Pesan di layar ponsel Carlo membuat seluruh ruangan mendadak terasa sunyi.
Maya menatap kalimat itu berulang kali seolah berharap dirinya salah membaca.
Kalau dia tidak menandatangani dokumen apartemen itu, rencana kita akan gagal. Paksa dia tanda tangan hari ini juga.
Jantungnya berdetak begitu keras hingga suara petugas polisi yang berdiri di dekat pintu terdengar jauh.
Selama lima hari pernikahan mereka, Maya mengira ia hanya sedang berhadapan dengan suami yang terlalu tunduk kepada ibunya.

Namun sekarang ia memahami bahwa semuanya mungkin sudah direncanakan sejak jauh sebelum cincin terpasang di jarinya.
Carlo membungkuk cepat hendak mengambil ponselnya.
Salah satu polisi lebih dulu menahannya.
“Jangan sentuh dulu.”
“Itu percakapan pribadi saya,” Carlo membentak.
Maya menatap pria yang baru lima hari lalu berdiri di hadapan penghulu dan berjanji akan melindunginya.
Aneh sekali, pikir Maya. Lima hari lalu ia percaya sepenuhnya kepada pria itu. Sekarang bahkan suara Carlo membuat kulitnya merinding.
“Dokumen apa yang kalian ingin aku tanda tangani?” tanya Maya.
Carlo tidak menjawab.
Elena justru mulai menangis.
“Kamu salah paham. Mama cuma ingin memastikan masa depan kalian aman.”
Maya tersenyum tipis.
Kakinya masih terasa terbakar. Pipinya masih berdenyut akibat tamparan Carlo.
Namun rasa sakit fisik itu mendadak menjadi kecil dibanding rasa dingin yang menyusup ke dadanya.
“Kalau untuk masa depan kami, kenapa harus dipaksa?”
Tidak ada jawaban.
Petugas meminta ketiganya memberikan keterangan. Karena terdapat luka fisik yang jelas pada Maya, Carlo dan Elena dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sebelum pergi, Carlo sempat menatap Maya.
Tatapan itu bukan tatapan seorang suami yang menyesal.
Tatapan itu seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Bukan istrinya.
Melainkan apartemen itu.
Malam itu Maya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Dokter mengatakan luka bakar di kedua kakinya tidak terlalu dalam, tetapi tetap membutuhkan perawatan beberapa minggu.
Saat seorang perawat membersihkan lukanya, Maya duduk diam sambil menahan rasa perih.
Ponselnya terus bergetar.
Pesan dari keluarga Carlo berdatangan.
Maya, jangan memperbesar masalah.
Bagaimanapun Carlo suamimu.
Masalah rumah tangga seharusnya diselesaikan di rumah.
Ibu mertua juga orang tua sendiri.
Maya membaca semuanya tanpa membalas.
Lalu satu pesan dari nomor yang tidak dikenalnya masuk.
Jangan pulang ke apartemen sendirian. Periksa brankas Carlo. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.
Maya langsung menegakkan tubuh.
Ia mencoba menelepon nomor itu.
Tidak aktif.
Maya memeriksa foto profilnya.
Kosong.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan yang berbeda muncul.
Siapa yang mengetahui soal brankas Carlo?
Sepanjang yang Maya tahu, Carlo tidak pernah mempunyai brankas.
Keesokan paginya, Maya pulang ditemani kakaknya, Dimas, dan seorang petugas polisi.
Apartemen itu terlihat sama seperti sebelumnya.
Namun bagi Maya, tempat itu sudah kehilangan seluruh kehangatannya.
Bunga pernikahan masih berada di meja ruang tamu.
Foto dirinya dan Carlo saat resepsi masih terpajang.
Di dalam foto, Carlo memandangnya sambil tersenyum.
Maya menatap foto itu lama.
“Aku bahkan tidak tahu apakah senyum itu asli,” gumamnya.
Dimas berdiri di belakangnya.
“Jangan menyalahkan dirimu karena mempercayai seseorang yang sengaja berbohong.”
Maya tidak menjawab.
Mereka mulai memeriksa barang-barang Carlo.
Lemari pakaian.
Laci meja.
Tas kerja.
Tidak ditemukan apa-apa.
Sampai akhirnya Maya memperhatikan sebuah koper kecil hitam di bawah tempat tidur.
Koper itu terkunci dengan kode angka.
Ia mencoba tanggal lahir Carlo.
Salah.
Tanggal lahir Elena.
Salah.
Kemudian Maya teringat hari ketika Carlo pertama kali mengajaknya menikah.
Tanggal 17 Mei.
Kunci terbuka.
Di dalamnya bukan uang atau perhiasan.
Ada beberapa map dokumen.
Maya mengambil map paling atas.
Saat membacanya, tangannya mulai bergetar.
Itu adalah salinan dokumen pengalihan hak atas apartemennya.
Nama Maya sudah tercetak sebagai pihak pertama.
Nama Carlo sebagai penerima hak.
Tinggal tanda tangan Maya yang belum ada.
Di bawahnya terdapat dokumen lain.
Surat kuasa pengelolaan rekening.
Polis asuransi jiwa.
Dokumen pinjaman bank.
Semuanya menggunakan identitas Maya.
“Apa-apaan ini?” Dimas berbisik.
Maya membuka map berikutnya.
Isinya lebih mengerikan.
Salinan KTP, NPWP, rekening bank, slip gaji, bahkan contoh tanda tangan Maya.
Semua disusun rapi.
Seseorang telah mengumpulkan data pribadinya selama berbulan-bulan.
Di bagian paling bawah koper terdapat sebuah buku catatan.
Di dalamnya tertulis angka-angka.
Harga apartemen Maya.
Perkiraan tabungan.
Nilai kendaraan.
Penghasilan bulanan.
Bahkan estimasi nilai proyek arsitektur yang sedang ia kerjakan.
Namun satu tulisan membuat tubuh Maya membeku.
Target pernikahan, maksimal enam bulan setelah pendekatan.
Dimas membaca kalimat itu dari belakang bahunya.
Wajah kakaknya berubah.
“Ini bukan cinta, Maya.”
Maya memejamkan mata.
Semua kenangan mulai kembali satu per satu.
Carlo yang muncul secara tidak sengaja di sebuah seminar properti.
Carlo yang selalu bertanya tentang pekerjaannya.
Carlo yang begitu tertarik ketika Maya bercerita bahwa apartemen itu ia beli sendiri.
Carlo yang mengatakan ingin menikah cepat karena merasa mereka tidak perlu menunggu lama jika sudah yakin.
Maya selama ini menganggapnya romantis.
Sekarang semuanya terlihat seperti wawancara terselubung.
Mereka menyerahkan seluruh dokumen kepada polisi.
Penyelidikan pun dimulai.
Tiga hari kemudian, seorang penyidik bernama Inspektur Raka meminta Maya datang.
“Kami menemukan sesuatu yang perlu Anda lihat.”
Di ruang pemeriksaan, Raka meletakkan beberapa foto di meja.
Foto pertama menunjukkan Carlo bersama seorang perempuan lain di sebuah restoran.
Foto kedua memperlihatkan Carlo berdiri di depan rumah mewah.
Foto ketiga adalah dokumen pernikahan.
Maya menatap nama di sana.
Carlo Wijaya.
Nama perempuan di sampingnya bukan dirinya.
“Ini apa?”
“Pernikahan Carlo tiga tahun lalu.”
Maya merasa darahnya menghilang dari wajahnya.
“Dia pernah menikah?”
“Bukan pernah.”
Raka menarik napas.
“Kami masih memeriksa status hukumnya, tetapi ada indikasi pernikahan sebelumnya belum pernah diselesaikan secara resmi ketika dia menikahi Anda.”
Maya menatap kosong.
“Jadi pernikahanku…”
“Kami belum bisa menyimpulkan sebelum dokumen seluruhnya diverifikasi.”
Raka kemudian menunjukkan sebuah daftar nama perempuan.
Ada empat nama.
Maya berada paling bawah.
“Siapa mereka?”
“Perempuan yang pernah memiliki hubungan serius dengan Carlo dalam enam tahun terakhir.”
Tiga di antaranya mempunyai kesamaan.
Mereka memiliki properti.
Maya menelan ludah.
Salah satu perempuan bernama Sarah.
Ia kehilangan sebuah rumah setelah menandatangani surat kuasa kepada Carlo.
Perempuan lain, Nadine, kehilangan hampir seluruh tabungannya.
Perempuan ketiga berhasil membatalkan pernikahan beberapa minggu sebelum akad setelah mengetahui Carlo mempunyai utang besar.
“Apakah mereka melapor?”
“Dua orang pernah mencoba. Tetapi bukti mereka tidak cukup. Carlo selalu mengatakan hubungan finansial itu dilakukan atas dasar suka sama suka.”
Maya mulai memahami pola tersebut.
Carlo tidak sekadar mencari istri kaya.
Ia mencari perempuan mandiri yang memiliki aset.
Lalu Elena membantu membuat mereka merasa bersalah, terisolasi, dan akhirnya menyerahkan kontrol.
“Pesan anonim itu,” Maya tiba-tiba teringat. “Seseorang memberitahuku tentang koper.”
Raka mengangguk.
“Kami juga sedang mencari pengirimnya.”
Sore harinya Maya menerima telepon.
Seorang perempuan meminta bertemu di sebuah kafe di Jakarta Selatan.
Ketika Maya datang bersama Dimas, seorang perempuan sekitar tiga puluh lima tahun sudah menunggu.
Namanya Sarah.
Perempuan dalam foto polisi.
“Aku yang mengirim pesan kepadamu,” katanya.
Maya duduk perlahan.
Sarah terlihat tenang, tetapi matanya menyimpan kelelahan yang sangat dalam.
“Aku mengikuti media sosial Carlo,” ujar Sarah. “Ketika melihat foto pernikahan kalian, aku langsung tahu apa yang akan terjadi.”
“Kenapa tidak menghubungiku sebelum kami menikah?”
Sarah menunduk.
“Aku mencoba.”
Ia menunjukkan tangkapan layar.
Sebuah akun anonim pernah mengirim pesan kepada Maya tiga minggu sebelum pernikahan.
Hati-hati dengan Carlo. Jangan tandatangani dokumen apa pun.
Maya ingat pesan itu.
Ia menghapusnya karena mengira itu hanyalah mantan kekasih yang cemburu.
Sarah melanjutkan.
“Carlo tidak pernah memukulku. Tapi Elena membuat hidupku seperti neraka. Dia mengambil alih semua keputusan. Carlo selalu membela ibunya. Setelah beberapa bulan, aku mulai merasa mungkin memang aku yang salah.”
Sarah tersenyum pahit.
“Itulah cara mereka bekerja. Elena menghancurkan kepercayaan diri kita. Carlo datang sebagai orang yang seolah menenangkan. Setelah kita merasa bersalah, mereka mulai meminta uang.”
Maya menggenggam cangkir kopi.
“Kenapa mereka tidak mengambil apartemenmu secara langsung?”
“Mereka mencoba.”
Sarah menatapnya.
“Aku akhirnya menandatangani surat kuasa karena Carlo berkata itu untuk mengurus renovasi.”
Beberapa minggu kemudian rumah Sarah dijadikan jaminan pinjaman.
Ketika ia sadar, sudah terlambat.
“Carlo dan ibunya melakukan ini bersama?”
“Ya.”
Namun Sarah menggeleng pelan.
“Tapi Carlo bukan otaknya.”
Maya mengerutkan kening.
“Siapa?”
“Elena.”
Dua minggu berikutnya membuka rahasia demi rahasia.
Polisi menemukan bahwa Elena mempunyai hubungan dengan seorang pegawai notaris yang membantu menyiapkan beberapa dokumen palsu.
Mereka juga menemukan rekening yang menerima transfer uang dari korban-korban sebelumnya.
Maya menyerahkan seluruh bukti.
Untuk sementara, ia pindah ke rumah Dimas.
Setiap malam ia masih terbangun karena mimpi buruk.
Kadang ia mendengar suara mangkuk pecah dalam tidurnya.
Kadang ia merasa seolah Carlo berdiri di depan pintu.
Namun perlahan-lahan Maya mulai mengerti bahwa trauma bukan tanda kelemahan.
Itu adalah cara tubuhnya mengingat bahaya agar ia tidak kembali ke tempat yang sama.
Sebulan kemudian Carlo meminta bertemu.
Pertemuan dilakukan dengan didampingi pengacara.
Carlo terlihat lebih kurus.
Begitu melihat Maya, ia langsung menangis.
“Aku benar-benar mencintaimu.”
Maya hampir tertawa.
“Kalau begitu kenapa ada dokumen pemindahan apartemen?”
Carlo menunduk.
“Mama yang menyuruh.”
“Dan kamu memukulku juga karena Mama menyuruh?”
Carlo diam.
“Mama sejak kecil selalu mengatur hidupku,” katanya akhirnya. “Aku tidak pernah bisa melawannya.”
Maya menatap pria itu lama.
Dulu kalimat seperti itu mungkin akan membuatnya iba.
Sekarang tidak lagi.
“Menjadi korban dari ibumu tidak memberikanmu hak untuk menjadikan aku korban berikutnya.”
Carlo mengangkat kepala.
“Aku bisa berubah.”
Maya berdiri.
“Berubahlah. Tapi bukan bersamaku.”
Beberapa bulan kemudian, kasus itu masuk ke pengadilan.
Dokumen-dokumen yang ditemukan membuktikan adanya pola penipuan terhadap beberapa perempuan.
Elena berusaha menyangkal semuanya.
Namun pegawai notaris yang terlibat akhirnya memilih bekerja sama dengan penyidik.
Ia mengungkapkan bahwa Elena telah merancang skema itu selama bertahun-tahun.
Carlo digunakan untuk mendekati perempuan yang memiliki aset.
Setelah pernikahan atau hubungan serius terbentuk, mereka mulai mengambil kendali terhadap keuangan korban.
Maya juga mengetahui sesuatu yang membuatnya terdiam.
Carlo sendiri pernah mencoba menghentikan rencana itu tiga hari sebelum pernikahan mereka.
Dalam sebuah pesan kepada Elena, ia menulis bahwa Maya berbeda dari perempuan lain dan ia ingin membatalkan semuanya.
Elena membalas dengan ancaman akan mengungkap utang Carlo dan menyerahkannya kepada penagih.
Carlo akhirnya melanjutkan rencana tersebut.
Ketika Maya membaca percakapan itu, ia menangis untuk pertama kalinya sejak kejadian di apartemen.
Bukan karena ingin kembali.
Bukan pula karena memaafkan.
Ia menangis karena menyadari bahwa mungkin pernah ada bagian kecil dari Carlo yang benar-benar mencintainya.
Namun cinta yang tidak disertai keberanian tetap bisa menghancurkan seseorang.
Setahun kemudian Maya kembali tinggal di apartemennya.
Ia merenovasi ruang makan tempat semuanya terjadi.
Meja yang dahulu menjadi tempat Elena meletakkan daftar aturan dibuang.
Dindingnya dicat ulang.
Dapurnya direnovasi menjadi lebih terbuka dan terang.
Suatu sore, Sarah datang membawa tanaman kecil.
“Untuk rumah barumu,” katanya.
Maya tersenyum.
“Rumahnya masih sama.”
Sarah menggeleng.
“Tidak. Yang dulu tempat mereka mencoba menguasai hidupmu. Yang sekarang benar-benar rumahmu.”
Mereka meletakkan tanaman itu di dekat jendela.
Maya memandang kota dari lantai dua puluh.
Di bawah sana, kehidupan Jakarta bergerak seperti biasa.
Mobil-mobil melaju.
Orang-orang pulang kerja.
Lampu gedung mulai menyala satu per satu.
Ponsel Maya kemudian berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Ia membukanya.
Namaku Livia. Aku menemukan nomormu dari Sarah. Aku baru bertunangan dengan pria yang mempunyai pola sangat mirip dengan Carlo. Aku takut aku sedang mengalami hal yang sama.
Maya menatap pesan itu lama.
Setahun lalu, ia mungkin akan menutup layar karena tidak ingin mengingat masa lalu.
Namun sekarang ia duduk, menarik napas, lalu mulai mengetik.
Jangan tanda tangani apa pun. Simpan semua bukti. Ceritakan kepadaku apa yang terjadi.
Maya menekan tombol kirim.
Saat itulah ia akhirnya memahami sesuatu.
Apartemen yang hampir direbut Carlo ternyata bukan hal paling berharga yang berhasil ia selamatkan.
Yang paling berharga adalah dirinya sendiri.
Dan mungkin, dengan berani menceritakan apa yang pernah terjadi, ia bisa membantu perempuan lain menyelamatkan hidup mereka sebelum terlambat.
