IBU MERTUAKU MENGUSIRKU DARI APARTEMEN DENGAN SOMBONG, TAPI DIA TIDAK TAHU SIAPA

Pagi itu Maya tidak kembali ke apartemen untuk mengambil pakaiannya.

Dia juga tidak menelepon Rian.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, Maya berhenti mencari penjelasan dari suaminya.

Bukti transfer senilai Rp1,2 miliar yang tergeletak di meja makan rumah orang tuanya sudah menjelaskan lebih banyak daripada semua alasan yang mungkin bisa diberikan Rian. Uang itu dikirim Pak Hendra kepada Rian tiga minggu sebelum pernikahan, dengan keterangan yang sangat jelas sebagai uang muka pembelian apartemen Maya dan Rian.

Pukul tujuh pagi, ponsel Maya mulai bergetar.

Rian.

Dia membiarkannya.

Telepon kedua masuk.

Lalu ketiga.

Setelah itu pesan-pesan berdatangan.

Maya, angkat telepon.

Aku bisa jelaskan semuanya.

Mama cuma emosi.

Jangan libatkan orang tuamu dulu.

Kalimat terakhir membuat Maya tersenyum hambar.

Terlambat.

Maya memotret bukti transfer itu, lalu mengirimkannya kepada Rian tanpa satu kata pun.

Tidak sampai semenit, teleponnya berdering lagi.

Kali ini Maya mengangkat.

Beberapa detik hanya ada suara napas di seberang.

“Maya…”

“Kamu ingat transfer itu?”

Rian tidak menjawab.

“Rp1,2 miliar, Rian.”

“Aku ingat.”

“Bagus. Berarti aku tidak perlu menjelaskan dari awal.”

“Maya, dengarkan dulu. Waktu itu ada alasan kenapa apartemennya atas nama Mama.”

“Alasan apa?”

Rian terdiam terlalu lama.

Maya menutup mata.

“Kalau kamu masih perlu menyusun kebohongan, telepon aku setelah selesai.”

“Tunggu!”

“Aku sudah menunggu enam minggu. Sebenarnya lebih lama dari itu.”

“Maksudmu apa?”

“Sepertinya aku sudah menunggu sejak sebelum kita menikah.”

Maya memutus sambungan.

Siang harinya, Pak Hendra menghubungi seorang kenalan lama bernama Arief, pengacara yang biasa menangani sengketa properti dan perkara perdata.

Maya membawa seluruh dokumen yang masih dia miliki. Bukti transfer, percakapan lama dengan Rian, kuitansi pembelian furnitur, pembayaran cicilan renovasi, sampai pesan WhatsApp beberapa minggu sebelum pernikahan.

Di salah satu percakapan, Rian pernah menulis,

DP sudah aku teruskan. Apartemen kita aman.

Kalimat sederhana itu kini terasa seperti jerat yang dibuat Rian untuk dirinya sendiri.

Arief membaca semuanya dengan tenang.

“Jangan hubungi mereka mengenai uang ini lagi,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena mulai sekarang kita biarkan mereka bicara sebanyak mungkin.”

Maya mengerutkan kening.

“Orang yang merasa menang biasanya ceroboh.”

Arief kemudian meminta Maya mengumpulkan bukti tambahan mengenai sumber dana dan proses pembelian apartemen.

Hasilnya datang dua hari kemudian.

Dan apa yang mereka temukan jauh lebih buruk daripada yang Maya bayangkan.

Uang Rp1,2 miliar memang masuk ke rekening Rian.

Lima hari kemudian, sebagian besar dana itu diteruskan sebagai pembayaran uang muka apartemen.

Namun pembelian dilakukan atas nama Heni Pratiwi.

Ibu Rian.

Maya menatap dokumen itu lama.

“Jadi memang direncanakan?”

Arief tidak langsung menjawab.

“Yang menarik bukan hanya itu.”

Dia menggeser lembar lain.

“Tanggal pemesanan unit.”

Maya membaca tanggalnya.

Dua minggu sebelum Pak Hendra mentransfer uang.

Jantung Maya berdetak lebih keras.

Artinya, ketika Rian meminta uang kepada ayah Maya dengan alasan harus segera membayar pengembang, unit tersebut sudah dipesan atas nama ibunya.

