IBU MERTUA MENYIKSA PENGANTIN WANITA PADA MALAM PERTAMA DEMI MENGUASAI APARTEMEN! MEREKA TIDAK TAHU SIAPA AYAH KANDUNG YANG SELAMA INI BERSEMBUNYI!

Nabila! Buka!” suara Dimas terdengar dari luar. “Kita selesaikan baik-baik. Jangan bikin semuanya tambah besar.”

Bu Heni berdiri di depan putrinya seolah tubuhnya sendiri bisa menjadi dinding.

Nabila duduk di ujung sofa dengan selimut menutupi gaun pengantinnya yang robek. Tangannya masih gemetar.

“Dia bilang baik-baik setelah membiarkan ibunya melakukan ini?” suara Bu Heni nyaris tak terdengar.

Dimas kembali mengetuk.

“Kamu dengar, kan? Buka sekarang!”

Belum sempat Bu Heni menjawab, suara langkah kaki terdengar dari arah koridor.

Langkah itu berat, teratur, dan tidak terburu-buru.

Lalu terdengar suara seorang pria.

“Mundur dari pintu.”

Nabila langsung menegakkan tubuh.

Ia mengenali suara itu.

Meskipun sudah sepuluh tahun tidak mendengarnya secara langsung.

Dimas terdengar bingung.

“Bapak siapa?”

“Saya ayah Nabila.”

Suasana di luar mendadak sunyi.

Nabila menutup mulutnya sendiri.

Bu Heni memandang putrinya, kemudian perlahan membuka pintu setelah memastikan rantai pengaman masih terpasang.

Di koridor berdiri Pak Arman.

Rambutnya kini lebih banyak berwarna putih dibandingkan yang diingat Nabila. Tubuhnya masih tegap. Ia mengenakan kemeja gelap sederhana dan celana panjang, tanpa seragam, tanpa atribut apa pun.

Di belakangnya berdiri dua orang laki-laki berpakaian biasa.

Dimas memandang mereka bergantian.

“Pak Arman?”

Pak Arman tidak menjawab.

Tatapannya jatuh melewati celah pintu.

Ia melihat Nabila.

Wajah pria itu berubah.

Bukan marah seperti yang Nabila bayangkan.

Justru kosong.

Terlalu kosong.

Seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak meledak.

“Buka pintunya, Hen,” katanya pelan.

Bu Heni melepaskan rantai.

Pak Arman masuk dan langsung berjalan menghampiri Nabila.

Namun beberapa langkah sebelum sampai, ia berhenti.

Seolah tiba-tiba sadar bahwa ia tidak lagi punya hak untuk memeluk anak yang telah ditinggalkannya selama satu dekade.

“Nabila.”

Hanya satu kata.

Air mata Nabila langsung jatuh.

“Kenapa baru sekarang, Yah?”

Pak Arman menundukkan kepala.

Tidak ada jawaban.

Dimas mencoba ikut masuk, tetapi salah satu pria yang datang bersama Pak Arman menghalanginya.

“Ini urusan keluarga saya,” kata Dimas.

Pak Arman berbalik.

“Kalau begitu kita bicara sebagai keluarga.”

Dimas mengangkat dagu, berusaha terlihat berani.

“Ibu cuma ingin memastikan rumah tangga kami punya aset bersama. Nabila terlalu keras kepala.”

Bu Heni tertawa pendek karena tak percaya.

“Keras kepala?”

Dimas menatap Nabila.

“Aku sudah bilang dari awal, kalau kamu mau menikah denganku, kamu harus belajar menghormati ibuku.”

“Dengan menyerahkan apartemen?” tanya Nabila.

“Bukan menyerahkan. Berbagi.”

Pak Arman menatapnya beberapa detik.

“Mana suratnya?”

Dimas tidak menjawab.

“Surat yang kalian paksa untuk ditandatangani anak saya.”

“Aku tidak tahu.”

Pak Arman tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya Dimas tampak tidak nyaman.

“Kalau kamu tidak tahu, kita tunggu ibumu datang.”

Wajah Dimas berubah.

“Apa maksud Bapak?”

Pak Arman mengeluarkan ponsel dan menunjukkan layar.

Di sana terlihat sebuah pesan baru.

Nomor tak dikenal mengirimkan foto Bu Maya sedang berdiri di depan lift lobi apartemen bersama beberapa anggota keluarga.

Dimas memucat.

“Nabila,” katanya cepat, “dengar aku. Kita bisa selesaikan ini tanpa mempermalukan siapa pun.”

Nabila menatap suaminya.

Beberapa jam sebelumnya, lelaki itu berdiri di pelaminan sambil menggenggam tangannya.

Di depan ratusan tamu, Dimas berjanji akan melindunginya.

Kini kalimat itu terasa seperti lelucon paling kejam yang pernah didengarnya.

“Aku sudah dipermalukan sejak kamu memilih berdiri di luar kamar itu,” jawab Nabila.

Lima menit kemudian, lift kembali terbuka.

Bu Maya keluar dengan langkah cepat.

Begitu melihat Pak Arman, langkahnya langsung berhenti.

Wajahnya memucat.

“Pak Arman?”

Pak Arman memandang perempuan itu tanpa ekspresi.

“Sudah lama, Maya.”

Nabila menoleh cepat.

Bu Heni juga tampak terkejut.

“Kalian kenal?” tanya Bu Heni.

Bu Maya langsung menjawab.

“Tidak. Maksud saya hanya pernah lihat fotonya.”

Pak Arman menatapnya lebih lama.

“Benarkah?”

Bu Maya mengalihkan pandangan.

Salah satu perempuan yang datang bersamanya berbisik, “Maya, pulang saja.”

Namun Bu Maya justru berjalan mendekati pintu.

“Ini masalah rumah tangga anak-anak. Orang tua seharusnya tidak ikut campur.”

Pak Arman mengangguk pelan.

“Menarik. Tiga jam lalu Anda masuk ke kamar pengantin mereka bersama enam orang.”

Bu Maya terdiam.

“Dan sekarang Anda bicara tentang orang tua yang tidak boleh ikut campur.”

Dimas langsung menyela.

“Bapak tidak punya bukti.”

Pak Arman menoleh pada Nabila.

“Hotel tempat kalian menikah punya CCTV koridor?”

Nabila mengangguk lemah.

Dimas langsung menjawab, “Tidak ada rekaman di dalam kamar.”

“Tidak perlu.”

Pak Arman mengangkat ponselnya.

“Cukup ada rekaman tujuh orang masuk, kondisi Nabila sebelum dan setelahnya, catatan medis, serta kesaksian orang-orang yang ada di sana.”

Bu Maya mendadak gelisah.

“Pak Arman, jangan berlebihan.”

“Berlebihan?”

Nada suara Pak Arman tetap datar.

Justru itulah yang membuat suasana semakin tegang.

Lalu ia berkata sesuatu yang membuat semua orang terdiam.

“Seharusnya saya mengenali pola ini sejak pertama kali melihat nama Anda di undangan.”

Bu Heni menatap mantan suaminya.

“Maksudmu apa?”

Pak Arman tidak langsung menjawab.

Ia membuka tas tipis yang dibawa salah seorang pria bersamanya.

Dari sana ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen lama.

“Dua puluh dua tahun lalu, sebelum saya menikah dengan Heni, keluarga Maya pernah mencoba mengambil rumah milik kakak saya melalui pernikahan.”

Mata Bu Maya melebar.

“Itu fitnah.”

Pak Arman menaruh satu dokumen di meja.

“Nama Anda ada di laporan pemeriksaan.”

Dimas menatap ibunya.

“Ibu?”

Bu Maya langsung menggeleng.

“Itu urusan lama. Tidak ada hubungannya denganmu.”

Pak Arman membuka dokumen kedua.

“Suami kakak saya meninggal tidak lama setelah aset dipindahkan. Tidak pernah cukup bukti untuk membuktikan keterlibatan siapa pun, tetapi sejak saat itu saya ingat nama keluarga Anda.”

Suasana menjadi semakin dingin.

Nabila merasa tengkuknya meremang.

Pak Arman melanjutkan.

“Enam bulan lalu, ketika Nabila mengirim pesan bahwa ia akan menikah dengan Dimas, saya mulai mencari tahu.”

Nabila mengangkat wajah.

“Kamu tahu?”

Pak Arman mengangguk.

“Ayah tahu sejak awal.”

“Lalu kenapa Ayah diam?”

Pertanyaan itu terdengar lebih menyakitkan daripada teriakan.

Pak Arman menatap putrinya.

“Karena Ayah membuat kesalahan.”

Nabila tertawa pahit.

“Kesalahan?”

“Ayah kira menjaga jarak bisa membuat keluarga kalian aman.”

Bu Heni menatapnya tajam.

“Aman dari apa?”

Pak Arman menarik napas.

“Setelah pensiun, saya membantu penyelidikan beberapa kasus penipuan aset keluarga. Ada orang-orang yang tidak senang. Waktu itu saya menerima ancaman yang menyebut nama kalian.”

Bu Heni terdiam.

“Jadi kamu menghilang?”

“Saya pikir kalau hubungan kami terlihat putus, mereka tidak akan menggunakan kalian untuk menekan saya.”

“Sepuluh tahun, Man.”

Suara Bu Heni bergetar.

“Sepuluh tahun kamu membiarkan anakmu merasa dibuang.”

Pak Arman tidak membela diri.

“Itu keputusan paling bodoh yang pernah saya buat.”

Nabila menatap ayahnya.

Untuk bertahun-tahun, ia membayangkan berbagai alasan mengapa ayahnya pergi.

Perempuan lain.

Keluarga baru.

Kebencian kepada ibunya.

Ia tidak pernah membayangkan alasan seperti ini.

Namun anehnya, penjelasan itu tidak otomatis menghapus sakit hati.

“Kalau Ayah memang memantau,” kata Nabila, “kenapa membiarkan aku menikah dengan Dimas?”

Pak Arman terlihat seperti seseorang yang baru saja ditikam oleh pertanyaan itu.

“Karena sampai tiga minggu lalu saya belum menemukan apa pun yang cukup serius.”

Bu Maya mencibir.

“Lihat? Dia cuma mencoba membuat cerita.”

Pak Arman mengambil dokumen lain.

“Tiga minggu lalu, seseorang mengajukan permintaan pengecekan sertifikat apartemen Nabila melalui notaris.”

Wajah Dimas langsung berubah.

Pak Arman melihatnya.

“Nama orang yang meminta pengecekan itu adalah Dimas Prasetyo.”

Semua mata tertuju kepadanya.

Dimas menelan ludah.

“Itu normal. Aku calon suaminya.”

“Tidak,” kata Nabila.

Suaranya pelan, tetapi tegas.

“Aku tidak pernah memberi izin.”

Bu Maya langsung memotong.

“Dimas hanya ingin memastikan tidak ada masalah hukum.”

Pak Arman mengeluarkan satu lembar lagi.

“Dua hari lalu, notaris yang sama diminta menyiapkan rancangan pengalihan lima puluh persen hak kepemilikan.”

Kali ini Dimas tidak bisa menjawab.

Nabila menatapnya lama.

“Jadi semuanya memang sudah direncanakan?”

Dimas memijat kening.

“Nabila, dengarkan aku. Ibuku cuma takut setelah menikah nanti aku tidak punya apa-apa.”

“Karena itu kalian ingin mengambil milikku?”

“Aku suamimu.”

“Baru beberapa jam.”

Dimas kehilangan kesabaran.

“Kamu selalu merasa lebih tinggi karena punya apartemen, pekerjaan bagus, dan keluarga yang punya nama!”

Nabila terdiam.

Akhirnya topeng itu runtuh.

Dimas yang selama ini lembut dan sabar tiba-tiba terlihat seperti orang asing.

“Aku lima tahun bersamamu,” katanya. “Apa salahnya aku mendapat sesuatu?”

Kalimat itu menghantam Nabila lebih keras daripada semua ancaman malam itu.

Ternyata cinta mereka selama lima tahun bisa dihitung dalam meter persegi.

Pak Arman berdiri.

“Pernikahan bukan transaksi pembagian harta.”

Dimas tertawa sinis.

“Bapak gampang bicara. Bapak sendiri meninggalkan anak sepuluh tahun.”

Ruangan mendadak hening.

Pak Arman tidak marah.

Ia justru mengangguk.

“Kamu benar.”

Semua orang terkejut.

“Saya gagal sebagai ayah.”

Ia menatap Nabila.

“Dan saya akan menanggung konsekuensinya seumur hidup. Tapi kegagalan saya tidak memberi kamu hak untuk menyakiti anak saya.”

Terdengar suara dari koridor.

Dua petugas keamanan gedung datang bersama seorang polisi yang sebelumnya dihubungi oleh salah seorang pria yang menyertai Pak Arman.

Bu Maya langsung panik.

“Siapa yang memanggil polisi?”

“Saya,” jawab Bu Heni.

Ternyata sejak tadi ponselnya berada di bawah selimut Nabila.

Ia sudah menghubungi petugas tanpa diketahui siapa pun.

Untuk pertama kalinya malam itu, Nabila melihat ibunya tersenyum tipis.

“Aku ibu yang panik, bukan ibu yang bodoh.”

Bu Maya mulai berbicara cepat.

“Ini salah paham. Kami keluarga. Nabila hanya sedang emosional.”

Nabila perlahan berdiri.

Kakinya masih lemah.

Namun suaranya jelas.

“Saya ingin membuat laporan.”

Dimas menatapnya kaget.

“Nabila.”

“Saya juga ingin meminta pemeriksaan rekaman hotel.”

“Nabila, pikirkan reputasi kita.”

Nabila menatap cincin di jarinya.

Ia melepaskannya.

Kemudian meletakkannya di atas meja.

“Yang kamu pikirkan sejak awal memang cuma reputasi.”

Dimas tidak bisa berkata apa-apa.

Pagi mulai menyentuh jendela apartemen ketika mereka semua turun ke lobi.

Langit Jakarta berwarna abu-abu pucat.

Nabila berjalan di antara Bu Heni dan Pak Arman.

Saat mereka hampir mencapai pintu keluar, Pak Arman berhenti.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”

Nabila menoleh.

Pak Arman mengeluarkan sebuah amplop kecil.

“Sepuluh tahun lalu apartemen ini memang Ayah beli untukmu.”

“Aku tahu.”

“Yang tidak kamu tahu, Ayah tidak hanya membeli satu unit.”

Nabila mengernyit.

Pak Arman menyerahkan amplop itu.

Di dalamnya terdapat salinan dokumen kepemilikan dua unit lain di lantai berbeda.

Nabila menatapnya tidak percaya.

“Ini apa?”

“Investasi atas namamu yang Ayah simpan sampai kamu berusia tiga puluh.”

Bu Heni juga terkejut.

Pak Arman tersenyum sedih.

“Ayah takut suatu hari kamu tidak punya tempat berlindung.”

Nabila menatap dokumen itu, kemudian ayahnya.

Ironis.

Pria yang selama sepuluh tahun ia anggap tidak peduli ternyata diam-diam menyiapkan perlindungan untuk masa depannya.

Namun Nabila tidak langsung memeluknya.

Ia hanya berkata, “Aku belum bisa memaafkan Ayah.”

Pak Arman mengangguk.

“Ayah tahu.”

“Mungkin lama.”

“Ayah juga tahu.”

Nabila menatapnya lebih lama.

“Tapi kalau Ayah benar-benar ingin kembali, jangan menghilang lagi.”

Mata Pak Arman memerah.

“Saya tidak akan pergi.”

Beberapa bulan kemudian, pernikahan Nabila dan Dimas berakhir melalui proses hukum.

Kasus kekerasan malam pernikahan itu juga terus berjalan.

Bu Maya yang sebelumnya begitu percaya diri mulai kehilangan dukungan dari keluarganya sendiri setelah beberapa orang yang berada di kamar hotel memilih memberikan kesaksian.

Dimas berkali-kali mencoba menghubungi Nabila.

Ia meminta maaf.

Mengatakan bahwa dirinya hanya mengikuti tekanan ibunya.

Namun Nabila tidak pernah kembali.

Suatu sore, enam bulan setelah malam itu, Nabila berdiri di balkon apartemennya.

Di dalam ruang tamu, Bu Heni sedang berdebat kecil dengan Pak Arman tentang kopi yang terlalu pahit.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, suara mereka terdengar seperti keluarga biasa.

Pak Arman belum kembali menjadi ayah yang sempurna.

Bu Heni belum melupakan luka lama.

Nabila juga belum benar-benar sembuh dari semua yang terjadi.

Tetapi mereka mulai belajar bahwa keluarga bukanlah soal siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Keluarga adalah tentang siapa yang berani mengakui kesalahannya dan memilih tetap tinggal untuk memperbaikinya.

Nabila memandang cahaya Jakarta yang mulai menyala satu per satu.

Dulu ia mengira apartemen itu adalah hal paling berharga yang diwariskan ayahnya.

Ternyata bukan.

Yang paling berharga adalah satu kalimat yang akhirnya ia pahami setelah kehilangan begitu banyak hal.

Rumah tidak pernah ditentukan oleh nama siapa yang tertulis di sertifikat.

Rumah adalah tempat di mana tidak ada seorang pun yang harus menyerahkan dirinya hanya agar diperbolehkan tetap tinggal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang