepon kurang dari 20 menit kemudian.
“Laras, jangan tanda tangan apa pun.”
Nada suaranya membuat tengkuk Laras menegang.
“Kenapa?”
“Surat kuasa ini terlalu luas. Kalau kamu tanda tangan, Rendra bukan cuma bisa menjual unit. Dia juga bisa mewakili kamu dalam perubahan rekening penerimaan hasil transaksi.”
Laras terdiam.
Ratna melanjutkan.
“Dan harga transaksi ini aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Aku cek NJOP dan kisaran pasar di gedung itu. Unit kalian seharusnya di atas satu miliar.”
Laras menggenggam ponselnya lebih erat.
“Kalau angka di dokumen sengaja dibuat lebih rendah?”
“Bisa jadi selisihnya dibayarkan di luar transaksi resmi.”
“Artinya?”
Ratna menghela napas.
“Artinya ada kemungkinan seseorang sedang mencoba mengeluarkan aset dari perkawinan tanpa kamu tahu.”
Malam itu Laras tidak tidur.
Pukul tiga dini hari ia duduk sendirian di dapur.
Di depannya ada jam tangan perak Rendra.
Benda itulah yang awalnya ingin ia kembalikan ke bandara.
Sekarang Laras justru merasa jam tersebut telah membawa dirinya ke pintu sebuah kehidupan yang sama sekali tidak ia kenal.
Keesokan harinya, ia menemui Ratna secara langsung.
Mereka memeriksa dokumen lebih teliti.
Ratna lalu menyarankan satu hal.
“Cari tahu semua aset.”
Laras tersenyum pahit.
“Selama tiga puluh tahun aku bahkan tidak tahu saldo tabungan kami.”
Ratna menatapnya lama.
“Itulah masalahnya.”
Perkataan itu membuat Laras sadar betapa jauh ia telah menyerahkan kendali atas hidupnya sendiri.
Rendra selalu mengatakan bahwa mengurus keuangan adalah bentuk tanggung jawab seorang suami.
Laras mempercayainya.
Ia bahkan merasa beruntung.
Kini ia baru mengerti bahwa ketergantungan juga bisa dibungkus dengan kata perlindungan.
Laras mulai mengumpulkan semuanya secara diam-diam.
Tagihan pajak.
Surat bank.
Dokumen properti.
Polis asuransi.
Bukti transfer.
Ia menemukan rekening investasi yang tidak pernah diketahuinya.
Menemukan sebuah kartu kredit tambahan.
Menemukan pembayaran rutin untuk apartemen di BSD.
Nama penerimanya tidak tertulis Melani Robles.
Namun setiap bulan, selama hampir empat tahun, ada transfer dalam jumlah besar kepada sebuah perusahaan pengelola properti.
Jumlahnya tidak kecil.
Beberapa kali lebih besar daripada biaya pengobatan Ibu Ningsih yang sering dipersoalkan Rendra.
Laras semakin sulit menahan rasa muaknya ketika mengingat bagaimana suaminya dulu pernah berkata bahwa mereka harus berhemat karena penghasilan sedang menurun.
Saat itu Laras sampai menunda operasi katarak ibunya selama dua bulan.
Ternyata pada periode yang sama, Rendra membayar uang muka sebuah unit apartemen mewah.
Namun penemuan terbesar justru datang dari tempat yang tidak pernah Laras duga.
Sebuah klinik fertilitas.
Nama klinik itu muncul pada laporan kartu kredit lama.
Transaksinya terjadi enam tahun sebelumnya.
Laras langsung teringat masa ketika ia dan Rendra masih terus berusaha memiliki anak.
Mereka pernah menjalani pemeriksaan.
Namun menurut Rendra, hasil dokter saat itu menyatakan bahwa cadangan ovarium Laras sangat rendah dan peluang kehamilan hampir tidak ada.
Sejak hari itulah Rendra mulai berubah.
Lebih mudah marah.
Lebih sering menyalahkan.
Lebih sering mengatakan bahwa rumah mereka sepi karena Laras tidak bisa memberinya keturunan.
Laras menghubungi klinik tersebut.
Awalnya petugas menolak memberikan informasi melalui telepon.
Akhirnya Laras datang langsung membawa identitas dan dokumen lama.
Setelah menunggu hampir satu jam, seorang petugas rekam medis menghampirinya.

“Bu Laras Salgado?”
“Ya.”
Petugas itu membawa sebuah amplop putih.
“Ini salinan dokumen yang dapat kami berikan karena berkaitan langsung dengan pemeriksaan Ibu.”
Laras membuka amplop dengan tangan gemetar.
Ada hasil pemeriksaan dirinya.
Ada catatan konsultasi.
Dan sebuah surat medis yang namanya membuat Laras hampir menjatuhkan semua kertas.
Rendra Salgado.
Pemeriksaan analisis sperma.
Kesimpulan medisnya tertulis jelas.
Azoospermia non-obstruktif.
Tidak ditemukan sel sperma dalam sampel.
Di bawahnya ada catatan dokter.
Peluang kehamilan alami sangat rendah. Disarankan pemeriksaan lanjutan dan konseling pasangan.
Laras membaca halaman itu berulang kali.
Kemudian ia menemukan dokumen lain.
Formulir persetujuan konseling.
Di sana ada tanda tangan Rendra.
Artinya suaminya mengetahui hasil tersebut.
Sejak awal.
Laras merasa ruang di sekelilingnya berputar.
Selama bertahun-tahun ia membawa rasa bersalah.
Ia menghindari pesta ulang tahun anak teman-temannya karena pulang dari acara seperti itu selalu membuatnya menangis.
Ia pernah meminta maaf kepada Rendra karena merasa gagal menjadi istri.
Pernah berdoa sendirian sampai subuh.
Pernah menyalahkan tubuhnya sendiri.
Dan lelaki itu membiarkannya.
Bahkan menggunakan kebohongan itu sebagai senjata.
“Bu?”
Suara petugas membuyarkan lamunannya.
Laras mengangkat wajah.
“Apakah hasil ini pernah diberikan kepada suami saya?”
Petugas memeriksa layar komputer.
“Ya, Bu. Ada catatan konsultasi langsung dengan dokter.”
“Tanpa saya?”
Petugas tampak ragu.
“Konsultasi lanjutan tercatat hanya atas nama Bapak Rendra.”
Laras menutup mata.
Ternyata perselingkuhan bukan kebohongan terbesar dalam pernikahannya.
Kebohongan terbesar adalah bagaimana Rendra membangun seluruh rasa bersalah Laras di atas sebuah fakta medis yang sengaja disembunyikannya.
Malam itu Laras pulang dalam keadaan tenang.
Terlalu tenang.
Rendra sedang menonton televisi.
“Dokumennya sudah kamu tanda tangan?”
Laras meletakkan tas di kursi.
“Belum.”
Rendra mematikan televisi.
“Kenapa sih kamu jadi ribet begini?”
Laras menatapnya.
“Aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kamu kenal Melani Robles?”
Untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir, wajah Rendra benar-benar berubah.
Hanya sesaat.
Namun Laras melihatnya.
“Kamu dapat nama itu dari mana?”
“Jadi kamu kenal?”
Rendra berdiri.
“Dia rekan bisnis.”
“Rekan bisnis yang kamu cium dahinya di bandara?”
Ruangan mendadak sunyi.
Rendra tidak lagi menyangkal.
Ia justru berjalan ke dapur dan menuangkan air minum.
Lalu berkata dengan nada datar, “Kamu ngikutin aku?”
Laras hampir tertawa mendengarnya.
Bahkan sekarang pun, Rendra masih mencoba mengubah posisi.
“Aku salah naik taksi.”
Rendra menoleh.
“Apa?”
“Lucu, ya? Tiga puluh tahun aku hidup denganmu. Tapi untuk tahu siapa dirimu sebenarnya, aku cuma butuh salah masuk mobil.”
Wajah Rendra mengeras.
“Jangan bikin drama.”
“Melani hamil?”
Gelas di tangan Rendra berhenti di udara.
Itu sudah cukup sebagai jawaban.
Laras merasa sesuatu di dalam dirinya pecah.
Namun kali ini bukan seperti di bandara.
Tidak ada rasa ingin menangis.
Yang ada justru kejernihan.
“Kamu mau menjual apartemen Tebet supaya uangnya kamu bawa ke dia?”
“Jangan bicara seolah kamu ngerti semuanya.”
“Empat tahun kamu bayar apartemen BSD.”
Rendra terdiam.
“Aku juga sudah tahu rekening investasimu.”
Tatapan Rendra berubah.
Untuk pertama kalinya, ada ketakutan.
“Kamu mengacak-acak dokumenku?”
“Dokumen keluarga kita.”
Rendra membanting gelas ke meja.
“Semua uang itu aku yang cari!”
Laras menatapnya tanpa berkedip.
“Dan selama tiga puluh tahun aku yang menjaga rumahmu, merawat orang tuamu sebelum mereka meninggal, menyiapkan hidupmu, dan berhenti menerima tawaran mengajar di konservatorium karena kamu bilang keluarga harus jadi prioritas.”
Rendra tertawa sinis.
“Jadi sekarang kamu mau hitung-hitungan?”
“Tidak.”
Laras mengeluarkan amplop putih dari dalam tas.
“Aku cuma ingin tahu satu hal.”
Ia meletakkan hasil pemeriksaan medis di meja.
Wajah Rendra berubah pucat.
“Kenapa?”
Rendra tidak menyentuh kertas itu.
Laras menunjuk hasil diagnosis.
“Kenapa selama bertahun-tahun kamu bilang aku yang tidak bisa punya anak?”
Rendra menatapnya.
Tidak ada jawaban.
“Kenapa kamu membiarkan aku merasa rusak?”
“Laras…”
“Kenapa?”
Suara Laras pecah untuk pertama kalinya.
Rendra duduk perlahan.
Lalu, dengan suara rendah, ia mengatakan sesuatu yang jauh lebih kejam daripada semua dugaan Laras.
“Karena waktu itu kalau kamu tahu masalahnya ada padaku, aku takut kamu pergi.”
Laras menatapnya tak percaya.
Rendra mengusap wajah.
“Kamu lebih muda. Kamu masih punya kesempatan menikah lagi. Dokter bilang peluangku hampir tidak ada. Aku panik.”
“Jadi kamu menghancurkan aku supaya aku tidak meninggalkanmu?”
“Aku cuma…”
“Kamu membuatku percaya bahwa aku gagal sebagai perempuan.”
“Aku menyesal.”
“Tiga tahun lalu kamu masih menyalahkanku.”
Rendra terdiam.
Laras menarik napas panjang.
Kemudian ia mengajukan pertanyaan terakhir.
“Kalau kamu tidak bisa memiliki anak secara biologis, lalu anak Melani itu anak siapa?”
Wajah Rendra membeku.
Untuk beberapa detik, keheningan terasa menakutkan.
Kemudian Rendra menjawab.
“Dokter bilang kondisiku bisa berubah.”
Laras tersenyum tipis.
Bukan karena percaya.
Namun karena ia sudah mengantisipasi jawaban itu.
Dua hari sebelumnya, Ratna menyarankan Laras berkonsultasi dengan dokter lain mengenai diagnosis tersebut.
Dokter menjelaskan bahwa pada beberapa kasus, azoospermia memang dapat ditangani atau ditemukan sperma melalui prosedur tertentu.
Namun riwayat medis Rendra menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Dalam dokumen lanjutan yang diterima Laras dari klinik, terdapat hasil pemeriksaan dua tahun setelah diagnosis pertama.
Hasilnya tetap sama.
Tidak ada sperma.
Rendra belum tahu bahwa Laras memiliki dokumen itu.
Laras tidak membongkarnya malam itu.
Ia memilih diam.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa kebenaran bisa menjadi lebih kuat ketika tidak dikeluarkan sekaligus.
Seminggu kemudian, Rendra menerima surat dari pengacara.
Permohonan gugatan cerai.
Permintaan pembekuan sementara transaksi sejumlah aset bersama.
Permintaan audit keuangan perkawinan.
Dan penolakan resmi terhadap penjualan apartemen Tebet.
Rendra pulang dengan wajah merah.
“Kamu gila?”
Laras sedang mengajar piano secara daring di ruang depan.
Ia menutup laptop setelah muridnya berpamitan.
“Aku sudah tiga puluh tahun hidup seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Kurasa itu lebih gila.”
Rendra membanting surat pengacara ke meja.
“Kamu akan menyesal.”
“Tidak.”
Laras berdiri.
“Aku sudah selesai menyesal.”
Kasus mereka berjalan cepat karena bukti transaksi keuangan cukup lengkap.
Ratna memperkenalkan Laras kepada pengacara keluarga yang membantu menelusuri aset.
Dalam proses itulah satu fakta lain muncul.
Apartemen BSD ternyata tidak dibeli atas nama Rendra.
Unit tersebut atas nama Melani.
Namun uang muka dan cicilannya berasal dari rekening Rendra.
Kemudian muncul transaksi pembayaran klinik kandungan.
Pemeriksaan kehamilan.
Vitamin.
Dan sebuah biaya laboratorium swasta.
Pengacara Laras berhasil memperoleh petunjuk bahwa Rendra pernah membayar tes DNA prenatal secara pribadi.
Laras terkejut.
“Untuk apa dia melakukan tes DNA kalau dia yakin anak itu anaknya?”
Tidak ada yang bisa menjawab.
Sampai satu sore, sebuah nomor tak dikenal menelepon Laras.
Suara perempuan terdengar dari seberang.
“Bu Laras?”
“Ya.”
“Saya Melani.”
Laras diam.
“Saya ingin bertemu.”
Pertemuan itu berlangsung di sebuah kafe kecil di Kemang.
Melani datang tanpa Rendra.
Perutnya kini terlihat jelas.
Ia tampak jauh berbeda dari perempuan percaya diri yang Laras lihat di bandara.
Wajahnya pucat.
Tangannya terus menggenggam tali tas.
“Saya minta maaf,” katanya.
Laras tidak menjawab.
Melani menarik napas.
“Saya tidak tahu Bapak Rendra masih benar-benar hidup sebagai suami Ibu.”
Laras menatapnya tajam.
“Dia bilang apa?”
“Katanya kalian sudah berpisah secara emosional bertahun-tahun. Katanya cuma tinggal serumah karena Ibu harus merawat ibu Ibu.”
Kalimat itu terasa menjijikkan.
Namun Laras tidak menyela.
Melani kemudian mengeluarkan amplop dari tas.
“Saya baru tahu ada masalah lain.”
Di dalam amplop itu terdapat hasil tes DNA prenatal.
Probabilitas hubungan biologis Rendra dengan janin tersebut nyaris nol.
Laras menatap Melani.
“Kalau bukan Rendra…”
Air mata memenuhi mata Melani.
“Anak ini milik mantan tunangan saya.”
Laras terdiam.
“Sebelum saya dekat dengan Rendra, saya sempat kembali bertemu dengan dia sekali. Saya tidak tahu saya sudah hamil ketika hubungan saya dengan Rendra mulai serius.”
“Rendra tahu?”
Melani mengangguk perlahan.
“Dia menerima hasil ini dua minggu lalu.”
“Lalu?”
“Dia marah besar. Tapi yang aneh, setelah itu dia malah meminta saya merahasiakannya.”
Laras mengernyit.
“Kenapa?”
Melani mengeluarkan satu lembar dokumen lain.
Sebuah rancangan perjanjian.
Rendra berencana tetap mengakui anak itu sebagai anaknya.
Sebagai gantinya, Melani harus menandatangani perjanjian mengenai aset tertentu dan tidak boleh menuntut hak atas beberapa investasi.
Laras membacanya dengan perlahan.
Kemudian ia memahami sesuatu.
Rendra bukan sedang membangun keluarga baru.
Ia sedang membangun citra baru.
Setelah puluhan tahun menyembunyikan infertilitasnya dan menyalahkan Laras, Rendra begitu terobsesi memiliki seorang anak di mata orang lain sehingga ia bahkan bersedia mengakui bayi yang bukan darah dagingnya.
Bukan karena cinta.
Melainkan karena ego.
Laras menutup dokumen.
Untuk pertama kalinya, ia merasa iba kepada Melani.
Bukan karena perempuan itu tidak bersalah.
Melani tetap menjalin hubungan dengan laki-laki beristri tanpa memastikan kebenarannya.
Namun Laras melihat pola yang sama.
Rendra membuat dua perempuan hidup di dalam kenyataan yang ia ciptakan sendiri.
Enam bulan kemudian, perceraian Laras dan Rendra resmi diputuskan.
Sebagian aset yang sebelumnya berusaha dialihkan berhasil dikembalikan ke perhitungan harta bersama.
Apartemen Tebet tidak jadi dijual.
Laras memilih menjualnya sendiri setelah proses hukum selesai dan menggunakan sebagian uangnya untuk memperbaiki rumah, melunasi biaya pengobatan Ibu Ningsih, serta membuka studio piano kecil.
Ia menamainya Licha Music House.
Murid pertamanya adalah Maya.
Putri Eko.
Gadis 12 tahun itu ternyata memiliki pendengaran musik yang sangat baik, tetapi tidak pernah bisa mengambil kursus karena biaya.
Eko awalnya menolak ketika Laras menawarkan beasiswa.
“Saya tidak enak, Bu.”
Laras tersenyum.
“Anggap saja biaya salah naik taksi.”
Eko tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Laras ikut tertawa tanpa merasa harus memaksakan diri.
Maya kemudian mengikuti kompetisi piano tingkat provinsi.
Tidak ada yang menduga ia berhasil meraih juara kedua.
Prestasi itu membuat posisi Laras di sekolah tetap dipertahankan.
Namun beberapa bulan kemudian, Laras justru memilih mengundurkan diri.
Bukan karena kecewa.
Melainkan karena jumlah murid di studio kecilnya terus bertambah.
Suatu sore, setelah kelas terakhir selesai, Ibu Ningsih duduk di dekat jendela sambil mendengarkan Maya memainkan lagu sederhana.
Eko sedang memperbaiki engsel pintu studio yang longgar.
Laras berdiri di teras membawa dua cangkir kopi.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak menghubunginya.
Rendra.
Aku sakit. Bisakah kita bicara?
Laras membaca pesan itu beberapa detik.
Kemudian menghapusnya.
Bukan karena benci.
Bukan pula karena ingin membalas dendam.
Ia hanya akhirnya mengerti bahwa tidak semua pintu yang pernah kita buka harus dibuka kembali.
Laras masuk ke studio.
Di atas rak kayu terdapat sebuah kotak kecil.
Di dalamnya tersimpan jam tangan perak milik Rendra.
Jam itu tidak pernah ia kembalikan.
Baterainya sudah mati.
Jarumnya berhenti tepat pada pukul 08.17.
Waktu ketika Laras salah masuk taksi pada pagi itu.
Ibu Ningsih pernah bertanya mengapa ia masih menyimpannya.
Laras hanya tersenyum.
“Supaya aku ingat bahwa kadang-kadang, salah jalan justru membawa kita ke tempat yang seharusnya.”
Di ruang sebelah, Maya menekan tuts terakhir.
Suara piano menggantung lembut di udara.
Laras menutup kotak itu.
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, hidupnya bukan lagi sesuatu yang ditentukan oleh keputusan Rendra.
Dan anehnya, setelah kehilangan pernikahan yang begitu lama ia pertahankan, Laras justru merasa baru saja mendapatkan kembali orang yang paling lama hilang dari hidupnya.
Dirinya sendiri.