Bukan perubahan mendadak.

Bukan kesalahan administratif.

Nama Ibu Heni sudah ada sejak awal.

Maya merasa dadanya sesak, tetapi kali ini bukan karena ingin menangis.

Semua menjadi sangat jelas.

Pernikahannya bahkan belum dimulai ketika kebohongan itu sudah disiapkan.

Malam berikutnya Rian datang ke rumah orang tua Maya.

Dia berdiri di depan pagar hampir satu jam.

Akhirnya Maya keluar.

Rian tampak kacau. Kemejanya kusut, matanya merah, rambutnya tidak tertata.

“Aku cuma mau bicara.”

“Bicaralah.”

“Jangan di sini.”

“Di sini cukup.”

Rian menatap ke arah rumah.

“Maya, aku salah.”

Maya diam.

“Apartemen itu memang aku daftarkan atas nama Mama.”

“Kenapa?”

Rian mengusap wajahnya.

“Waktu itu Mama takut kalau pernikahan kita gagal. Dia bilang keluarga kamu jauh lebih kaya. Kalau terjadi apa-apa, aku bisa kehilangan semuanya.”

Maya hampir tertawa.

“Jadi untuk memastikan kamu tidak kehilangan sesuatu yang belum kamu miliki, kamu mengambil uang keluargaku dan menaruh asetnya atas nama ibumu?”

“Bukan begitu.”

“Persis begitu.”

“Aku tetap bayar cicilan setelah menikah.”

“Dan aku membayar renovasi. Aku membeli sebagian furnitur. Kita tinggal di sana sebagai suami istri karena kamu mengatakan itu rumah kita.”

Rian menunduk.

“Aku mau mengubah namanya nanti.”

“Kapan?”

“Setelah semuanya stabil.”

“Sudah hampir tiga tahun kita menikah.”

Rian tidak mampu menjawab.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat Maya akhirnya memahami kenapa Ibu Heni begitu berani.

“Mama sebenarnya mau menjual apartemen itu.”

Maya membeku.

“Apa?”

“Dia punya utang.”

“Utang apa?”

“Bisnis Siska.”

Ternyata setahun terakhir Siska mencoba membangun merek kosmetik daring. Produknya gagal di pasaran. Ada pinjaman, utang kepada pemasok, biaya endorsement, dan modal yang terus ditambah.

Ibu Heni menjadi penjamin beberapa pinjaman.

Jumlahnya hampir Rp900 juta.

“Jadi mereka tinggal di apartemen karena mau menjualnya?”

Rian mengangguk pelan.

“Mama bilang kalau apartemen dijual, utangnya bisa dibereskan. Sisanya bisa dipakai beli rumah lebih kecil.”

Maya menatap laki-laki yang selama hampir tiga tahun tidur di sampingnya.

“Dan aku?”

“Aku mau bicara sama kamu.”

“Kapan? Setelah agen properti datang mengukur ruang tamu?”

“Maya…”

“Apakah kamu setuju menjualnya?”

Diam.

Sekali lagi, diam menjadi jawaban Rian.

Maya mundur selangkah.

“Pergi.”

“Maya, tolong.”

“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”

Wajah Rian berubah.

“Pengacara?”

“Ya.”

“Kamu mau bawa keluarga sendiri ke pengadilan?”

Maya menatapnya tajam.

“Keluarga tidak mengambil Rp1,2 miliar dari orang tua seseorang dengan alasan membeli rumah untuk anak mereka, lalu diam-diam menaruh rumah itu atas nama orang lain.”

Rian mencoba meraih tangannya.

Maya menghindar.

“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”

Tiga hari kemudian, surat resmi dikirim.

Reaksi Ibu Heni persis seperti perkiraan Arief.

Dia marah.

Bahkan terlalu marah.

Perempuan itu mengirim belasan pesan suara kepada Maya.

“Kamu pikir uang bapakmu membuatmu bisa menguasai semuanya?”

“Apartemen itu atas namaku!”

“Kalau perlu, besok juga kujual!”

Maya tidak membalas satu pun.

Namun pesan terakhir itulah yang membuat Arief segera mengambil langkah hukum untuk mencegah aset dialihkan selama sengketa berlangsung.

Ketika Ibu Heni mengetahui bahwa penjualan apartemen tidak bisa dilakukan semudah yang dibayangkannya, kepanikan mulai muncul.

Siska berhenti melakukan live streaming.

Rian menelepon Pak Hendra berkali-kali.

Tidak ada yang menjawab.

Seminggu kemudian, keluarga Rian meminta pertemuan.

Maya setuju dengan satu syarat.

Pertemuan dilakukan di kantor Arief.

Ibu Heni datang mengenakan pakaian terbaiknya. Siska duduk di sebelahnya dengan wajah tegang. Rian tampak seperti tidak tidur beberapa malam.

Begitu Maya masuk, Ibu Heni langsung berkata,

“Kamu puas sekarang?”

Maya duduk.

“Saya datang bukan untuk membahas kepuasan.”

“Karena kamu, utang keluarga kami berantakan.”

Arief menatap Ibu Heni.

“Bu Heni, sebaiknya kita fokus pada asal-usul dana pembelian apartemen.”

“Apartemen itu atas nama saya.”

“Benar.”

Ibu Heni tersenyum menang.

“Tapi sumber uang mukanya dapat dibuktikan.”

Senyumnya menghilang.

Arief mengeluarkan bukti transfer.

Kemudian percakapan Rian dengan Maya.

Lalu dokumen pemesanan unit.

Satu per satu.

Wajah Ibu Heni berubah semakin pucat.

Namun kejutan terbesar datang dari Rian sendiri.

“Aku mau mengatakan yang sebenarnya.”

Ibunya langsung menoleh.

“Rian.”

Rian tidak memandangnya.

“Uang itu memang dari Pak Hendra. Aku yang minta.”

“Diam!”

“Mama…”

“Diam!”

Rian menarik napas.

“Dan Mama tahu sejak awal uang itu diberikan untuk Maya dan aku.”

Ruangan seketika sunyi.

Ibu Heni berdiri.

“Kamu anak tidak tahu terima kasih!”

“Mama yang menyuruh aku bilang kepada Pak Hendra bahwa pembayaran harus segera dilakukan.”

Siska menatap kakaknya dengan mulut terbuka.

“Mas, maksudmu apa?”

Rian memejamkan mata.

“Apartemen itu sejak awal memang mau Mama jadikan aset keluarga.”

Ibu Heni menampar meja.

“Cukup!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Arief tidak terlihat terkejut.

Maya justru menatap Rian dengan perasaan aneh.

Tidak ada kemenangan.

Tidak ada kepuasan.

Hanya kelelahan.

Rian akhirnya mengakui bahwa ibunya meyakinkannya bahwa keluarga Maya tidak akan pernah mempertanyakan sertifikat. Menurut Ibu Heni, Pak Hendra terlalu menjaga harga diri untuk meminta uang pemberiannya kembali.

Selama pernikahan berjalan baik, tidak akan ada masalah.

Jika pernikahan gagal, apartemen tetap berada di keluarga Rian.

Mereka menganggapnya rencana yang aman.

Sampai Ibu Heni sendiri mengusir Maya.

“Aku tidak pernah berpikir semuanya akan sampai seperti ini,” kata Rian.

Maya menatapnya.

“Itulah masalahmu, Rian. Kamu tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi kepadaku.”

Setelah negosiasi panjang, keluarga Rian akhirnya memilih penyelesaian daripada melanjutkan sengketa.

Apartemen dijual dengan mekanisme yang disepakati bersama.

Dari hasil penjualan, dana yang menjadi hak Maya berdasarkan kesepakatan dikembalikan, termasuk penggantian sejumlah biaya yang dapat dibuktikan pernah dia keluarkan.

Ibu Heni tidak mendapatkan uang yang diharapkannya untuk menyelamatkan bisnis Siska.

Utang itu tetap menjadi tanggung jawab mereka sendiri.

Namun bagi Maya, bagian paling menyakitkan justru datang setelah semuanya hampir selesai.

Rian menandatangani dokumen terakhir, lalu menghampirinya di lorong kantor.

“Apa benar tidak ada kesempatan lagi?”

Maya menatapnya cukup lama.

Dulu dia mencintai laki-laki itu.

Mungkin sebagian dirinya masih mencintai kenangan tentang siapa yang dia kira Rian sebenarnya.

Tetapi cinta tidak bisa hidup hanya dari kenangan.

“Aku bisa memaafkan orang yang melakukan kesalahan,” kata Maya. “Tapi aku tidak bisa membangun rumah dengan orang yang membuatku mempertanyakan apakah lantai di bawah kakiku benar-benar milik kita.”

Rian menunduk.

“Aku minta maaf.”

“Kamu seharusnya mengatakan itu sebelum aku mengetahui semuanya sendiri.”

Mereka berpisah beberapa bulan kemudian.

Tanpa pesta drama.

Tanpa teriakan.

Tanpa unggahan media sosial.

Maya memilih kembali bekerja dan menyewa sebuah apartemen kecil di kawasan Kuningan.

Hanya satu kamar.

Jauh lebih kecil daripada apartemen di Tebet.

Namun malam pertama tinggal di sana, Maya duduk di lantai karena sofa barunya belum datang.

Di depannya hanya ada mi rebus, segelas teh, dan beberapa kardus yang belum dibuka.

Anehnya, dia merasa lebih lega daripada selama berbulan-bulan sebelumnya.

Tidak ada orang yang memindahkan barang-barangnya.

Tidak ada ring light menyala sampai dini hari.

Tidak ada yang menghina masakannya.

Tidak ada suami yang diam ketika dia membutuhkan seseorang berdiri di sisinya.

Beberapa bulan kemudian, Pak Hendra datang membawa sebuah kotak kecil.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Di dalamnya terdapat mesin pembuat kopi baru.

Modelnya persis seperti mesin kopi milik Maya yang dulu diberikan Ibu Heni kepada kerabat tanpa izinnya.

Maya tertawa kecil.

“Papi masih ingat?”

“Yang hilang bisa dibeli lagi.”

Pak Hendra kemudian menatap putrinya.

“Tapi kepercayaan tidak selalu begitu.”

Maya terdiam.

Dia memeluk ayahnya.

Satu tahun kemudian, Maya akhirnya membeli apartemen sendiri.

Bukan di Tebet.

Bukan pula apartemen mewah.

Unitnya sederhana, tetapi memiliki jendela besar yang menghadap ke langit Jakarta.

Hari penandatanganan akad, petugas bank menyerahkan beberapa dokumen kepadanya.

Maya memeriksa setiap halaman.

Nama pemilik.

Namanya sendiri.

Nomor unit.

Benar.

Jumlah pembayaran.

Benar.

Semua dia baca dua kali.

Petugas itu tersenyum.

“Ibu teliti sekali.”

Maya ikut tersenyum.

“Saya pernah belajar dengan cara yang cukup mahal.”

Sore itu, Maya berdiri sendirian di ruang tamu apartemen barunya.

Belum ada meja.

Belum ada sofa.

Bahkan tirai belum dipasang.

Matahari senja masuk melalui jendela dan membentuk bayangan panjang di lantai.

Ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan dari nomor yang sudah lama tidak menghubunginya.

Ibu Heni.

Maya sempat ragu sebelum membukanya.

Pesannya hanya terdiri dari satu kalimat.

Sekarang Ibu mengerti kenapa kamu pergi.

Tidak ada permintaan maaf panjang.

Tidak ada alasan.

Tidak ada permohonan untuk bertemu.

Maya membaca kalimat itu sekali, kemudian menghapus pesannya.

Dia meletakkan ponsel di lantai.

Lalu membuat kopi dengan mesin pemberian ayahnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia minum kopi di rumah yang tidak bisa diambil siapa pun darinya.

Maya akhirnya memahami sesuatu.

Malam ketika Ibu Heni mengusirnya dari apartemen Tebet, dia mengira dirinya sedang kehilangan rumah.

Padahal justru malam itulah Maya diselamatkan dari sebuah rumah yang sejak awal dibangun di atas kebohongan.

Uang Rp1,2 miliar memang hampir dirampas darinya.

Pernikahannya memang berakhir.

Kepercayaannya memang hancur.

Namun ada satu hal yang akhirnya dia dapatkan kembali.

Hak untuk menentukan siapa yang boleh tinggal dalam hidupnya.

Dan kali ini, kuncinya benar-benar berada di tangannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang