Ibu mertuaku bilang aku tidak mampu melahirkan anak laki-laki, jadi aku tidak pantas duduk semeja dengan keluarga mereka.

“Mas?”

Raka akhirnya mengangkat wajah.

Tatapan kami bertemu.

Namun yang kulihat di matanya bukan kemarahan.

Bukan pula keberanian.

Hanya ketakutan seorang laki-laki yang terlalu terbiasa tunduk kepada ibunya.

Ia menggeser Lila sedikit dalam pelukannya, lalu berkata pelan, “Sudahlah, Aruna. Jangan bikin suasana jadi tidak enak. Cuma soal tempat duduk.”

Cuma soal tempat duduk.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun malam itu, aku belajar bahwa penghinaan terbesar sering kali dimulai dari sesuatu yang disebut “cuma”.

Cuma kursi.

Cuma nasi dingin.

Cuma ucapan orang tua.

Cuma sebentar.

Cuma sampai aku bisa memberikan anak laki-laki.

Aku tidak menangis di depan mereka.

Aku hanya mengangguk, berbalik, lalu berjalan menuju dapur dengan langkah perlahan karena bekas jahitan setelah melahirkan masih terasa sakit.

Di belakangku, percakapan kembali terdengar.

Sendok kembali beradu dengan piring.

Orang-orang kembali tertawa.

Seolah-olah tidak ada seorang perempuan yang baru saja dipermalukan dua bulan setelah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan seorang anak.

Kupikir kejadian itu hanya sekali.

Ternyata aku salah.

Malam berikutnya, kursiku tetap tidak tersedia.

Begitu pula malam setelahnya.

Seminggu kemudian, ketika aku mencoba duduk di meja makan, Bu Sulastri langsung menatapku.

“Kamu lupa tempatmu?”

Raka ada di sana.

Ia mendengar semuanya.

Namun seperti biasa, ia memilih diam.

Lama-kelamaan, aku berhenti mencoba.

Aku belajar menunggu.

Aku belajar mengenali suara kursi digeser sebagai tanda makan malam hampir selesai.

Aku belajar bahwa paha ayam selalu habis lebih dahulu, ikan bagian tengah selalu diambil adik iparku, dan jika aku beruntung, mungkin masih tersisa sedikit sayur yang belum tercampur kuah.

Mbok Inah sering mencoba menyisihkan makanan untukku.

Namun suatu malam Bu Sulastri memergokinya.

“Jangan biasakan dia dimanja,” katanya tajam. “Kalau sudah tahu belum bisa kasih keluarga ini penerus laki-laki, setidaknya tahu diri.”

Sejak saat itu, Mbok Inah hanya bisa menatapku dengan mata penuh rasa bersalah setiap kali membawa piring sisa.

Tahun pertama berlalu.

Kemudian tahun kedua.

Tekanan agar aku hamil lagi semakin besar.

Setiap bulan, Bu Sulastri menanyakan hal yang sama.

“Belum terlambat haid?”

“Belum, Bu.”

“Sudah minum jamu yang kubelikan?”

“Sudah.”

“Kamu periksa ke dokter lagi.”

Aku menurut.

Aku memeriksakan diri berkali-kali.

Dokter kandungan mengatakan kondisi rahimku baik.

Hormonku normal.

Tidak ada masalah berarti.

Ketika kusampaikan hasilnya kepada Raka, ia hanya mengangguk sambil memainkan ponselnya.

“Ya sudah. Coba terus.”

Aku menahan napas.

“Dokter bilang sebaiknya kita periksa berdua.”

Jarinya berhenti bergerak.

“Untuk apa?”

“Karena kesuburan bukan cuma soal perempuan.”

Wajahnya langsung berubah.

“Jangan mulai.”

“Aku tidak menuduhmu.”

“Kalau bukan menuduh, kenapa aku harus diperiksa?”

“Karena itu prosedur biasa.”

Raka tertawa pendek.

“Aku sehat.”

“Kesehatan umum dan kesuburan berbeda.”

Ia berdiri.

“Keluarga kita tidak pernah punya masalah soal keturunan.”

Kalimat itu terasa seperti pintu yang dibanting tepat di depan wajahku.

Aku tidak pernah berhasil membujuknya lagi.

Sampai suatu hari, dua tahun setelah kelahiran Lila, sesuatu terjadi.

Raka jatuh dari tangga di kantor.

Tidak parah, tetapi bagian bawah perutnya sempat terbentur keras. Dokter di rumah sakit menyarankan beberapa pemeriksaan lanjutan karena Raka mengeluhkan nyeri yang tidak kunjung hilang.

Aku menemaninya.

Saat dokter meminta pemeriksaan tambahan terkait organ reproduksi, Raka sempat menolak.

Namun karena perusahaan menanggung biaya pemeriksaan, ia akhirnya setuju.

Hasilnya tidak langsung kami terima.

Dokter meminta kami datang kembali beberapa hari kemudian.

Aku masih ingat ruangan itu.

Dinding putih.

Bau antiseptik.

Pendingin ruangan yang terlalu dingin.

Raka duduk di sampingku sambil mengetuk-ngetukkan kaki.

Dokter membuka lembar hasil pemeriksaan, lalu berkata hati-hati.

“Pak Raka, ada satu hal yang perlu saya jelaskan.”

Raka menegakkan tubuh.

“Apa, Dok?”

Dokter menarik napas.

“Dari pemeriksaan yang kami lakukan, terdapat kondisi yang menyebabkan jumlah dan kualitas sperma Bapak sangat rendah. Bahkan berdasarkan hasil laboratorium dan kondisi yang terlihat, kemungkinan ini bukan sesuatu yang baru terjadi.”

Aku menoleh pada Raka.

Wajahnya langsung pucat.

“Apa maksudnya?”

“Kemungkinan sudah berlangsung cukup lama.”

“Sejak kapan?”

“Sulit dipastikan tanpa pemeriksaan sebelumnya. Tapi ada indikasi kondisinya sudah ada bertahun-tahun.”

Raka terdiam.

Aku juga.

Dokter melanjutkan penjelasannya dengan tenang, tetapi pikiranku sudah berhenti pada satu hal.

Lila.

Putriku.

Aku menatap Raka.

Dan untuk pertama kalinya, ia terlihat takut kepadaku.

Malam itu, di parkiran rumah sakit, ia menarik tanganku.

“Jangan bilang Mama.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Apa?”

“Jangan bilang Mama soal hasil ini.”

“Kenapa?”

“Kamu tahu sendiri bagaimana dia.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena terlalu menyakitkan.

“Justru karena aku tahu bagaimana dia, aku harus bilang.”

“Aruna.”

“Selama dua tahun dia menyalahkanku.”

“Aku akan bicara pelan-pelan.”

“Kapan?”

Raka tidak menjawab.

Aku menatapnya lama.

Lalu kusebut satu pertanyaan yang sejak tadi mengganjal.

“Kalau kondisimu sudah ada bertahun-tahun, bagaimana dengan Lila?”

Wajah Raka membeku.

Ia langsung melepaskan tanganku.

“Jangan macam-macam.”

“Aku cuma bertanya.”

“Dokter bilang kemungkinannya rendah. Bukan nol.”

“Aku tahu.”

Namun sejak malam itu, aku melihat perubahan.

Raka mulai sering pulang terlambat.

Ia menjadi lebih mudah marah.

Dan anehnya, Bu Sulastri semakin kejam kepadaku.

Seolah-olah seseorang telah memberitahunya sebagian cerita, tetapi membalikkan isinya.

“Sudah tiga tahun menikah, cuma bisa kasih satu anak perempuan,” katanya suatu malam di depan dua saudaranya.

Aku menatap Raka.

Ia menunduk.

Saat itu aku mengerti.

Raka memang sudah bicara kepada ibunya.

Tapi bukan untuk mengakui keadaannya.

Ia membiarkan ibunya tetap percaya bahwa masalahnya ada padaku.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku mulai menyimpan salinan semua hasil pemeriksaan.

Hasil pemeriksaanku sendiri.

Hasil pemeriksaan Raka.

Surat dokter.

Catatan laboratorium.

Aku juga mulai menyisihkan uang.

Sedikit demi sedikit.

Aku kembali menerima pekerjaan desain dari rumah yang dulu kutinggalkan setelah menikah.

Bu Sulastri mengira aku hanya bermain laptop setelah Lila tidur.

Ia tidak tahu aku sedang membangun jalan keluar.

Tiga bulan kemudian, aku pergi bersama Lila ke rumah orang tuaku selama seminggu dengan alasan ibuku sakit.

Sebenarnya aku menemui seorang pengacara.

Aku tidak langsung mengajukan gugatan cerai.

Aku hanya ingin tahu hak-hakku.

Rumah keluarga Pradana bukan milikku.

Sebagian besar aset Raka juga tercampur dengan perusahaan keluarga.

Namun ada satu hal yang tidak bisa mereka ambil dariku.

Hak untuk memilih hidup yang tidak menghinakanku setiap hari.

Pada ulang tahun ketiga Lila, Bu Sulastri mengadakan makan malam keluarga besar.

Aku sudah tahu apa yang akan terjadi.

Ia bahkan membeli kue bertuliskan nama Lila dan berkata kepada semua orang bahwa cucunya “sudah semakin cantik, meskipun keluarga ini masih menunggu penerus laki-laki.”

Setelah lilin ditiup, semua orang duduk di meja makan.

Seperti biasa, tidak ada kursi untukku.

Lila yang sekarang sudah cukup besar untuk memahami keadaan memegang tanganku.

“Ibu duduk sama Lila.”

Aku tersenyum.

Bu Sulastri langsung menyela.

“Lila makan sama Nenek. Ibumu tahu tempatnya.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menatap putriku.

Kemudian untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku menarik satu kursi kosong dari sudut ruangan.

Aku meletakkannya di sebelah Lila.

Dan aku duduk.

Wajah Bu Sulastri berubah.

“Aruna.”

Aku mengambil serbet dan meletakkannya di pangkuan.

“Ada apa, Bu?”

“Kamu berdiri.”

“Tidak.”

Semua mata tertuju kepadaku.

Raka langsung berbisik, “Aruna, jangan sekarang.”

Aku menatapnya.

“Justru sekarang.”

Bu Sulastri berdiri.

“Kamu semakin tidak tahu diri.”

Aku tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Aku membuka tas yang sejak tadi kugantungkan di kursi.

Kemudian kukeluarkan sebuah amplop cokelat.

“Ada sesuatu yang ingin saya berikan sebelum saya pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Dari rumah ini.”

Raka langsung bangkit.

“Apa maksudmu?”

Aku menyerahkan amplop itu kepada Bu Sulastri.

Ia membukanya dengan gerakan kasar.

Wajahnya berubah ketika melihat kop rumah sakit.

“Apa ini?”

“Hasil pemeriksaan.”

Ia membaca beberapa baris.

Lalu memandangku.

“Aku tidak mengerti.”

“Baca bagian nama pasien.”

Ia menunduk lagi.

Raka terlihat semakin pucat.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

“Tiga tahun Ibu mengatakan saya tidak mampu memberikan cucu laki-laki. Tiga tahun Ibu menyuruh saya makan sisa makanan di dapur. Tiga tahun Ibu memperlakukan saya seolah-olah saya gagal menjadi perempuan.”

Tak seorang pun bergerak.

“Padahal hasil pemeriksaan saya normal.”

Aku menunjuk lembar kedua.

“Yang memiliki masalah kesuburan adalah Raka.”

Bu Sulastri perlahan menatap anaknya.

“Raka?”

Raka menelan ludah.

“Ma, aku bisa jelaskan.”

“Ini benar?”

“Dokter bilang masih ada kemungkinan.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku tertawa kecil.

“Dia bilang.”

Bu Sulastri menoleh tajam kepadaku.

“Apa?”

“Dia pernah bicara kepada Ibu, bukan?”

Raka langsung memotong.

“Aruna!”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Saya tidak tahu apa yang dia katakan waktu itu. Tapi saya tahu setelah hasil pemeriksaan keluar, perlakuan Ibu justru semakin buruk. Jadi saya mulai curiga.”

Aku membuka sebuah rekaman suara.

Rekaman itu dibuat dua minggu sebelumnya.

Suara Raka terdengar jelas.

Aku merekam percakapan kami sendiri ketika akhirnya aku memaksanya menjawab.

“Kenapa kamu biarkan Mama tetap menyalahkanku?”

Lalu suara Raka.

“Karena kalau Mama tahu aku yang bermasalah, dia akan hancur. Kamu lebih kuat menghadapi omongannya.”

Seluruh meja makan membeku.

Aku menatap suamiku.

“Begitu, kan?”

Raka tidak mampu menjawab.

Namun kejutan terbesar malam itu belum selesai.

Bu Sulastri tiba-tiba melempar hasil pemeriksaan ke meja.

“Kalau begitu jelaskan satu hal.”

Tatapannya beralih kepadaku.

“Kalau Raka memang punya masalah sejak dulu, Lila anak siapa?”

Suara napas orang-orang seolah berhenti serempak.

Raka langsung memandangku.

Aku sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.

Karena itulah aku sudah mempersiapkan jawabannya.

Aku mengambil amplop kedua.

“Ini hasil tes DNA.”

Raka membelalak.

“Kapan kamu melakukan itu?”

“Sebulan lalu.”

“Tanpa izinku?”

“Aku tidak butuh izinmu untuk mengetahui kebenaran tentang anakku.”

Aku meletakkan hasilnya di meja.

“Lila adalah anak biologis Raka dengan probabilitas lebih dari 99,9 persen.”

Bu Sulastri seperti kehilangan kata-kata.

Aku menatapnya lurus.

“Kesuburan rendah bukan berarti mustahil memiliki anak. Dan jenis kelamin anak tidak ditentukan oleh perempuan.”

Aku sengaja berhenti sejenak.

“Secara biologis, kromosom yang menentukan bayi laki-laki atau perempuan berasal dari pihak ayah.”

Untuk pertama kalinya selama tiga tahun, Bu Sulastri benar-benar diam.

Aku berdiri.

Kemudian kugeser kursiku kembali ke belakang.

“Aneh, ya, Bu?”

Aku menatap piring di atas meja.

“Akhirnya saya duduk semeja dengan keluarga ini justru pada malam terakhir saya menjadi bagian darinya.”

Aku menggandeng tangan Lila.

Raka buru-buru menghalangi.

“Kamu mau bawa Lila ke mana?”

“Pulang.”

“Ini rumahmu.”

Aku menggeleng.

“Rumah adalah tempat seseorang merasa aman. Ini hanya bangunan tempat aku belajar bahwa diamnya seorang suami bisa lebih menyakitkan daripada hinaan seorang mertua.”

Raka memegang lenganku.

“Aku bisa berubah.”

Aku melepaskan tangannya.

“Dulu aku juga percaya begitu.”

Matanya mulai merah.

“Kasih aku kesempatan.”

“Tiga tahun, Mas.”

Aku menatapnya tanpa marah.

“Itu bukan satu kesalahan. Itu keputusan yang kamu buat setiap hari.”

Ia terdiam.

Bu Sulastri tiba-tiba berkata, “Kalau kamu pergi, jangan harap bisa kembali.”

Aku menatap perempuan itu.

Anehnya, aku tidak merasa takut.

“Justru itu tujuan saya.”

Aku pergi malam itu bersama Lila.

Tidak ada koper besar.

Tidak ada adegan dramatis.

Barang-barang penting sudah kupindahkan sedikit demi sedikit selama beberapa minggu terakhir.

Yang kubawa hanya tas kerja, dokumen, beberapa pakaian Lila, dan sebuah kotak kecil berisi foto-foto masa awal pernikahanku.

Tiga bulan kemudian, gugatan cerai resmi masuk.

Raka beberapa kali datang ke rumah orang tuaku.

Kadang membawa bunga.

Kadang mainan untuk Lila.

Kadang hanya membawa wajah lelah dan penyesalan.

Aku tidak menghalanginya bertemu putrinya.

Aku tidak ingin Lila tumbuh dengan kebencian.

Namun aku juga tidak kembali.

Setahun kemudian aku mendengar Bu Sulastri terkena tekanan darah tinggi setelah pertengkaran besar dengan Raka.

Mbok Inah yang menghubungiku.

Ia mengatakan Raka akhirnya keluar dari rumah keluarganya dan menyewa apartemen sendiri.

Hubungannya dengan ibunya memburuk.

Entah kenapa, kabar itu tidak membuatku senang.

Aku sudah terlalu lelah untuk menikmati kehancuran orang lain.

Yang kuinginkan hanya ketenangan.

Namun enam bulan kemudian, ada satu kejadian yang tidak pernah kuduga.

Aku sedang menjemput Lila dari sekolah ketika melihat Bu Sulastri berdiri di seberang jalan.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

Tidak ada sopir.

Tidak ada tas mahal yang biasanya selalu dibawanya.

Ia hanya berdiri sambil memegang sebuah kotak makanan.

Aku hampir berjalan melewatinya.

Namun ia memanggil.

“Aruna.”

Aku berhenti.

Bu Sulastri mendekat.

Lama sekali ia tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian ia menyerahkan kotak itu kepadaku.

“Apa ini?”

“Nasi.”

Aku menatapnya.

Ia menunduk.

“Masih hangat.”

Kalimat itu begitu sederhana, tetapi dadaku terasa sesak.

Bu Sulastri menggenggam jarinya sendiri.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu kembali.”

Aku diam.

“Aku cuma…”

Suaranya bergetar.

“Aku cuma ingin minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Ia melanjutkan.

“Aku dibesarkan dengan pemikiran bahwa anak laki-laki adalah penerus. Bahwa perempuan harus membuktikan dirinya lewat apa yang bisa ia lahirkan.”

Matanya mulai basah.

“Itu bukan alasan. Aku tahu.”

Aku menatap perempuan yang selama bertahun-tahun membuatku merasa tidak memiliki harga diri.

Aneh rasanya melihatnya berdiri di hadapanku tanpa kuasa.

Tanpa meja besar.

Tanpa keluarga yang mengangguk pada setiap perkataannya.

Hanya seorang perempuan tua yang akhirnya berhadapan dengan akibat dari keyakinannya sendiri.

“Aku sudah membaca banyak hal,” katanya. “Tentang jenis kelamin anak. Tentang kesuburan.”

Ia tersenyum pahit.

“Lucu. Selama ini aku merasa paling tahu, padahal aku bahkan tidak mengerti ilmu paling sederhana.”

Aku melihat kotak makanan di tanganku.

Lalu bertanya, “Kenapa Ibu membawa nasi?”

Bu Sulastri menarik napas panjang.

“Karena selama tiga tahun aku selalu memberimu makanan setelah semuanya dingin.”

Air matanya akhirnya jatuh.

“Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi aku ingin setidaknya sekali memberikan sesuatu kepadamu sebelum terlambat.”

Aku tidak memeluknya.

Aku juga tidak langsung memaafkannya.

Ada luka yang tidak selesai hanya karena seseorang mengucapkan maaf.

Namun aku menerima kotak makanan itu.

Bukan karena aku telah melupakan semuanya.

Melainkan karena aku tidak ingin membawa kebencian itu lebih jauh.

Lila berlari keluar dari gerbang sekolah beberapa menit kemudian.

Ketika melihat neneknya, ia berhenti.

Bu Sulastri tampak gugup.

“Lila.”

Putriku menatapku terlebih dahulu.

Aku tidak berkata apa-apa.

Aku membiarkannya memilih.

Lila kemudian berjalan perlahan ke arah neneknya.

“Omanya kurusan.”

Bu Sulastri tertawa sambil menangis.

“Iya.”

“Harus makan banyak.”

Kalimat itu membuat kami bertiga terdiam.

Lalu entah bagaimana, aku ikut tersenyum.

Hari itu, untuk pertama kalinya, aku duduk bersama Bu Sulastri di sebuah warung kecil dekat sekolah Lila.

Tidak ada meja makan keluarga Pradana.

Tidak ada kursi khusus.

Tidak ada kepala meja.

Kami hanya duduk di tiga kursi plastik sederhana.

Bu Sulastri membuka kotak makanan yang dibawanya.

Nasinya masih hangat.

Ia membagi lauk menjadi tiga bagian yang sama.

Lila mendapat potongan ayam paling besar.

Aku hampir tertawa melihatnya.

Namun ketika Bu Sulastri hendak memberikan piring kepadaku, tangannya berhenti.

Ia menatapku.

“Aruna.”

“Ya?”

“Duduklah.”

Aku menatap kursi di bawah tubuhku.

“Aku sudah duduk, Bu.”

Ia menggeleng pelan.

“Maksudku…”

Suaranya nyaris berbisik.

“Kali ini, duduklah sebagai dirimu sendiri. Bukan sebagai menantu siapa pun.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya mengambil piring itu.

Tiga tahun sebelumnya, aku mengira kemenangan terbesarku akan datang ketika kebenaran tentang hasil pemeriksaan Raka terbongkar.

Ternyata bukan.

Kemenangan terbesarku adalah ketika aku akhirnya memahami bahwa harga diriku tidak pernah bergantung pada kemampuan melahirkan anak laki-laki, pada pengakuan suami, atau pada izin sebuah keluarga untuk duduk di meja mereka.

Selama ini aku terus menunggu seseorang menarikkan kursi untukku.

Padahal sejak awal, aku hanya perlu berani menarik kursiku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang